SAYYID AL-QEMANY: PEMERINTAHAN ISLAM GAGAL

Berikut kutipan wawancara dengan penulis Mesir Sayyid Al-Qemany, yang ditayangkan di TV Al-Arabiya 23 Februari 2012.

IKHWANUL MUSLIMIN DAN AL-QAEDA, “BERBEDA DALAM DERAJAT KEPEKATAN, NAMUN SEJIWA”

Pewawancara: “Banyak orang sepakat bahwa orang-orang yang anda bicarakan itu, yakni orang-orang yang menduduki parlemen Mesir – Muslim Brotherhood dan Kaum Salafi — BERBEDA dengan organisasi Jihad dan Al-Qaeda, yang diwakili Al-Qaeda di Irak, serta menolak tindakan-tindakan mereka. Mengapa anda menyamaratakan mereka?”

Sayyid Al-Qemany: “Mereka berbeda dalam hal derajat kepekatan, namun jiwa mereka serupa. Selain itu, kalau ada kelompok-kelompok yang mengatakan mereka sedang melakukan aktivitas politik tapi disaat bersamaan menyatakan mereka menolak demokrasi, dan bahwa manusia tidak dapat membuat hukum bagi dirinya sendiri, karena hanya Allah yang berhak membuat hukum—itulah persisnya yang telah dikatakan Al-Qaeda dan kelompok-kelompok semacamnya. Sebab itulah, perbedaan bukan terletak pada sifat, namun timing-nya –suatu ketika mereka mengatakan sesuatu, dan di waktu lain mereka menyangkalinya-“.

Pewawancara: “Tapi anda menganggap mereka satu kelompok tunggal.”

Sayyid Al-Qemany: “Dibawah satu atap. Mereka berdiri di dasar yang sama, karena pada akhirnya, sumber otoritas mereka satu dan sama …”

MESIR SEHARUSNYA TIDAK MENGUTAMAKAN ISLAM DI ATAS AGAMA LAINNYA

Pewawancara: “Siapa yang mengatakan bahwa amandemen artikel kedua [konstitusi Mesir] akan menyebabkan pertumpahan darah di Mesir?”

Sayyid Al-Qemany: “Merekalah yang mengatakannya. Salah seorang anggota parlemen mereka, Mamdouh Ismail – yang menyerukan Salat di tengan sesi parlemen. Ia bukan satu-satunya. Mereka semua mengatakan bahwa setiap upaya campur tangan terhadap artikel kedua konstitusi akan berakibat tumpahnya darah di jalanan Mesir. Artikel kedua mengatakan bahwa Islam adalah agama negara dan Syariat sumber utama undang-undang.”

Pewawancara: “Apakah anda menyerukan amendemen terhadap artikel kedua ini?”

Sayyid Al-Qemany: “Ya.”

Pewawancara: “Atas dasar apa?”

Sayyid Al-Qemany: “Artikel ini hanya melindungi SATU kelompok warga negara dalam naungan sayap negara. Ini berarti bahwa para penganut Kristen, Baha’i dan bahkan Syi’ah — karena artikel tersebut hanya eksklusif untuk Islam Sunni – tidak berada dalam perlindungan negara.”

“Kedua, agama berkaitan dengan nalar dan nurani seseorang. Negara adalah suatu entitas yang tidak dapat dideskripsikan sebagai ‘Muslim’ atau ‘Kristen.’

“Ketiga, seperti yang berulangkali saya tekankan, Islam tidak mengandung konsep ‘kenegaraan’ sebagaimana yang kita pahami.”

“Keempat, statemen Syariat sebagai sumber utama undang-undang secara konstan dieksploitasi kapan saja diperlukan, untuk menentang kebebasan, menentang siapa saja yang punya keyakinan berbeda. Ini bukan artikel ‘dekoratif’ semata, seperti klaim mereka. Ini diterapkan di masa lalu terhadap Nasr Hamid Abu Zayd, dan banyak lainnya. Ini diterapkan terhadap umat Kristen Mesir, dalam hal status pribadi. Dalam konflik antar seorang Ibu Kristen dan ayah Mualaf, hak asuh sang ibu terhadap anak-anaknya direnggut, bahkan bila mereka masih bayi, dan hak asuh diberikan pada ayah, karena ia menganut agama yang dianggap ‘lebih baik.’ Artikel ini merobek-robek masyarakat.”

Pewawancara: “Anda tidak percaya bahwa satu agama lebih baik dan sempurna?”

Sayyid Al-Qemany: “Semua agama berasal dari Tuhan. Dalam pandangan saya, tidak ada agama yang lebih baik daripada yang lain.”

Pewawancara: “Anda bermaksud mengatakan bahwa tidak ada yang namanya sebuah negara dalam Islam?”

Sayyid Al-Qemany: “Tidak disebutkan tentang suatu negara dalam arti politik dalam Qur’an atau Sunnah.”

Pewawancara: “Dr. Sayyid Al-Qemany, apakah anda mengatakan bahwa gagasan sebuah negara adalah suatu gagasan modern?”

Sayyid Al-Qemany: “Ya, benar.”

Pewawancara: “Sebab itu tidak dapat diubah menjadi gagasan agama?”

Sayyid Al-Qemany: “Mustahil melakukannya.”

Pewawancara: “Tidak adakah contoh sebuah negara agama di kalangan non-Muslim, sepanjang lintasan sejarah?”

Sayyid Al-Qemany: “Ada contoh-contoh dan semuanya buruk serta menindas. Kita punya kekhalifahan dan itu adalah masa-masa terburuk baik bagi Muslim maupun non-Muslim.”

Pewawancara: “Khalif mana yang anda maksud?”

Sayyid Al-Qemany: “Kekhalifahan yang berlangsung dari Kekhalifahan Umayyah hingga jatuhnya Kesultanan Utsmaniyah.”

Pewawancara: “Bagaimana dengan para Khalif Rashidun?”

Sayyid Al-Qemany: “Yang sama berlaku pada para Khalif Rashidun dan saya harus memperlihatkan bahwa itu bukanlah negara dalam pengertian yang kita pahami, dan agama seharusnya tidak dicampuradukkan dengan politik … Kekhalifahan penuh dengan perang saudara. Apakah pertempuran para Sahabat Nabi dalam masa Khalif Rashidun berkobar karena urusan duniawi atau masalah agama? Kita perlu memahami ini.

“Ambil contoh persengketaan terkait Khalif Usman. Perang antara Aisya dan Imam Ali [656 M], perang antara Imam Ali and Bani Umayyah [657 M], pelemparan Kakbah dengan katapel [692 M], sangsi pemogokan di Madinah, dan penghamilan 1.000 perawan, putri-putri Sahabat Nabi …”

Pewawancara: “Apa sumber anda terkait penghamilan 1.000 perawan?”

Sayyid Al-Qemany: “Tak ada satupun sumber Islam yang tidak menyebutkan ini. Apakah hal ini terkait Allah? Dapatkah saya mengatakan ini negara Allah, dimana para umatnya berperang satu sama lain? Apakah mereka berperang untuk Allah? Juga apakah Aisya yang benar ataukah Ali yang benar, dan kita tidak dapat mengatakan hal-hal seperti itu. Kita tidak bisa mengatakan apakah Aisya ataukah Ali yang beriman atau Kafir. Ini pertempuran mengenai hal-hal duniawi, bukan agama. Saat kita bawa agama ke dalamnya, kita memulai intrik yang tidak akan pernah berakhir.”

Pewawancara: “Jadi, gagasan sebuah negara harus tidak boleh menjalani metamorfose agama.”

Sayyid Al-Qemany: “Tepat.”

UMAT KRISTEN TAHU SEGALANYA TENTANG ISLAM. MUSLIM, DISISI LAIN, TIDAK TAHU APAPUN MENGENAI KRISTEN

Sayyid Al-Qemany: “Umat Kristen tahu segalanya mengenai Islam dari TV, khotbah Jumat, panggilan azan, ceramah-ceramah yang mereka dengar dari lima Masjid disekeliling mereka, yang masing-masing mengumandangkan azan dengan suara keras, dengan cara tersendiri, yang berkompetisi untuk menarik ‘pelanggan’, mereka semua bersuara keras dan terus berkumandang kuat, untuk menarik pelanggan.”

“Orang-orang ini memperkenalkan Islam pada umat Kristen. Kristen belajar ayat-ayat Qur’an dan Hadis di sekolah, yang dibingkai dalam pelajaran bahasa Arab. Terlebih, mereka tinggal di masyarakat Muslim, dan mereka paham bagaimana Muslim berpikir.”

“Muslim, di sisi lain, tidak tahu apapun mengenai sepupu mereka, umat Kristen, kecuali yang tercantum dalam Qur’an dan Hadis. Mereka tidak tahu apapun. Sedemikian, sebagaimana anda menggunakan TV untuk dakwah Islam 24 jam sehari …”

Pewawancara: “Anda maksud TV resmi, bukan saluran khusus. Ada saluran khusus Kristen.”

Sayyid Al-Qemany: “Ya, TV resmi. Hingga akhir-akhir ini … Anda bicara mengenai satu setengah tahun lalu. Perubahan besar terjadi baru satu setengah tahun lalu, namun sebelum itu, wacana tersebut hanya untuk Muslim …”

DENGAN SEGALA KONSEKUENSI NEGATIF GERAKAN (ARAB SPRING) SAAT INI, TIDAK SELAMANYA MEREKA NEGATIF”

Pewawancara: “Jadi, apakah anda menganggap revolusi tersebut membawa perubahan positif?”

Sayyid Al-Qemany: “Segala sesuatu yang terjadi memang harus terjadi, karena jika tetap seperti apa adanya, kita akan menjadi bangsa mati. Walau sekarang konsekuensi-nya negatif gerakan, mereka tidak akan selamanya negatif. Dan itu terjadi hanya dalam waktu singkat …”

Pewawancara: “Anda optimis akan masa depan?”

Sayyid Al-Qemany: “Ya, dalam jangka panjang. Masyarakat akan menguji [kaum Islamis yang berkuasa]. Mereka berkata pada rakyat: ‘Kami akan memerintah kalian sesuai Islam. Ujilah kami. Apa artinya ini? Bukankah kami telah menguji kalian’? Mereka berkata: ‘Kalian sudah mencoba sosialisme, kalian sudah mencoba kapitalisme, namun kalian belum mencoba Islam’.”

Pewawancara: “Lantas mengapa anda tidak mau mencobanya?”

Sayyid Al-Qemany: “Kita telah mencobanya selama 1.400 tahun. Apakah orang-orang ini sudah kehilangan ingatan atau apa?”

Pewawancara: “Maksud anda mulai dari munculnya nubuatan Islam?”

Sayyid Al-Qemany: “Bukankah mereka telah memerintah kita dalam nama Islam selama 1.400 tahun, semenjak mereka menaklukkan negara kita? Mereka memerintah kita atas nama Islam. Kita sudah menguji mereka.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: