ISLAM ANTARA AGAMA DAN PAGANISME

Oleh Zakaria Botros

HUBUNGAN ISLAM DAN SIMBOL BULAN

Salah satu pertanyaan tentang hubungan Islam dan simbol Bulan, adalah dari (yang dihormati) Yusuf al-Qaradawi dimana seraya menjawab “tidak ada hubungannya antara Islam dengan simbol Bulan pada Masjid.” Begitulah jawaban dari seorang Yusuf al-Qaradawi serya wajah beliau merah padam akan pertanyaan itu.

Saya ragu dan khawatir, bagaimana mungkin seorang al-Qaradawi bisa berkata demikian, atau apakah beliau tidak tau akan hal tersebut? Atau apakah al-Qaradawi ini mencoba untuk menyangkal pertanyaan ini dan menyembunyikan kebenaran yang ada dalam Islam? Sesungguhnya ada hubungan yang erat antara Islam dan Paganisme yakni simbol Bulan pada Masjid, inilah faktanya:

Pada Qur’an banyak sekali Surah dan nomor ayat yang bercerita tentang Sabit dan Bulan sebanyak 50 Surah, sedangkan jumlah nomor dalam Surah di Qur’an yang menceritakan hal tersebut adalah sebanyak 2027, anda bisa bayangkan banyaknya ayat dan nomor ayat yang menceritakan hal ini?

TENTANG BULAN

Apabila kita membaca Qur’an, kita dapat melihat Allah telah bersumpah demi Bulan, seperti ayat dibawah ini:

Surah Al-Muddaththir 32-33: “Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah berlalu,”

Surah Ash-Shams 1-2: “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya,”

Menurut kepada sumber rujukan yakni Ensiklopedi Islam, bagian 2 halaman 10.055 dikatakan disana “Bulan Sabit mempunyai arti yang sangat penting dan besar dalam perundang–undangan Islam.” Serta disana juga menampilkan 55 bukti untuk hal tersebut, seperti Kalender Hijriah menggunakan sistem peredaran bulan, begitu juga dengan puasa Ramadhan dan haji, dimana semuanya itu terkait pada bulan sabit (peredaran).

Hal ini diucapkan Allah dan tercatitkan dalam Qur’an Surah Al-Baqarah 189: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

BULAN SABIT ADALAH LAMBANG ISLAM YANG DIPUNGUT DARI PAGAN ARAB

Bulan Sabit telah ditempatkan dalam mata uang Islam pada zaman Salah ad-Din Yusuf ibn Ayyub, serta telah dihadirkan pertama kali serta ditaruh diatas kubah pada Masjid Qubbat as-Sakhra, serta telah ditempatkan pada telinga (anting–anting) dan perhiasan pada manusia, dan juga merupakan lambang untuk pemimpin Islam dalam keseluruhan sejarahnya.

Kebiadaban Islam yang terkenal dan tidak dapat diampuni lagi yakni pada waktu Islamic Conquest ditanah Eropa pertama kali yakni pengubahan Gereja menjadi Masjid, dimana lambang Salib dihancurkan dan diganti dengan Bulan Sabit sebagai simbol agama biadab ini (Islam).

Lambang Bulan Sabit telah ditempatkan diatas kubah pada semua Masjid didunia, dan juga menjadi simbol kebiadaban Islam yakni Turki Ottoman, serta telah ditempatkan pada bendera kenegaraan seperti Malaysia, Nigeria, Mesir, Tunisia, Aljazair, Malawi dan Mauritania.

Lambang Bulan Sabit ini menjadi lambang untuk kuburan orang Islam, dimana untuk menyaingi agama Yahudi dan Kristen yang sejak dulu sudah ada.

Hal yang tidak diketahui oleh orang Islam yang awan, adalah tentang asal usul Bulan Sabit itu sendiri, yang nyatanya telah digunakan sebagai simbol untuk agama Islam, dimana para sejarawan Islam telah menutup–nutupi hal ini.

Hal yang telah ditutupi oleh sejarawan Islam adalah tentang asal usul Bulan Sabit dimana Bulan Sabit tersebut (lambangnya) dulu berasal dari zaman pra-Arab kuno pagan, dimana merupakan simbol pagan yang mana ditransformasikan sebagai Dewa Bulan.

Menurut kepada rujukan refrensi yakni The encyclopedias Britannica telah disebutkan pada bagian 1 halaman 1057–1058 yakni: “Suku bangsa Arab di Selatan (Kedar) hingga Jazirah Arab telah menyebah trinity pagan yakni terdiri dari Al–Lah sebagai Dewa Bulan, Al–Lat sebagai Dewa Matahari dan Ashtar sebagai Anak Dewa, dimana Al–Lah merupakan yang terbesar diantara dua Dewa lainnya dan ditransformasikan sebagai Bulan Sabit.” Referensi diatas bersetuju dan bersedudukan dengan Ensiklopedia Islam.

Menurut pengakuan seorang Doktor lulusan Al-Azhar yakni DR. Al Kemny menyatakan dalam bukunya “The Legendary in Quran”, pada halaman 4-11 dikatakan disana: “Diantara banyak nama Dewa Arab pagan yakni Kitth yang di tarjamahkan menjadi Al–Lah, sebagai Dewa Bulan dan Dewa penjaga rumah suci (Kakbah) di Mekkah.”

Berdasarkan rujukan refrensi dan orang yang ahli di arkeologi ini telah melakukan suatu penelitian di Jazirah Arab, telah ditemukan yakni “Al-Lah” dimana sebagai Dewa Bulan dan penjaga Kakbah dan disembah oleh suku–suku di Jazirah Arab seperti Koreish, kedar dan lainnya, dimana patungnya berada disamping Kakbah dan ada juga di dalam Kakbah dalam bentuk emas. Orang–orang yang menyembah Dewa Bulan (Al–Lah) telah menyingkatnya menjadi Allah. Hal ini bersetuju dengan sikap Muhammad dengan menyebut Allahu Akbar dimana telah diambil dari aklamasi suku Koreish.

Pada waktu Muhammad melakukan Islamisasi kepada suku Koreish, orang–orang Koreish tidak kaget mendengar ceramah Muhammad tentang Allah, dan suku Koreish telah lama mengetahui dan menyembah Allah, dan tidak ada jawaban untuk menayakan kepada Muhammad tentang Allah oleh suku Koreish, karena Muhammad dan suku Koreish sangat familiar tentang lafadz Allah, sehingga Muhammad telah mengangkat kultur penyembahan Dewa Bulan ini.

Sebagai yang terbesar diantara semua Dewa, mereka dan Muhammad meyebutnya Allah yang terbesar atau dalam bahasa Arab “Allahu Akbar”.

Pertanyaan saya adalah:

1. Kenapa Allah telah bersumpah demi Bulan dalam Qur’an seperti dalam Surah Al-Muddaththir 32–33?

2. Apakah Allah yang telah bersumpah dalam Qur’an adalah Dewa Bulannya pagan?

Marilah saya melanjutkan hal diatas yang telah menjadi fenomena dalan dunia Islam ini dan membuka selubung serta fenomena dalam dunia Islam serta transparansi didalamnya berdasarkan bukti yang kuat tanpa ada caci maki dalam mengulas hal tersebut.

Bulan telah menjadi Dewa, dan masyarakat di Jazirah Arab selama rentang waktu sebelum dan zaman Muhammad telah menyebah Allah (Dewa Bulan), dan menggangap Bulan Sabit sebagai simbol serta menyembahnya (Dewa Bulan), dan hal ini telah disebutkan oleh DR. Al Kemny dalam bukunya, dimana Muhammad berusaha keras membujuk orang Yahudi dan Maseehiyyin (Kristen) disana untuk masuk Islam dan sama sama menyembah Allah (Dewa Bulan) tetapi tidak berhasil dalam pengislaman agama tersebut (Yahudi dan Kristen). Jadi Muhammad menunjukkan penghormatannya untuk Bulan serta Kakbah dan telah melakukan semua ritual pagan seperti haji, mencium batu hitam (Hajar Aswad) dan lainnya, dan berusaha untuk menyenangkan penyembah berhala tersebut.

DR. Al Kemny dalam bukunya pada halaman 11 dituliskan disana yakni “Al–Lah adalah Dewa Bulan dengan jenis laki–laki, dan Al–Lat adalah Dewa Matahari dengan jenis perempuan, dimana melakukan hubungan seks dan lahirlah Ashtar dimana Ashtar dengan simbolnya yakni bintang.”

Jadi disamping Bulan Sabit ditambah lagi suatu bintang yang bercokol disana (dekat pangkalnya) diatas kubah Masjid dimana merupakan penjelmaan dari Al–Lah dan puteranya Atshar (hasil hubungan seks dengan Al–Lat). Untuk lebih jelasnya tentang hal ini silahkan dibuka disini dengan dibawah judul yakni “archaeology of the middle east”, disana disebutkan bahwa ahli arkeologi telah menemukan banyak kuil untuk Al–Lah (Dewa Bulan) secara luas telah ada tetapi dihancurkan yakni di Turki hingga Sungai Nil. Tetapi ada yang masih utuh yakni Kakbah di Mekkah hingga sekarang.

Lambang Bulan Sabit telah hadir di penjara; mereka juga telah membuat roti dengan bentuk Bulan Sabit sebagai makanan kudus yang dipersembahkan kepada Al–Lah, pada abad sebelumnya telah ditemukan suatu kuil besar untuk Dewa Bulan di daerah Palestina atau yang dikenal sebagai Hazer, yang mana didalamnya ditemukan dua patung laki-laki duduk diatas tahta dengan Bulan Sabit mengukir diatas dada mereka. Pada abad ke–19 para ahli arkeologi telah melakukan penggalian di daerah Saba’ dan Kotban di Jazirah Arab dan menemukan naskah kuno yang menunjukkan daerah tersebut telah pernah dibangun suatu kuil untuk Dewa Bulan, beserta tata cara ibadah mereka. Serta ditemukan beribu-ribu fosil telah ditemukan dengan Dewa Bulan dengan simbol Bulan Sabit diatas.

Pertanyaan saya kepada Islamic Scholar, karena mereka telah menempatkan lambang Bulan dan Bintang diatas kubah mereka (Masjid) adalah:

I. Dalam Qur’an Surah Al-‘Anbya’ disebutkan disana bahwa Nabi Abraham (semoga dirahmati oleh Allah) telah mebuang patung berhala disana, dan Muhammad juga telah membuang patung berhala dari Kakbah, jadi kenapa menggunakan Bulan Sabit dan Bintang diatas kubah Masjid, bukankah ini jelas–jelas menyembah berhala?

Saran saya kepada Islamic Scholar yakni seharusnya anda (Muslim dan Muslimah) tau betul seluk beluk Islam yang sesungguhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: