MUHAMMAD DAN AGAMA HANIF DI JAZIRAH ARAB PANGAN

Oleh Zakaria Botros

Islam pada hakekatnya menyatakan dirinya sebagai “Rahmatan Lil’alam” melalui Muhammad, via Jibril di Gua Hira. Islam berasal dari kata “Salaama” (السَّلْم) yang berarti damai, sesuai dan seturut dengan pernyatan Qur’an, saya berikan kutipannya:

QS 21:107
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Islam juga memberikan penghargaan (penghormatan) kepada para Nabi terdahulu dan juga mengajarkan Syariat yang telah diturunkan oleh Allah kepada Nabi atau Rasul terdahulu, dan Islam juga dengan (Qur’an)nya merupakan suatu petunjuk dan pembanding kitab–kitab sebelumnya, tapi walhasil Qur’an gagal membuktikan kebenarannya yang berasal dari Allah dan juga gugurlah pernyataan Allah bahwa Qur’an adalah kitab yang mulia, dan juga Qur’an gagal sebagai Nurul Alam seperti yang dikatakan Allah, serta Qur’an juga gagal memberikan bukti–bukti yang sahih dan rahmat bagi kaum beriman seperti yang dikatakan Allah, serta juga Qur’an gagal memberikan penjelasan yang sejelas–jelasnya bagi kaum beriman seperti yang dikatakan Allah, serta Allah gagal memelihara kebenaran Qur’an, serta Qur’an juga gagal agar orang dapat berolah pikir yang benar, lagi–lagi Qur’an juga gagal memberikan hal–hal secara terperinci serta lagi Qur’an juga gagal yang konon katanya tidak ada hal–hal yang membengkokkan didalamnya dan juga memberikan kesaksian bahwa terdapat banyak pertentangan didalamnya dan juga memperkuat bahwa Qur’an buatan Muhammad dan Qur’an juga bukan berasal dari ilmu Allah melainkan dari pengetahuan Muhammad yang “copy-paste” dari kitab sebelumnya.

Wahyu yang diberikan Allah kepada Muhammad via Jibril banyak sekali mengandung “historical errors”, yang mana perlu dikaji ulang dan dianalisa lagi tentang kebenaran dan keabsahan Qur’an agar banyak orang tidak terpengaruh oleh buaian “nina bobo” dari sang Nabi tercinta. Maka marilah kita menguji kebenaran Qur’an mulai dari sejarahnya hingga tentang sejarah yang lain, yang mana konon merupakan Ilmu Allah, yang seharusnya terperinci, tidak bengkok, dan tidak ada “crush” di dalamnya. Atas nama kejujuran yang dilimpahkan oleh Allah dan atas izin Sayyidina Al Massae Al Mukhallish Al ‘alam  marilah kita telaah kebenaran Qur’an.

MONOTHEISME PRA ISLAM DI JAZIRAH ARAB

Secara definitif monotheisme sudah ada dan dikenal di Jazirah Arab sebelum masa Muhammad, dalam Ensiklopedia Islam bagian 4 halaman 133 dikatakan disana “banyak di sana (Jazirah Arab) termasuk masyarakat di Mekkah pra Islam telah mengimani hanya ada satu Tuhan, serta percaya hari akhir; kakek Muhammad (Abdul Muttalib) dan Zayd Ibn Amr adalah seorang Hanifian, mereka juga percaya hanya ada satu Tuhan, begitu juga dengan Keas Ibn Sa’da dan Waraqa bin Naufal, mereka juga seorang Nazaret dan percaya hanya ada satu Tuhan.”

Agama Hanafian sudah disebutkan sebelumnya, yakni percaya akan satu Tuhan, mereka mengikuti ajaran Nabi Abraham dan bukan seorang Polytheist, begitu juga dengan Muhammad adalah seorang Hanifian (bukan Islam, red), dalam Qur’an di Surah Al-Baqarah 135 dikatakan disana ” (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus”, serta dalam Kisah kehidupan Muhammad karangan Ibn Ishaq dan diedit ulang oleh Ibn Hisham pada halaman 219, dikatakan disana dasar–dasar dari Agama Hanifian yang ditulis oleh Pujangga Pra Islam Zayd Ibn Amr (dalam bahasa Inggris):

Is it one God or thousand gods (idol), If they divide things, I worship neither Al-‘Uzza (idol). Nor the two idols of Bane Amre, But I worship my lord. I worship? I secluded Alat and Elouza all of them, nor her two daughters, neither Hobble who was a god, the most gracious, the most forgiver.

Dalam Sirat Muhammad karangan Ibn Ishaq dan diedit oleh Ibn Hisham, telah disebutkan disana bahwa sebelum Muhammad menerima wahyu, disana telah ada sebuah daging yang terletak diatas meja dalam kota Balbh, dikarenakan Zayd Ibn Amr telah menjadi seorang Hanifian, dia menolak makanan tersebut dengan lantang seraya berkata: “saya tidak akan makan (daging) dari apa yang dipersembahkan kepada berhala dalam nama Tuhan” tetapi pada saat yang bersamaan Muhammad memakan daging yang telah dipersembahkan kepada berhala.

Ibn Hisham, kemudian melanjutkan perkataannya, dimana Al-Sohaily memberikan komentar dari Ibn Hisham “bagaimana tindakan Zayd Ibn Amr menolak daging yang telah dipersembahkan kepada berhala, tetapi sungguh aneh bahwa Muhammad memakan daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala pada saat itu.”

Salah seorang Hanafian adalah Omi’ah Ibn Abe-Alsalat, dalam puisinya telah berkata:

“Tiap–tiap Agama adalah untuk Tuhan, dan dalam hari kebangkitan, kecuali Hanifa adalah Agama yang salah”.

Serta dalam Qur’an Surah ‘Ali `Imran 19, dikatakan disana: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” Kata Islam disana sebenarnya tidak ada dalam mushaf Qur’an manapun tetapi telah diganti dari Hanifa menjadi Islam, oleh seorang sahabat sekaligus penghianat yakni Uthman, dimana dia menggantinya kata Hanifa menjadi Islam serta membakar semua mushaf Qur’an yang ada, terkecuali Qur’an Uthman sendiri.

Tetapi Islam sekarang sangat kontras sekali dilapangan dan mencap Agama selain Islam adalah sesat dan Kafir, perlu diketahui bahwa Agama Yahudi, Sabians dan Kristen adalah monotheisme dan bukan politheisme seperti dalam Qur’an Surah Al-Baqarah 62:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Frase kata “beriman kepada Allah” jelas–jelas mengindikasikan bahwa 3 Agama yang disebutkan oleh Surah Al-Baqarah 62 adalah Monotehisme dan bukan Polytheisme.

Pada masyarakat Quraysh juga telah percaya akan hanya satu Allah, sebagai suatu bukti dan contoh adalah sebagai berikut:

1) Al Talbia

“Labbik Al-Lahom Labbik, Labbik La-Sharek Lak Labbik”, dimana yang artinya adalah O Allah kami memenuhi panggilan-Mu dan datang kepada-Mu, tiada sekutu dengan-Mu. Aklamasi pada poin (1) sekarang masih dilestarikan oleh Islam di Mekkah pada hari haji, dimana dulu syahadat ini berasal dari masyarakat Quraysh, sebagai tanda kepercayaan mereka akan satu Tuhan.

2) Al-Takbeer

“Allahu Akbar” yang artinya Allah Maha Besar, dimana kalimat ini sudah ada sebelum pra Islam, dimana dalam “Al-Sira Al-Halabiya” bagian 1 dikatakan disana “ketika pengampunan Abdul Muttalib telah diterima untuk anaknya Abdullah, kakeknya Muhammad ketika ia berjanji kepada-Nya jika ia telah diberkati dengan sepuluh anak, dia akan membunuh salah satu dari mereka”.

Ketika telah diberikan Tuhan dia sepuluh anak maka ia mengundi dan undiannya jatuh kepada Abdullah, kemudian dari itu datanglah semua suku Quraysh untuk menghentikan pembantaian tersebut, kemudian dia berkonsultasi dengan seorang dukun.

Dukun (perempuan) itu menceritakan kepada dia untuk hanya boleh membunuh seekor unta sebagai pengampunan kepada dia, kemudian dia mengundi antara Abdullah dan Unta, tetapi undian itu jatuh kepada unta dan kemudian unta tersebut dibunuh dengan jumlah unta yakni 10 buah, dimana sampai pengundian yang kesepuluh semuanya jatuh kepada unta, dan mereka (suku Quraysh) membantai unta yang banyaknya 100 ekor, kemudian masyrakat Quraysh bersukaria dan bersorak “Allahu Akbar” sebagai ungkapan penebusannya telah diterima.

Tetapi yang fatalnya dalam Qur’an dikatakan bahwa suku Quraysh adalah polytheism dan bukan monotheism. Mereka benar–benar mengakui hanya satu Tuhan, tetapi mereka mempunyai penghubung/perantara antara manusia dengan Tuhan, seperti Al-Lat, Al-‘Uzza dan Manat dimana ketika Muhammad berharap dan ingin agar suku Quraysh mengikuti dia (Muhammad). Kemudian Setan menggunakan lidahnya (Muhammad) untuk mengatakan {those great Gharaneek, their intercession are well accepted} jadi pada saat suku Quraysh tak berdaya akibat ulah Muhammad, lalu tiba–tiba datang Malaikat Jibril datang kepada Muhammad sambil menegur dan mengatakan bahwa kata–kata tersebut telah ditaruh Setan dalam mulut Muhammad.

Tetapi Muhammad telah plin–plan begitu juga dengan Allahnya, yang menjadi pertanyaan bagi umat Islam:

1). Dalam Qur’an Surah Al-Baqarah 62 dikatakan bahwa Agama Yahudi, Sabians dan Kristian adalah monotheisme dan bukan polytheisme, tetapi nyatanya ada ayat dalam Qur’an yang mengatakan bahwa Kristian dan Yahudi adalah Polytheisme yakni dalam QS 10:68, QS 9:30 dan QS 4:171. Bagaimana mungkin Kalam Allah memberikan 2 kontradiksi yang berbeda?

2). Muhammad telah diperintahkan untuk mengikuti Agama Hanifa dalam QS 16:120 yang bunyinya: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),” Contoh lain seperti QS 16:120, QS 3:67 dan QS2:135. tetapi kenapa Muhammad membentuk Agama lain (Islam)?

3). Menurut umat Islam, bahwa Islam adalah Agama yang hanif/lurus serta tidak meyekutukan Allah, tetapi hal ini sangat kontras sekali dengan Agama Abraham, contohnya yakni Idul Adha/hari haji, dimana Islam mengeliling Kakbah dan mencium Hajar Aswad yang jelas–jelas menyekutukan Allah, apakah Islam juga Hanif?

4). Dalam Hadis Sahih Muslim dan Bukhari dsabdakan: Dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anha dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengada-ada (memperbuat sesuatu yang baru) di dalam urusan kami ini (agama) sesuatu yang bukan bersumber padanya (tidak disyari’atkan), maka ia tertolak.” (HR. Bukhari), dan di dalam riwayat Imam Muslim dinyatakan, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan termasuk urusan kami (agama), maka ia tertolak.”

Seorang Ahli Tafsir Hadis yakni Al-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadis ini layak sekali untuk diingat dan dijadikan sebagai saksi/bukti terhadap kebatilan semua perbuatan munkar.”

Jelas ini mengindikasikan kepada Islam, kenapa saya mengatakan demikian karena Ibadah Haji adalah ibadah yang mengada–ada dan tidak pernah disyariatkan Allah kepada Nabi/Rasul sebelum Muhammad serta mengandung unsur syrik dan menyekutukan Allah, dan otomatis iman Islam tertolak. Dan perbuatan Islam dalam Ibadah Haji adalah perbuatan keji dan mungkar kepada Allah, sedangkan Allah sendiri tiada pernah menyuruh tentang haji, tetapi kenapa Muhammad mengarangnya dan mengambil dari Agama Pagan Quraysh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: