WANITA DALAM ISLAM: MENDERITA KEBIADABAN SEBUAH IDEOLOGI

Oleh Frank Salvato

Sebuah pepatah Islam berkata, “Surga wanita terletak dibawah telapak suaminya”. Dan kita tahu bahwa dalam etika kebudayaan Islam, mengarahkan tapak sepatu pada orang lain adalah suatu penghinaan yang paling tinggi.

Suatu kenyataan penting adalah bahwa di dalam dunia Islam, wanita dianggap sebagai obyek milik. Mereka boleh diperlakukan dengan sangat kasar sesuai dengan kultur [Islami] mereka & jika mereka melanggar Syariat Islam, hukuman maksimal yang mereka dapatkan adalah: Hukum cambuk dan hukum rajam sampai mati.

Hukuman mati cukup banyak divoniskan pada wanita-wanita dalam kultur Islam murni. Pelanggaran-pelanggaran yang dikenakan hukuman mati di dalam Syariat Islam bermacam-macam, mulai dari busana yang tidak Islami sampai berdua-an dengan lawan jenis yang tidak semuhrim.

Salah seorang pemuka agama Islam, Al-Ghazali, yang dijuluki ‘Muslim paling besar setelah Muhammad’ menuliskan bahwa peran Muslimah adalah ” … tinggal di rumah dan merajut. Muslimah tidak boleh keluar rumah terlalu sering, tidak boleh banyak belajar, dan tidak boleh berbincang-bincang dengan tetangga. Dia hanya boleh mengunjungi tetangga apabila benar-benar penting, dia harus melayani suaminya … dan memuaskan suaminya dalam hal apapun … segala uneg-unegnya harus disimpannya sendiri sebagai ibadah … dia harus selalu bersih dan siap melayani kebutuhan seksual suaminya setiap saat.”

Cerita-cerita monoton tentang ke-otoriter-an Islam ini, hanyalah sebagian kecil masalah yang dihadapi para wanita Islam. Dalam kenyataannya, begitu banyak dan tak terhitung pelanggaran-pelanggaran terhadap hak kemanusiaan wanita di tangan para Muslim fundamentalis ini.

* Kesaksian seorang wanita di dalam pengadilan Syariat hanya bernilai setengah dari kesaksian seorang pria. Hal ini menyebabkan keadilan dan kesamaan hak dalam kasus perceraian antara pria dan wanita sangat tidak mungkin terjadi. Dan sebaliknya yang terjadi di negara-negara yang menganut Syariat Islam seperti Arab Saudi, Iran dan Mesir, seorang pria cukup mengucapkan ‘Aku ceraikan engkau’ tiga kali untuk mengesahkan perceraian antara suami dan istri.

* Seorang suami berhak memukul istrinya atas ketidaktaatan seorang istri atau atas perilaku yang tidak menyenangkan hatinya. Menurut Hukum Islam, seorang suami boleh menyakiti atau memukul istrinya dengan alasan sebagai berikut:

1. Jika sang istri tidak berusaha tampil cantik di depannya,
2. Jika sang istri menolak berhubungan seksual,
3. Jika sang istri meninggalkan rumah tanpa izin atau tanpa alasan yang cukup kuat,
4. Atau jika sang istri melupakan kewajiban agamanya.

Dan hal-hal tersebut di atas sudah cukup untuk menjadi alasan perceraian. Presiden Universitas Al-Azhar Kairo menjelaskan cara yang paling tepat dalam menghajar seorang istri dalam sebuah wawancara televisi. “Tidak dengan cara dipukuli”, demikian penjelasan Ahmed el-Tayeb, “Lebih tepat, ditinju!”.

* Anak gadis yang masih berumur 9 tahun, seringkali dijual untuk sebuah pernikahan pada pria-pria yang puluhan tahun lebih tua. Ayah mereka akan mendapatkan mas kawin sebagai gantinya. Anak-anak gadis ini, dalam kondisi sebelum puber, diperlakukan seperti budak di siang hari dan dipaksa melayani secara seksual di malam hari.

* Wanita juga merupakan sasaran budaya barbar Islam yang disebut dengan “Pembunuhan demi Kehormatan” (honor killing). Di mana seorang wanita dibunuh oleh keluarga atau kerabat prianya demi kehormatan nama keluarga. Pembunuhan seperti ini memberikan pembunuhnya keleluasaan hukum dan tidak akan ada keadilan bagi korban pembunuhan tersebut.

* Seorang istri yang tidak hormat pada suami – atau mungkin hanya sekedar tidak beruntung, bisa disekap dalam sebuah ruangan yang disebut “Ruangan Istri”. Ruangan dalam sebuah rumah keluarga yang digunakan untuk menyekap seorang wanita, tanpa makanan dan minuman untuk suatu waktu yang lamanya ditentukan oleh suaminya. Di beberapa kasus ruangan-ruangan ini digunakan sebagai ruang teror, di mana wanita menunggu untuk dipukuli suami mereka sampai mati. Dan memang banyak yang mati.

Yang menarik tapi sekaligus mengecewakan, organisasi-organisasi wanita di seluruh dunia, termasuk yang progresif dan pro-feminist seperti Organisasi Wanita Nasional hanya bisa memberikan komentar lip-service pada kasus-kasus ini dimana seharusnya kasus-kasus tersebut dapat dan layak memicu kemarahan publik wanita.

Kolumnis Jeff Jacoby, di sebuah artikel Boston Glove bulan Desember 2007, berjudul “Perang Islami para Muslimah” memberikan daftar pelanggaran-pelanggaran yang brutal terhadap wanita di tangan Islam fundamentalis.

Di Pakistan, sebuah rapat dewan suatu suku memerintahkan seorang wanita untuk diperkosa secara massal sebagai hukuman atas kelakuan saudara laki-lakinya yang melakukan hubungan gelap dengan seorang wanita dari suku lain.

Di San Francisco, seorang Muslimah muda ditembak mati setelah dia membuka jilbabnya dan berdandan memakai make-up ketika akan menjadi pendamping wanita di pernikahan temannya.

Di Teheran, seorang ayah memenggal putrinya yang berumur 7 tahun karena dia menduga anaknya tersebut telah diperkosa. Dia berkata dia lakukan itu semua untuk mempertahankan kehormatan, nama baik dan martabatnya.

Di Arab Saudi, polisi Syariat menghalang-halangi anak-anak sekolah meloloskan diri dari gedung yang terbakar karena mereka tidak mengenakan ‘busana Islami memadai.’ 15 anak perempuan mati terbakar hidup-hidup di bencana tersebut.

Mei 2006, di propinsi Punjab, Pakistan. Aisha, seorang gadis berumur 18 tahun dituduh berzinah oleh suaminya setelah satu setengah bulan menikah karena melarikan diri dari rumah ke rumah saudaranya laki-laki karena takut akan keselamatan dirinya. Suaminya ditemani dengan saudaranya laki-laki membujuk Aisha untuk kembali ke rumah mereka dengan berpura-pura ingin rujuk. Aisha setuju. Dan dari tempat tidurnya di rumah sakit, Aisha bercerita bagaimana dalam perjalan pulang, suaminya dan saudaranya laki-laki berhenti di tempat agak terpencil, memukuli dan menyiksanya. Mereka memotong hidung dan bibir Aisha, meninggalkannya di tengah ladang tidak perduli akan nasibnya akankah dia hidup atau mati.

Sama di bulan Mei 2006, perempuan Pakistan yang lain, Shamin Mai yang dituduh melakukan kejahatan karena menikahi seorang pria pilihannya sendiri dan menolak tali perjodohan yang diputuskan keluarganya. Dipotong kedua kakinya oleh saudaranya laki-laki dan pamannya.

Mutilasi, tradisi barbar Islam yang terikat erat dengan “Pembunuhan demi Kehormatan” adalah suatu tindakan yang digunakan untuk menakut-nakuti wanita sebagai hukuman atas perlawanan terhadap laki-laki. Baik itu pada ayah atau suami, baik itu adalah tindakan aktual atau hanya sebuah persepsi. Tindakan ini adalah hal yang biasa dan dapat diterima di dalam dunia Islam fundamentalis.

Diketahui bahwa ketika Taliban menguasai Afganistan di tahun 1996, sebuah dekrit dikeluarkan yang melarang perempuan meninggalkan rumah mereka. Sebelumnya, perempuan-perempuan Afganistan melakukan pekerjaan-pekerjaan di rumah sakit, sekolah dan berbagai sektor sipil. Wanita-wanita tersebut ada yang berprofesi sebagai dokter dan guru. Mereka adalah kaum profesional. Tapi dengan keluarnya dekrit dari Taliban, pendayagunaan wanita dan pendidikan bagi wanita otomatis terhenti seketika. Bahkan, banyak dari mereka akan menjadi pengemis.

Aturan tirani ini juga berlaku bagi para pria yang berusaha membantu wanita-wanita tersebut. Pada tahun 2006, beberapa tahun setelah ‘pembebasan’ Afganistan, seorang guru Afgan berumur 46 tahun diseret dari rumahnya di hadapan keluarganya dan dibunuh dengan mengenaskan – dicincang dan tubuhnya diceraiberaikan hanya karena menolak perintah untuk tidak memberikan pendidikan bagi perempuan.

Di Iran, dua orang wanita, kakak beradik bernama Zohreh dan Azar, dihukum mati dengan dirajam setelah dituduh melakukan perzinahan. Di bawah Hukum Syariat Islam, hukuman mati diberikan pada wanita-wanita yang melakukan perzinahan. Kejahatan yang dituduhkan pada dua wanita tersebut kebetulan tertangkap dalam sebuah rekaman video. “Perzinahan” itu terjadi ketika dua orang wanita tersebut ada dihadapan pria lain ketika suami mereka tidak ada. Saya ulangi dan tegaskan, kejahatan mereka yang terekam di rekaman video adalah karena mereka ada di hadapan pria lain ketika suami mereka tidak ada. Tidak ada aktifitas seksual, tidak ada sentuhan apapun. Bahkan susah dibuktikan pula dari rekaman tersebut bahwa mereka sedang terlibat pembicaraan. Tetapi di bawah Hukum Syariat, mereka melakukan perzinahan dan dihukum mati dengan dirajam. Dan sebelumnya mereka mendapat hukuman 99 cambuk untuk tuduhan “hubungan ilegal”.

Dalam hukum rajam, tangan seorang wanita diikat kebelakang dan tubuhnya di ikat dan dibungkus dengan kain. Setelah ikatan itu dipastikan erat dan tidak lepas, dia dibawah ke sebuah lubang di tengah-tengah garis lingkaran dengan ukuran yang sudah disiapkan baginya, dan dikubur sampai setinggi bahunya. Setelah dia ditimbun di dalam lubang tersebut. Orang-orang mulai berteriak “Allah hu akbar” dan mulai melemparkan batu-batu sebesar kepalan tangan ke arah kepalanya dari jarak yang sudah ditentukan. Batu-batu tersebut dilemparkan sampai dia mati atau sampai dia berhasil meloloskan diri keluar dari lubang kubur dan menyeberang keluar garis lingkaran.

Kejadian nyata yang menyesakkan dada ini terus berlangsung di seluruh dunia bahkan di sini, di Amerika Serikat, di tangan para Islam radikal, Islam fundamentalis.

Perlu dicatat disini bahwa di dalam ideologi Wahhabi – Islam radikal, Muslim sangat dilarang untuk bekerja sama, berteman atau membantu siapapun yang bukan Islam dengan cara apapun. Dalam kepercayaan Wahhabi, para Muslim dilarang untuk mencampuradukkan kebudayaan Islam dengan kebudayaan lain. Lebih jauh lagi, para Islam fundamentalis tersebut diajarkan untuk memiliki rasa kebencian terhadap Amerika Serikat karena negara kita berlandaskan hukum konstitusional, bukan tirani Syariat Islam. Dua hal ini, yaitu penolakan Islam radikal untuk berasimilasi dan terhadap bentuk pemerintahan Amerika Serikat, kasus-kasus seperti pembunuhan Amina dan Sarah Said terjadi di Bumi Amerika ini.

Di Dallas, Texas, Yaser Said diberitakan membunuh dua orang puterinya, Sarah (17) dan Amina (1 karena dia merasa budaya Barat telah merusak kesucian putri-putrinya. Dia sekarang menjadi buronan, pihak penegak hukum meyakini bahwa dia dilindungi oleh komunitas Islam fundamentalis di Texas Utara.

Cerita yang sama juga ditemukan di bagian lain yang mempunyai populasi Islam cukup besar, termasuk Dearborn, Michigan, Herndon dan Virginia. Tidak cukup dengan penyiksaan fisik yang dihadapi para Muslimah, mereka masih harus berhadapan dengan dogma sosial dan hukum kekerabatan yang juga membebani mereka.

Di Hukum Syariat Islam, barangsiapa melakukan perzinahan harus dihukum mati, umumnya digantung, dipenggal atau dirajam. Dan banyak ketidakadilan terjadi di sini, karena korban pelecehan seksual dan perkosaan malah sering dituduh melakukan perzinahan. Bagi Islam, kewajiban menghindari hubungan seks di luar nikah, dalam bentuk apapun adalah pada wanita. Di bawah Hukum Syariat, serangan seksual atau pemerkosaan hanya dapat dibuktikan apabila pemerkosa mengaku atau paling tidak ada empat saksi pria yang maju memberikan kesaksian bahwa memang pemerkosaan tersebut terjadi. Tetapi karena di Islam wanita berharga lebih rendah daripada pria, jarang sekali ada empat pria yang bersedia bersaksi melawan pria lain untuk memberikan dukungan bagi pihak wanita.

Wanita yang mengaku bahwa mereka telah diserang secara seksual oleh seorang pria yang bukan suaminya, wanita yang mengaku dirinya telah diperkosa, sama saja mengaku bahwa ia telah melakukan hubungan seks diluar nikah. Tanpa adanya empat orang pria yang mau menjadi saksi, sekali lagi, empat orang pria yang mau menjadi saksi, maka serangan seksual tersebut akan dianggap sebagai perzinahan, dan sesuai dengan hukum yang berlaku, yang berzinah, harus dihukum mati.

Dan di lain pihak, karena wanita yang bertanggung jawab terhadap kesuciannya, meskipun terlihat sangat tidak adil, kenyataan yang terjadi adalah wanitalah yang paling banyak dihukum atas kasus perzinahan, meskipun di mata kita kultur Barat, mereka hanyalah seorang korban serangan seksual.

Ada ribuan, mungkin jutaan cerita seperti Zohreh & Azar, Sarah & Aminas dan Ayesha & Shamin dari berbagai penjuru dunia. Beberapa bahkan terjadi di Amerika Serikat, tetapi para pembela hak wanita tidak melakukan apa-apa. Organisasi kemanusiaan tidak melakukan apa-apa. PBB juga tidak melakukan apa-apa. Sementara itu para wanita, gadis-gadis belia, para ibu, anak-anak perempuan dan bahkan cucu-cucu perempuan mereka mati satu per satu.

Lahir sebagai perempuan di dunia Islam sama dengan terlahir sebagai kelas rendahan di bawah ajaran Qur’an. Lahir sebagai perempuan di dunia Islam, membuat anda belajar mengenai kematian di dalam kehidupan anda.

Seiring dengan apa yang saya pelajari tentang Islam, gerakan radikal dan ancamannya terhadap peradaban Barat. Saya menjadi semakin yakin tiap-tiap hari bahwa para wanita di lingkungan kitalah yang yang akan menjadi faktor utama dalam memotivasi gerakan melawan Islam.

Saya hanya bisa berdoa bahwa hal ini akan terjadi secepat mungkin, karena saat ini kita sedang mengalami kekalahan demi kekalahan di medan tempur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: