MENGAPA TIDAK ADA PEMERKOSAAN DI NEGARA-NEGARA ISLAM

Rata-rata dunia Islam mengikuti Hukum Syariat atau Sunnah yang dikenal sebagai “Umdat al-Salik” yang mana dibuat terpisah dari hukum-hukum lain dihampir seluruh negara Muslim.

Dikebanyakan negara-negara yang tertindas seperti Iran, Yaman, Arab Saudi, Pakistan, Kuwait, Oman, Qatar, Palestina, Somalia, Sudan, Sierra Leone, Suriah, Afganistan, Uni Emirat Arab, Bengali dan Bahrain, hukum-hukum tentang pemerkosaan sangatlah spesifik.

Dinegara yang saya tulis diatas, untuk melaporkan tindak pemerkosaan anda harus punya saksi yang melihat pemerkosaan terjadi. Tidak ada istilah tindak pemerkosaan dari hampir 99% kasus yang bisa dibawa kedepan pengadilan. Ini karena batas umur wanita yang dianggap bisa diperkosa adalah 9 tahun, ikut kebijakan Muhammad yang ngeseks dengan istri bocahnya berumur 9 tahun. Hanya pria yang mengincar anak umur kurang dari 9 tahun lalu dilaporkan ke pihak berwenanglah yang diadili tapi itu juga tidak mesti selalu dihukum.

Yang membuat saya akhirnya mengerti masalah ini adalah dengan organisasi HAM yang punya lebih dari 30.000 laporan dan lebih dari 10.000 dokumentasi mengenai isu perkosaan ini. Negara yang paling mengerikan adalah Iran dimana polisi moral malah jadi pelaku lebih dari 80% perkosaan yang dilaporkan. Tapi, laporan-laporan ini tidak diteruskan oleh pihak berwenang karena hukum menyatakan bahwa tindak perkosaan harus ada saksi yang langsung melihat atau keluarga si wanita sendiri yang harus melaporkannya jika korban berumur kurang dari 9 tahun, sebelum diadakan penyelidikan.

Umumnya para anggota keluarga balas dendam pada pria yang memperkosa, apalagi jika sikorban dibawah 9 tahun dan mereka-mereka ini jarang sekali melaporkan hal tersebut. Banyak kasus pembunuhan mengacu pada pembalasan dendam atas perkosaan anggota keluarga, hal ini semacam sistem bela diri terhadap penindasan. Tragedi yang sebenarnya adalah si wanita, yang kemudian jadi korban ‘Honor Killing’ (dibunuh demi kehormatan keluarga) karena kehilangan keperawanannya, biasanya pembunuh si wanita ini adalah anggota keluarga juga.

Karena ada dibawah Hukum Syariat dan Sunnah, hal ini membuat kasus perkosaan hampir tidak mungkin bisa diadili. Dalam banyak kasus, wanita dituduh melakukan penghinaan moral jika mereka melaporkan perkosaan dan biasanya hal ini akhirnya berujung dengan pihak berwenang menangkap si wanita dengan tuduhan tidak bermoral atau melakukan pelacuran. Sekali saja tuduhan-tuduhan ini diterapkan pada korban pemerkosaan, maka si korban itu bisa diperkosa berulang-ulang oleh anak-anak lelaki dan pria-pria setempat, karena toh si wanita itu sudah dianggap tidak bermoral dan jika si wanita lagi-lagi melaporkan pemerkosaan ini maka lagi-lagi akan berujung pada tuduhan tidak bermoral dan pelacuran. Lihat saja kasus Lunina S. di Pakistan tahun 1991. Aina S di Iran 2004, Firdaus M di Bengal 2005, Makarim I. di Arab Saudi tahun 2000. Saya bisa menulis ribuan nama tempat dan tahun terjadinya kasus-kasus tersebut, tapi saya kira anda sudah bisa mengerti yang saya maksud.

Dalam kasus Aina S. di Iran tahun 2004 dan Firdaus M. di Bengal tahun 2005 serta Makarim I. di Arab Saudi tahun 2000, para wanita itu dihukum mati karena tuduhan tidak bermoral. Yang tertua berumur 13 tahun dan termuda 10 tahun, para bocah wanita ini dilaporkan telah diperkosa dan pemerkosanya bahkan tidak pernah disebut-sebut oleh pihak berwenang. Malah para bocah wanita ini dituduh tidak bermoral karena mereka belum menikah tapi telah kehilangan keperawanan. Pihak berwajib menggantung mati mereka, hanya karena jadi korban perkosaan.

Ini sebabnya kenapa dinegara-negara tersebut para wanita jarang sekali melaporkan kejahatan perkosaan, karena mereka takut. Ditambah lagi ada ucapan dari Sheikh Taj El-Din Hamid Hilaly yang mengatakan wanita tidak memakai Burka adalah daging tak tertutup bagi pria, seorang mufti di Kopenhagen menimbulkan kegemparan politik setelah secara terang-terangan menyatakan wanita yang menolak pakai kerudung itu “MEMINTA UNTUK DIPERKOSA“. Arshad Misbahi dari Masjid Agung Manchester bilang, wanita Barat adalah pelepasan seks bagi pria-pria Muslim, Al Rafee bilang: Jika saya melihat sebuah tindak perkosaan terjadi, saya akan mendisiplinkan si lelaki dan memerintahkan si wanita untuk dipenjara seumur hidupnya. Kenapa kau lakukan ini, Rafee? Karena jika dia tidak membiarkan dagingnya terbuka, kucing-kucing tidak akan mengambilnya.

Pandangan-pandangan demikian ini diajarkan diseluruh sekolah-sekolah Muslim. Pandangan-pandangan demikian ini tersebar diseluruh dunia Muslim.

Fakta yang tidak bisa dibantah. Data yang dikumpulkan antara tahun 2000 sampai 2004.

Norwegia: 80% perkosaan dilakukan oleh imigran Muslim. Korban berumur 6 sampai 16 tahun.

Swedia: 78% perkosaan dilakukan oleh imigran Muslim atau terjadi dikomunitas Muslim. Perkosaan beramai-ramai (gang rape) dikenal sering terjadi didaerah Muslim kelas kambing. Korban biasanya berumur dibawah 14 tahun.

Perancis: 74% korban perkosaan dilakukan oleh pria Muslim.

Belanda: 63% korban perkosaan mengidentifikasi pelakunya sebagai imigran Muslim.

Denmark: 85% korban perkosaan diperkosa oleh pria Muslim yang mereka kenal, kebanyakan adalah imigran. Yang mengagetkan adalah umur korban antara 4 sampai 15 tahun.

Inggris: 58% perkosaan selalu melibatkan Muslim atau pengikut Islam.

Jerman: 81% korban perkosaan diperkosa oleh pria Muslim imigran.

Italia: 52% perkosaan dilakukan oleh pria Muslim.

Amerika Serikat: Menurut FBI 49% semua kasus perkosaan diseluruh Amerika dilakukan oleh pria yang mengaku Muslim atau dikenal termasuk gang Muslim di penjara sebelumnya.

Australia: 91% kasus perkosaan dilakukan oleh pria Muslim, kebanyakan imigran atau pelajar tamu.

Kanada: 52% kasus perkosaan melibatkan pria Muslim.

Spanyol: 52% kasus perkosaan melibatkan pria Muslim.

Fakta lain adalah bahwa imigran Muslim menaikkan tingkat kejahatan diseluruh negara-negara tempat mereka pindah antara 20% sampai 35%. Perbedaan 15% ini terjadi karena perbedaan undang-undang dan hukuman ditempat imigran tersebut berada. Dengan kata lain, apa yang dianggap sebagai kejahatan disatu negara bisa jadi bukan kejahatan dinegara lain.

Yang nyata adalah bahwa negara-negara Islam punya moral dan nilai-nilai yang sangat-sangat rendah terhadap wanita dan HAM karena agamanya.

Kebanyakan kejahatan di Eropa adalah kejahatan karena kebencian yang dimotivasi oleh Jihad religius untuk mencoba mengubah Eropa menjadi dunia Muslim.

Jihad sekarang meminta para Muslim di Barat untuk mempunyai anak sebanyak mungkin dan mendapat uang kesejahteraan dari negara tempat tinggal mereka (dengan kata lain jadi pengangguran yang digaji buta, alias pengemis). Mereka ingin menjadi mayoritas dinegara tersebut untuk mengubah negara itu dari Kristen menjadi Islam dengan cara apapun yang mungkin. Perancis adalah contoh yang tepat dimana hampir terjadi perang saudara antara Muslim dan Kristen serta polisi pemerintah.

Jadi jika saya dengar ada Muslim yang mencoba atau berkata bahwa perkosaan dan kejahatan moral lainnya hanyalah masalah yang terjadi di Barat semata. Saya akan bilang DIA ADALAH PEMBOHONG TERBESAR DIDUNIA.

Fakta adalah fakta. Periksa saja yang saya tulis. Google jika mau. Anda pastilah menemukan apa yang saya tulis itu benar. Terus, tanya pemerintah-pemerintah untuk memeriksa fakta tingkat kejahatan yang saya tuliskan. Itu semua apa adanya.

Para Muslim pada umumnya tidak mematuhi hukum ditanah mereka tinggal. Mereka hanya patuh pada hukum yang ingin mereka patuhi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: