QUR’AN DAN HADIS: MANA YANG LEBIH OTENTIK

Oleh Mumin Salih

Dalam perdebatan tentang Islam, intelektual Islam yang licin, dengan cepat menolak Hadis-hadis yang memperlihatkan sisi buruk Islam. Hanya sedikit yang tahu bahwa keaslian/otentisitas Hadis yang diperoleh lewat metode periwayatan yang ilmiah dan objektif, akan dipandang lebih tinggi dari Qur’an yang kodifikasi/sistem penyusunannya memang dikenal paling buruk.

Qur’an dianggap seperti tulang punggung Islam, walaupun sebagian besar ajaran agama ini berasal dari sunah, atau tradisi Muhammad, yang berdasarkan Hadis atau perkataan-perkataannya, dan dianggap kedua terpenting setelah Qur’an. Pelaksanaan Islam mustahil tanpa sunah, karena Qur’an tidak menjelaskan apapun tentang ritual Islam atau syariat yang mengarahkan umat Islam untuk mengambil contoh dari Muhammad, dan hanya ada di Hadis (QS 59 Al-Hashr 7).

Tentu saja hal ini membuat frustasi para intelektual Islam saat terlibat dalam perdebatan tentang Islam. Dengan cepat mereka menjauhkan diri dari Hadis-hadis yang cenderung meletakkan agama mereka dalam posisi tidak menyenangkan, tak perduli seberapapun otentiknya Hadis itu. Menyangkal sebuah Hadis menjadi taktik bertahan para pembela Islam dalam usaha mereka mempertahankan integritas Islam. Menurut logika mereka, Islam takkan jatuh hanya dengan kehilangan satu atau dua Hadis, karena Islam ditopang oleh Qur’an. Di sisi lain, orang-orang Islam ini tidak malu-malu mengutip Hadis lain, tak peduli betapapun tidak otentiknya, untuk memperkuat argumen mereka yang mendukung Islam.

Namun, mayoritas umat Islam tetap percaya penuh pada Qur’an dan Hadis, yang mereka anggap benar-benar saling melengkapi. Arus utama umat Islam menganggap orang yang menyangkal Hadis sebagai Kafir, karena akhirnya sama juga menyangkal Qur’an. Di banyak negara, nyawamu akan terancam bila menolak Hadis, karena hal tersebut sama dengan menolak Qur’an.

Di balik alasan-alasan nyata penolakan terhadap Hadis, tersembunyi alasan-alasan yang sesungguhnya. Hadis disajikan dalam bahasa yang rinci serta beberapa narasi yang saling mendukung, sehingga hanya tersisa sedikit ruang bagi para Islamist mencari celah penafsiran lewat permainan kata, atau memanipulasi makna.

Di lain pihak, Qur’an disajikan dalam susunan format yang samar-samar, ringkas dan terdapat ayat yang saling bertentangan sehingga tersedia ruang untuk pelintiran bahasa dan juga pelintiran makna dari kata-kata di dalammnya. Qur’an tertutup lapisan kabut tebal; banyak umat Islam memanfaatkan ketidakjelasan ini untuk berargumen dan mengklaim bahwa mereka dapat melihat gambaran yang berbeda dari pengkritiknya.

Seberapa otentikkah Hadis?

Ada berbagai koleksi Hadis yang dianggap umat Islam paling otentik; yang paling terkenal koleksi Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Koleksi lain termasuk Sunan an-Nasa’i al-Sughra, Sunan al-Tirmidhi, Sunan Abu Dawood dan Sunan Ibn Maja. Keenam koleksi ini disebut enam yang otentik, Al-Kutub Al-Sittah.

‘Ilmu Hadis’ adalah bidang kajian paling terkenal dan bergengsi di semua Universitas Islam. Di dalamnya diajarkan bagaimana para cendekiawan Islam mengumpulkan koleksi mereka dan perjalanan melelahkan yang mereka jalani dalam menjelajahi dunia Islam, untuk menyempurnakan hasil akhir mereka. Metodologi yang mereka gunakan, mengingat zamannya, patut diteladani. Mereka mempelajari setiap Hadis secara mendetail; teks dan rangkaian periwayatan dan menggolongkannya sesuai tingkat otentisitas/kesahihannya. Bahkan untuk standar saat ini, keilmuan dan dedikasi mereka luar biasa.

Sebagian besar dari 200.000 atau lebih Hadis yang mereka nilai secara menyeluruh, mereka tolak, dan hanya sekian ribu yang tercantum dalam Buku Sahih (otentik) mereka. Tujuan mereka jelas yakni banyak ‘Hadis baik-baik’ harus ditolak, sementara Hadis lain yang tak begitu ‘baik’ harus dimasukkan karena bukti pendukungnya kuat.

Jika umat Islam hendak membanggakan sesuatu, pendekatan akademis yang objektif, yang diterapkan para cendekiawan tersebut dalam pengumpulan Hadis, akan berada di posisi teratas.

Para cendekiawan Islam awal, seperti Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj Nishapuri, bukan orang biasa; mereka terpelajar, berpendidikan tinggi dan cerdas, dan yang penting berdedikasi untuk meneliti secara jujur kebenaran hidup Muhammad. Jelasnya, mereka adalah jenius di zamannya. Sangatlah menggelikan bila banyak orang Islam modern, dengan pengetahuan dan pendidikan yang patut dipertanyakan berani menolak kaya brilian para cendekiawan tersebut sebagai suatu kesalahan, hanya karena mereka tidak memahami dengan baik opini mereka sendiri yang bias.

Seberapa otentikkah Qur’an?

QS 2 Al-Baqarah 106
Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?

Ayat di atas adalah jawaban singkat untuk mereka, yang mengklaim Qur’an abadi dalam tablet di Surga. Ayat ini merupakan pengakuan yang jelas bahwa Qur’an mengandung kontradiksi (Islam menyebutnya dibatalkan) ayat, sama halnya ayat-ayat tersebut telah benar-benar dilupakan! Tapi tidak perlu khawatir; Allah mampu memberikan ayat-ayat yang serupa atau bahkan menggantinya dengan yang lebih baik!

Berbeda dengan Hadis, koleksi ayat-ayat Qur’an bermotif politik dan tidak menerapkan metodologi atau standar kecermatan yang tinggi sebagaimana pada kumpulan Hadis. Kerentanan Qur’an terletak pada kenyataan bahwa walaupun hanya satu kesalahan, penempatan kata atau huruf, merupakan bukti cukup bahwa keseluruhan buku hanyalah tipuan.

Dalam Islam, penting untuk percaya bahwa Qur’an adalah kata-kata abadi dari Allah. Sebab itu otentisitasnya tak perlu dipertanyakan. Dan memang umat Islam tak pernah mempertanyakan otentisitas Qur’an, padahal disitulah letak masalah mereka. Mereka percaya alasan lahirnya agama Islam adalah karena Kitab-kitab Suci sebelumnya telah terdistorsi. Dengan kata lain, umat Islam percaya bahwa Allah mewahyukan Qur’an dengan ketetapan untuk melestarikannya.

Dengan pola pikir seperti itu, diharapkan Allah menggunakan langkah-langkah luarbiasa untuk melestarikan apa yang seharusnya menjadi dokumen Ilahi paling terakhir dan paling penting bagi kemanusiaan. Tapi Ia tidak melakukannya! Kenyataannya, di semua situasi dan cara pewahyuan Qur’an, serta bagaimana Qur’an ditangani Nabi kesayangan Allah, merupakan gambaran sempurna mudahnya Qur’an dikorupsi paling tidak hilang, dan itulah yang terjadi.

1. Qur’an diwahyukan kepada Muhammad, yang, umat Islam bersikeras bahwa ia buta huruf dan, sebab itu takkan dapat memverifikasi keakuratan ayat yang ditulis untuknya oleh para penulis sukarela yang tidak memiliki standar tinggi. Mempercayai Muhammad dengan Qur’annya adalah sebuah kesalahan besar dibanding mempercayai seorang buta huruf untuk mengedit New York Times. Dengan dokumen sepenting Qur’an, tidak cukup hanya berasumsi bahwa para penulisnya jujur dan dapat dipercaya, khususnya bila salah seorang diantaranya, Abdullah ibn Saad, mengakui bahwa ia seringkali membuat perubahan pada teks Qur’an tanpa diperhatikan Muhammad (1)

[1] Ali Dashti, ’23 years, a study of prophetic career of Mohammed’

2. Umat Islam mengklaim bahwa Qur’an benar-benar ditulis sepanjang hidup Muhammad, tapi tak ditemukan bukti terpercaya yang mendukung klaim tersebut. Logis untuk dipercaya bahwa Qur’an tidak benar-benar ditulis di 13 tahun pertama Islam, sewaktu Muhammad masih berada di Mekkah karena ia tidak punya sumber daya untuk melakukannya. Mungkin juga ada yang berharap bahwa penulisan Qur’an adalah prioritas utama setelah ia meraih kekuasaan di Madinah, tapi ia terlalu sibuk berperang untuk memikirkan hal tersebut.

Setelah mendirikan Negara Islam di Madinah, Muhammad dapat saja memerintahkan secara resmi pencatatan, pengindeksan dan penyimpanan dokumen paling penting Islam. Bahkan ia dapat memberinya stempel karena ia punya sebuah stempel. Tapi Muhammad tidak melakukan hal-hal itu, yang menunjukkan bahwa ia tidak menganggapnya penting. Kenyataannya, ada alasan untuk percaya bahwa Muhammad sesungguhnya mengambil keuntungan dari situasi kacau Qur’an.

Qur’an yang tidak terdokumentasi memberi Muhammad kebebasan untuk mengubah pikiran atau bertentangan dengan dirinya sendiri, dan tetap bisa lolos dengan mengklaim bahwa ayat-ayat yang telah dihafalkan sebelumnya telah terlupa atau memudar dari ingatan. Pencatatan ayat-ayat yang ‘diwahyukan’ di Madinah berlangsung secara santai; pekerjaan yang dilakukan oleh siapa saja yang tersedia diantara para penulis sukarela. Beberapa ayat malah ditulis oleh lebih dari satu penulis, yang menyebabkan kebingungan, sementara ayat-ayat lain mungkin tak pernah sempat ditulis sama sekali, menyebabkan lebih banyak kebingungan.

3. Qur’an diturunkan di abad ke-7, dalam bahasa Arab, bahasa yang tulisannya belum berkembang baik. Banyak kata-kata dalam bahasa Arab dengan arti berbeda memiliki tulisan yang sama. Orang Arab memecahkan masalah ini dengan menambahkan jumlah titik yang berbeda pada huruf yang terlihat sama, tapi solusi tersebut ditemukan bertahun setelah kematian Muhammad. Sebagai contoh, kata Arab ‘harb,’ yang berarti perang, memiliki bentuk yang sama dengan selusin kata lain dengan arti yang berbeda, seperti ini: حرب خرب حزب جرب حزن جزت حزت خزن (Kata-kata di atas berarti: Perang, kerusakan, pesta, mencoba, kesedihan, dihargai, menyebabkan nyeri, disimpan). Jika kau hapus titik dari semua huruf, maka semua kata-kata tampak persis sama, dan terserah kepada akal sehat dan kecerdasan pembaca untuk menggunakan kata tertentu yang dimaksud oleh tulisan tertentu.

Idealnya, untuk pelestarian Qur’an yang lebih baik, Allah harusnya mendidik Muhammad dan menciptakan titik-titik sebelum mewahyukan Qur’an.

Orang-orang Arab mengklaim bahwa bahasa mereka adalah bahasa yang unggul, sebab itu dipilih Allah sebagai sarana komunikasi resminya. Umat Islam lain setuju dengan klaim tersebut dan memuji bahasa Arab sebagai bahasa yang paling indah, walau bahkan tak mengerti atau bicara dengan bahasa itu. Sesungguhnya, bahasa Arab adalah suatu bahasa yang rumit sehingga sulit berkembang, khususnya yang sekarang digunakan Qur’an.

Bahkan di zaman sekarang, setelah ‘penemuan’ titik-titik, membaca teks Arab masih menjadi pekerjaan tebak-tebakan. Buku-buku dan surat kabar dicetak tanpa tanda diakritik untuk mengurangi ketidakrapian di sekitar kata-kata. Tanda diakritik ‘ditemukan’ lebih dari satu abad setelah titik-titik. Tanpa tanda diakritik, kata ke-empat dari contoh di atas, Jarab, dapat dibaca sebagai: Jaraba = mencoba, Jurriba = telah dicoba, Jarab = wabah, Jurub = menderita wabah!

4. Teknologi menulis di Arab sangat primitif serta menggunakan bahan berkualitas buruk dan mudah rusak, seperti daun palem dan tulang.

Walaupun kita membaca sejarah Islam hanya dari sumber-sumber Islam yang sangat bias, kita seringkali tersandung pada beberapa fakta historis seperti berikut ini:

• Abdullah Ibn Masood terkenal di kalangan para sahabat Muhammad sebagai orang yang paling terkemuka dalam pengetahuan tentang Qur’an; dikatakan bahwa ia mencatat dan memiliki salinan Qur’an sendiri yang disimpannya. Salinan Abdullah Ibn Masood sangat berbeda dengan salinan resmi Uthman ibn Affan, yang ia tolak untuk diakui (2). Ada beberapa ayat hilang, bahkan yang disimpan di rumah Muhammad sendiri! Aisha mengakui bahwa ia biasanya menyimpan ‘ayat perajaman’ di bawah tempat tidur sampai dimakan seekor kambing! (3).

[2] Al Itqan fi ulum al Qur’an – Al Suyuti. ‘Arabic’
[3] Ibn Maja, 1944, Musnad Ahmed 25784 ‘Arabic’

• Al-Hajjaj ibn Yusuf, penguasa kejam Irak selama Kekhalifahan Umayyah, membuat banyak perubahan pada Qur’an resmi, bertahun-tahun setelah Uthman (4).

[4] Al Masahif- Sajistani ‘Arabic’

• Korupsi politik, perebutan kekuasaan dan ketidakstabilan menandai masa pemerintahan Uthman. Dalam iklim politik yang tidak sehat seperti itulah, Uthman memerintahkan penyusunan Qur’an.

• Uthman mengirim empat salinan Qur’an resminya ke berbagai wilayah kekuasaan Islam, dan menyimpan satu salinan di Madinah. Tampaknya, tak satupun salinan tersebut yang selamat. Tak ada bukti bahwa salinan-salinan Qur’an tertua saat ini, berasal dari masa Uthman. Salinan tertua yang ada, manuskrip Sana’a (Yaman), berasal dari beberapa dekade setelah masa Uthman serta mengandung perbedaan-perbedaan signifikan dengan versi Uthman yang beredar saat ini (5).


[5] islam-watch.org

• Banyak cendekiawan Muslim menyadari kelemahan argumen bahwa Qur’an adalah didokumentasikan di masa Muhammad. Mereka mengklaim bahwa Qur’an dilestarikan terutama di dada umat Islam (hafalan), dan dokumentasi tertulis hanya cadangan! Malang bagi mereka, karena membuat klaim seperti itu seperti menggali kuburan untuk Qur’an, sebab alasan utama penulisan salinan resmi Qur’an dan pembakaran semua salinan lain, adalah untuk menghentikan perselisihan diantara umat Islam. Ayat-ayat Qur’an yang tersimpan di dada umat Islam ternyata begitu berbeda-beda sehingga mereka saling tuduh ‘Kafir’ satu sama lain.

Qur’an mungkin merupakan dokumen yang paling tidak otentik dalam Islam, sebagaimana terbukti dari kebingungan dan perselisihan yang terjadi diantara umat Islam awal. Umat Islam di masa awal ini tidak sepakat mengenai apa yang sebaiknya dimasukkan dalam Qur’an dan apa yang tidak. Salinan Qur’an Abdullah ibn Masud tidak memasukkan 3 pasal yang ada di salinan Uthman, karena ia tidak percaya kalau kedua pasal tersebut benar-benar merupakan bagian dari Qur’an. (2) Lainnya melaporkan bahwa Surah At-Tawbah (Pasal 9, yang terdiri dari 129 ayat) dulunya sama panjang dengan Surah Al-Baqarah (Pasal 2, yang terdiri dari 289 ayat) sebelum hilang sebagian. (2) Abdullah ibn Umar dilaporkan berkata, “Biarlah tak satupun diantaramu berkata, ‘Saya punya Qur’an lengkap.’ Bagaimana ia tahu bahwa semuanya lengkap? Banyak bagian dari Qur’an telah hilang. Sebaiknya biarlah ia berkata, saya punya bagian yang selamat.” (6) Sejumlah besar pengulangan dan kontradiksi menjadi petunjuk adanya sejumlah duplikasi dan manipulasi terhadap teks asli.

[6] Abu Bakr al Suyuti, “al Itqan fi `ulum al Qur’an”, 1935/1354, pt. 2, p. 25) ‘Arabic’

Menurut Qur’an yang ada, hukuman untuk perzinahan hanya dijelaskan dalam ayat QS 24 An-Nur 2 (hukum cambuk seratus kali) dan QS 4 An-Nisa’ 15 (kurungan penjara), tidak disebutkan perajaman. Tapi selama 1.400 tahun umat Islam sepakat kalau hukuman bagi perzinahan adalah dirajam sampai mati, karena ayat tentang itu, yang membatalkan kedua ayat di atas, ada disana dan tetap efektif berlaku, hukman, walaupun kata-katanya telah dibatalkan, kawan. Kita dapat menambahkan logika ini ke tumpukan pembenaran aneh, yang dianut umat Islam, untuk memahami Qur’an. Bagaimanapun kita punya hak bertanya: Mengapa Allah mempertahankan ayat-ayat usang dan meniadakan yang valid?

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: