TUHAN TIDAK BERDOA

“As for Allah …”

Baru-baru ini Pendeta Zakaria Botros yang juga dijuluki Majalah World Magazine sebagai Tokoh Daniel tahun ini – secara singkat membahas pernyataan yang seringkali diucapkan Muslim setiap nama Muhammad disebut, yakni “berkat dan damai menyertainya” atau dalam bahasa Inggris adalah “peace and blessing upon him” atau disingkat sebagai PBUH.

Kalimat Arab asli yang diucapkan setiap kali nama Muhammad disebut adalah Sala Allah ‘alayhi wa sallam, yang arti harafiahnya adalah “Allah berdoa baginya dan bagi perdamaian.” Hal ini juga dinyatakan di Qur’an, 33 Al-‘Ahzab 56:

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Dalam ayat itu dinyatakan “Allah dan Malaikat-malaikat-Nya berdoa (yi-sal-un) untuk sang Nabi …”

Semua orang Arab yang membaca kalimat ini tentunya akan bertanya, “Mengapa – dan bagaimana caranya – Allah berdoa untuk Muhammad?”

Jawaban khas dari para ulama dalam konteks ini adalah Sala tidak berarti “berdoa/salat” tapi berarti “memberkati.” Inilah sebabnya kalimat menyatakan “untuk dia” (‘alyhi) dan tidak “pada dia” (iliyhi). Kata-kata “pada dia” (iliyhi) berarti bahwa Allah berdoa kepada Muhammad – dan ini tentunya sangat tak masuk akal.

Tapi Pak Botros menjelaskan bahwa penjelasan ini mengandung masalah. Pertama-tama, jarang ada kamus Arab yang menyatakan kata Sala berarti “memberkati”; bahkan sebenarnya, satu-satunya kejadian di mana Sala berarti “memberkati” adalah jika Allah melakukan hal itu, seperti yang tertera dalam ayat Qur’an di atas, di mana kata Sala tidak pernah diterjemahkan sebagai “berdoa.”

Botros lalu membaca pelafalan umum yang sering diucapkan Muslim dalam buku Al-Majmu’ Al-Nawwawi, Vol. 8, Hal. 202:

  1. “Allah Sala bagi Muhammad dan keluarganya, sama seperti yang kamu lakukan bagi keluarga Ibrahim dan keluarganya.” Setelah beberapa pelafalan berikutnya, Muslim kembali melafalkan:
  2. “Allah baraka (memberkati) bagi Muhammad dan keluarganya, sama seperti yang kau lakukan bagi Ibrahim dan keluarganya.”

Pertanyaan Botros adalah:

Jika Sala berarti “memberkati,” mengapa menggunakan kata Arab Baraka/Barik (memberkati) dalam konteks yang sama? Jika makna kata Sala dalam kalimat pertama sama dengan makna Baraka pada kalimat kedua, maka mengapa tidak menggunakan kata Baraka saja dalam kedua kalimat tersebut? Hal ini tentunya karena Sala dalam kalimat pertama tidak berarti “memberkati”, tapi berarti “berdoa.”

Dia lalu membaca Hadis dari Kitab Al Sunna oleh Abdullah bin Ahmad, Vol. 1, Hal. 272:

Rupanya, ketika Muhammad mencapai Surga tingkat ke tujuh sewaktu Isra Mikraj, dia bertemu dengan Jibril, yang segera berkata padanya:

“Ssst! Tunggu, karena adalah lagi sembahyang (Sala/Salat).”
Muhammad bertanya, “Apakah Allâh melakukan salat?”
Jibril menjawab, “Iya, Dia melakukan salat.”
Muhammad lalu bertanya, “Apa yang didoakannya?”
Jibril menjawab, “Memuji! Memuji Tuhan!”

Pak Botros menutup buku dan melihat pada kamera sambil bertanya: “Bagaimana mungkin Allah bersalat? Pada siapa dia bersalat? Siapakah yang dipuji-puji oleh Allah?!” Jika Allah melakukan sembahyang memuji Tuhan, maka tampaknya Allah hanyalah sekedar makhluk ciptaan lain setarafa Jin atau Iblis – yang ketakutan dan lalu sembahyang pada Tuhan yang “sejati.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: