KAUM WAHHABI ADALAH UMAT MUSLIM YANG UNIK

Oleh Dr. Sami Alrabaa

Kecuali jika kau orang Arab, atau orang yang sangat mahir berbahasa Arab dan pernah hidup di Arab Saudi untuk beberapa saat, kau pasti tidak tahu akan fakta-fakta dan praktek-praktek berikut di Arab Saudi dan komunitas Wahhabi di seluruh dunia.

Mayoritas pendatang yang hidup di Arab Saudi, sebagian dari mereka tinggal di sana selama bertahun-tahun, tidak bisa bahasa Arab, hampir tidak pernah berhubungan dengan masyarakat setempat, dan dengan demikian tidak banyak tahu apa yang terjadi di Arab Saudi.

Wartawan asing yang mau melaporkan kehidupan di Arab Saudi diseleksi dengan seksama. Hanya wartawan yang pro-Saudi saja yang diterima. Setelah mereka tiba di Arab Saudi, mereka dikawal oleh petugas-petugas Saudi dari Kementrian Informasi. Wartawan-wartawan ini ditunjukkan apa yang diinginkan penguasa Saudi untuk dilihat mereka.

Pertama-tama, Arab Saudi yang merupakan pusat Islam tidak punya hukum kriminal sah yang ditetapkan, dan tidak punya sistem pengadilan modern. Biasanya, para imam atau polisilah yang menetapkan hukuman bagi para kriminal. Selain mereka, penentu hukuman adalah sang Raja dan keluarganya. Aturan hukum mereka yang didukung oleh paham Wahhabi merupakan hukum Islam jaman dahulu kala.

Harian Al-Madina di tanggal 8 Januari 2009, melaporkan bahwa:
“Kepala konsul kota Najran (tidak dipilih rakyat) menetapkan hukuman sebagai berikut: Pria yang memukuli istrinya sampai mati dijatuhi hukuman penjara ½ tahun dan hukum cambuk 200 kali. Dua orang pria yang mencuri domba menerima hukuman 3 tahun penjara dan 2000 cambukan.”

Muslim Saudi yang taat beragama Islam tidak mau bersalaman dengan wanita. Menyentuh tangan wanita bisa membangkitkan nafsu seksualnya dan hal itu adalah haram.

Juga pria seperti ini tidak akan pernah menggunakan tangan kirinya untuk makan, minum atau memberi barang ke orang lain. Tangan kiri itu tangan yang kotor, karena dia menggunakan tangan kiri untuk cebok setelah buang hajat.

Para wanita di Arab Saudi, harus mengerudungi tubuhnya, dari kepala sampai ujung kaki di muka umum. Jika wanita itu keluar rumah, maka dia harus ditemani saudara lakinya, dan jika tidak maka dia akan dicap sebagai pelacur, dan akan ditawan oleh Mutaween (polisi moral Saudi). Para wanita Saudi juga dipaksa mengenakan niqab (kain penutup wajah).

Terlebih lagi, wanita Saudi tidak diperbolehkan melalukan transaksi masyarakat apapun; Misalnya transaksi ekonomi, finansial atau administrasi tanpa ijin dari sanak saudara laki, suami, ayah atau abang.

Syekh Saudi Saleh Al-Luhaidan, Kepala Konsul Hukum Utama, mengatakan harian Al-Watan (2 Desember 2008) Bahwa “wanita diperkosa pria karena salah wanita itu sendiri. Merekalah yang menggoda pria dengan caranya memakai baju atau caranya berjalan.”

Arab Saudi adalah satu-satunya negara di dunia di mana pria dapat menikahi beberapa wanita atau menceraikan mereka tanpa kehadiran mereka. Yang dibutuhkan seorang pria untuk menikahi wanita adalah dua saksi yang dipilihnya sendiri. Untuk menceraikan wanita, pria itu hanya perlu melapor pada pemimpin agama tertinggi di daerahnya.

Hampir setiap rumahtangga Saudi punya setidaknya satu pembantu rumah tangga (PRT) dari Filipina, Srilanka dan India. Kebanyakan PRT itu adalah buruh murah dan mereka seringkali diperkosa oleh majikan prianya. PRT ini dipaksa bekerja 24 jam sehari, 7 hari per minggu, dan hanya dibayar $ 60-70 per bulan. Banyak dari PRT itu yang tidak pernah dibayar selama bertahun-tahun. Setelah diperkosa sampai hamil, mereka lalu dideportasi ke tanah air mereka.

Pangeran Salman, Gubernur Riyadh mengatakan pada harian Al-Madina di tanggal 20 November 2008: Bahwa, “hanya sedikit kok yang menganiaya PRT.” Akan tetapi keterangan ini berlawanan dengan laporan terakhir International Labor Organization (ILO = Organisasi Buruh Internasional) di Jenewa, Swiss, (2008), yang mengatakan 80% keluarga Saudi menganiaya PRT dan memperlakukan PRT bagaikan budak-budak saja.

Arab Saudi merupakan satu-satunya negara di dunia yang mengajarkan kebencian, kekerasan dan anti-toleransi terhadap Kafir di badan pendidikannya. Buku-buku pelajaran Saudi sarat akan kerancuan politik dan sosial. Bahkan buku matematika pun mengajarkan kebencian ini. Ini contoh test di sekolah Saudi: “19 Muslim membunuh 2.979 Kafir (hal ini jelas tentang pembunuhan 9/11). Berapakah yang dibunuh oleh setiap Muslim.” Silakan baca “Saudi Textbooks Incite to Hatred and Violence” (Buku-buku Pelajaran Saudi Mengajarkan Kebencian dan Kekerasan).

Buku-buku ini dicetak dan didanai oleh pemerintah Saudi dan disebarkan di Pakistan, Indonesia dan berbagai madrasah di Deoband, India, dan di mana saja.

Arab Saudi merupakan satu-satunya negara di dunia yang tidak memperkenankan umat non-Muslim punya tempat ibadah sendiri. Bahkan mengenakan kalung Salib di leher pun dilarang. Yang berani memakai kalung Salib akan ditangkap dengan tuduhan Kristenisasi dan bisa dihukum cambuk atau deportasi. Tapi sebaliknya, Arab Saudi telah mendanai pembangunan berbagai Masjid di seluruh dunia, dan menghamburkan milyaran dollar untuk mendirikan pusat-pusat Islam di seluruh dunia.

Contoh, Akademi Raja Fahd yang didanai Saudi sebesar $ 20 juta dan dibuka di Bonn, Jerman di tahun 1995, baru-baru ini ditutup karena akademi ini para pengajar dari Saudi mengajarkan kekerasan dan kebencian. Akan tetapi, “Rumah Islam” dekat Frankfurt, yang juga didanai oleh Saudi, masih saja mengajarkan kurikulum Saudi.

Arab Saudi adalah satu-satunya negara di dunia yang mengharuskan wanita-wanita Kafir menikah dengan pria Muslim terlebih dahulu sebelum bisa masuk Islam. Wanita-wanita Muslim tidak boleh menikah dengan pria Kafir, kecuali jika pria Kafir itu jadi mualaf.

Di belahan dunia mana ada polisi yang melarang usaha menyelamatkan gadis-gadis sekolah yang terjebak kobaran api hanya karena para gaids itu tidak pakai kerudung dari kepala sampai ujung kaki? Di Mekkah, di bulan Juli 2002, polisi moral Saudi melarang usaha penyelamatan para pelajar putri ketika sekolah mereka terbakar api. Mengapa kok dilarang? Hal ini karena para pelajar putri bisa difoto orang tanpa penutup kepala.

Arab Saudi merupakan satu-satunya negara di dunia yang memaksakan apartheid gender (diskriminasi berdasarkan perbedaan kelamin) di segala hal kehidupan.

TV Saudi mengajarkan anak-anak Muslim untuk membenci Yahudi. Di suatu program anak-anak (tanggal 12 Oktober 2008), penyiar program bertanya pada anak perempuan berusia 7 tahun apakah dia membenci Yahudi. Gadis cilik yang dikerudungi dari kepala sampai ujung kaki ini menjawab, “Ya, aku benci mereka.” Lalu ditanya kembali, “Mengapa?” Dan gadis cilik ini menjawab, “Karena kaum Yahudi memerangi Nabi kita Muhammad. Bahkan Allah juga membenci mereka.”

Penerapan bunga pada pinjaman uang juga merupakan hal yang haram dalam Islam. Hal ini disebut riba. Untuk mengatasi larangan ini, bank-bank Islam menggunakan kata murabahah (bagi-bagi keuntungan). Dalam prakteknya, murabahah itu ternyata sama dengan bunga uang biasa, tapi hanya dibubuhi dengan makna Islamiah bahwa murabahah itu halal. Silakan baca “Conservative Muslims and Die Hard Socialists Feel Vindicated by the International Financial Crisis”.

Saudi Arabia mengeluarkan dana terbesar untuk kepentingan militer di seluruh Timur Tengah. Menurut United States Central Intelligence Agency’s World Factbook, Arab Saudi menghabiskan dana sebesar $ 31.050.000.000 untuk membeli senjata di tahun 2008. Israel yang merupakan negara terkuat secara militer di Timur Tengah, ternyata hanya menghabiskan dana sebesar $ 13.300.000.000 saja.

Untungnya, Arab Saudi tidak menggunakan senjata militernya untuk memerangi Israel, dan ini bukan karena Saudi tidak mau, tapi karena Saudi tidak punya orang-orang yang mampu melakukan hal itu. Para ahli militer yakin bahwa senjata-senjata yang dibeli Saudi itu tetap tidak dibuka bungkusnya dan dibiarkan saja karatan di padang pasir. Dengan membeli senjata yang banyak itu, rezim Saudi menyenangkan industri peralatan militer di Barat, dan orang-orang dari bisnis industri senjata ini kemudian membujuk dan memberi dana bagi para politikus Barat agar mereka pun mendukung rezim Saudi.

Masalah korupsi pembelian senjata sebanyak $ 20 milyar bagi Arab Saudi ditutup-tutupi, dan ketika putra Sultan Saudi yang bernama Bandar tersudut dalam kasus ini, PM Inggris yang dulu Tony Blair berusaha sekuat tenaga untuk menutupi kasus ini, demi “kepentingan nasional.” Lihat saja laporan BBC untuk lebih detailnya.

Contoh-contoh Fatwa Saudi:

Ali Al-Khudair, seorang Imam Saudi di Riyahd mensahkan khotbah Jumat (4 April 2008) yang menyatakan Muslim boleh berdusta jika hal ini demi memajukan Islam.

Imam Mekkah bernama Abdul Rahman Al-Sudais berkata dalam khotbahnya pada tanggal 6 Juni 2008, Bahwa “parfum itu dilarang dalam Islam. Tiada pria atau wanita yang boleh mengenakannya. Parfum menarik Setan sehingga kita melakukan dosa.”

Abdallah Al-Najdi, seorang Imam Saudi lainnya, mengatakan pada harian Al Riyadh (14 Juli 2008) Bahwa, “sepakbola itu haram dalam Islam. Itu hanya permainan Kafir. Bertanding memperebutkan bola dan lalu bersuka cita karena menang main bola adalah perbuatan yang tak masuk akal.”

Menurut badan agama di Arab Saudi, suara wanita juga merupakan organ seksnya. Para wanita tidak boleh bicara langsung pada pria yang bukan saudaranya. Karena itulah, jika seorang wanita menelepon radio Saudi untuk berpartisipasi dalam talk show, wanita ini tidak boleh bicara dengan pria, tapi dengan wanita lain.

Syekh Saleh Al-luhaidan juga mengumumkan bahwa “belajar bahasa asing selain Arab yang merupakan bahasa Qur’an nan suci, merupakan perbuatan yang tidak Islamiah. Hal ini menghina agama kita. Sudah jelas bahwa anak-anak Muslim yang belajar bahasa Inggris, misalnya, jadi tumbuh dewasa seperti Kafir, dan ini merupakan kesalahan besar. Kau tahu bahwa kita harus sangat memperkecil hubungan dengan Kafir. Ini yang diajarkan Nabi kita dan Qur’an nan suci.”

Syekh Saleh Al-Fawzan, salah satu Imam Saudi yang berpengaruh, mengatakan di berbagai khotbah bahwa Muslim haram untuk mengunjungi negara Kafir, karena berbagai alasan. “Negara-negara Kafir itu tak bermoral dan penuh dengan Setan yang membujuk wanita dan pria.” Begitulah katanya di Saudi TV (6 Juni 2008).

Biasanya keluarga-keluarga Saudi berlibur di negara-negara Arab seperti Mesir, Libanon, Maroko dan Suriah, terutama untuk menghindari musim panas yang membara di negaranya. Para wanita biasanya pergi shopping dan para pria hanya duduk-duduk saja di warung-warung kopi sambil menikmati pemandangan para wanita. Mereka tidak tertarik sama sekali untuk mempelajari budaya masyarakat lain.

Kebanyakan pria Saudi yang melancong ke negara Barat menghabiskan sebagian besar waktu dan uangnya untuk menikmati para pelacur.

Menurut mayoritas Imam Saudi, musik, dansa dan syair adalah haram. Satu-satunya buku yang wajib dibaca Muslim adalah Qur’an. Satu-satunya “musik” yang harus didengarkan Muslim hanyalah pelafalan Qur’an.

Sistem pendidikan yang penuh kebencian dan jarangnya membaca buku dan berkenalan dengan dunia sekuler menghasilkan masyarakat yang fanatik. Mayoritas pemberontak Saudi bersikap lebih fanatik daripada rezim Al-Saud. Hanya sedikit saja pemberontak Saudi yang sekuler, seperti Ali Alyami, Ali Al-Ahmed dan Mai Al-Yamani.

Arab Saudi merupakan satu-satunya negara yang menerapkan Hukum Syariat (kombinasi aturan Qur’an dan Hadis) – selama hukum itu mendukung rezim Saudi. Harus ditekankan di sini bahwa Hukum Syariat itu merupakan doktrin yang penuh penindasan, kebencian, kekerasan dan diskriminasi.

Berdasarkan penjelasan diatas, kita tidak perlu heran mengapa 15 dari 19 para teroris 9/11 adalah orang-orang Saudi. Untuk menambah garam pada luka, rezim Saudi menyelenggarakan dialog antar agama dengan mengundang pemimpin-pemimpin Kristen dan Yahudi. Coba baca ini: “Saudis Call for Interfaith Dialogue is Hypocritical” (Saudi Menyelenggarakan Dialog Antar Agama merupakan Sikap Munafik).

Sedihnya, meskipun telah nyata berbagai masalah tersebut, Arab Saudi dengan produksi minyaknya, memegang peranan penting di saat Perang Dingin dan juga setelah itu. Karena itulah, pihak Barat masih mendukung negara Arab Saudi.

Pada saat pihak Barat tidak membuang waktu untuk mengecam penindasan kemanusiaan di Cina, Russia, Korea Utara, dan Zimbabwe, mereka diam saja terhadap pelanggaran kemanusiaan yang begitu hebat di Arab Saudi.

Jika saja Arab Saudi tidak punya minyak, masyarakat dunia mungkin akan melupakannya, sama seperti sikap tidak peduli dunia terhadap Somalia. Tapi rezim Saudi di Riyadh tidak bisa diacuhkan begitu saja karena rezim ini sangat kaya raya dan berbahaya. Keluarga Al-Saud selama berdekade-dekade telah mendanai dan masih mendanai fanatisme Islam di seluruh dunia.

Perang melawan teror Islam tidak kunjung mencapai kemajuan dan akan sia-sai belaka kecuali jika pihak Barat membabat akar penyebab terorisme ini, yakni Arab Saudi. Sebelum ini terjadi, pihak Barat seakan hanya memerangi bayang-bayang saja.

Dr. Sami Alrabaa adalah murtadin yang bekerja sebagai Profesor di bidang Sosiologi dan ahli budaya Arab-Muslim. Sebelum hijrah ke Jerman, dia mengajar di Universitas Kuwait, King Saud University dan Michigan State University. Dia juga menyumbangkan tulisan untuk Jerusalem Post. Dr. Alraabaa merupakan penyusun buku of Karin in Saudi Araba: Living Under Shari’a.

Oleh Dr. Sami Alrabaa

Kecuali jika kau orang Arab, atau orang yang sangat mahir berbahasa Arab dan pernah hidup di Arab Saudi untuk beberapa saat, kau pasti tidak tahu akan fakta-fakta dan praktek-praktek berikut di Arab Saudi dan komunitas Wahhabi di seluruh dunia.

Mayoritas pendatang yang hidup di Arab Saudi, sebagian dari mereka tinggal di sana selama bertahun-tahun, tidak bisa bahasa Arab, hampir tidak pernah berhubungan dengan masyarakat setempat, dan dengan demikian tidak banyak tahu apa yang terjadi di Arab Saudi.

Wartawan asing yang mau melaporkan kehidupan di Arab Saudi diseleksi dengan seksama. Hanya wartawan yang pro-Saudi saja yang diterima. Setelah mereka tiba di Arab Saudi, mereka dikawal oleh petugas-petugas Saudi dari Kementrian Informasi. Wartawan-wartawan ini ditunjukkan apa yang diinginkan penguasa Saudi untuk dilihat mereka.

Pertama-tama, Arab Saudi yang merupakan pusat Islam tidak punya hukum kriminal sah yang ditetapkan, dan tidak punya sistem pengadilan modern. Biasanya, para imam atau polisilah yang menetapkan hukuman bagi para kriminal. Selain mereka, penentu hukuman adalah sang Raja dan keluarganya. Aturan hukum mereka yang didukung oleh paham Wahhabi merupakan hukum Islam jaman dahulu kala.

Harian Al-Madina di tanggal 8 Januari 2009, melaporkan bahwa:
“Kepala konsul kota Najran (tidak dipilih rakyat) menetapkan hukuman sebagai berikut: Pria yang memukuli istrinya sampai mati dijatuhi hukuman penjara ½ tahun dan hukum cambuk 200 kali. Dua orang pria yang mencuri domba menerima hukuman 3 tahun penjara dan 2000 cambukan.”

Muslim Saudi yang taat beragama Islam tidak mau bersalaman dengan wanita. Menyentuh tangan wanita bisa membangkitkan nafsu seksualnya dan hal itu adalah haram.

Juga pria seperti ini tidak akan pernah menggunakan tangan kirinya untuk makan, minum atau memberi barang ke orang lain. Tangan kiri itu tangan yang kotor, karena dia menggunakan tangan kiri untuk cebok setelah buang hajat.

Para wanita di Arab Saudi, harus mengerudungi tubuhnya, dari kepala sampai ujung kaki di muka umum. Jika wanita itu keluar rumah, maka dia harus ditemani saudara lakinya, dan jika tidak maka dia akan dicap sebagai pelacur, dan akan ditawan oleh Mutaween (polisi moral Saudi). Para wanita Saudi juga dipaksa mengenakan niqab (kain penutup wajah).

Terlebih lagi, wanita Saudi tidak diperbolehkan melalukan transaksi masyarakat apapun; Misalnya transaksi ekonomi, finansial atau administrasi tanpa ijin dari sanak saudara laki, suami, ayah atau abang.

Syekh Saudi Saleh Al-Luhaidan, Kepala Konsul Hukum Utama, mengatakan harian Al-Watan (2 Desember 2008) Bahwa “wanita diperkosa pria karena salah wanita itu sendiri. Merekalah yang menggoda pria dengan caranya memakai baju atau caranya berjalan.”

Arab Saudi adalah satu-satunya negara di dunia di mana pria dapat menikahi beberapa wanita atau menceraikan mereka tanpa kehadiran mereka. Yang dibutuhkan seorang pria untuk menikahi wanita adalah dua saksi yang dipilihnya sendiri. Untuk menceraikan wanita, pria itu hanya perlu melapor pada pemimpin agama tertinggi di daerahnya.

Hampir setiap rumahtangga Saudi punya setidaknya satu pembantu rumah tangga (PRT) dari Filipina, Srilanka dan India. Kebanyakan PRT itu adalah buruh murah dan mereka seringkali diperkosa oleh majikan prianya. PRT ini dipaksa bekerja 24 jam sehari, 7 hari per minggu, dan hanya dibayar $ 60-70 per bulan. Banyak dari PRT itu yang tidak pernah dibayar selama bertahun-tahun. Setelah diperkosa sampai hamil, mereka lalu dideportasi ke tanah air mereka.

Pangeran Salman, Gubernur Riyadh mengatakan pada harian Al-Madina di tanggal 20 November 2008: Bahwa, “hanya sedikit kok yang menganiaya PRT.” Akan tetapi keterangan ini berlawanan dengan laporan terakhir International Labor Organization (ILO = Organisasi Buruh Internasional) di Jenewa, Swiss, (2008), yang mengatakan 80% keluarga Saudi menganiaya PRT dan memperlakukan PRT bagaikan budak-budak saja.

Arab Saudi merupakan satu-satunya negara di dunia yang mengajarkan kebencian, kekerasan dan anti-toleransi terhadap Kafir di badan pendidikannya. Buku-buku pelajaran Saudi sarat akan kerancuan politik dan sosial. Bahkan buku matematika pun mengajarkan kebencian ini. Ini contoh test di sekolah Saudi: “19 Muslim membunuh 2.979 Kafir (hal ini jelas tentang pembunuhan 9/11). Berapakah yang dibunuh oleh setiap Muslim.” Silakan baca “Saudi Textbooks Incite to Hatred and Violence” (Buku-buku Pelajaran Saudi Mengajarkan Kebencian dan Kekerasan).

Buku-buku ini dicetak dan didanai oleh pemerintah Saudi dan disebarkan di Pakistan, Indonesia dan berbagai madrasah di Deoband, India, dan di mana saja.

Arab Saudi merupakan satu-satunya negara di dunia yang tidak memperkenankan umat non-Muslim punya tempat ibadah sendiri. Bahkan mengenakan kalung Salib di leher pun dilarang. Yang berani memakai kalung Salib akan ditangkap dengan tuduhan Kristenisasi dan bisa dihukum cambuk atau deportasi. Tapi sebaliknya, Arab Saudi telah mendanai pembangunan berbagai Masjid di seluruh dunia, dan menghamburkan milyaran dollar untuk mendirikan pusat-pusat Islam di seluruh dunia.

Contoh, Akademi Raja Fahd yang didanai Saudi sebesar $ 20 juta dan dibuka di Bonn, Jerman di tahun 1995, baru-baru ini ditutup karena akademi ini para pengajar dari Saudi mengajarkan kekerasan dan kebencian. Akan tetapi, “Rumah Islam” dekat Frankfurt, yang juga didanai oleh Saudi, masih saja mengajarkan kurikulum Saudi.

Arab Saudi adalah satu-satunya negara di dunia yang mengharuskan wanita-wanita Kafir menikah dengan pria Muslim terlebih dahulu sebelum bisa masuk Islam. Wanita-wanita Muslim tidak boleh menikah dengan pria Kafir, kecuali jika pria Kafir itu jadi mualaf.

Di belahan dunia mana ada polisi yang melarang usaha menyelamatkan gadis-gadis sekolah yang terjebak kobaran api hanya karena para gaids itu tidak pakai kerudung dari kepala sampai ujung kaki? Di Mekkah, di bulan Juli 2002, polisi moral Saudi melarang usaha penyelamatan para pelajar putri ketika sekolah mereka terbakar api. Mengapa kok dilarang? Hal ini karena para pelajar putri bisa difoto orang tanpa penutup kepala.

Arab Saudi merupakan satu-satunya negara di dunia yang memaksakan apartheid gender (diskriminasi berdasarkan perbedaan kelamin) di segala hal kehidupan.

TV Saudi mengajarkan anak-anak Muslim untuk membenci Yahudi. Di suatu program anak-anak (tanggal 12 Oktober 2008), penyiar program bertanya pada anak perempuan berusia 7 tahun apakah dia membenci Yahudi. Gadis cilik yang dikerudungi dari kepala sampai ujung kaki ini menjawab, “Ya, aku benci mereka.” Lalu ditanya kembali, “Mengapa?” Dan gadis cilik ini menjawab, “Karena kaum Yahudi memerangi Nabi kita Muhammad. Bahkan Allah juga membenci mereka.”

Penerapan bunga pada pinjaman uang juga merupakan hal yang haram dalam Islam. Hal ini disebut riba. Untuk mengatasi larangan ini, bank-bank Islam menggunakan kata murabahah (bagi-bagi keuntungan). Dalam prakteknya, murabahah itu ternyata sama dengan bunga uang biasa, tapi hanya dibubuhi dengan makna Islamiah bahwa murabahah itu halal. Silakan baca “Conservative Muslims and Die Hard Socialists Feel Vindicated by the International Financial Crisis”.

Saudi Arabia mengeluarkan dana terbesar untuk kepentingan militer di seluruh Timur Tengah. Menurut United States Central Intelligence Agency’s World Factbook, Arab Saudi menghabiskan dana sebesar $ 31.050.000.000 untuk membeli senjata di tahun 2008. Israel yang merupakan negara terkuat secara militer di Timur Tengah, ternyata hanya menghabiskan dana sebesar $ 13.300.000.000 saja.

Untungnya, Arab Saudi tidak menggunakan senjata militernya untuk memerangi Israel, dan ini bukan karena Saudi tidak mau, tapi karena Saudi tidak punya orang-orang yang mampu melakukan hal itu. Para ahli militer yakin bahwa senjata-senjata yang dibeli Saudi itu tetap tidak dibuka bungkusnya dan dibiarkan saja karatan di padang pasir. Dengan membeli senjata yang banyak itu, rezim Saudi menyenangkan industri peralatan militer di Barat, dan orang-orang dari bisnis industri senjata ini kemudian membujuk dan memberi dana bagi para politikus Barat agar mereka pun mendukung rezim Saudi.

Masalah korupsi pembelian senjata sebanyak $ 20 milyar bagi Arab Saudi ditutup-tutupi, dan ketika putra Sultan Saudi yang bernama Bandar tersudut dalam kasus ini, PM Inggris yang dulu Tony Blair berusaha sekuat tenaga untuk menutupi kasus ini, demi “kepentingan nasional.” Lihat saja laporan BBC untuk lebih detailnya.

Contoh-contoh Fatwa Saudi:

Ali Al-Khudair, seorang Imam Saudi di Riyahd mensahkan khotbah Jumat (4 April 2008) yang menyatakan Muslim boleh berdusta jika hal ini demi memajukan Islam.

Imam Mekkah bernama Abdul Rahman Al-Sudais berkata dalam khotbahnya pada tanggal 6 Juni 2008, Bahwa “parfum itu dilarang dalam Islam. Tiada pria atau wanita yang boleh mengenakannya. Parfum menarik Setan sehingga kita melakukan dosa.”

Abdallah Al-Najdi, seorang Imam Saudi lainnya, mengatakan pada harian Al Riyadh (14 Juli 2008) Bahwa, “sepakbola itu haram dalam Islam. Itu hanya permainan Kafir. Bertanding memperebutkan bola dan lalu bersuka cita karena menang main bola adalah perbuatan yang tak masuk akal.”

Menurut badan agama di Arab Saudi, suara wanita juga merupakan organ seksnya. Para wanita tidak boleh bicara langsung pada pria yang bukan saudaranya. Karena itulah, jika seorang wanita menelepon radio Saudi untuk berpartisipasi dalam talk show, wanita ini tidak boleh bicara dengan pria, tapi dengan wanita lain.

Syekh Saleh Al-luhaidan juga mengumumkan bahwa “belajar bahasa asing selain Arab yang merupakan bahasa Qur’an nan suci, merupakan perbuatan yang tidak Islamiah. Hal ini menghina agama kita. Sudah jelas bahwa anak-anak Muslim yang belajar bahasa Inggris, misalnya, jadi tumbuh dewasa seperti Kafir, dan ini merupakan kesalahan besar. Kau tahu bahwa kita harus sangat memperkecil hubungan dengan Kafir. Ini yang diajarkan Nabi kita dan Qur’an nan suci.”

Syekh Saleh Al-Fawzan, salah satu Imam Saudi yang berpengaruh, mengatakan di berbagai khotbah bahwa Muslim haram untuk mengunjungi negara Kafir, karena berbagai alasan. “Negara-negara Kafir itu tak bermoral dan penuh dengan Setan yang membujuk wanita dan pria.” Begitulah katanya di Saudi TV (6 Juni 2008).

Biasanya keluarga-keluarga Saudi berlibur di negara-negara Arab seperti Mesir, Libanon, Maroko dan Suriah, terutama untuk menghindari musim panas yang membara di negaranya. Para wanita biasanya pergi shopping dan para pria hanya duduk-duduk saja di warung-warung kopi sambil menikmati pemandangan para wanita. Mereka tidak tertarik sama sekali untuk mempelajari budaya masyarakat lain.

Kebanyakan pria Saudi yang melancong ke negara Barat menghabiskan sebagian besar waktu dan uangnya untuk menikmati para pelacur.

Menurut mayoritas Imam Saudi, musik, dansa dan syair adalah haram. Satu-satunya buku yang wajib dibaca Muslim adalah Qur’an. Satu-satunya “musik” yang harus didengarkan Muslim hanyalah pelafalan Qur’an.

Sistem pendidikan yang penuh kebencian dan jarangnya membaca buku dan berkenalan dengan dunia sekuler menghasilkan masyarakat yang fanatik. Mayoritas pemberontak Saudi bersikap lebih fanatik daripada rezim Al-Saud. Hanya sedikit saja pemberontak Saudi yang sekuler, seperti Ali Alyami, Ali Al-Ahmed dan Mai Al-Yamani.

Arab Saudi merupakan satu-satunya negara yang menerapkan Hukum Syariat (kombinasi aturan Qur’an dan Hadis) – selama hukum itu mendukung rezim Saudi. Harus ditekankan di sini bahwa Hukum Syariat itu merupakan doktrin yang penuh penindasan, kebencian, kekerasan dan diskriminasi.

Berdasarkan penjelasan diatas, kita tidak perlu heran mengapa 15 dari 19 para teroris 9/11 adalah orang-orang Saudi. Untuk menambah garam pada luka, rezim Saudi menyelenggarakan dialog antar agama dengan mengundang pemimpin-pemimpin Kristen dan Yahudi. Coba baca ini: “Saudis Call for Interfaith Dialogue is Hypocritical” (Saudi Menyelenggarakan Dialog Antar Agama merupakan Sikap Munafik).

Sedihnya, meskipun telah nyata berbagai masalah tersebut, Arab Saudi dengan produksi minyaknya, memegang peranan penting di saat Perang Dingin dan juga setelah itu. Karena itulah, pihak Barat masih mendukung negara Arab Saudi.

Pada saat pihak Barat tidak membuang waktu untuk mengecam penindasan kemanusiaan di Cina, Russia, Korea Utara, dan Zimbabwe, mereka diam saja terhadap pelanggaran kemanusiaan yang begitu hebat di Arab Saudi.

Jika saja Arab Saudi tidak punya minyak, masyarakat dunia mungkin akan melupakannya, sama seperti sikap tidak peduli dunia terhadap Somalia. Tapi rezim Saudi di Riyadh tidak bisa diacuhkan begitu saja karena rezim ini sangat kaya raya dan berbahaya. Keluarga Al-Saud selama berdekade-dekade telah mendanai dan masih mendanai fanatisme Islam di seluruh dunia.

Perang melawan teror Islam tidak kunjung mencapai kemajuan dan akan sia-sai belaka kecuali jika pihak Barat membabat akar penyebab terorisme ini, yakni Arab Saudi. Sebelum ini terjadi, pihak Barat seakan hanya memerangi bayang-bayang saja.

Dr. Sami Alrabaa adalah murtadin yang bekerja sebagai Profesor di bidang Sosiologi dan ahli budaya Arab-Muslim. Sebelum hijrah ke Jerman, dia mengajar di Universitas Kuwait, King Saud University dan Michigan State University. Dia juga menyumbangkan tulisan untuk Jerusalem Post. Dr. Alraabaa merupakan penyusun buku of Karin in Saudi Araba: Living Under Shari’a.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: