KONTRADIKSI QUR’AN: MUSA ATAU YAKUB?

Oleh Jochen Katz

Qur’an berkali-kali bercerita tentang Musa dan Firaun dan kita sudah menelaah banyak kesalahan dan kontradiksi yang ditemukan dalam ayat-ayat tersebut. Artikel pendek ini akan menunjukkan rincian lain yang mengkontradiksi Qur’an dan Injil, dimana penulis Qur’an KELIRU akan dua kisah Injil yg saling menjiplak; kisah satu dicampur aduk kedalam kisah lain.

Musa dan Yakub harus melarikan diri dari rumah mereka (Yakub karena ditipu oleh saudaranya Esau, dan Musa karena membunuh orang Mesir), dan mereka mendapat istri dengan cara yang hampir sama. Ketika diperantauan (pelarian), mereka bertemu wanita muda yang menggembalai kambing dan perlu pertolongan mengambil air dari sumur. Kemiripan ini tentunya menjadi dasar kekeliruan dari dua kisah tersebut dibenak PENULIS QUR’AN.

Kisah INJIL tentang pertemuan MUSA dengan istrinya (Rehuellah Zipora):

Keluaran 2:15-22
(15) Ketika Firaun mendengar tentang perkara itu, dicarinya ikhtiar untuk membunuh Musa. Tetapi Musa melarikan diri dari hadapan Firaun dan tiba di tanah Midian, lalu ia duduk-duduk di tepi sebuah sumur.
(16) Adapun imam di Midian itu mempunyai TUJUH anak perempuan. Mereka datang menimba air dan mengisi palungan-palungan untuk memberi minum kambing domba ayahnya.
(17) Maka datanglah gembala-gembala yang mengusir mereka, lalu Musa bangkit menolong mereka dan memberi minum kambing domba mereka.
(18) Ketika mereka sampai kepada Rehuel, ayah mereka, berkatalah ia: “Mengapa selekas itu kamu pulang hari ini?”
(19) Jawab mereka: “Seorang Mesir menolong kami terhadap gembala-gembala, bahkan ia menimba air banyak-banyak untuk kami dan memberi minum kambing domba.”
(20) Ia berkata kepada anak-anaknya: “Di manakah ia? Mengapakah kamu tinggalkan orang itu? Panggillah dia makan.”
(21) Musa bersedia tinggal di rumah itu, lalu diberikan Rehuellah Zipora, anaknya, kepada Musa.
(22) Perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, maka Musa menamainya Gersom, sebab katanya: “Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing.”

Versi QUR’AN tentang pertemuan MUSA dengan istrinya (nama tidak jelas):

QS 28:23-28
(23) Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, DUA orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.
(24) Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.
(25) Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”.
(26) Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.
(27) Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.

Kisah-kisah tersebut diatas jelas mengacu pada kejadian yang sama, tapi banyak terdapat perbedaan diantara keduanya. Dua aspek yang paling menonjol:

– Dalam Kitab Keluaran, Musa bertemu TUJUH WANITA dekat sumur, semuanya anak dari satu orang.
– Dalam Qur’an dikatakan dengan jelas bahwa ada DUA WANITA, juga anak dari orang yang sama.

Dalam kedua kisah itu, sang ayah sama-sama menawarkan Musa salah seorang anaknya untuk dinikahi. Tapi, di Qur’an, sang ayah meminta pembayaran untuk menikahi sang anak. Syaratnya adalah Musa harus bekerja baginya selama 8 atau 10 tahun. Perhatikan, bahwa ada dua bentuk syarat yang diajukan yang berbeda angka tahunnya. Dalam Qur’an ada DUA WANITA dan DUA SYARAT, berbeda dengan kisah dalam Injil.

Darimana keanehan ini berasal? Mungkinkah dari Injil? Simaklah kisah pertemuan YAKUB dengan istrinya (Rahel):

Kejadian 29:1-30
(1) Kemudian berangkatlah Yakub dari situ dan pergi ke negeri Bani Timur.
(2) Ketika ia memandang sekelilingnya, dilihatnya ada sebuah sumur di padang, dan ada tiga kumpulan kambing domba berbaring di dekatnya, sebab dari sumur itulah orang memberi minum kumpulan-kumpulan kambing domba itu. Adapun batu penutup sumur itu besar;
(3) dan apabila segala kumpulan kambing domba itu digiring berkumpul ke sana, maka gembala-gembala menggulingkan batu itu dari mulut sumur, lalu kambing domba itu diberi minum; kemudian dikembalikanlah batu itu lagi ke mulut sumur itu.
(4) Bertanyalah Yakub kepada mereka: “Saudara-saudara, dari manakah kamu ini?” Jawab mereka: “Kami ini dari Haran.”
(5) Lagi katanya kepada mereka: “Kenalkah kamu Laban, cucu Nahor?” Jawab mereka: “Kami kenal.”
(6) Selanjutnya katanya kepada mereka: “Selamatkah ia?” Jawab mereka: “Selamat! Tetapi lihat, itu datang anaknya perempuan, Rahel, dengan kambing dombanya.”
(7) Lalu kata Yakub: “Hari masih siang, belum waktunya untuk mengumpulkan ternak; berilah minum kambing dombamu itu, kemudian pergilah menggembalakannya lagi.”
(8) Tetapi jawab mereka: “Kami tidak dapat melakukan itu selama segala kumpulan binatang itu belum berkumpul; barulah batu itu digulingkan dari mulut sumur dan kami memberi minum kambing domba kami.”
(9) Selagi ia berkata-kata dengan mereka, datanglah Rahel dengan kambing domba ayahnya, sebab dialah yang menggembalakannya.
(10) Ketika Yakub melihat Rahel, anak Laban saudara ibunya, serta kambing domba Laban, ia datang mendekat, lalu menggulingkan batu itu dari mulut sumur, dan memberi minum kambing domba itu.
(11) Kemudian Yakub mencium Rahel serta menangis dengan suara keras.
(12) Lalu Yakub menceritakan kepada Rahel, bahwa ia sanak saudara ayah Rahel, dan anak Ribka. Maka berlarilah Rahel menceritakannya kepada ayahnya.
(13) Segera sesudah Laban mendengar kabar tentang Yakub, anak saudaranya itu, berlarilah ia menyongsong dia, lalu mendekap dan mencium dia, kemudian membawanya ke rumahnya. Maka Yakub menceritakan segala hal ihwalnya kepada Laban.
(14) Kata Laban kepadanya: “Sesungguhnya engkau sedarah sedaging dengan aku.” Maka tinggallah Yakub padanya genap sebulan lamanya.
(15) Kemudian berkatalah Laban kepada Yakub: “Masakan karena engkau adalah sanak saudaraku, engkau bekerja padaku dengan cuma-cuma? Katakanlah kepadaku apa yang patut menjadi upahmu.”
(16) Laban mempunyai DUA anak perempuan; yang lebih tua namanya Lea dan yang lebih muda namanya Rahel.
(17) Lea tidak berseri matanya, tetapi Rahel itu elok sikapnya dan cantik parasnya.
(18) Yakub cinta kepada Rahel, sebab itu ia berkata: “Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel, anakmu yang lebih muda itu.”
(19) Sahut Laban: “Lebih baiklah ia kuberikan kepadamu dari pada kepada orang lain; maka tinggallah padaku.”
(20) Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.
(21) Sesudah itu berkatalah Yakub kepada Laban: “Berikanlah kepadaku bakal isteriku itu, sebab jangka waktuku telah genap, supaya aku akan kawin dengan dia.”
(22) Lalu Laban mengundang semua orang di tempat itu, dan mengadakan perjamuan.
(23) Tetapi pada waktu malam diambilnyalah Lea, anaknya, lalu dibawanya kepada Yakub. Maka Yakubpun menghampiri dia.
(24) Lagipula Laban memberikan Zilpa, budaknya perempuan, kepada Lea, anaknya itu, menjadi budaknya.
(25) Tetapi pada waktu pagi tampaklah bahwa itu Lea! Lalu berkatalah Yakub kepada Laban: “Apakah yang kauperbuat terhadap aku ini? Bukankah untuk mendapat Rahel aku bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?”
(26) Jawab Laban: “Tidak biasa orang berbuat demikian di tempat kami ini, mengawinkan adiknya lebih dahulu dari pada kakaknya.
(27) Genapilah dahulu tujuh hari perkawinanmu dengan anakku ini; kemudian anakku yang lainpun akan diberikan kepadamu sebagai upah, asal engkau bekerja pula padaku tujuh tahun lagi.”
(28) Maka Yakub berbuat demikian; ia menggenapi ketujuh hari perkawinannya dengan Lea, kemudian Laban memberikan kepadanya Rahel, anaknya itu, menjadi isterinya.
(29) Lagipula Laban memberikan Bilha, budaknya perempuan, kepada Rahel, anaknya itu, menjadi budaknya.
(30) Yakub menghampiri Rahel juga, malah ia lebih cinta kepada Rahel dari pada kepada Lea. Demikianlah ia bekerja pula pada Laban tujuh tahun lagi.

Inilah kisah dari DUA ANAK PEREMPUAN (Lea dan Rahel), dan YAKUB bekerja untuk memenuhi DUA SYARAT bagi wanita yang dia cintai (bekerja untuk 7 tahun lagi dan memenuhi 7 hari perkawinan dengan Lea).

Jika ini belum cukup meyakinkan anda untuk mengenali sumber tumpang tindih kisah YAKUB dalam kisah MUSA di Qur’an, lihat saja ayat berikutnya dalam Qur’an.

QS 28:29
Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan”.

Setelah Musa menyelesaikan waktu yang ditentukan sebagai bayaran atau syarat untuk menikahi istrinya, dia (meninggalkan mertuanya) dan berangkat dengan keluarganya. Kenapa? Pergi kemana? Menurut Injil, Musa tidak bepergian dengan keluarganya tapi sibuk mengerjakan tugas-tugas keseharian menggembala ternak ketika dia menemukan semak yang terbakar:

Keluaran 3:1-4
(1) Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.
(2) Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.
(3) Musa berkata: “Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?”
(4) Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.”

Unsur khas “berangkat dengan keluarganya” (dimana dia bertemu Tuhan) adalah rincian ketiga yang Muhammad ambil dari kisah YAKUB dalam Injil dan dia masukkan kedalam kisah MUSA dalam Qur’an! Adalah YAKUB yang berangkat bersama keluarganya dan meninggalkan Laban setelah dia selesai mengerjakan syarat-syaratnya dan malah tinggal beberapa tahun lebih lama (Kejadian 30:25 – 31:55) – yang juga dikisahkan dalam QS 28:27 lewat syarat aneh “Delapan tahun … sepuluh tahun”. YAKUB meninggalkan Laban dan kembali kekampung halamannya karena dua alasan: (1) Laban menipunya beberapa kali (Kejadian 31:41) dan (2) dengan tujuan berdamai dengan saudaranya Esau (Kejadian 32-33). Dalam perjalanan ini dia bertemu Tuhan (Kejadian 32:22-30).

Semua rincian ini membuat jelas bahwa PENULIS QUR’AN KEBINGUNGAN DAN KELIRU MEMILAH-MILAH KISAH YAKUB DAN MUSA, mengambil beberapa rincian kisah Yakub dan lupa dimasukkan kedalam kisah Musa dari versi Qur’an.

Mustahil bahwa kekeliruan ini diilhami oleh Tuhan. Bersama dengan ratusan kesalahan Qur’an lainnya, kontradiksi-kontradiksi, kebingungan-kebingungan dan kekeliruan menjadi bukti bahwa Qur’an sesungguhnya disusun oleh manusia yang **** dan salah.

Melihat kisah-kisah di Taurat, mudah sekali melihat bagaimana versi Qur’an tercipta karena kebodohan dan kebingungan Muhammad, karena dia tidak mampu menelaah dan membaca sendiri teks-teks Ibrani, tapi harus menyusun kisah-kisah tersebut hanya berdasarkan hal-hal yang dia dengar, menggunakan ingatannya yang payah.

Ini bukan kasus unik. Qur’an berisi banyak kisah-kisah yang juga penuh kekeliruan dan campur aduk dari sumbernya, Injil.

Dilain pihak, saya tidak melihat bagaimana Muslim bisa memberikan penjelasan meyakinkan mengenai bagaimana versi Taurat dikisahkan jika benar-benar hal yang sungguh terjadi adalah versi Qur’an. Hanya mengklaim bahwa “TAURAT SUDAH DIPALSUKAN, DIRUSAK, DAN LAIN SEBAGAINYA” adalah jawaban yang terlalu mudah dan lemah. Setiap kejahatan, termasuk kejahatan memalsu atau merusak teks suci, perlu punya motif, tujuan. Alasan apa sih, bagi pemalsu Injil untuk mengubah “DUA ANAK PEREMPUAN” menjadi “TUJUH ANAK PEREMPUAN”?

Mana mungkin [sekian ribu] kopi Taurat dirubah/dirusak tanpa seorangpun menyadarinya? Hal ini tidak punya alasan teologis sama sekali, tidak juga mengandung minat khusus Yahudi ataupun Kristen. Terlebih lagi, pihak Muslim tidak mampu memberikan penjelasan yang kredibel dan masuk akal atas LUSINAN kekeliruan dan kesalahan yang mirip seperti ini dalam banyak kisah yang ada dalam Qur’an dan Injil.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: