ISLAM SIRKUS

Oleh Sher Khan

Pada suatu kala ada seekor gajah dan empat orang buta. Suatu hari mereka berpapasan dengan seekor gajah. Orang buta pertama meraba-raba taringnya dan mengatakan, wah, tajam tuh! GAJAH PASTI MIRIP TOMBAK!

Orang buta kedua memegang belalainya dan berteriak: TIDAK! GAJAH PANJANG MIRIP ULAR KOK!

Orang buta ketiga merasakan sisi kiri tubuh sang gajah dan mengatakan: KALIAN SEMUA SALAH! GAJAH ITU PERSIS MIRIP TEMBOK!

Orang keempat memegang buntutnya dan mengatakan: AH APA SIH KALIAN SEMUA NGACO! GAJAH TUH YAH, SEPERTI TALI!

Kisah orang-orang buta dan seekor gajah mengilustrasikan cara orang-orang buta dan tolol menafsirkan sebuah hal. Sering Muslim menyalahkan Muslim lain karena tidak mengerti Islam. Setiap Muslim memiliki versi sendiri-sendiri tentang Islam dan masing-masing juga yakin bahwa versi merekalah yang paling benar.

MUSLIM-MUSLIM TULEN

Muslim-muslim tulen menerapkan Islam sebagai sebuah ‘way of life.’ Mereka ingin hidup persis seperti di abad ke 7 dulu. Otak mereka disumpal penuh dengan hafalan ayat-ayat Qur’an dan cara hidup Muhammad. Mereka dengan suka cita tinggi mengikuti ‘way of life’ gurun pasir yang diwarnai dengan kelakuan brutal dan barbaris.

Osama bin Laden, Abu Hamza al-Masri, Ruhollah Khomeini, para guru Al-Azhar dan sebagainya dan para ‘suicide bombers’ memang merupakan Muslim tulen. Mereka inilah Muslim yang mengerti Qur’an dan Hadis luar dalam dan tidak ragu-ragu membunuh Kafir. Mereka tidak peduli dengan kehidupan material di Bumi. Mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkan jatah kursi di Surga. Mereka berbahaya namun mereka hanya secara jujur mengikuti aturan-aturan Islam.

PAKAR MUSLIM MODERN

Banyak pakar Islam modern mencoba mereformasi Islam dan menunjukkan Islam sebagai agama damai. Perlukah kita semua menyambut baik upaya mereka ini? Tidak. Mereka memiliki agenda terselubung. Mereka hanya berkamuflase.

Apakah Islam bisa direformasi? Realistis sih, TIDAK!

Tanpa merubah Qur’an, siapapun tidak mungkin merubah Islam. Bahkan Muslim yang paling liberalpun lebih baik loncat dari kapal terbang ketimbang merubah ayat-ayat Qur’an.

Pakar Islam modern dengan keras menentang semua ajaran Islam yang tidak manusiawi. Namun setiap kali seorang ex-Muslim atau non-Muslim mengkonfrontasi mereka dengan ayat-ayat jahanam tersebut, para Muslim mulai meloncat-loncat histeris namun sekalipun tidak berani menantang saudara-saudara seiman mereka yang mereka anggap ‘fundamentalis/teroris’.

MUSLIM SETENGAH-SETENGAH

Mereka ini salat lima kali seperti robot, mengulang-ulang ayat-ayat Qur’an tanpa dimengerti. Bangsa-bangsa non-Arab seperti India, Bangladesh dan Afrika (INDONESIA, jangan lupa) tidak mengerti bahasa Arab namun bersikeras bahwa Islam adalah agama sains dan siapapun yang menyanggahnya pastilah YAHUDI atau salah tangkap isi Qur’an!

Muslim-muslim non-Arab ini sering didiskriminasi secara terbuka saat tinggal di negara-negara Arab. Beberapa bulan yang lalu, 6 Muslim non-Arab dibakar hidup-hidup oleh seorang syekh hanya karena mereka berani memasuki tamannya. Ironisnya, Muslim setengah-setengah ini tidak ambil pusing dengan kelakuan biadab ini. Mereka bersumpah setia pada negara ARAB padahal hati dan jiwa mereka merindukan kampung halaman non-Arab mereka. Mereka penuh linangan air mata kalau Timur Tengah dilanda kesengsaraan dan mengutuk azab pada negara-negara Kafir, tidak peduli apakah negara Kafir itu mendidik, menunjang dan merawat mereka ataupun saudara-saudara mereka yang mencari suaka.

MUSLIM-MUSLIM MINI

Kelompok ini berlomba-lomba memegang erat-erat buntut si gajah agar mendapatkan jatah kursi mereka di Surga. Mayoritas Muslim memang adalah tipe ini. Mereka jarang salat apalagi salat Jumat di Masjid. Mereka suka bir, whisky dan kadang-kadang bahkan doyan melahap soto babi. Tapi merekapun percaya bahwa Muhammad adalah solusi bagi segala-galanya dan karena ketakutan diancam dengan Neraka, Muslim-muslim mini ini juga senewen kalau dianjurkan untuk meninggalkan Islam.

Muslim-muslim mini ini memang kelihatan tidak akan pernah melukai bahkan nyamuk sekalipun, apalagi tetangganya yang Kafir. Masalahnya adalah, setiap saat mereka bisa jadi Muslim tulen. Apalagi kalau sudah beranjak umur dan waktu di Bumi dirasakan semakin sempit. Mereka berubah menjadi Muslim setengah-setengah bahkan menempatkan diri untuk menjabat sebagai Khatib ataupun Imam.

KESIMPULAN

Mayoritas Muslim entah Muslim setengah-setengah atau Muslim-muslim mini. Jelas mereka bukan ancaman langsung bagi umat manusia. Berabenya adalah begitu Saudi menyalurkan dana milyaran petro-dollarnya untuk mempromosikan Islam tulen lewat madrasah-madrasah … maka jadilah mereka MUSLIM-MUSLIM TULEN.

Tapi setiap pertunjukan sirkus memiliki happy ending. Timbul kini kelompok yang menamakan diri EX-MUSLIM. Kelompok ini tidak buta ataupun ditutup mata mereka dengan selaput kain. Mereka bisa melihat seluruh tubuh gajah tersebut. Malah mereka melihat Islam sebagai seekor gajah liar yang sangat berbahaya. Gerakan ex-Muslim ini kian hari kian lantang suaranya dan pada akhirnya tepuk tangan penonton adalah untuk mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: