MUSLIM “MODERAT” MENGABURKAN INTI ISLAM

Oleh Jacob Thomas

Setiap hari Jumat “The Wall Street Journal” memuat artikel tentang agama di kolom “Houses of Worship”. Judul artikelnya pada tanggal 31 Maret 2006 adalah “Lebih Suci Daripada Kamu: Muslim mengecam satu sama lain sebagai murtad – dengan hasil yang mengerikan.” Penulisnya, Masood Farivar, adalah wartawan dari “Dow Jones Newswires”.

Saya sangat menghargai apa yang Mr. Farivar tulis. Namun ketika saya sampai pada bagian akhir artikel itu, saya sangat kecewa. Sangat disayangkan, seperti sumbangan dari Muslim ‘moderat’ lainnya, artikel ini lebih cenderung mengeruhkan air daripada mengambarkan inti Islam yang sebenarnya.

Pengarang mulai dengan menggambarkan penderitaan Muslim Afganistan yang pindah ke agama Kristen.

“Huru-hara internasional tentang kasus Abdul Rahman, orang Afghan yang pindah ke agama Kristen dan diadili karena murtad, telah menarik perhatian dari praktek Islam yang lebih sering terjadi: saling menuduh penghinaan terhadap Islam oleh sesama Muslim, praktek yang dikenal sebagai takfir.”

“Dalam beberapa tahun terakhir ini, takfir telah berkembang menjadi senjata yang mematikan di tangan Muslim ekstrimis yang berkeras membersihkan Islam dari siapa saja yang tidak mau mengikuti cara pandang mereka. Sekarang, teroris jihad di Irak mulai memakai takfir sebagai yel-yel mereka dalam keganasan melawan kaum Syi’ah.”

Mungkin saja kebanyakan pembaca WSJ belum pernah mendengar kata takfir. Kata ini berakar dari kata kafara yang berarti “menjadi kafir, atau menghina Tuhan.” Pertama kali saya mendengar kata takfir dalam hubungannya dengan nama grup Islam radikal di Inggris, “al-Takfīr wa al-Hijrah.” Pengikut grup ekstrimis ini mengaku mengikuti jejak langkah Nabi yang meninggalkan Mekkah di tahun 622 M dan menetap di Madinah. Kejadian itu, dikenal sebagai hijrah (perpindahan) dalam bahasa Arab, menandakan pemisahan Muhammad dari orang-orang Kafir (yang tidak percaya) di Mekkah, untuk mendirikan komunitas murni di mana dia bisa menyebarkan Islam secara bebas.

Mr. Farivar menjelaskan konsekuensi yang terjadi ketika Muslim saling menuduh sesama telah menghina Islam.

“Tentu saja pengecaman terhadap agama bukanlah konsep yang hanya ada dalam Islam. Tetapi dalam Hukum Islam, tuduhan murtad bukan hanya mentakdirkan seseorang ke Neraka tetapi juga mesti mati segara jika dia tidak bertobat.”

Dia kemudian memberi contoh dari sejarah tentang suatu kelompok Muslim yang mengutuk siapa saja yang tidak setuju dengan mereka. Dia berbicara tentang kebangkitan suatu kelompok di akhir abad ke-7 yang dikenal dengan nama Khawarij, yang anggotanya mengatakan bahwa melakukan dosa kecil termasuk penghinaan agama. Sebenarnya, dalam kasus kaum Khawarij, yang dalam bahasa Inggris disebut the Kharijites, lebih berbelit-belit dan perlu penjelasan lebih lanjut.

Ketika Ali, sepupu dan menantu Nabi, mejadi Khalifah ke-empat di tahun 655 M, Muawiyah, gubernur Suriah , melawan dia dan menuduh Ali terlibat dalam pembunuhan Uthman, khalifah ke-3. Dalam perang yang terjadi berikutnya, pasukan Ali yang berposisi lebih kuat diarahkan untuk menerima tawaran gencatan senjata dari pihak lawan. Beberapa pendukung Ali tidak setuju dan meninggalkan pasukannya. Mereka disebut kaum Khawarij, yaitu kata dalam bahasa Arab yang berarti yang meninggalkan kelompok. Mereka lah yang menjadi model Islam radikal. Mereka membunuh Ali di tahun 661 M. Kemudian mereka mengumumkan bahwa semua Muslim yang tidak mengikuti mereka adalah Kafir. Mereka menciptakan kekacauan jangka panjang di antara kaum Muslim di Timur Tengah. Inilah persamaan antara Khawarij di abad ke-7 dengan Takfiris masa kini.

Mr. Farivar meneruskan: Hingga belakangan ini, kaum Muslim pada umumnya menepiskan takfiris sebagai grup yang di sisi, ektrim dari yang ekstrim. Tetapi dengan meningkatnya aksi terorisme yang tidak terkendalikan, reaksi tanggapan tampaknya diperlukan. Pemimpin Arab Saudi, Mesir dan Yordania – mereka sendiri target dari tuduhan murtad – telah mengecap kaum Takfiris.

“Cendekiawan Muslim umumnya juga telah mulai buka suara. Di AS, Mr. Siddiqi telah memimpin grup cendekiawan Islam terkemuka mengeluarkan fatwa mengecap pengertian ekstrimis tentang Qur’an dan Hadis. Di Arab Saudi, Syekh Abd al-Muhsin Al-Abikan, cendekiawan terkemuka, telah memberi wawancara yang mengajak kampanye melawan kebiasaan takfir di antara Muslim.”

“Apakah argumentasi ini timbul karena arus keganasan yang diinspirasi oleh takfir masih harus dilihat. Ketidak-adaannya pusat (council) yang menegaskan kekukuhan ajaran Islam membuat sangat sulit untuk mengeluarkan pernyataan yang melarang praktek itu. Apa yang diterima sebagai kepercayaan di satu negara atau di suatu massa, bisa dianggap sebagai ajaran yang menyimpang di negara/massa yang lain.”

Ini tidak berarti tidak ada ortodoksi atau bahwa pemimpin agama tidak punya pengaruh. Mereka mungkin mau mengingatkan pengikutnya, terutama di zaman sekarang, akan ajaran Nabi. Seperti yang dikatakan Syekh Al-Abikan: “Hak menyatakan takfir adalah hak Tuhan saja, manusia tidak punya hak itu.”

Memang nyaman rasanya membaca bahwa “di AS Mr. Siddiqi telah memimpin grup cendekiawan Islam terkemuka mengeluarkan fatwa mengecap pengertian ekstrimis tentang Qur’an dan Hadis.” Namun membaca buku suci Islam akan menyingkapkan pendapat yang sangat negatif tentang orang-orang non-Muslim. Ambil saja contoh berikut ini, ayat-ayat yang sangat menuduh dari Qur’an:

QS 4 An-Nisa’ 160
Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah,

QS 4 An-Nisa’ 171
Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.

Terlebih lagi, kita tidak boleh lupa QS pertama dari Qur’an, yang dikenal dengan nama Al-Fatihah, yang menghina orang Yahudi dan Kristen:

QS 1 Al-Fatihah 6-7

Tunjukilah kami jalan yang lurus,
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Komentator Muslim menjelaskan bahwa orang Yahudilah “mereka yang dimurkai”; dan “mereka yang sesat” adalah orang Kristen. QS ini yang merupakan doa permohonan kepada Allah, dihafalkan hampir semua Muslim. QS ini menegaskan hubungan mereka buhkn hanya dengan Allah, tetapi juga dengan “yang lainnya”. Sudah berakar dalam ingatan mereka, bahwa sementara anugerah Allah dilimpahkan kepada mereka, “yang lainnya” adalah sesat atau dimurkai Allah!

Media massa dan pemimpin politik kita terus menerus mengatakan bahwa pada prinsipnya Islam itu toleran dan dermawan. Mereka mungkin mengutip ayat-ayat di Qur’an yang mengajarkan kebebasan beragama. Banyak di antara kita yang sudah dengar berkali-kali ayat berikut ini:

QS 2 Al-Baqarah 256
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) …

Namun ayat ini harus dimengerti dalam konteks sejarahnya. Tanyalah masyarakat yang sudah menderita dalam dominasi Islam selama 1.400 tahun arti sesungguhnya dari “La Ikraha fi’l-Deen,” (ayat tidak ada pemaksaan). Mereka akan memberitahu anda betapa menakutkannya status dzimmi yang mereka dan nenek moyang mereka derita. Benar, orang-orang “berkitab” (Yahudi dan Kristen) diperbolehkan tetap mengikuti agama mereka, tetapi mereka dipaksa hidup dalam keadaan yang menghina. Baca saja buku Bhat Ye’or tentang penghinaan ini yang dijatuhkan kepada penghuni asli Timur Tengah dan Afrika Utara. Dan janganlah lupa belajar tentang Devshirme-nya Ottoman, di mana beribu-ribu anak laki-laki kecil dari Balkan dirampas secara paksa dari orang tua mereka, di-Islamkan dan dilatih menjadi pasukan spesial Janissaries!

Kembali ke esai saya, “Moderate Muslims Muddy the Waters.” Baca paragraph terakahir lagi:

“Ini tidak berarti tidak ada ortodoksi atau bahwa pemimpin agama tidak punya pengaruh. Mereka mungkin mau mengingatkan pengikutnya, terutama di zaman sekarang, akan ajaran Nabi. Seperti yang dikatakan Syekh Al-Abikan: “Hak menyatakan takfir adalah hak Tuhan saja, manusia tidak punya hak itu.””

Kata-kata kesimpulan seperti itu sangat menyesatkan. Dengan mengutip kata-kata Syekh Al-Abikan orang-orang **** akan tertipu, tetapi kata-kata begitu tidaklah berbeda dengan mantra ‘al-Islam huwa al-hall’ – Islam lah jawabannya!

“Hak menyatakan takfir adalah milik Tuhan saja.” Betapa salehnya kalimat ini. Ini mengingatkan saya akan siasat curang Muawiyah di tahun 661 M. Ketika pasukannya kalah dalam perang melawan pasukan Ali, mereka tiba-tiba mengangkat Qur’an dengan tombak mereka dan berseru, “Biarkan Allah yang memutuskan.” Penunjukan kesalehan yang murni! Tetapi Allah telah mengucapkan kata terakhirnya, dan kata ini mesti diartikan oleh manusia. Wasit yang disetujui oleh Ali dan Muawiyah bukanlah wasit yang adil. Mereka menggulingkan Ali, dan mengangkat lawannya sebagai Khalifah Islam yang sah. Kekacauan pun terjadilah. Baca saja cerita tentang kekejaman yang dilakukan oleh Khawarij untuk mempelajari akibat dari slogan kosong dan hambar ini!

Ini semua tergantung pada Muslim moderat, jika mereka dapat dipercaya, untuk memulai penafsiran kitab suci Islam, dan mencari jalan sehingga ayat-ayat dan ajaran yang mengutuk dan mengancam “orang lain” bisa dimengerti sebagai sesuatu dari zaman lampau yang sudah tidak berlaku lagi sekarang. Di dunia kita yang sudah terglobalisasi dan saling tergantung, tidak ada tempatnya bagi ideologi semacam takfiri. Aku tunggu dengan sangat berharap akan munculnya kaum moderat sejati yang tidak mengeruhkan air, yang mau mengakui kesalahan Islam di masa lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: