ISTILAH OMONG KOSONG ISLAMFOBIA

Oleh Nafata Bamaguje

Kenapa sih berita kekacauan Muslim dan Islam selalu muncul di koran setiap hari? Tiada hari berlalu tanpa berita nestapa dari dunia Islam.

Tatkala umat Muslim Sunni dan Syi’ah saling bom dan bunuh satu sama lain di Irak, Iran atau Pakistan, di belahan dunia lain seorang Muslim menggorok leher putrinya demi alasan menjaga “kehormatan keluarga Islam”-nya. Di tempat Islam lainnya, Muslim pedofil mencoba mengikuti sunnah Nabi dengan menikahi anak perempuan kecil.

Gara-gara umat Muslim, penerbangan internasional jadi begitu berbahaya, mengandung resiko besar diserang teroris Muslim, dan mengakibatkan diberlakukannya pemeriksaan super ketat yang melelahkan di bandara airport. Ibu-ibu harus mencicipi dan memeriksa susu bayi dalam botol agar yakin tidak diam-diam diganti dengan bahan peledak cair. Tubuh kita diamati sampai taraf telanjang oleh alat full-body scan. Jika alat scan ini tidak ada, maka para petugas keamanan akan memeriksa seluruh bagian tubuh, termasuk bagian kelamin, agar yakin bahwa kita tidak menyembunyikan bahan peledak di celana dalam.

Gara-gara Muslim, beberapa negara Kafir Barat harus memangkas kebebasan warga sipil dengan hukum-hukum pencegahan terorisme seperti America’s Patriot Act (2001) dan Britain’s Terrorism Act (2006).

Gara-gara Muslim dan konspirasi teori ngawur mereka tentang vaksin “Amerika dan Yahudi, kita tidak bisa memberantas penyakit polio di Nigeria Utara yang mayoritas Muslim. Penyelidikan tentang munculnya kembali penyakit-penyakit polio di negara-negara Afrika yang sudah lama tidak mengalami penyakit tersebut, menunjukkan bahwa ternyata sumber virus polio berasal dari negara-negara Afrika Utara Muslim.

Sejak 9/11 terjadi 10.000 serangan Jihad di seluruh dunia. Yang menarik adalah: Ternyata umat Muslim menjadi korban mayoritas serangan Jihad, meskipun berita serangan-serangan Jihad terhadap para Kafir lebih sensasional terdengar. Laporan PBB di tahun 2006 menyatakan terjadi 5.000 pembunuhan kehormatan keluarga Islam (honor killing) setiap tahun, dan kebanyakan terjadi di dunia Islam.

Bukannya malu dan sadar bahwa Islam tidak layak lagi diterapkan di dunia modern, para propagandis Muslim malahan memilih mengejar bayangan saja (melakukan usaha sia-sia). Mereka malahan mengutuk pemberitaan media Barat yang melaporkan berbagai peristiwa teror Islamiah sebagai tindakan Islamfobia (takut akan Islam yang tanpa alasan masuk akal). Tapi kita para Kafirun yang tahu betul akan Islam tentunya menolak Taqiyya Muslim yang mengatakan bahwa para teroris Muslim itu “salah mengerti akan Islam”. Kita yang tahu betul akan Islam, mengetahui dengan jelas bahwa para teroris Muslim justru melakukan serangan Jihad kriminal karena itulah yang memang diperintahkan Islam pada mereka.

Para Muslim tak mampu menjelaskan mengapa yah media Barat kok selalu memberitakan perbuatan-perbuatan jelek nan memalukan umat Muslim, dan bukannya umat Hindu, Buddha, atau para umat paganis Afrika. Padahal fakta juga menunjukkan bahwa media Barat itu sangat obsesif dengan sikap Politically Correctnes (PC) sehingga mereka seringkali tidak memberitakan bahwa Islam merupakan alasan utama para Jihadis melakukan serangan. Presiden dzimmi AS si Barak Obama malahan meningkatkan PCisme ke tingkat yang lebih parah lagi sampai-sampai melarang kata-kata “Jihad” atau “Islam” di laporan resmi AS tentang serangan terorisme demi menyenangkan hati Muslim.

Bahkan media Muslim seperti Al Jazeera (di Qatar), Dawn News (Pakistan) dan koran negara kami Daily Trust (Nigeria Utara yang mayoritas Islam) juga tidak ketinggalan seringkali memberitakan laporan-laporan Islamiah yang mengerikan.

Tuduhan palsu Islamofobia merupakan “taktik perang penuh tipudaya” para Jihadis terhadap kita para Kafir agar kita jadi sungkan bereaksi keras terhadap ancaman Islam yang sudah jelas nyata. Di negara-negara Kafir Barat, orang-orang Kafir yang berani mengritik Islam malah dituduh sebagai intoleran dan bahkan”rasis.”

Usaha Muslim lain adalah ancaman penuh kekerasan dan pembungkaman terhadap para pengritik Islam. Tahun lalu, para pemimpin umat Muslim di OIC berusaha mengajukan hukum di UNHRC (Konsul HAM PBB) yang menyatakan pengritikan terhadap Islam merupakan tindakan kriminal. Mereka berusaha mengeluarkan UU anti “penghujatan terhadap agama.” Tapi satu-satunya agama yang mereka sebut dalam resolusi UU tersebut hanyalah Islam saja. Jadi bagi mereka, menghujat Islam merupakan tindakan kriminal, sedangkan menghujat agama-agama Kafir sih halal saja.

Sungguh menggelikan bahwasanya negara-negara Muslim ini kok sampai begitu tidak tahu malu ingin membuat UU PBB anti “penghujatan agama,” sedangkan mereka sendiri merupakan pelanggar HAM terbesar atas nama Islam. Pelanggaran HAM Islamiah ini termasuk diskriminasi dan kekerasan terhadap wanita dan non-Muslim, hukuman-hukuman Islamiah yang sangat keji dan tak berperikemanusiaan, aksi pedofilia terhadap anak-anak, pemberangusan intelek, penindasan dan bahkan pembunuhan terhadap murtadin, dan lainnya.

Para pemimpin Muslim otak udang yang mencoba memberangus para pengritik, telah gagal untuk menyadari bahwa kritik yang berhubungan dengan kebebasan intelektual merupakan alasan utama mengapa dunia non-Muslim jauh lebih maju daripada dunia Islam di semua aspek positif usaha manusia – sains, teknologi, demokrasi, HAM. Ini tentunya bertentangan dengan keterangan Qur’an yang menyatakan Muslim adalah umat terbaik (QS 3:110).

Umat Kristen, Hindu, Buddha, dan non-Muslim lainnya tidak jadi gelap mata dan mengamuk membabi-buta jika agama-agama mereka dikritik, dan masyarakat mereka merupakan masyarakat yang sangat dinamis dan progresif. Ini sangat berbeda dengan umat Muslim yang terpaku terus di zaman Arab barbar Muhammad abad ke-7 M. Kritik merupakan ujian kewarasan suatu dogma atau pandangan. Muslim tahu betul bahwa Islam tidak akan lulus ujian kewarasan, sehingga mereka memilih membungkam dan menghajar para pengritik dengan kekerasan.

Cara terbaik bagi Muslim untuk menghadapi kita para Kafir sebenarnya bukanlah dengan mengancam bunuh atau menuduh kita bersikap Islamofobia, tapi cukup dengan bersikap selayaknya manusia waras di abad modern 21 ini. Akibat perbuatan kriminal Muslim sendiri dalam nama Allah-lah maka seluruh dunia melihat Islam sebagai aliran sesat penuh kebencian dan pembunuhan.

Reaksi Muslim lain yang paling sering tampak dalam menghadapi banjir berita-berita jelek dari Darul-Islam (negara-negara Islam) adalah mengeluarkan berbagai teori konspirasi yang tak masuk akal, dan menganggap Yahudi sebagai pusat segala kepalsuan berita akan Islam. Mereka menuduh orang-orang Yahudi bertanggung-jawab atas serangan 9/11, bahkan setelah Osama bin Laden dan letnannya yang canggih yakni Khalid Sheikh Mohammed sudah mengaku bahwa mereka bertanggung-jawab atas 9/11. Mungkin bin Laden bekerja sama dengan para Yahudi untuk menjelek-jelekkan Islam!

Sama seperti 9/11, serangan Mumbai di bulan November 2008 juga dituduh Muslim sebagai hasil karya “Zionis Hindu” – meskipun tak jelas apakah arti istilah ini. Juga di Nigeria, umat Muslim, terutama juru bicara Konsul Syariah Islam Nigeria, menuduh NAPTIP (National Agency for the Prohibition of Trafficking in Persons) sebagai “agen Yahudi” hanya karena NAPTIP menanyai dengan seksama senator Muslim Yerima tentang asal-usul istrinya yang berusia 13 tahun, yang dibawanya dari Mesir.

Karena Islam mengajarkan kebencian dan kekerasan terhadap Kafir (QS 9:5, 9:123, 9:29, 5:51) dan umat Muslim sudah diindoktrinasi habis-habisan sejak kecil, banyak Muslim yang secara otomatis mengira para Kafir berusaha menyakiti mereka. Dengan kata lain, Muslim seringkali menerapkan ajaran kebencian Islam terhadap Kafir, karena menganggap diri sebagai korban serangan Kafir melalui berbagai teori konspirasi ciptaan sendiri.

Teori konspirasi konyol Muslim lainnya dibuat berdasarkan keinginan untuk menghilangkan unsur Islam dalam perbuatan-perbuatan kriminal yang dilakukan Muslim berdasarkan ajaran Islam. Contohnya: Pengataman Faid Zakaria dari CNN yang menunjukkan bahwa kebanyakan orang Pakistan (termasuk kaum terpelajar) yakin bahwa orang-orang AS dan Zionis Yahudi merupakan otak di belakang semua pemboman di negara mereka tahun lalu, meskipun faktanya Taliban dan berbagai organisasi Islam sudah menyatakan bertanggung-jawab berkali-kali.

Hal serupa terjadi di negaraku Nigeria bagian Utara di mana umat Muslim yakin bahwa sebenarnya AS-lah yang menjadi otak pelakuan serangan teror hari Natal 2009 yang dilakukan Muslim Nigeria Umar Farouk Abdulmutallab terhadap pesawat sipil AS ke Detroit.

Para cendekiawan Muslim yang nyatanya **** juga ternyata tidak membantu Muslim untuk berpikir lebih baik. Para ahli Islam ini tampaknya lebih senang mempertahankan mental budak semilyar umat Muslim daripada mencerdaskan mereka. Sebagian ahli Islam ini malahan jadi otak pembuat berbagai teori konspirasi ngawur yang diyakini banyak Muslim.

Salah satu cendekiawan Muslim yang terkenal doyan bertaqiyya adalah Zakir Naik dan juga Yusuf Estes. Mereka suka sekali membuat Islam tampak suci dan damai. Selain itu, di Nigeria sendiri terdapat orang-orang serupa seperti Adamu Adamu dan Mohammed Ghazali. Ghazali dulu mengeluarkan pernyataan di koran Nigeria Daily Trust bahwa dia setuju pelarangan dibangunnya tempat ibadah non-Muslim di Saudi Arabia, meskipun dia tahu betul bahwa umat Muslim boleh bebas mendirikan Masjid dan menyebarkan propaganda Islam di negara-negara Kafir.

Di surat terbuka untuk Obama yang dicetak di koran yang sama Daily Trust tahun lalu, Adamu Adamu membual bahwa hanya umat Muslimlah yang berani berdiri menentang demokrasi sekuler AS. Si Adamu ini sudah jelas terlalu **** untuk menyadari fakta bahwa justru karena umat Muslim menolak nilai-nilai progresif demokrasi sekuler itulah makanya umat Muslim itu sedemikian tertinggal, mogok di tempat, kalah jauh dibandingkan dengan kemajuan kaum Kafir di segala aspek positif kehidupan.

Beberapa minggu yang lalu, dalam acara peringatan kematian Ruhollah Khomeini ke 20 tahun, Adamu Adamu juga memuji-muji negara Islam Iran, padahal Pemerintah Iran telah membunuh puluhan ribu warga Iran sejak berkuasa di tahun 1979. Hanya beberapa hari saja setelah itu, seakan ingin mengemplang muka Adamu, ribuan warga Iran turun ke jalanan untuk berdemonstrasi menentang tirani Mullah, dan dengan begitu menonjok “demokrasi Islam” – yang hanya merupakan istilah oxymoron (dua kata berdampingan yang artinya saling bertentangan) saja sebenarnya. Meskipun mendapat tekanan berat dari Pemerintah, masyarakat Iran terus melakukan demonstrasi di tanggal 12 Juni, 2010.

Umat Muslim tidak perlu mengeluh dan mengomel tentang Islamofobia, tapi mereka seharusnya meninggalkan aliran sesat Islam dan berusaha menjunjung tinggi humanitas.

Oleh Nafata Bamaguje

Kenapa sih berita kekacauan Muslim dan Islam selalu muncul di koran setiap hari? Tiada hari berlalu tanpa berita nestapa dari dunia Islam.

Tatkala umat Muslim Sunni dan Syi’ah saling bom dan bunuh satu sama lain di Irak, Iran atau Pakistan, di belahan dunia lain seorang Muslim menggorok leher putrinya demi alasan menjaga “kehormatan keluarga Islam”-nya. Di tempat Islam lainnya, Muslim pedofil mencoba mengikuti sunnah Nabi dengan menikahi anak perempuan kecil.

Gara-gara umat Muslim, penerbangan internasional jadi begitu berbahaya, mengandung resiko besar diserang teroris Muslim, dan mengakibatkan diberlakukannya pemeriksaan super ketat yang melelahkan di bandara airport. Ibu-ibu harus mencicipi dan memeriksa susu bayi dalam botol agar yakin tidak diam-diam diganti dengan bahan peledak cair. Tubuh kita diamati sampai taraf telanjang oleh alat full-body scan. Jika alat scan ini tidak ada, maka para petugas keamanan akan memeriksa seluruh bagian tubuh, termasuk bagian kelamin, agar yakin bahwa kita tidak menyembunyikan bahan peledak di celana dalam.

Gara-gara Muslim, beberapa negara Kafir Barat harus memangkas kebebasan warga sipil dengan hukum-hukum pencegahan terorisme seperti America’s Patriot Act (2001) dan Britain’s Terrorism Act (2006).

Gara-gara Muslim dan konspirasi teori ngawur mereka tentang vaksin “Amerika dan Yahudi, kita tidak bisa memberantas penyakit polio di Nigeria Utara yang mayoritas Muslim. Penyelidikan tentang munculnya kembali penyakit-penyakit polio di negara-negara Afrika yang sudah lama tidak mengalami penyakit tersebut, menunjukkan bahwa ternyata sumber virus polio berasal dari negara-negara Afrika Utara Muslim.

Sejak 9/11 terjadi 10.000 serangan Jihad di seluruh dunia. Yang menarik adalah: Ternyata umat Muslim menjadi korban mayoritas serangan Jihad, meskipun berita serangan-serangan Jihad terhadap para Kafir lebih sensasional terdengar. Laporan PBB di tahun 2006 menyatakan terjadi 5.000 pembunuhan kehormatan keluarga Islam (honor killing) setiap tahun, dan kebanyakan terjadi di dunia Islam.

Bukannya malu dan sadar bahwa Islam tidak layak lagi diterapkan di dunia modern, para propagandis Muslim malahan memilih mengejar bayangan saja (melakukan usaha sia-sia). Mereka malahan mengutuk pemberitaan media Barat yang melaporkan berbagai peristiwa teror Islamiah sebagai tindakan Islamfobia (takut akan Islam yang tanpa alasan masuk akal). Tapi kita para Kafirun yang tahu betul akan Islam tentunya menolak Taqiyya Muslim yang mengatakan bahwa para teroris Muslim itu “salah mengerti akan Islam”. Kita yang tahu betul akan Islam, mengetahui dengan jelas bahwa para teroris Muslim justru melakukan serangan Jihad kriminal karena itulah yang memang diperintahkan Islam pada mereka.

Para Muslim tak mampu menjelaskan mengapa yah media Barat kok selalu memberitakan perbuatan-perbuatan jelek nan memalukan umat Muslim, dan bukannya umat Hindu, Buddha, atau para umat paganis Afrika. Padahal fakta juga menunjukkan bahwa media Barat itu sangat obsesif dengan sikap Politically Correctnes (PC) sehingga mereka seringkali tidak memberitakan bahwa Islam merupakan alasan utama para Jihadis melakukan serangan. Presiden dzimmi AS si Barak Obama malahan meningkatkan PCisme ke tingkat yang lebih parah lagi sampai-sampai melarang kata-kata “Jihad” atau “Islam” di laporan resmi AS tentang serangan terorisme demi menyenangkan hati Muslim.

Bahkan media Muslim seperti Al Jazeera (di Qatar), Dawn News (Pakistan) dan koran negara kami Daily Trust (Nigeria Utara yang mayoritas Islam) juga tidak ketinggalan seringkali memberitakan laporan-laporan Islamiah yang mengerikan.

Tuduhan palsu Islamofobia merupakan “taktik perang penuh tipudaya” para Jihadis terhadap kita para Kafir agar kita jadi sungkan bereaksi keras terhadap ancaman Islam yang sudah jelas nyata. Di negara-negara Kafir Barat, orang-orang Kafir yang berani mengritik Islam malah dituduh sebagai intoleran dan bahkan”rasis.”

Usaha Muslim lain adalah ancaman penuh kekerasan dan pembungkaman terhadap para pengritik Islam. Tahun lalu, para pemimpin umat Muslim di OIC berusaha mengajukan hukum di UNHRC (Konsul HAM PBB) yang menyatakan pengritikan terhadap Islam merupakan tindakan kriminal. Mereka berusaha mengeluarkan UU anti “penghujatan terhadap agama.” Tapi satu-satunya agama yang mereka sebut dalam resolusi UU tersebut hanyalah Islam saja. Jadi bagi mereka, menghujat Islam merupakan tindakan kriminal, sedangkan menghujat agama-agama Kafir sih halal saja.

Sungguh menggelikan bahwasanya negara-negara Muslim ini kok sampai begitu tidak tahu malu ingin membuat UU PBB anti “penghujatan agama,” sedangkan mereka sendiri merupakan pelanggar HAM terbesar atas nama Islam. Pelanggaran HAM Islamiah ini termasuk diskriminasi dan kekerasan terhadap wanita dan non-Muslim, hukuman-hukuman Islamiah yang sangat keji dan tak berperikemanusiaan, aksi pedofilia terhadap anak-anak, pemberangusan intelek, penindasan dan bahkan pembunuhan terhadap murtadin, dan lainnya.

Para pemimpin Muslim otak udang yang mencoba memberangus para pengritik, telah gagal untuk menyadari bahwa kritik yang berhubungan dengan kebebasan intelektual merupakan alasan utama mengapa dunia non-Muslim jauh lebih maju daripada dunia Islam di semua aspek positif usaha manusia – sains, teknologi, demokrasi, HAM. Ini tentunya bertentangan dengan keterangan Qur’an yang menyatakan Muslim adalah umat terbaik (QS 3:110).

Umat Kristen, Hindu, Buddha, dan non-Muslim lainnya tidak jadi gelap mata dan mengamuk membabi-buta jika agama-agama mereka dikritik, dan masyarakat mereka merupakan masyarakat yang sangat dinamis dan progresif. Ini sangat berbeda dengan umat Muslim yang terpaku terus di zaman Arab barbar Muhammad abad ke-7 M. Kritik merupakan ujian kewarasan suatu dogma atau pandangan. Muslim tahu betul bahwa Islam tidak akan lulus ujian kewarasan, sehingga mereka memilih membungkam dan menghajar para pengritik dengan kekerasan.

Cara terbaik bagi Muslim untuk menghadapi kita para Kafir sebenarnya bukanlah dengan mengancam bunuh atau menuduh kita bersikap Islamofobia, tapi cukup dengan bersikap selayaknya manusia waras di abad modern 21 ini. Akibat perbuatan kriminal Muslim sendiri dalam nama Allah-lah maka seluruh dunia melihat Islam sebagai aliran sesat penuh kebencian dan pembunuhan.

Reaksi Muslim lain yang paling sering tampak dalam menghadapi banjir berita-berita jelek dari Darul-Islam (negara-negara Islam) adalah mengeluarkan berbagai teori konspirasi yang tak masuk akal, dan menganggap Yahudi sebagai pusat segala kepalsuan berita akan Islam. Mereka menuduh orang-orang Yahudi bertanggung-jawab atas serangan 9/11, bahkan setelah Osama bin Laden dan letnannya yang canggih yakni Khalid Sheikh Mohammed sudah mengaku bahwa mereka bertanggung-jawab atas 9/11. Mungkin bin Laden bekerja sama dengan para Yahudi untuk menjelek-jelekkan Islam!

Sama seperti 9/11, serangan Mumbai di bulan November 2008 juga dituduh Muslim sebagai hasil karya “Zionis Hindu” – meskipun tak jelas apakah arti istilah ini. Juga di Nigeria, umat Muslim, terutama juru bicara Konsul Syariah Islam Nigeria, menuduh NAPTIP (National Agency for the Prohibition of Trafficking in Persons) sebagai “agen Yahudi” hanya karena NAPTIP menanyai dengan seksama senator Muslim Yerima tentang asal-usul istrinya yang berusia 13 tahun, yang dibawanya dari Mesir.

Karena Islam mengajarkan kebencian dan kekerasan terhadap Kafir (QS 9:5, 9:123, 9:29, 5:51) dan umat Muslim sudah diindoktrinasi habis-habisan sejak kecil, banyak Muslim yang secara otomatis mengira para Kafir berusaha menyakiti mereka. Dengan kata lain, Muslim seringkali menerapkan ajaran kebencian Islam terhadap Kafir, karena menganggap diri sebagai korban serangan Kafir melalui berbagai teori konspirasi ciptaan sendiri.

Teori konspirasi konyol Muslim lainnya dibuat berdasarkan keinginan untuk menghilangkan unsur Islam dalam perbuatan-perbuatan kriminal yang dilakukan Muslim berdasarkan ajaran Islam. Contohnya: Pengataman Faid Zakaria dari CNN yang menunjukkan bahwa kebanyakan orang Pakistan (termasuk kaum terpelajar) yakin bahwa orang-orang AS dan Zionis Yahudi merupakan otak di belakang semua pemboman di negara mereka tahun lalu, meskipun faktanya Taliban dan berbagai organisasi Islam sudah menyatakan bertanggung-jawab berkali-kali.

Hal serupa terjadi di negaraku Nigeria bagian Utara di mana umat Muslim yakin bahwa sebenarnya AS-lah yang menjadi otak pelakuan serangan teror hari Natal 2009 yang dilakukan Muslim Nigeria Umar Farouk Abdulmutallab terhadap pesawat sipil AS ke Detroit.

Para cendekiawan Muslim yang nyatanya **** juga ternyata tidak membantu Muslim untuk berpikir lebih baik. Para ahli Islam ini tampaknya lebih senang mempertahankan mental budak semilyar umat Muslim daripada mencerdaskan mereka. Sebagian ahli Islam ini malahan jadi otak pembuat berbagai teori konspirasi ngawur yang diyakini banyak Muslim.

Salah satu cendekiawan Muslim yang terkenal doyan bertaqiyya adalah Zakir Naik dan juga Yusuf Estes. Mereka suka sekali membuat Islam tampak suci dan damai. Selain itu, di Nigeria sendiri terdapat orang-orang serupa seperti Adamu Adamu dan Mohammed Ghazali. Ghazali dulu mengeluarkan pernyataan di koran Nigeria Daily Trust bahwa dia setuju pelarangan dibangunnya tempat ibadah non-Muslim di Saudi Arabia, meskipun dia tahu betul bahwa umat Muslim boleh bebas mendirikan Masjid dan menyebarkan propaganda Islam di negara-negara Kafir.

Di surat terbuka untuk Obama yang dicetak di koran yang sama Daily Trust tahun lalu, Adamu Adamu membual bahwa hanya umat Muslimlah yang berani berdiri menentang demokrasi sekuler AS. Si Adamu ini sudah jelas terlalu **** untuk menyadari fakta bahwa justru karena umat Muslim menolak nilai-nilai progresif demokrasi sekuler itulah makanya umat Muslim itu sedemikian tertinggal, mogok di tempat, kalah jauh dibandingkan dengan kemajuan kaum Kafir di segala aspek positif kehidupan.

Beberapa minggu yang lalu, dalam acara peringatan kematian Ruhollah Khomeini ke 20 tahun, Adamu Adamu juga memuji-muji negara Islam Iran, padahal Pemerintah Iran telah membunuh puluhan ribu warga Iran sejak berkuasa di tahun 1979. Hanya beberapa hari saja setelah itu, seakan ingin mengemplang muka Adamu, ribuan warga Iran turun ke jalanan untuk berdemonstrasi menentang tirani Mullah, dan dengan begitu menonjok “demokrasi Islam” – yang hanya merupakan istilah oxymoron (dua kata berdampingan yang artinya saling bertentangan) saja sebenarnya. Meskipun mendapat tekanan berat dari Pemerintah, masyarakat Iran terus melakukan demonstrasi di tanggal 12 Juni, 2010.

Umat Muslim tidak perlu mengeluh dan mengomel tentang Islamofobia, tapi mereka seharusnya meninggalkan aliran sesat Islam dan berusaha menjunjung tinggi humanitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: