PERBUDAKAN DI NEGARA-NEGARA ISLAM YANG TIDAK DAPAT DIAKHIRI

Oleh Robert Spencer

Pengadilan Kriminal Internasional baru-baru ini mengeluarkan surat penahanan untuk Ahmed Haroun, Menteri Urusan Humanitarian Sudan dan Ali Kosheib, pemimpin milisi Janjaweed yang tersohor (seperti FPI di Indonesia). Pemerintah Sudan menolak menyerahkan keduanya untuk diadili.

Tuduhan termasuk pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan dan “penahanan atau perampasan kemerdekaan orang lain.” Perampasan kemerdekaan orang ini adalah persamaan kata dari Perbudakan. Mingguan Mesir Al-Ahram menelaah tidak lama ini di Sudan bahwa: “Perbudakan, yang didukung Muslim fanatik, menghancurkan bagian Barat dan Selatan negara itu.”

Para Muslim pemilik budak ini khususnya memperbudak non-Muslim, khususnya Kristen. Menurut Coalition Against Slavery di Mauritania dan Sudan (CASMAS), sebuah gerakan perbudakan dan HAM; “Pemerintahan Khartoum sekarang ingin memberlakukan Hukum Syariat pada orang-orang kulit hitam non-Muslim di Selatan, Hukum Syariat yang dijabarkan dan ditafsirkan oleh ulama Muslim konservatif.

Orang-orang kulit hitam yang menganut Animisme dan Kristen di Selatan telah sering diserang oleh orang-orang Arab di Utara dan Timur, serangan-serangan ini bertujuan menculik mereka untuk dijadikan budak. Orang-orang kulit hitam yang menolak Hukum Syariat ini merasa ada tujuan ekspansi ekonomis, budaya dan agama dibelakang semua ini.”

BBC melaporkan bulan Maret 2007 bahwa serangan perbudakan “menjadi hal yang biasa di Sudan selama 21 tahun perang Utara-Selatan, yang berakhir tahun 2005. Menurut sebuah studi oleh Institut Rift Valley yang bermarkas di Kenya, sekitar 11 ribu anak muda (lelaki dan wanita) ditangkap dan dibawa menyeberang ke perbatasan – banyak yang dibawa ke Darfur Selatan dan Kurdufan Barat … Mereka dipaksa masuk Islam, diberi nama Muslim dan dilarang bicara dengan bahasa ibu mereka.”

James Pareng Alier, Kristen Sudan, diculik dan diperbudak ketika berumur 12 tahun. Agama adalah alasan utama atas penculikan ini: “Saya dipaksa belajar Qur’an dan diberi nama Muslim ‘Ahmed’. Mereka bilang bahwa Kristen adalah agama buruk. Setelah diberi pelatihan militer beberapa waktu mereka mengatakan kami akan dikirim untuk bertempur.” Alier tidak tahu dimana keberadaan keluarganya. Tapi sementara budak-budak non-Muslim sering dipaksa masuk Islam, tetap saja mereka tidak dibebaskan dari perbudakan. Boubacar Messaoud pejuang anti-perbudakan menjelaskan: “Kayak punya ternak saja. Jika ada wanita yang jadi budak, keturunannya juga otomatis jadi budak.”

Pejuang anti perbudakan seperti Messaoud kesulitan melawan perbudakan karena ini sebuah tradisi yang berakar dari Qur’an dan Sunah Nabi (yaitu dilakukan oleh Muhammad). Nabi Muhammad punya banyak budak, dan seperti Injil, Qur’an juga mengakui adanya perbudakan, bahkan memerintahkan pembebasan budak dibawah kondisi tertentu, seperti si majikan melanggar sumpah:

QS 5 Al-Ma’idah 89
Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).

Tapi meski memerdekakan budak itu dianjurkan dalam Qur’an, institusi Islam sendiri tidak pernah mempertanyakan/melarangnya. Qur’an bahkan memberi kaum pria izin untuk melakukan seks dengan budak wanita:

QS 23 Al-Mu’minun 1-6
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya,
dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
dan orang-orang yang menunaikan zakat,
dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

Seorang Muslim tidak boleh melakukan seks dengan wanita istri orang lain – kecuali wanita itu budak wanita miliknya:

QS 4 An-Nisa’ 24
dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Sejak zaman Muhammad sampai sekarang, kebanyakan budak Islam adalah non-Muslim yang ditangkap dalam jihad. Akademisi terkenal yang ahli dalam hal perlakuan terhadap non-Muslim dalam masyarakat Islam, Bat Ye’or, menjelaskan sistem yang dikembangkan dari penaklukan-penaklukan jihad:

Sistem Perbudakan jihad mengirim pria dan wanita untuk dijadikan budak secara berkala sesuai dengan perjanjian takluk kepada Khalifah. Ketika Amir menaklukan Tripoli (Libya) tahun 643, dia memaksa orang-orang Yahudi dan Kristen Berber untuk memberikan istri dan anak mereka sebagai budak kepada tentara Arab, ini termasuk pajak jizyah. Ini berlangsung dari tahun 652 sampai kekalahan mereka tahun 1276.

Nubia juga dipaksa untuk mengirim budak-budak secara berkala ke Kairo. Perjanjiannya termasuk untuk kota-kota Transoxiana, Al-Sijistani, Armenia dan Fezzan (Arab Maghrib) dibawah Umayyah dan Abbasiyah, mereka meminta para budak pria dan wanita. Tapi, sumber utama suplai budak tetap berasal dari penyerangan-penyerangan reguler pada dusun-dusun didalam Dar al-Harb (Wawasan Perang, yakni daerah non-Islam) dan ekspedisi militer yang menyapu lebih dalam lagi ketanah-tanah Kafir, mengosongkan kota-kota dan provinsi dari para penghuninya. [1]

Sejarawan Speros Vryonis mengamati bahwa “sejak awal perampokan Arab ke tanah orang-orang Rum (Kekaisaran Bizantium), barang jarahan berupa manusia menjadi bagian yang sangat penting.”

Seraya terus menerus mereka menaklukkan Anatolia, orang-orang Turki menurunkan harkat orang Yunani dan non-Muslim lain ke status budak: “Mereka memperbudak laki-laki, wanita dan anak-anak dari semua pusat pengungsian utama dan dari kampung-kampung dimana populasinya tak berdaya untuk melawan.” [2]

Sejarawan India K.S. Lal menyatakan bahwa dimanapun para jihad menaklukan sebuah teritori, “disana dikembangkan sebuah sistem perbudakan yang sesuai dengan iklim, wilayah dan populasi daerah itu.” Ketika Muslim menjajah India, “penduduk India mulai dijadikan budak dan di-ekspor keluar India bagi pekerjaan-pekerjaan kasar.” [3]

Para budak menghadapi tekanan agar masuk Islam. Dalam sebuah analisa teori politik Islam, Patricia Crone mencatat bahwa setelah perang jihad selesai, “tawanan pria bisa dibunuh atau diperbudak … disebar ke RT Muslim, para budak hampir selalu didorong atau ditekan oleh tuannya agar masuk Islam, atau secara pelahan, menjadi terbiasa melihat segala sesuatu lewat mata Muslim, meskipun mereka mencoba untuk melawan.” [4]

Thomas Pellow, orang Inggris yang diperbudak di Maroko selama 23 tahun setelah ditangkap dari kapal Inggris ditahun 1716, dimana dia bekerja sebagai kabin boy, disiksa sampai dia mau menerima Islam. Berminggu-minggu dia dipukuli dan dibuat kelaparan, akhirnya menyerah setelah penyiksanya bilang “akan memanggang daging dan tulang-tulangnya.” [5]

Perbudakan diakui eksis sepanjang sejarah Islam, seperti juga di Barat hingga abad lalu. Tapi sementara orang Eropa dan Amerika disorot habis-habisan mengenai perbudakan ini dan akhirnya melarang perbudakan, perbudakan dan perdagangan budak dalam Islam terus berlangsung hingga sekarang dan mengakibatkan banyak penderitaan yang hampir-hampir tidak diperhatikan dan diabaikan.

Oleh karena itu, betapa ironis bahwa Islam di Amerika justru disajikan kepada orang-orang kulit hitam Amerika, dan Kristen dianggap sebagai “agama perbudakan kulit putih.”

Para ahli sejarah memperkirakan bahwa perdagangan budak trans atlantik, yang beroperasi antara abad 16 hingga 19, melibatkan sekitar 10.5 juta budak, perdagangan budak oleh Islam di Sahara, Laut Merah dan Laut Hindia mulai di abad ke-7 dan berakhir di penghujung abad 19, melibatkan sekitar 17 juta budak. [6]

Ketika muncul tekanan untuk mengakhiri perbudakan, tekanan ini datang dari pengikut agama Kristen, dan bukan dari Islam. Tidak ada orang Muslim seperti William Wilberforce atau William Lloyd Garrison.

Malah, ketika di abad 19 pemerintah Inggris mengadopsi pandangan Wilberforce untuk mengakhiri perbudakan dan mulai menekan mereka yang pro-perbudakan, Sultan Maroko menentangnya dan berkata, “Perdagangan budak adalah perihal yang ada dalam semua sekte dan bangsa, dan disetujui dari waktu ke waktu sejak jaman anak-anaknya Adam … Hingga hari ini.” Dia bilang dia sendiri “tidak sadar hal ini dilarang oleh hukum sekte manapun” dan bahwa ide pelarangan perbudakan karena masalah moral sama sekali omong kosong: “Tak seorangpun perlu mempertanyakan ini, hal ini telah terwujud pada dua belah pihak (budak dan tuan) dan tidak perlu diterangkan, hal ini sama dengan terangnya siang hari.” [7]

Meski demikian perbudakan terjadi bukan karena umat manusia bersuara bulat setuju, tapi perkataan Muhammad dalam Qur’an yang memastikan perbudakan ini, yang mencekik gerakan-gerakan kebebasan didunia Islam. Perbudakan dalam Islam dilarang hanya karena ada tekanan dari Barat; para Arab Muslim pedagang budak di Afrika diakhiri oleh militer Inggris di abad 19.

Selain masih dipraktekkan sekarang, baik tertutup ataupun sedikit terbuka di Sudan dan Muritania, ada bukti bahwa perbudakan masih terus berlangsung dibawah permukaan di negara-negara mayoritas Muslim – terutama Arab Saudi, yang melarang perbudakan tahun 1962, Yaman dan Oman, keduanya mengakhiri perdagangan budak tahun 1970. Di Nigeria, larangan ini diabaikan, dan menurut studi seorang Nigeria, sebanyak 1 juta orang masih diperbudak disana.

Para budak beranak pinak sering karena diperkosa, dan umumnya diperlakukan seperti binatang. Reporter BBC Hillary Andersson melaporkan dari Nigeria Feb 2005:

“Pemilik budak mendorong para budak untuk beranak pinak agar menambah jumlah mereka, kadang bahkan mereka menentukan kapan harus berhubungan seks. Mereka memperlakukan para budaknya seperti ternak … Ada kasus-kasus dimana para budak ditelanjangi didepan keluarga mereka untuk mempermalukan mereka, kasus dimana budak wanita diperkosa tuannya, bahkan budak lelaki dikebiri oleh tuannya sebagai hukuman.”

Perbudakan yang diperkuat dan terus menerus diadakan oleh Islam bisa dilihat seketika ketika para Muslim mampu mengimpor institusi perbudakan ini ke Amerika.

Seorang Saudi bernama Homaidan Al-Turki, contohnya, dituntut 27 tahun penjara minimal, karena memperbudak seorang wanita dirumahnya di Kolorado. Al-Turki menyatakan bahwa dia korban Islamophobia.

Dia bilang pada hakim: “Yang Mulia, saya disini bukan untuk minta maaf, saya tidak bisa minta maaf atas hal yang tidak saya lakukan. Negara telah mengkriminalisasi kelakuan dasar para Muslim. Dasar tuntutan ini adalah untuk menyerang tradisi Muslim.”

Bulan berikutnya, seorang pasangan Mesir yang tinggal di California Selatan ditahan dan kena denda, dan kemudian dideportasi, setelah mengaku bersalah memperbudak anak perempuan 10 tahun.

Bulan januari 2007, seorang atase kedutaan Kuwait di Washington, Walid Al Saleh, dan istrinya dituduh menahan tiga pekerja India beragama Kristen dan memperlakukan mereka selayaknya budak dirumah mereka di Virginia. Salah seorang dari wanita itu bercerita:

“Saya tidak punya pilihan kecuali terus bekerja bagi mereka meski mereka memukuli saya dan memperlakukan saya lebih buruk dari seorang budak.”

Semua ini menandakan masalah perbudakan Islam tidak dibatasi hanya pada kejadian-kejadian di Sudan; tapi mengakar lebih dalam dan melebar lebih jauh. PBB dan organisasi HAM mencatat fenomena ini, tapi baru sedikit sekali yang dilakukan untuk melawan perbudakan-perbudakan, atau melawan mereka yang membantu/mentoleran perbudakan.

PBB telah mencoba menempatkan pasukan perdamaian di Darfur, meski ditentang pemerintah Sudan, tapi protes terhadap perbudakan di Sudan dan tempat lain belum menghasilkan tindakan pemerintah yang berarti bagi praktek-praktek demikian.

Amnesty International and Human Rights Watch juga mencatat masalah ini, tapi seperti HRW amati, “pemerintah Sudan tidak bergeming akan isu perbudakan, mengklaim bahwa ini hanya masalah persaingan antar suku, yang tidak bisa mereka campuri. Ini tidak benar, karena laporan-laporan banyak sekali datang dari Sudan Selatan, semuanya jelas tidak demikian adanya.”

[1] Bat Ye’or, The Decline of Eastern Christianity Under Islam: From Jihad to Dhimmitude, Fairleigh Dickinson University Press, 1996, p. 108.
[2] Speros Vryonis, The Decline of Medieval Hellenism in Asia Minor and the Process of Islamization from the Eleventh through the Fifteenth Century, Berkeley, 1971. P. 174-5. Quoted in Bostom, Legacy of Jihad, p. 87.
[3] K. S. Lal, Muslim Slave System in Medieval India, Aditya Prakashan, 1994. P. 9.
[4] Patricia Crone, God’s Rule: Government and Islam, Columbia University Press, 2004. Pp. 371-372. Quoted in Bostom, Legacy of Jihad, p. 86.
[5] Giles Milton, White Gold: The Extraordinary Story of Thomas Pellow and Islam’s One Million White Slaves, Farrar, Straus and Giroux, 2004. P. 84.
[6] Andrew Bostom, The Legacy of Jihad, Prometheus, 2005, pp. 89-90.
[7] Quoted in Bernard Lewis, Race and Slavery in the Middle East, Oxford University Press, 1994. Reprinted at http://www.fordham.edu/halsall/med/lewis1.html.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: