FPI TAK MENEPIS BANYAK ANGGOTA JADI PREMAN

“Anggota-anggota seperti itu masih banyak di FPI. Kami masih kesulitan untuk mengusut karena anggota kami sangat banyak.”

Ketua DPD Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta, Habib Salim Bin Umar Al Attos (Habib Selon) tak menepis fakta bahwa masih banyak anggotanya yang bertindak melanggar hukum, seperti menjadi preman atau ‘centeng’ di tempat hiburan malam, hingga menerima ‘upeti’ haram.

Tak cuma itu, jelasnya, para anggota ‘nakal’ itu juga tak segan menjual nama Ketua Umum Habib Rizieq dalam menjalankan aksinya. Sehingga, muncul anggapan bahwa ‘upeti’ haram itu diminta langsung oleh para petinggi FPI.

“Anggota-anggota seperti itu masih banyak di FPI. Kami masih kesulitan untuk mengusut karena anggota kami sangat banyak,” kata Salim kepada Beritasatu.com, Sabtu (2/6).

“Di setiap wilayah DKI pasti ada anggota nakal yang menyalahgunakan nama besar FPI dan atribut FPI,” sambungnya.

Meski begitu, Salim mengaku tetap berupaya keras untuk mengubah perilaku anggota-anggotanya yang menyimpang.

“Anggota FPI itu memang kebanyakan preman insaf. Kami bimbing mereka hingga mau ke jalan yang benar. Tapi, jika di tengah jalan mereka kembali sesat, kami harus berusaha keras untuk mengembalikan mereka lagi,” ucap Salim.

Kendati demikian, Salim juga tak segan bertindak keras terhadap ulah anggotanya yang sangat menyimpang. “Sejak saya jadi Ketua DPD DKI Jakarta, saya sudah pecat puluhan ustad FPI,” tegasnya.

Lebih lanjut, Salim menegaskan bahwa FPI tidak kekurangan dana. Sumber dana FPI, ujarnya, berasal dari iuran laskar.

“Dana kami dari iuran laskar saban minggu. Iurang tersebut tidak ditetapkan besarannya. Sehingga anggota dapat ikhlas menyumbang iuran,” jelasnya. “Laskar kami berjumlah sangat banyak, mencapai puluhan ribu orang di Jakarta. Hitung saja, kalau seorang menyumbang Rp. 10.000, berapa yang kami dapat setiap minggunya. Jadi FPI tidak pernah kekurangan dana,” tegasnya.

Sebelumnya, Sardjono Kartosoewirjo, putra bungsu pendiri Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo mengatakan bahwa dirinya pernah menjadi saksi bagaimana FPI merusak suatu tempat hiburan.

Saat itu, pada 2007 silam, Sardjono yang berkantor di Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) di Kawasan Niaga Duta Merlin, Jakarta Pusat, terkejut oleh aksi FPI yang merusak tempat billiard.

Atas nama menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, FPI lalu merusak tempat billiard. “Forum Silaturrahmi Anak Bangsa (FSAB) itu dulu kantornya di Duta Merlin Jakarta. Di depan kantor kita itu ada billiard, cafe, panti pijat plus plus. Tapi yang diobrak-abrik itu yang billiard,” kata Sardjono yang juga Wakil Ketua FSAB.

Ia heran karena yang dirusak FPI cuma tempat billiard, padahal  tempat billiard itu terbuka. “Wong billiard itu terbuka, kelihatan dari jalan, jelas dan semua barang di situ dipecah. Kenapa panti pijat, night club tidak diobrak-abrik,” ujar Sardjono.

Dari kejadian itu Sardjono mengaku heran. “Berarti yang tidak ada kontribusi diobrak-abrik. Saya di sana waktu mereka operasi, saya lihat dari kantor,” ujarnya. Sardjono juga mendapat informasi kalau pemilik billiard yang  diobrak-abrik itu juga protes ke Kodam, pasalnya mereka sudah lapor ke polisi dan tidak didengar. “Maka dia ke Kodam dan minta FPI dibubarkan. Tapi kata Pangdam menyatakan FPI masih dibutuhkan,” katanya.

Gerakan anarkis berlatar belakang agama ini menurut Sardjono sulit dikendalikan. “Karena orang yang jaga night club itu menyusup ke FPI dengan alasan mau tobat. Orang seperti ini nyumbangnya besar. Tapi setelah lama ia mulai mikir darimana sumber makan. Karena tidak ada penghasilan dia balik lagi ke night club. Jadi dia jaga plus pakai seragam FPI. Jadi kalau ada FPI datang obrak-abrik dia tahu temannya,” jelasnmya.

Organisasi macam FPI ini, menurut Sardjono, akan beres dengan amplop. “FPI itu kan sporasdis. Kalau dikasih amplop diam juga. Siapin amplop saja akan lewat. Malah dia tahu kapan ada razia. Jadi dia tinggal siapkan amplop. Makanya aman-aman saja night club. FPI anggaran dari mana. Ada yang ngasih ya terima saja,” katanya.

Gerakan radikal dan intoleran seperti ini, kata Sardjono, menunjukkan ketidakmurnian perjuangan Islam. “Saya tidak melihat perjuangan Islam yang sekarang murni, terutama di level pimpinan. Sekarang itu  materi yang berkuasa, yang dihormati yang berduit. Kehormatan harus dibeli dengan duit. Islam itu sesuatu yang mahal. Membeli akhirat pakai jalan Islam itu mahal. Muhammad itu kalau bukan jadi nabi akan jadi raja melanjutkan ayahnya yang penguasa Masjdidil Haram. Nabi saja diperangi, diusir. Jadi kalau tidak bener-bener dipilih Allah untuk memperjuangkan Islam, dia tidak akan kuat dengan godaan materi,” ujarnya.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: