IRAK: 15 WANITA/BULAN DIPENGGAL KARENA BUSANA TIDAK ISLAMI

Oleh Terri Judd

Di Basra saja, polisi mengakui bahwa 15 wanita sebulan dibunuh karena melanggar kode busana Islami. Ada lagi yang mengatakan bahwa angka itu jauh lebih tinggi.

Shawbo Ali Rauf, 19 tahun, dibunuh oleh mertuanya dengan tembakan 7 kali. Kejatahannya? Memiliki nomor telpon orang yang tidak dikenal keluarga pada handphonenya.

Rand Abdel-Qader, 17 tahun, ditusuk sampai mati oleh ayahnya karena gadis itu naksir seorang tentara UK.

Kekerasan terhadap wanita di Irak semakin meningkat dengan meningkatnya kekuatan kaum militan. Pemenggalan, pemerkosaan, pemukulan, bunuh diri, sunat wanita, penculikan dan pelecehan anak-anak semuda 9 tahun dengan tameng perkawinan, semuanya sedang mengalami kenaikan.

Du’a Khalil Aswad, 17 tahun, dari Niniwe, dihukum rajam dengan batu oleh 2.000 lelaki karena naksir lelaki diluar klannya. Dan tidak seorang tertuduhpun ditahan, diperiksa apalagi dihukum.

Seruan baru-baru ini oleh anggota parlemen Kurdi, Narmin Osman, untuk melarang “honour killings” tersebut dibatalkan oleh kaum ‘fundamentalis’ (baca : MUSLIM TULEN!). “Di mata pemerintah, honour killings bukan sebuah tindak pidana,” kata Houzan Mahmoud, yang dikenakan fatwa mati setelah wanita itu melancarkan petisi melawan pemberlakuan hukum Syariat di Kurdistan. “Jika sebelumnya, hanya seorang diktator menekan rakyat, kini hampir semua orang menekan wanita. (Perhatikan kata-katanya: Hampir SEMUA orang, bukan hanya ‘hampir semua kaum fundamentalis’)

“Dalam 5 tahun belakangan ini, keadaan semakin parah. Kami telah didepak kembali ke jaman kegelapan. Wanita dipenggal karena melepaskan jilbab mereka. Semakin banyak wanita merusak tubuh mereka sendiri – wanita tidak punya pilihan. Tidak ada badan pemerintah yang memberikan perlindungan. Hukum Syariat digunakan untuk menekankan kekuasaan pemerintah, menekan hak-hak wanita yang paling hakiki.

Agustus tahun lalu, mayat Sara Jaffar Nimat, 11 tahun, ditemukan di Khanaqin, Kurdistan, setelah ia dirajam sampai mati dan dibakar.

Dua kakak lelaki dan seorang adik perempuan diculik dari rumah mereka di Kirkuk oleh orang-orang berseragam polisi. Kedua kakak dipukuli sampai mati dan sang wanita, setelah diperkosa rame-rame, dibiarkan dalam kondisi kritis dan diancam agar mematuhi aturan “sebuah negara Islam”.

Seminggu lalu, wartawan wanita, Begard Husein, dibunuh di rumahnya di Arbil, Irak Utara. Suaminya, Mohammed Mustafa, menikamnya karena istrinya jatuh cinta pada lelaki lain.

Tahun lalu di As-Sulaimaniyah, kota berpenduduk 1 juta jiwa, dilaporkan terjadinya 407 kasus pemenggalan, pemukulan, kematian ditangan keluarga sendiri. Kasus PEMERKOSAAN tidak pernah dilaporkan karena para korban takut dihukum oleh keluarga mereka. Tapi paling tidak, polisi mendapat 25 laporan pemerkosaan.

UUD Irak yang baru, menurut Mrs. Mahmoud, mengandung se-abreg kontradiksi. Sambil menyebut bahwa lelaki dan wanita memiliki persamaan derajad, UUD tersebut juga menyatakan bahwa Hukum Syariat – yang menyatakan kesaksian seorang lelaki sama dengan dua perempuan – harus berlaku. Jadi, hari-hari dimana wanita bisa memegang jabatan kunci dalam pemerintahan atau badan swasta atau memiliki kebebasan bergerak, kini menguap sudah.

Dua tahun lalu di Mosul, 8 wanita dipenggal karena ‘melanggar busana Islam.’

“Ini memang mengerikan,” kata Mrs. Mahmoud. “Honour Killings dan pembunuhan semakin merajalela. Ribuan wanita sudah menjadi korban. Kesemua tindakan itu didukung oleh UU, Hukum Adat dan ATURAN AGAMA. Kami mendesak dunia internasional untuk mengutuk praktek barbar ini dan membantu wanita-wanita Irak.”

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: