SERAT DARMAGANDHUL XVI

Ki Darmagandhul lantas memohon agar diterangkan perbandingan kecerdasan orang dulu dengan sekarang, mana diantara kedua generasi yang pintar, banyak orang memiliki pendapat yang bermacam-macam tentang hal itu.

Kiai Kalamwadi menjawab: “Orang dulu dengan orang sekarang sama-sama cerdasnya. Hanya saja orang jaman dulu kurang bisa mewujudkan kepintaran mereka, sehingga terlihat seolah bodoh. Sedangkan orang jaman sekarang, telah mampu mewujudkan kepintaran mereka sehingga terlihatlah mereka pintar. Kepintaran orang sekarang merupakan limpahan dari kepintaran orang dimasa lalu. Jika orang dulu tidak ada yang pintar, tentunya tidak ada yang bisa dibuat suri tauladan oleh orang jaman sekarang. Orang sekarang masih banyak mencontoh kebijakan masa lalu. Orang yang hidup sekarang juga memberikan sentuhan perubahan, apa yang kurang baik dijadikan lebih baik lagi. Orang jaman sekarang, tidak terbiasa mengemas kebijakan mereka dalam wujud sastra/simbolik. Tapi sesungguhnya, manusia tidaklah layak merasa pintar, karena dia hanya sekedar hamba. Hanya sekedar menjalani. Hanya sekedar memakai jasad fisik. Gerak manusia sesungguhnya sudah ada yang melakukannya. Namun jikalau kamu ingin tahu bagaimanakah manusia yang benar-benar pintar, hal itu sisimbolkan pada sosok wanita yang tiap hari memilah padi (nutu). Tampah (wadah terbuat dari anyaman rotan) diisi beras hasil ditumbuk. Lantas diputar sejenak. Kulit padi akan beterbangan semua. Sehingga terpisahlah mana beras dan mana kulitnya. Lantas tinggal diambil untuk dipilah-pilah kembali. Singkatnya, beras sebelum diolah untuk dimasak menurut selera harus dibersihkan dulu. Begitulah kesadaran manusia hidup, harus mencontoh wanita tengah memilah padi diatas tampah. Jika kamu bisa berlaku demikian, kamu manusia unggul. Akan tetapi sesungguhnya, tanggung jawab yang sedemikian itu ada pada seorang Raja, yang menguasai seluruh hamba-hambanya. Sedangkan dirimu harus mentaati peraturan negara agar hidupmu tidak diasingkan sesama dan selamat. Dirimu akan menjadi contoh bagi mereka yang ingin setia pada negara. Oleh karenanya pesanku, jangan sekali-kali dirimu mengaku pintar, itu bukan kewajiban manusia. Jika merasa pintar akan mendapat murka dari Yang Maha Kuasa. Kuasa Gusti Allah tidak bisa digapai oleh manusia. Sadarilah manusia hidup itu hanya sekedar menjalani semata. Jika ada orang pintar, pasti akan ada yang lebih pintar lagi. Bahkan ada manusia pintar kalah dengan orang bodoh. Bodoh maupun pintarnya manusia itu atas kehendak Yang Maha Kuasa. Apapun yang dimiliki manusia, apapun kebisaan manusia, semua hanya diberi pinjaman oleh Yang Maha Kuasa. Jika sudah diambil, semua bakal musnah seketika. Karena kuasa Gusti Allah, bisa saja hal yang telah diambil tersebut di berikan kepada manusia bodoh, sehingga manusia bodoh bisa mengalahkan manusia pintar. Oleh karenanya pesanku lagi, carilah pengetahuan nyata, yaitu pengetahuan yang behubungan dengan moksa.”

Ki Darmagandhul lantas bertanya lagi, memohon agar dijelaskan tentang petilasan Keraton Kediri, yaitu Keraton Prabu Jayabaya. Kiai Kalamwadi menjawab, “Sang Prabu Jayabaya tidak berdiam di Kediri (sekarang), namun berdiam di Daha, terletak disebelah Timur Sungai Brantas. Sedangkan kota Kediri terletak di Barat Sungai Brantas dan disebelah Timur Gunung Wilis. Di Desa Klotok, disana terdapat batu bata putih, itulah tempat petilasan Sang Pujaningrat. Sedangkan keraton beliau terletak di Daha, sekarang disebut dengan nama Desa Menang. Peninggalan keraton sudah tidak didapati lagi karena terurug oleh pasir akibat muntahan lahar Gunung Kelud. Semua bekas istana dan semua petilasan tersebut sudah hilang. Pesangggrahan Wanacatur dan Taman Bagendhawati juga sudah sirna.  Begitu juga Pasanggrahan Sabda kadhaton milik Ratu Pagedhongan juga sudah sirna. Yang tertinggal hanya arca buatan Prabu Jayabaya yang ada di Candi Prudhung, Tegalwangi yang terletak disebelah Timur Laut dari Menang, serta arca raksasa perempuan yang diputus tangannya oleh Sunan Bonang saat masuk ke wilayah Kediri. Arca tadi duduk menghadap ke Barat. Ada lagi arca kuda berkepala dua, terletak didesa Bogem, wilayah distrik Sukareja (Sukorejo).

Di daerah Lodhaya (Lodaya) ada seorang Raksasa wanita yang hendak ngunggah-unggahi (melamar) Sang Prabu Jayabaya. Akan tetapi belum sempat bertemu dengan Sang Prabu, Raksasa wanita tadi dikeroyok oleh para prajurit. Sang Raksasa jatuh terkapar, tapi belum meninggal dunia, begitu ditanya, dia menjawab bahwa hendak melamar Sang Prabu Jayabaya. Sang Prabu lantas menanyakan hal itu kepada Sang Raksasa, Sang Prabu mendapatkan jawaban serupa. Sang Prabu lantas berkata: “Wahai Raksasa! Sepeninggalku kelak, disebelah Barat dari daerah ini akan ada seorang Raja, letak istananya ada di Prambanan. Dialah nanti yang bakal jadi jodohmu. Akan tetapi janganlah kamu berwujud seperti itu, berwujudlah (ber-inkarnasi-lah menjadi) manusia, bergantilah nama Rara Jonggrang.”

Setelah diberitahu akan hal itu, sang Raksasa lantas meninggal dunia. Sang Prabu lantas memerintahkan kepada para abdi dalem, agar supaya tempat dimana meninggalnya putri Raksasa tadi diberi nama Desa Gumuruh. Tidak begitu lama kemudian Sang Prabu Jayabaya lantas memerintahkan membuat arca didesa Bogem. Arca tadi berwujud kuda utuh dengan dua kepala. Kiri kanannya diberikan batas. Patih sang Prabu yang bernama Buta Locaya serta Senapati yang bernama Tunggulwulung bersamaan menghaturkan pertanyaan apa yang menjadi alasan Sang Prabu menyuruh membuat arca yang sedemikian itu. Sang Prabu lantas menjawab, latar belakang beliau membuat arca sedemikian itu hanya untuk perlambang kejadian yang akan terjadi nanti, siapa saja yang melihat perwujudan arca tadi akan paham akan kelakuan wanita jaman nanti, jika sudah tiba masa jaman Nusa Srenggi. Bogem artinya tempat perhiasan indah, arti simboliknya bahwa wanita itu tempat menyimpan barang-barang rahasia. Laren (Batasan) yang mengelilingi arca kuda maksudnya juga larangan. Kuda yang dijaga berarti ibarat wanita yang dilindungi. Berkepala dua adalah perlambang jika wanita Jawa kelak kebanyakan tidak setia, walaupun tidak kurang-kurang dalam menjaganya, tetap saja bisa ingkar janji, Lagaran maksudnya adalah tempat tunggangan yang tanpa piranti apapun. Pada jaman nanti kebanyakan manusia hendak menikah tidak lagi meminta restu kedua orang tua, sebab sudah melakukan ‘lagaran’ dahulu, jika cocok ya jadi untuk menikah, tapi jika tidak cocok, maka urunglah dinikahi.

Sang Prabu juga membangun candi, sebagai tempat bagi masyarakat yang meninggal dan jenasahnya dibakar disana, agar bisa kembali sempurna pulang ke alam sunyi. Kerap kali, saat upacara pembakaran mayat, Sang Prabu berkenan hadir untuk memberikan penghormatannya.

Itulah adat kebiasaan para Raja dijaman dulu. Oleh karenanya aku memohon kepada Dewa (Tuhan), semoga Sang Prabu (Raja sekarang) juga bersedia membangun candi untuk membakar mayat, sebagaimana adat para Raja jaman dulu, sebab diriku ini putra dalang, jangan sampai lama-lama menjadi roh penasaran, jangan lama-lama jasadku berwujud utuh tanpa nyata, aku berharap agar secepatnya bisa kembali ke asalnya. (Disini jelas, guru Darmagandhul, penulis buku ini seorang beragama Siwa Buddha).

Setelah Sang Prabu Jayabaya moksa, diikuti kemudian oleh Patih Buta Locaya dan Senapati Tunggulwulung, begitu juga putri Sang Prabu Ni Mas Pagedhongan, semua ikut moksa. (Sang Prabu Jayabaya benar-benar moksa, artinya menyatu kembali dengan Brahman, sedangkan ketiga tokoh yang lain hanya sekedar berpindah alam).

Buta Locaya lantas menjadi Raja makhluk halus di Kediri. Tunggulwulung menjadi Raja makhluk halus di Gunung Kelud sedangkan Ni Mas Ratu Pagedhongan lantas menjadi Raja makhluk halus di Laut Selatan, bergelar Ratu Anginangin.

Ada pula orang yang disayangi oleh Sang Prabu Jayabaya, bernama Kramatruna. Kala Sang Prabu belom moksa, Kramatruna diperintahkan tinggal di Danau Kalasan. Setelah tiga ratus tahun kemudian, putra Raja di Prambanan, bernama Lembumardadu atau Sang Pujaningrat naik tahta di Kediri, istananya terletak di Barat sungai. KEDHI berarti wanita yang sudah tidak mendapatkan datang bulan (menopause) sedangkan DHIRI berarti tubuh. Yang memberi nama adalah Dewi Kilisuci, disesuaikan dengan kondisi beliau. Oleh karenanya Kediri diangap negara wanita, jika berperang kebanyakan menang, akan tetapi jika diserang banyak kalahnya. Watak para wanita Kediri, besar hati (percaya diri) sebab terkena aura Sang Retna Dewi Kili Suci. Retna Dewi Kilisuci itu adalah saudara tua Raja di Jenggala (Putra Prabu Airlangga, leluhur Raja Kediri dan Jenggala). Pertapaan Sang Retna Dewi Kili Suci ada di sebuah gua, bernama Selamangleng, terletak dilereng Gunung Wilis.

KETERANGAN TAMBAHAN

Kanjeng Susuhunan Ampeldenta mempunyai seorang putri bernama Ratu Fatimah kala menikah dengan Nyi Ageng Bela. Ratu Patimah menikah dengan Pangeran Ibrahim di Karang Kemuning. Setelah Pangeran Ibrahim Karang Kemuning wafat, Ratu Patimah lantas bertapa di Manyura. Pernikahan Ratu Patimah dengan Pangeran Ibrahim memiliki seorang putri bernama Nyi Ageng Malaka, dijdohkan dengan Raden Patah.

Raden Patah (Raden Praba), putra Prabu Brawijaya dengan Putri Cina yang lantas diberikan kepada Arya Damar Adipati Palembang. Setelah naik tahta bergelar Sultan Syah ‘Alam Akbar Sirullah Kalifaturrasul Amirilmu’minin Rajudil ‘Abdu’l Hamid Khaq, atau Sultan Adi Surya ‘Alam ing Bintara (Demak)

Putri Champa yang bernama Dewi Anarawati (Ratu Emas) yang diperistri Prabu Brawijaya mempunyai tiga putra.

1. Putri bernama Retna Pambayun, dijodohkan dengan Adipati Andayaningrat penguasa Pengging, kala jaman pemberontakan negara Bali kepada Majapahit.
2. Raden Arya Lembupeteng Adipati di Madura.
3. Masih teramat muda dan suka bertapa, bernama Raden Gugur, setelah moksa bergelar Sunan Lawu.

Kakak Putri Champa bernama Pismanhawanti dinikahi putra Syekh Jumadil Kubro yang terlahir dari Siti Fatimah Kamarumi, masih keturunan Kanjeng Nabi Muhammad, bernama Maulana Ibrahim, berasal dari Jeddah, lantas pindah ke Champa, menjadi imam di tanah Asmara di Champa, sehingga lantas terkenal dengan gelar Syekh Maulana Ibrahim Asmara. Beliaulah ayahanda Susuhunan Ampeldenta (Sunan Ampel), Surabaya. Sedangkan adik Putri Champa laki-laki bernama Aswatidab. Sudah memeluk agama Islam, berguru kepada Syekh Maulana Ibrahim, lantas naik tahta menjadi Raja Pandhita di Champa menggantikan kedudukan ayahandanya. Berputra satu bernama Raden Rahmad. Sedangkan kakak Putri Champa yang dinikahi Maulana Ibrahim, berputra Sayid Ali Rahmad, di Jawa terkenal dengan gelar Susuhunan Katib ing Surabaya, bertempat di Ampeldhenta lantas terkenal dengan gelar Susuhunan Ampeldênta (Sunan Ampel). Champa adalah wilayah yang terletak di India Belakang (Indo-Cina). Sayid Kramat yang diceritakan dalam buku ini bergelar Susuhunan ing Bonang (Sunan Benang).

TAMAT

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: