SERAT DARMAGANDHUL XV

Kiai Kalamwadi lantas menerangkan perbedaannya, menurut petunjuk Yang Maha Kuasa, manusia diwajibkan untuk memuja agama. Akan tetapi lantas banyak yang telah keliru memuja kepada benda yang terlihat. Seperti halnya keris, tombak dan berbagai macam barang pusaka, lantas melupakan Tuhan, disebabkan telah mendua dengan men-Tuhan-kan benda. Manusia hidup harus mempunyai agama sebagai pegangan, sebab jika tidak memiliki agama dipastikan banyak melakukan kesalahan tak sengaja, baik kesalahan yang besar atau sedikit. Yang bisa membuat sirnanya kesalahan-kesalahan tadi, hanyalah air suci, yaitu tekad lahir batin (dan itu yang diajarkan agama). Yang dimaksudkan dengan air suci tekad maksudnya milikilah pikiran yang ening (hening), itulah cara mandi manusia yang sesungguhnya, mampu membersihkan lahir dan batinnya. Manusia utama dalam beragama tidak mengharap-harapkan memperoleh Surga, yang dicari hanyalah keutamaan suci melebihi manusia lainnya, jangan sampai menemukan penderitaan, mempunyai nama yang baik, mempunyai sesebutan utama, mendapatkan ketentraman lahir batin, mulia seperti dulu-dulunya saat masih berada di alam samar, tidak terkena kesedihan dan keprihatinan. Bersihkan-lah pintu Surgamu, berilah hiasan dengan tekad utama, supaya tidak menimbulkan masalah, bisa selamat lahir dan batin. Yang aku maksudkan dengan pintu Surga dan pintu Neraka, adalah sarana menuju kebahagiaan atau penderitaan. Jika baik adanya akan menarik keuntungan, jika buruk keadaannya akan menuai celaka. Pintu Surga dan pintu Neraka tak lain adalah ucapanmu. Jika buruk mengundang celaka, masuk pada penderitaan. Jika baik, akan mendapatkan keuntungan.

Darmagandhul bertanya lagi. Manusia didunia hanya berwujud lelaki dan perempuan, akan tetapi mengapa jadinya bermacam-macam bentuk, ada Jawa, Arab, Belanda dan Cina. Mengapa pula agamanya berbeda. Mengapa tidak diberikan satu ajaran saja?

Kiai Kalamwadi lantas menjelaskan. Semua adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Oleh karena ajaran dibuat berbeda-beda, dimaksudkan agar seluruh manusia bisa dipicu menemukan buah Pohon Kesadaran dan buah Pohon Pengetahuan. Dengan sarana kecerdasan yang diberikan, sampai dimana mampu memetik buah Pengentahuan dan buah Kesadaran. Ketahuilah, Gusti Allah telah menciptakan sastra yang gaib, disebut sastra Hidup. Manusia jarang yang bisa memahaminya, walaupun para Auliya maupun para Nabi tetap saja memahami sebatas yang mereka bisa. Segala buah Pohon Pengetahuan dan buah Pohon Kesadaran diwujudkan dalam tulisan, diguratkan diatas DALWANG (kertas) dengan MANGSI (tinta) agar bisa terlihat wujudnya. Oleh karen disebut DALWANG sebagai sarana me-DAL WANG-ngune (Keluar wewujudannya), MANGSIT (Memicu) manusia agar memakan buah Pohon Pengetahuan (mendapat Pemahaman/Pengertian sebelum mendapatkan buah Pohon Budi atau Kesadaran). Alat tulisnya dinamakan KALAM, sebab buah pengetahuan yang tergurat disana bagaikan ucapan alam.

Segala macam sastra/ajaran pemberian Yang Maha Kuasa, wajib dimakan, agar kaya pengertian dan kaya pemahaman, hanya manusia yang tidak memahami sastra/ajaran pemberian Gusti Allah tidak akan memahami WANGSIT (Pengetahuan Rahasia).

(Auliya) yang terhormat Gong Cu (Kong Hu Cu) terlalu terburu-buru meniru sastra/ajaran gaib pemberian Gusti Alah, sehingga mewujudkan dalam aksara tidak sempurna dan banyak pengucapan yang cedal karenanya. Para Auliya yang lain diseluruh dunia sabar mencoba meniru dan mampu menciptakan aksara dengan batasan pasti untuk mewujudkan sastra/ajaran Hidup tersebut. Hanya aksara Cina yang terlampau banyak jumlahnya, pengucapanya juga cedal, sebab Auliya disana yang membuat aksara tersebut terlalu terburu-buru memakan buah Pengetahuan dan lupa memakan buah Kesadaran, lupa jikalau dirinya dititahkan sebagai manusia. Akan tetapi memaksakan diri memakai kuasa Yang Maha Kuasa, meraih sesuatu yang belum saatnya, terburu-buru membuat aksara hingga jumlahnya tak bisa dihitung. Aku menyebutnya sastra Godhong (Daun). Yaitu Daun dari Pohon Kesadaran dan daun Pohon Pengetahuan, diambil sedikit-sedikit, ditata dan dikumpulkan, diwujudkan dalam aksara dan ternyata jumlahnya ribuan. Auliya Cina hendak meniru semua sastra Hidup buatan Gusti Allah. Auliya Jawa sebelum mencipta aksara sudah mencapai tahap Kesadaran, oleh karenanya saat hendak mewujudkan ajaran/sastra Hidup milik Gusti Allah dengan kesabaran, sehingga mampu menciptakan aksara yang jumlahnya bisa dibatasi. Auliya Arab memakan buah pohon Khuldi, membuat aksara demi untuk mewujudkan sastra/ajaran Hidup Gusti Allah juga bisa dibatasi. Tapi sesungguhnya sastra/ajaran Hidup buatan Gusti Allah, berasal dari Sabda (AUM = Logos), berwujud sendiri, berbunyi jelas dan bentuknya berbeda-beda serta tak terhitung.

Darmagandhul lantas disuruh menimbang, dari semua ajaran buatan para Auliya tadi yang bisa menunjukkan tingkatan tinggi rendahnya Kesadaran aksara yang mana?

Menurut pertimbangan Darmagandhul, semua ajaran bisa dianggap benar, jikalau semua keluar dari Kesadaran. Sedangkan aksara yang berjumlah lebih sedikit sebagai sarana mewujudkan ajaran tersebut dalam bahasa manusia, menurut Darmagandhul itu hanya karena kepintaran/kemahiran sang pencipta aksara tersebut (tidak ada hubungannya dengan Kesadaran sama sekali).

Kiai Kalamwadi berkata: “Jika manusia hendak melihat sastra/ajaran Gusti Allah, aksaranya tidak bisa dilihat dengan mata lahir, hanya bisa dilihat dengan mata Kesadaran. (Ajaran Hidup atau ajaran Tuhan itu adalah Rta/Dharma/Kebenaran/Hukum Alam ini. Itulah sastra/ajaran Tuhan yang sesungguhnya). Gusti Allah Tunggal ada-Nya, akan tetapi Dzat-Nya meliputi seluruh perwujudan. Untuk bisa melihat harus dengan Kesadaran yang jernih, tidak boleh tercampuri kehendak yang aneh-aneh. Harus teliti dan sabar, supaya menyadari kenyataan Dia yang sebenarnya.”

Kiai Kalamwadi duduk dihadap istrinya yang bernama Endhang Prejiwati. Darmagandhul serta para cantrik (murid) yang lain menghadap. Saat itu Kiai Kalamwadi tengah memberikan wejangan kepada istrinya. Itulah kewajiban seorang suami harus memberikan pengajaran yang baik bagi istrinya. Yang tengah diwejangkan adalah pengetahuan Kesejatian dan pengetauan yang diperlukan jika sudah datang saatnya kematian. Seorang istri diibaratkan seperti halnya rumah. Walau kondisinya sudah baik, akan tetapi setiap hari harus tetap dibersihkan, dipelihara dan diperbagus. Kiai Kalamwadi lantas menuturkan, bahwasanya didalam raga manusia ini banyak firman Tuhan yang memberikan pengetahuan. Hanya sebatas berupa tanda-tanda yang tertulis disekujur badan.

Kiai Kalamwadi berkata: “Dikarenakan diriku ini orang bodoh, oleh karenanya aku tidak bisa memberikan wejangan yang terangkai dengan kata-kata indah. Aku hendak bertanya kepada jasadmu, dan dari jasadmu akan banyak ditemukan jawaban.”

Lantas beginilah ucapan Kiai Kalamwadi. Tangan kirimu itu memiliki arti sendiri, bisa dibuat contoh nyata kebaikan, menunjukkan ragamu itu dipenuhi wujud hawa (Keinginan) belaka. Kata ‘KI‘ maksudnya ‘i-KI‘ (Ini) ‘WA‘ maksudnya ‘we-WA-dhah’ (Tempat). Jasadmu itu ibarat perahu dan perahu ibarat dari seorang wanita. WONG maksudnya ‘ngelo-WONG‘ (Memiliki ruang), WADON (Wanita) maksudnya hanya sebagai WADHAH (Tempat). Isinya hanya tiga perkara, yaitu KARRICIS. Maksud dari KARRICIS adalah sebagai berikut:

1. KAR artinya dza-KAR (Penis). Maksudnya jikalau lelaki bisa memenuhi kelelakiannya (memenuhi kebutuhan biologis istrinya), sang wanita pasti merasa puas, sehingga akan langgeng dalam perjodohan suami istri.
2. RI maksudnya pa-RI (Padi). Maksudnya makanan. Jikalau sang suami bisa mencukupi kebutuhan makanan sang istri, pastilah sang istri tenteram hatinya.
3. CIS maksudnya pi-CIS atau uang, maksudnya jikalau sang suami mampu memberikan uang yang cukup kepada sang istri, pastilah sang istri akan tenteram.

Jika sebaliknya, jikalau sang suami tidak mampu memenuhi ketiga-tiganya, sang istri bisa resah hatinya. Sedangkan tangan TENGEN (Kanan) maksudnya ‘etung-NGEN‘ (Telitilah) tingkah lakumu. Setiap hari harus bersedia melayani bahkan sang wanita wajib pula membantu sang suami mencari sandang dan pangan.

Bahu atau KANTHI (Damping), maksudnya seorang istri adalah pendamping suami untuk melakukan segala pekerjaan yang perlu.

SIKUT (Siku) maksudnya SINGKUREN (Belakangilah) segala perbuatan salah. UGEL-UGEL (Pergelangan) melambangkan, walau terjadi pertengkaran, seyogyanya tidak akan terpisahkan selamanya (Pergelangan adalah tempat sambungan antara dua tulang yang terpisah. Suami dan istri walau memiliki keinginan yang berbeda, tetaplah menjadi satu ibarat pergelangan tangan tersebut). EPEK-EPEK (Telapak tangan), maksudnya nge-PEK (Meminta) nama suami. Sebab wanita jika sudah bersuami, namanya lantas dipanggil dengan nama suaminya. Inilah perlambang dari Warangka (Sarung Keris) masuk kedalam Curiga (Keris). Warangka adalah sang wanita, Keris-nya adalah nama dari suaminya.

RAJAH ditelapak tangan, memberikan petunjuk agar seorang istri menganggap suaminya adalah Raja-nya.

DRIJI (Jemari) maksudnya adalah DREJEG atau pagar. Kelilingilah jiwamu dengan pagar keutamaan, seorang wanita harus memiliki watak utama. Setiap jemari memiliki arti sendiri-sendiri.

JEMPOL artinya EMPOL (Bagian renyah didalam batang pohon kelapa yang bisa dimakan), maksudnya seorang istri manakala diingini oleh seorang suami, haruslah mudah dan renyah bagaikan renyahnya empol kelapa.

DRIJI PANUDUH (Jari telunjuk) maksudnya seorang wanita harus menjalani apa saja sa-PITUDUH-e (Segala yang ditunjukkan) oleh sang suami.

DRIJI PANUNGGUL (Jari tengah), maksudnya agar seorang wanita bisa ng-UNGGUL-ake (Mengunggulkan) suaminya agar mendapat keberkahan.

DRIJI MANIS (Jari manis) maksudnya seorang wanita harus memiliki wajah dan tingkah laku yang MANIS, berbicara yang MANIS dan sewajarnya.

JENTHIK (Jari kelingking) maksudnya sebagai seorang istri, seorang wanita kuasanya daam rumah tangga hanya seperlima dari kuasa suami, oleh karenanya harus setia dan menurut kepada suaminya.

KUKU maksudnya harus KUKUH (Kuat dan rapat) menjaga bagian rahasianya, jangan sampai gampang kendor tapih (kemben)-nya.

Pegangan hidup (PIKUKUH) berumah tangga, bagi wanita harus setia dan penurut kepada suaminya serta harus menjalani empat perkara, yaitu: PAWON (DAPUR), PATURON (RANJANG), PANGREKSA (MENJAGA DIRI) serta menghindari PADUDON (PERTENGKARAN).

Hidup berumah tangga manakala bisa menetapi aturan ini, dapat dipastikan akan selamat dan tenteram.

Kiai Kalamwadi memberikan petunjuk lagi tentang ketetapan berumah tangga. Menurut Kiai Kalamwadi, hidup berumah tangga harus berketetapan pada hati yang ingat, jangan sampai berbuat yang tidak baik. Bukan harta benda dan wajah sebagai pegangannya, tapi hati yang senantiasa ingat. Jika gampang sangat-sangat gampang, jika sulit, sangat-sangat sulit menjalaninya. Jika gagal, gagal sekalian, jika dapat harus dapat sekalian (tidak boleh setengah-setengah maksudnya), jikalau sampai salah jalan tidak bisa diberikan ganti rugi dengan harta dan perwajahan tampan/cantik (jika sudah melakukan kesalahan, tak pandang punya harta banyak atau wajah bagus, tetap akan mendapatkan malu). Seorang istri harus senantiasa ingat jika dirinya dimiliki oleh seorang suami. Jikalau tidak mengingat akan hal ini, akan seenaknya dalam bersikap, sebab jika sampai ingkar, bisa menghilangkan keberkahan hidup berumah tangga. Yang dimaksud dengan ingkar bukan hanya berzina dengan lelaki lain saja, akan tetapi segala hal perbuatan yang berakibat tidak baik, juga bisa disebut ingkar, oleh karenanya seorang istri harus apa adanya (jujur) lahir dan batin, sebab jika tidak, pasti akan mendapatkan dua macam dosa, pertama berdosa kepada suami dan kedua berdosa kepada Gusti Allah, dapat dipastikan tidak akan mendapatkan kehidupan yang nyaman dikemudian harinya. Oleh karenanya hati harus senantiasa ingat, sebab perbuatan badan menuruti keinginan hati, sebab hati adalah raja bagi badan. Hidup berumah tangga bisa diibaratkan sebuah perahu besar, jalannya perahu terletak pada layar dan kemudi, walaupun layar sudah benar manakala kemudi salah menjalankan, perahu-pun tidak akan bisa berjalan baik. Suami ibarat memegang layar sedangkan sang istri ibarat memegang kemudi. Walaupun sudah benar menjalankan kemudi, namun jika layar tidak benar, maka jalannya perahu juga tidak bisa tegak. Jikalau keduanya sudah benar, maka akan menuai ketentraman dan akan sampai apa yang diinginkan, sebab kedua-dua orang menjalankan tugasnya dengan baik. Singkatnya, hidup berumah tangga kedua pasang suami istri harus sama tujuannya, oleh karenanya harus rukun, kerukunan akan membuahkan kebahagiaan. Bukan hanya yang tengah menjalankan hidup berumah tangga saja yang akan bahagia, jika bisa belajar hidup rukun, tetangga kiri dan kanan-pun juga ikut bahagia.

Aku katakan padamu, jalan memperoleh kemuliaan hidup itu ada empat perkara:

1. Mulia karena nama.
2. Mulia karena harta.
3. Mulia karena banyak ilmu.
4. Mulia karena banyak keahlian.

Yang dimaksudkan dengan mulia karena nama, itu manusia utama, bisa mendapatkan keuntungan besar, dan keuntungan tersebut bisa dirasakan oleh orang lain pula. Sedangkan mulia karena harta, mulia karena banyak ilmu dan mulia banyak keahlian, dimanapun tempatnya akan dihargai orang.

Jalan menuju kesengsaraan juga ada empat perkara:

1. Rusaknya hati (moral) manusia itu jikalau moralnya rusak, raganya juga ikut menemui kerusakan.
2. Rusaknya raga, yaitu manusia berpenyakitan.
3. Rusaknya nama, yaitu manusia miskin.
4. Rusaknya Budi (Kesadaran), itulah manusia bodoh. Manusia bodoh sempit pikirannya dan kebanyakan pemarah.

Manusia yang mendapatkan anugerah dari Gusti Allah adalah manusia yang sehat, cukup rezeki dan tentram hatinya.

Manusia hidup yang ingin menjadi manusia utama, maka milikilah nama baik agar bisa dijadikan contoh oleh mereka yang ditinggalkan kemudian.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: