SERAT DARMAGANDHUL XIII

Tersebutlah Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga (Ponorogo) yaitu Adipati Andayaningrat IV di Pengging dan Adipati Bathara Katong di Ponorogo, sudah mendengar bahwasanya negara Majapahit berhasil dijebol oleh Adipati Demak dengan cara berpura-pura hendak memperingati hari raya Islam di Ampel. Sang Prabu beserta Raden Gugur konon berhasil meloloskan diri dari istana. Tidak diketahui kemana kepergiannya. Kemarahan Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga (Ponorogo) tak terbendungkan lagi. Oleh karenanya, mereka masing-masing telah mengumpulkan kekuatan untuk menggempur Demak. Berkehendak untuk berbakti kepada Ayahhanda Prabu sekaligus hendak merebut tahta. Seluruh prajurit sudah siap sedia dengan persenjataan tempur lengkap, tinggal diberangkatkan. Akan tetapi, utusan Sang Prabu Brawijaya datang. Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga (Ponorogo), begitu selesai membaca isi surat, segera disembahnya surat tersebut dengan hati yang benar-benar teriris dan perih. Mereka hanya bisa menggeram marah dengan gigi bergemeretakan! Wajah mereka memerah bagai api! Hingga keluarlah ucapan sumpah dari mereka, bahwasanya semoga mereka tidak hidup lebih lama lagi agar tidak menanggung malu berkepanjangan.

Kedua Adipati tidak bersedia menghadap ke Demak. Dikarenakan sangat sedih hatinya, sehingga keduanya jatuh sakit. Tidak berapa lama kemudian mereka meninggal dunia. Menurut kabar berita, kematian Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga (Ponorogo) dikarenakan karena telah ditenung oleh Sunan Giri. Hal ini dilakukan agar kelak tidak menjadi penghalang dikemudian hari.

Cerita kehancuran Majapahit sesungguhnya penuh dengan perlambang (simbolisme). Sungguh tidak masuk diakal sehat manakala negara sebesar itu, yang luas jajahannya hancur dikarenakan kekuatan-kekuatan mukjizat Wali. Simbolisme dibuat juga dikarenakan para pujangga malu menceritakan kejadian permusuhan antara anak melawan ayahnya sendiri. Beberapa perlambang (simbolisme) kehancuran Majapahit yang dibuat oleh para bijak adalah sebagai berikut:

– Dikarenakan kekeramatan Para Wali, keris milik Sunan Giri manakala dihunus keluarlah berjuta-juta tawon yang menyengat prajurit Majapahit sehingga menimbulkan kekalahan.
– Badhong (penutup kemaluan) milik Sunan Cirebon (Sunan Gunungjati) manakala dikibaskan keluar beribu-ribu tikus yang memakan perbekalan serta makanan kuda prajurit Majapahit, sehingga menimbulkan bubarnya mereka karena melihat begitu banyaknya tikus.
– Peti yang dibawa dari Palembang (ceritanya konon diberikan oleh Adipati Arya Damar) manakala dibuka ditengah pertempuran keluar demit (makhluk halus)-nya. Prajurit Majapahit geger tewas karena diteluh oleh para demit (makhluk halus).
– Konon Sang Prabu Brawijaya meninggal secara MEKRAD/MEKRAT (wafat tanpa meninggalkan jasad di Gunung Lawu).

Kiai Kalamwadi selanjutnya menjelaskan beberpa simbolisme diatas kepada muridnya yang bernama Darmagandhul seperti dibawah ini:

Itu semua hanyalah cerita simbolik semata, sesungguhnya jatuhnya Majapahit ceritanya seperti yang sudah aku paparkan diatas. Negara Majapahit itu bukanlah sebuah barang remeh temeh yang mudah dihancurkan dan dirusak, tidaklah mungkin hancur hanya karena dikeroyok sepasukan tikus. Yang masuk akal adalah, tawon bisa bubar manakala kayu-kayu tempat bersarang mereka dirusak oleh manusia. Para demit (makhluk halus) bisa pula bubar manakala hutan-hutan dijarah oleh manusia. Akan tetapi jika Majapahit bisa rusak hanya karena tawon, tikus dan demit (makhluk halus), siapa yang bisa percaya? Mereka yang mempercayainya berarti manusia yang pendek nalarnya, sebab cerita yang sedemikian itu tidaklah masuk diakal dan tidaklah sesuai dengan nalar manusia. Semua cerita itu hanya sekedar simbolis belaka. Jika diceritakan apa adanya berarti bisa membuka rahasia kehancuran Majapahit itu sendiri. Tetapi, sedikit dari simbol-simbil itu akan aku jelaskan disini.

Binatang yang bernama tikus itu berwatak suka memakan segala, jika dibiarkan saja lama-lama akan menjadi-jadi, maksudnya: Para Ulama pada jaman dahulu, pertama kali datang meminta perlindungan kepada Sang Prabu Majapahit, akan tetapi manakala sudah diberi perlindungan, balasannya malah merusak. Sedangkan tawon adalah binatang yang membawa madu yang manis, senjatanya ada dipantat, kediamannya ada dilobang pohon atau tempat bercelah yang tinggi, maksudnya: Pertama kali datang dengan ucapan yang manis, akan tetapi ujung-ujungnya menyengat dari belakang, kediaman tawon diberi nama tala, bisa diartikan ‘MEN-TALA (TEGA)‘ merusak Majapahit, siapapun yang mendengar hal ini akan keheranan. Sedangkan demit (makhluk halus) yang berada didalam peti yang dibawa dari Palembang, setelah peti dibuka menimbulkan bunyi menggelegar, maksudnya: Palembang itu berarti bisa diartikan ‘MLEMBANG (GOYAH)‘, dimana orang-orangnya gampang berpindah agama. Peti sendiri berarti tempat yang tertutup untuk menutupi benda yang samar, demit (makhluk halus)-pun berarti samar, rahasia, tersembunyi, demit juga cenderung suka meneluh. Maksudnya adalah sebagai berikut: Kehancuran Majapahit akibat diteluh dengan rapi dan tersembunyi, jelasnya saat hendak melakukan penyerangan tidak ada tersiar berita apapun, berpura-pura hendak mengadakan perayaan Grebeg Maulud, mengejutkan kedatangannya. Prajurit Majapahit tidak melakukan persiapan sama sekali, tahu-tahu Adipati Terung telah membantu Adipati Demak.

Tidak ada kerajaan besar semacam Majapahit yang kehancurannya hanya karena disengat oleh tawon serta diserang oleh tikus, apalagi bubarnya prajurit hanya karena diteluh oleh demit (makhluk halus) semata.

Kehancuran Majapahit menimbulkan suara menggelegar, hingga terdengar sampai kemana-mana. Terdengar jikalau hancur dikarenakan dijebol oleh putra Sang Prabu sendiri dengan dibantu oleh delapan Wali, semua berkhianat kepada Sang Raja.

Dan lantas Kiai Kalamwadi menjelaskan: Menurut guruku Raden Budi Sukardi, sebelum Majapahit runtuh, burung bangau tidak ada yang berbulu kuncir dikepalanya. Manakala negara sudah berpindah ke Demak, keadaan berubah, muncul burung bangau dengan bulu kepala berkuncir.

Ini adalah sindiran dari Sang Maha Gaib bagi Prabu Brawijaya, kebo kombang atine entek dimangsa tuma kinjir (kerbau kumbang hatinya habis dimakan kutu-kutu babi hutan). Kerbau melambangkan Raja yang kaya raya, kumbang melambangkan suaranya hanya bisa berdengung saja, suara Prabu Bnrawijaya menyaksikan kehancuran Majapahit dengan hati yang habis terkikis dan hanya bisa menggeram tak mampu berbuat apa-apa, tidak melakukan perlawanan. Sedangkan kutu babi hutan (tuma kinjir = kutu yang biasa menempel dibulu babi hutan), TUMA (KUTU) artinya TUMAN (KETERLALUAN), CELENG (BABI HUTAN) artinya berada dibawah, menggambarkan manakala Raden Patah saat datang pertama kali ke Majapahit menghaturkan sembah bakti kepada ayahandanya, lantas diberikan kedudukan, mendapatkan hati dari Sang Prabu, akan tetapi pada akhirnya mengobarkan peperangan merebut tahta, tidak menimbang salah dan benar, membuat habis hati Sang Prabu.

Sedangkan burung bangau yang berkuncir adalah sindiran bagi Sultan Demak yang telah menyia-nyiakan ayahanda Prabu sendiri, mentang-mentang beliau beragama Buddha totok Kafir Kufur, oleh karenanya Gusti Allah menyindir dengan munculnya burung bangau yang berkucir bulu kepalanya. Sindiran itu bermaksud, lihatlah leher belakangmu sendiri, ibumu sendiri berasal dari Cina, tidak sepatutnya berlaku sia-sia kepada orang lain bangsa. Sang Prabu Jimbun itu memiliki benih dari tiga orang, yang pertama benih Jawa, tak lain benih dari Sang Prabu Brawijaya, oleh karenanya Sang Prabu Jimbun mempunyai kecenderungan ingin menjadi Raja yang berkuasa. Cenderung pada kekayaan karena mempunyai benih dari Cina, sedangkan cenderung berani tapi tanpa perasaan akibat mempunyai benih dari Sang Arya Damar, sebab Arya Damar ibunya adalah seorang raksasa (penganut ajaran Tantra Bhairawa), suka menghisap darah, kelakuannya suka menyakiti. Oleh karenanya muncul burung bangau berkuncir itu semua atas kehendak Allah. Bukan hanya Sultan Demak saja yang disindir agar menyadari kesalahannya, akan tetapi seluruh para Wali yang lain juga disindir agar menyadari kesalahannya. Jikalau tidak juga segera menyadari kesalahan yang telah dibuat, akan menangung dosa lahir batin. Oleh karenanya sebutan Wali bagi orang Jawa juga bisa diartikan WALIKAN (BERBALIK), diberi kebaikan balasannya malah membalas dengan kejahatan.

Sedangkan adanya orang Cina datang ke Jawa itu dikarenakan, dahulu kala, saat para orang-orang bijak di Jawa belum begitu banyak pengetahuannya, saat mereka meninggal dunia, sukma mereka banyak yang terbawa angin dan lahir kembali di tanah Cina. Oleh karenanya lantas rindu untuk pulang kembali ke tanah Jawa. Dengan demikian, orang-orang Cina yang datang ke Jawa sesungguhnya dulu sukma mereka pernah hidup di Jawa.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: