SERAT DARMAGANDHUL XII

Saat sore menjelang, sampailah di daerah Basuki. Sang Prabu beserta rombongan bermalam disana. Keesokan paginya, bumbungan air dibuka lantas dicium, baunya malah semakin bertambah wangi. Sang Prabu melanjutkan perjalanan hingga matahari hampir tenggelam diufuk Barat dan sampai didaerah Prabalingga (Probolinggo). Disana Sang Prabu beserta rombongan bermalam, keesokan paginya air diperiksa kembali. Air tawar dalam bumbungan yang satu masih terasa segar untuk diminum, namun nampak berbusa. Dan busanya-pun berbau harum. Air tawar dalam bumbungan tersebut hanya tinggal sedikit, karena kerap kali diminum disepanjang perjalanan. Akan tetapi bumbungan yang berisi air danau, manakala diperiksa airnya berubah berbau tidak enak sama sekali. Mendapati perubahan itu, air danau dalam bumbungan seketika langsung dibuang. Sang Prabu lantas berkata kepada Sunan Kalijaga: “Didaerah Prabalingga (Probolinggo) ini kelak akan dikenal dengan dua nama, yaitu Prabalingga (Probolinggo) dan Bangerwarih. Tempat ini kelak akan menjadi tempat berkumpulnya manusia-manusia yang suka mencari ilmu kepintaran dan ilmu kebatinan. Kata Prabalingga bisa diartikan pula ‘PRABA-wane wong Jawa ka-LING-an prabawane tang-GA‘ (Karisma manusia-manusia Jawa terhalang oleh karisma yang berasal dari tetangga diseberang).” Sang Prabu beserta rombongan lantas melanjutkan perjalanannya. Tujuh hari kemudian telah sampai di Ampelgadhing (Ampeldhenta ~ Surabaya). Nyai Ageng Ampelgadhing segera menyambut kedatangan Sang Prabu. Nyai Ampelgadhing lantas memberikan sembah bakti sembari meratapi segala hal yang telah terjadi.

Sang Prabu lantas berkata: “Sudahlah jangan menangis, ngger (anakku), anggaplah semua ini adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Diriku dan kamu hanya sekedar menjalani, semua hal yang telah terjadi sudah tertulis didalam Lokhilmakpul (Laukhil Makhfudz) sebelumnya. Keberuntungan dan celaka sungguh tidak bisa dihindari. Sudah kewajiban manusia untuk melakukan usaha.”

Nyi Ageng Ampel lantas menuturkan kepada Sang Prabu tentang kelakuan Prabu Jimbun seperti yang sudah diterangkan didepan. Sang Prabu lantas memerintahkan agar memanggil Prabu Jimbun. Nyi Ampel lantas mengirimkan utusan ke Demak sembari membawa surat undangan. Sesampainya di Demak, surat segera dihaturkan kepada Sang Prabu Jimbun. Tidak menunggu waktu lama Prabu Jimbun segera berangkat menghadap ke Ampel.

Tersebutlah putra Raja Majapahit, yang bernama Raden Bondhan Kajawan yang tinggal di Tarub. Dia mendengar kabar jikalau Majapahit telah dijebol oleh Adipati Demak. Sang Prabu konon berhasil lolos dari dalam istana dan tidak diketahui lagi kemana perginya. (Raden Bondhan Kajawan) merasa tidak tenang hatinya, lantas berangkat ke Majapahit. Disepanjang perjalanan, Raden Bondhan Kajawan senantiasa bertanya dan mencari-cari kabar dimanakah kira-kira Prabu Brawijaya sekarang berada. Sesampainya di Surabaya, mendapat berita bahwasanya ayahanda Prabu tengah berada di Ampel, akan tetapi jatuh sakit. Raden Bondhan Kajawan lantas menghadap dan memberikan sembah baktinya.

Sang Prabu bertanya: “Yang memberikan sembah ini siapa?”

Raden Bondhan Kajawan menjawab bahwasanya dirinyalah yang tengah menghadap.

Sang Prabu lantas merangkul putranya. Sakit Sang Prabu semakin parah, merasa kalau dirinya sudah dekat hendak berpulang ke zaman keabadian, Sang Prabu berpesan kepada Sunan Kalijaga: “Syahid, mendekatlah kemari. Diriku sudah merasa hendak berpulang ke zaman keabadian. Tulislah surat untuk dikirimkan ke Penging dan Pranaraga (Ponorogo). Nanti akan aku bubuhkan tanda tangan disana. Tulislah bahwasanya agar mereka menerima kehancuran Majapahit, jangan saling berebut tahta, semua ini sudah menjadi kehendak Yang Maha Suci. Jangan saling memerangi, hanya akan membuat kerusakan semata. Sayangkanlah kerusakan dan kerugian yang akan diderita oleh para pengikut. Menghadaplah ke Demak. Sepeninggalku, agar supaya rukun dengan saudara. Siapa saja yang memulai membuat kejahatan, aku benar-benar memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar kalah perangnya!”

Sunan Kalijaga lantas menulis surat seperti yang diperintahkan, setelah surat selesai ditulis, kemudian diberi tanda tangan oleh Sang Prabu. Surat dikirimkan ke Pengging dan Pranaraga (Ponorogo).

Sang Prabu lantas berkata: “Syahid, sepeninggalku dirimu harus bisa momong anak cucuku. Terutama aku titipkan anak ini. Momonglah hingga seluruh keturunannya. Jika memang nanti ada keberuntungan bagi dirinya, kelak anak inilah yang akan menurunkan ‘LAJERE TANAH JAWA‘ (Tokoh-tokoh kuat di Tanah Jawa sesudah Majapahit). Dan lagi pesanku kepada kamu, jikalau nanti aku sudah berpulang ke zaman keabadian, makamkan aku di Majapahit, buatkanlah aku makam di sebelah Utara Timur kolam segaran. Namailah makamku Sastrawulan. Dan sebarkanlah berita bahwasanya yang dimakamkan disitu adalah istriku Putri Champa. Pesanku lagi, bagi keturunanku kelak jangan sampai menikahi orang berbeda bangsa, dan juga jangan mempercayakan jabatan Senopati kepada lain bangsa.”

Sunan Kalijaga setelah mendapatkan pesan semacam itu lantas bertanya: “Apakah Sang Prabu tidak memberikan restu kepada putra paduka Prabu Jimbun untuk bertahta sebagai Raja ditanah Jawa ini?”

Sang Prabu menjawab: “Aku memberikan restu, akan tetapi restuku hanya berhenti sampai pada keturunannya yang ketiga!”

Sunan Kalijaga meminta penjelasan mengapakah makam Sang Prabu kelak harus diberinama Sastrawulan.

Sang Prabu menjawab: “Sastra maksudnya adalah Tulisan, Wulan artinya Pelita dunia, ini melambangkan keutamaanku hanya seperti cahaya bulan (tidak stabil seperti matahari). Jikalau masih ada cahaya bulan, kelak, biar semua orang Jawa tahu bahwa saat aku meninggal dunia, diriku telah memeluk agama Islam. Dan aku meminta padamu agar kelak dikabarkan bahwa yang dimakamkan disana adalah Putri Champa, bukan diriku, sebab diriku telah dianggap bagaikan seorang wanita (disepelekan) oleh si Patah, tidak lagi dianggap sebagai seorang lelaki, hingga sedemikian teganya Patah menyia-nyiakan ayahandanya sendiri. Diriku hanya memberikan restu kepada Raja Demak hanya sampai keturunan ketiga, sebab Patah berasal dari

tiga benih, yaitu Jawa (Sang Prabu Brawijaya), Cina (ibu Raden Patah Eng Kian) dan Raksasa (Adipati Arya Damar ~ Adipati Arya Damar adalah keturunan Ni Endang Sasmitapura, penganut ajaran Tantra Bhairawa yang dalam ritualnya menyertakan memakan daging mayat dan meminum darah manusia, sehingga disebut Raksasa), oleh karenanya tega kepada ayahnya sendiri serta kotor tingkah lakunya. Pesanku, jangan sampai keturunanku mendapatkan jodoh lain bangsa, sebab dengan menikahi bangsa lain, disetiap kesempatan pastinya sedikit demi sedikit akan memberikan pengaruh dan menggoyahkan keyakinan yang sudah dipegangnya, hal ini akan menciptakan kesengsaraan hidup. Dan pesanku yang terakhir agar jangan sampai mempercayakan jabatan Senopati kepada lain bangsa, sebab pastinya kurang kesetiaannya kepada Raja. Dikala tengah menghadapi pertempuran, pasti akan terbagi kesetiaannya. Sudahlah Syahid, semua pesanku tulislah!”

Selesai memberikan wasiat, Sang Prabu segera bersendekap, dan meninggal dunia. Jenasahnya lantas dimakamkan di Astana Sastrawulan, Majapahit. Hingga hari ini, terkenal bahwasanya yang dimakamkan disana adalah Putri Champa, padahal sesungguhnya Putri Champa wafat di Tuban, makamnya berada di Karang Kumuning.

Tiga hari kemudian, Sang Sultan Bintara baru hadir ke Ampelgadhing serta bertemu dengan Nyai Ageng.

Nyai Ageng berkata: “Sudah menjadi nasibmu Prabu Jimbun, dirimu tidak bisa melihat detik-detik terakhir ayahandamu meninggal sehingga tidak sempat memberikan sembah bakti serta meminta restu untuk bertahta sebagai Raja. Dirimu juga tidak sempat memohon maaf atas segala kesalahan yang telah kamu lakukan.”

Prabu Jimbun mengatakan kepada Nyai Ageng, dirinya sudah pasrah kepada nasib, semua sudah terjadi dan semua harus dijalani.

Sultan Demak berada di Ampel selama tiga hari lantas pulang.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: