SERAT DARMAGANDHUL XI

Tersebut dalam Serat Tapak Hyang, yang juga disebut dengan Sastrajendrayuningrat, Serat yang tercipta dari Sabda Kun (maksudnya berasal dari wahyu juga), yang dinamakan JITHOK (KUDUK MANUSIA) sesungguhnya bermakna pu-JI THOK (Hanya Pujian Semata). Dewa Yang Agung, yang telah menciptakan cahaya menyala yang menyelimuti sekujur tubuh manusia sesungguhnya ada dekat, sedekat dengan kuduk manusia. (Kuduk manusia sangat dekat, namun sulit manusia melihat kuduknya sendiri kalau tidak bercermin). JILING (KENING) sesungguhnya bermakna pu-JI e-LING (Memuji dan Ingat) kepada Gusti. PUNUK (BAHU) sesungguhnya bermakna PANAKNA (TEMPATKANLAH ~ maksudnya Tempatkanlah Kesadaran kamu pada posisi yang sesungguhnya). TIMBANGAN (TULANG BAHU YANG MENONJOL) sesungguhnya bermakna SALANG (Terhubung ~ maksudnya Terhubung dengan Gusti). PUNDHAK (PUNDAK) sesungguhnya bermakna PANDUK (Mencari), hidup dialam dunia ini hanya mencari dua hal, Buah Pengetahuan dan Buah Kuldi (Keduniawian), jika mendapatkan banyak Buah Kuldi, hasilnya akan gemuk, jika mendapatkan Buah Pengetahuan yang banyak, bisa dibuat bekal untuk hidup, HIDUP YANG KEKAL ABADI YANG TIDAK TERKENA MATI. TEPAK (DADA) sesungguhnya bermakna TEPA TAPANIRA (Tetapkan Tapa-mu). WALIKAT (BELIKAT) sesungguhnya bermakna WALIKANE GESANG (Dibalik Hidup). ULA-ULA (TULANG BELAKANG MANUSIA) sesungguhnya bermakna ULATANA (Perhatikanlah dengan seksama), amatilah punggungmu dengan seksama (maksudnya amatilah sesuatu yang dekat denganmu tapi sulit untuk dilihat secara langsung seperti halnya punggung kita). SUNGSUM (SUMSUM TULANG) sesungguhnya bermakna SUNGSUNGEN (Persembahkanlah ~ maksudnya, Persembahkanlah kehidupanmu bagi Gusti). LAMBUNG sesungguhnya bermakna, Dewa Yang Maha Agung yang menciptakan alam ini secara bersambungan, bersambungan antara INGAT-LUPA, HIDUP-MATI (maksudnya Rwabhineda atau Dualitas duniawi). LEMPENG (BAGIAN PINGGIR PERUT) kiri dan kanan, maksudnya Kuatkan tekad dan LEMPENG (LURUS)-kanlah tekadmu lahir batin, luruskanlah agar bisa membedakan mana benar dan mana salah, mana baik dan mana buruk. MATA maksudnya lihatlah semuanya ini dengan kesatuan batin yang utuh, lihatlah kiblat yang benar, banyak kiblat namun yang benar hanyalah satu saja. TENGEN (KANAN) maksudnya TENGENEN (Benar-benar utamakan) hingga jelas dan terang, bahwasanya didunia ini hanya sekedar memakai Raga fana semata, Raga yang tidak susah-susah membuat sendiri dan tidak juga beli. KIWA (KIRI) maksudnya Raga ini berisi HAWA keinginan, dan sulit untuk dimatikan segala keinginan tersebut. Begitulah apa yang tertulis dalam Serat.

Manakala paduka meragukan siapakah yang membuat Raga? Siapakah yang telah memberikan nama? Sesungguhnya tak lain hanya Lata wal Huzza (sekali lagi Sabda Palon memakai istilah Tuhan dengan nama Latta wal Huzza). Manakala paduka tetap meragukan, jelas paduka bisa disebut Kafir, kapiran (sia-sia) kelak jika paduka meninggal. Tidak mempercayai tulisan Gusti (yang ada didalam tubuh paduka sendiri), serta telah murtad kepada para leluhur Jawa semua. Kelak saat mati, Roh paduka akan menempel pada besi (pusaka), kayu, batu, menjadi demit yang menjaga tanah. Itu akan terjadi jika paduka tidak bisa membaca serat/wahyu yang ada didalam tubuh paduka sendiri, jelas kelak jika meninggal akan menjelma/lahir kembali menjadi kuwuk (binatang laut). Akan tetapi jika mampu membaca sastra yang tertulis didalam tubuh paduka, berasalnya manusia akan lahir kembali menjadi manusia. (Sungguh kelahiran kembali ini juga diceritakan dalam ajaran Timur Tengah), salah satu contohnya konon dulu saat Kangjeng Nabi Musa hidup, ada orang yang telah meninggal dan telah berada didalam kuburan, bisa hidup kembali, hidupnya bahkan bisa berganti menjadi Roh yang murni, bahkan bisa mencapai kedudukan (evolusi jiwa) yang baru.

Jika paduka memeluk agama Islam, seluruh masyarakat Jawa pasti akan ikut memeluk agama Islam semua. Kalau hamba ini, Badan Kasar berikut Badan Halus hamba sudah hamba gengam dan hamba kuasai, sudah mampu hamba jadikan satu, tak ada beda mana yang disebut dalam dan mana yang disebut luar lagi. Jadi hanya sesuai dengan keinginan hamba semata, menghilang dalam wujud gaib (berbadan halus) maupun mewujud (berbadan kasar seperti sekarang) bisa hamba lakukan seketika dan kapanpun juga. Jika hamba tengah berkeinginan mewujud, inilah wujud yang hamba pilih. Jikalau hamba berkeinginan untuk berwujud gaib, bisa terjadi seketika, jikalau hamba berkeinginan untuk berwujud wadag, bisa terlihat seketika juga. Raga hamba ini sudah bersifat Ilahi, seluruh raga hamba ini satu persatu memiliki nama sendiri-sendiri. Silakan ditunjuk, mana yang disebut Sabda Palon, sudah hamba halangi dengan wujud ragawi. Begitu mewujudnya hingga tidak bisa diketahui lagi mana sesungguhnya Sabda Palon. Hanya nama yang bisa dikenali. Sabda Palon sesungguhnya tidak tua juga tidak muda, tidak mati juga tidak hidup, hidupnya meliputi matinya dan matinya meliputi hidupnya, abadi selama-lamanya.

Sang Prabu bertanya: “Dimanakah Tuhan Yang Sejati?”

Sabda Palon menjawab: “Tiada jauh juga tiada dekat, paduka adalah perwujudan-Nya, dinyatakan telah menyatu, Budi (Kesadaran), Hawa (Keinginan) dan Badan (Jasad Fisik), ketiganya adalah sarana-Nya mewujud. Tiada terpisah, akan tetapi tidak juga menyatu. Sesungguhnya paduka adalah Raja Yang Utama, pastilah akan memahami apa yang hamba ucapkan!” Sabda Palon menjawab sedih: “Hamba menuruti aturan agama yang lama, kepada agama yang baru hamba tidak menuruti. Apa sebabnya paduka memutuskan berpindah agama akan tetapi tidak meminta pertimbangan kepada hamba? Apakah paduka lupa akan arti nama hamba Sabda Palon? Sabda artinya Ucapan, Palon artinya Ketetapan. Naya artinya Wajah, Genggong artinya Langgeng tak berubah. Jadi ucapan hamba ini, adalah ketetapan bagi wajah/bentuk dari tanah Jawa, langgeng selamanya!” Sang Prabu berkata: “Bagaimana ini, aku sudah terlanjur memeluk agama Islam, sudah disaksikan oleh Syahid, aku tidak boleh kembali memeluk agama Buddha lagi. Akan memalukan dan ditertawakan bumi serta langit (jika aku tidak konsekwen)!”

Sabda Palon berkata: “Sudah terlanjur, silakan paduka jalani sendiri, hamba tidak ikut-ikut.”

Sunan Kalijaga lantas berkata kepada Sang Prabu, yang isinya menyarankan agar tidak perlu berfikir macam-macam, sebab agama Islam itu adalah agama yang mulia. Sunan Kalijaga memohon izin untuk menjadikan air didalam danau sebagai tanda bukti, bagaimanakah nanti baunya. Jika air danau nantinya bisa berbau wangi, itu berarti Sang Prabu sudah mantap memeluk agama Rasul. Sunan Kalijaga lantas menyabda air danau dan seketika berbau wangi dan harum. Sunan Kalijaga berkata kepada Sang Prabu, sebagaimana sudah terbukti, jikalau Sang Prabu nyata telah mantap memeluk agama Rasul, tandanya air danau berbau harum.

Berkata Sabda Palon kepada Sang Prabhu: “Ini hanya kesaktian belaka. Kesaktian kecil yang hanya seimbang dengan air kencing hamba. Kesaktian seperti ini dipamerkan didepan hamba. Jikalau saya imbangi, sama saja sama melawan air kencing hamba sendiri, apa yang hendak saya perebutkan? Paduka sudah terlanjur terkecoh, sudah berkehendak menjadi manusia yang sekedar menumpang, tidak memiliki ketetapan hati, sukanya hanya ikut-ikutan. Sungguh tiada guna hamba momong paduka selama ini, hamba malu kepada bumi dan langit, telah momong manusia bodoh, HAMBA HENDAK MENCARI MOMONGAN LAIN YANG HANYA BERMATA SATU, hamba sudah tidak akan momong paduka lagi. Jikalau hamba mau, air danau ini akan hamba jadikan minyak wangi dengan lantaran kentut hamba saja. Ketahuilah, yang disebut MANIKMAYA oleh masyarakat Jawa itu tak lain adalah hamba ini! Yang menciptakan kawah diatas gunung Mahameru dulu adalah hamba. Adi Guru (Bathara Siwa) yang memberikan ijin-Nya. Pada waktu itu tanah di pulau Jawa masih belum stabil. Didalam tanah mengeram api yang siap keluar setiap saat. Oleh karenanya, hamba kentuti setiap puncak gunung agar supaya api tersebut bisa mengalir dari sana saja. Oleh karenanya, tanah Jawa lantas menjadi stabil dan banyak gunung di Jawa yang aktif memiliki kawah berapi, berisi air panas dan air tawar. Hamba yang membuat sedemikian itu dulu. Semua atas kehendak Lata wal Huzza, yang telah menciptakan bumi dan langit. Apa kurangnya agama Buddha? Setiap pemeluknya bisa memohon sendiri kepada Yang Maha Kuasa. Percayalah, jikalau paduka berganti agama Islam, meninggalkan agama Buddha, keturunan paduka akan senantiasa dalam kesusahan, Jawa hanya tinggal nama, Jawa-nya hilang dan sukanya akan mengikut bangsa lain. Tapi kelak suatu saat akan diperintah oleh orang Jawa yang memahami (ajaran leluhur lagi)!”

“Silakan paduka buktikan, kelak sebelum menjelang purnama jarang diikuti tampaknya bulan mulai tanggal pertama, biji padi banyak yang susah tumbuh, ditolak oleh para Dewa, dipaksa untuk ditanampun akan tumbuh menghasilkan biji Mriyi (padi kecil), hanya bisa dibuat makanan burung. Mriyi itu padi yang tidak enak rasanya, hal ini dikarenakan paduka telah berbuat kurang tepat, mengikut menyembah batu. Buktikanlah, kelak tanah Jawa berubah hawa-nya, terasa lebih panas dan kurang hujan, berkurang hasil pertanian, banyak manusia yang suka berbohong, suka berbuat nista dan mudah mengucap janji. Hujan tiba tapi salah waktu, membuat kebingungan para petani. Mulai hari ini, hujan akan berkurang, sebab merupakan hukuman bagi manusia Jawa yang berani berpindah keyakinan. Kelak jika sudah kembali Kesadaran-nya, sudah ingat kepada agama Buddha lagi, serta manusia Jawa sudah gemar mencari buah Pengetahuan lagi, Tuhan akan memberikan ampunan, suasana Jawa akan makmur tenteram kembali seperti jaman Buddha lagi!”

Mendengar ucapan Sabda Palon, Sang Prabu dalam hati merasa menyesal telah berpindah agama. Hingga lama tak bersuara, lantas berkata, mengapa dirinya tertarik kepada agama Islam karena terpikat ucapan putri Champa, yang mengatakan bahwasanya kelak manusia yang memeluk agama Islam jika meninggal akan mendapatkan Surga yang melebihi Surga orang Kafir.

Sabda Palon menjawab, sudah semenjak dahulu, jika suami terlalu menuruti istri, pasti akan menemukan kesengsaraan. Karena wanita ibaratnya adalah tempat rasa (penuh emosi), jarang yang bisa menggunakan penalaran tanpa terbalut emosinya, Sabda Palon menasehati banyak hal kepada Sang Prabu.

Sang Prabu berkata: “Kamu nasehati bagaimanapun juga sudah tiada guna lagi, semua terlanjur. Sekarang, sekali lagi aku hendak menanyakan ketetapan hatimu. Diriku sudah terlanjur masuk agama Islam dan telah disaksikan oleh si Syahid, sudah tidak mungkin lagi kembali ke Buddha lagi.”

Sabda Palon mengatakan hendak berpisah. Manakala ditanya hendak pergi kemana, menjawab tidak hendak pergi jauh tapi sudah tidak bertempat di Jawa lagi. Karena bagaimanapun untuk memegang tugasnya sebagai Semar, tetap juga akan meliputi Jawa walau tiada terlihat nyata. Sang Prabu diberikan janji, JIKA KELAK ADA MANUSIA JAWA BERNAMA TUA, BERSENJATAKAN KAWRUH (PENGETAHUAN KESADARAN) DIALAH YANG DI MOMONG SABDA PALON, MANUSIA JAWA YANG SUDAH KEHILANGAN JAWANYA AKAN DIAJARI AJARAN BENAR DAN SALAH LAGI!

Sang Prabu berkehendak ingin merangkul Sanda Palon dan Naya Genggong, akan tetapi keduanya sirna seketika itu juga. Sang Prabu terkejut dan tak terasa keluarlah buliran air bening dari matanya, lantas kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga: “Kelak dikemudian hari, negara Blambangan akan berganti nama Banyuwangi. Akan menjadi pengingat bahwasanya kelak Sabda Palon akan pulang ke Jawa sembari membawa momongannya. Sekarang dia ada ditanah seberang!” Sunan Kalijaga lantas disuruh mengamati air danau, jikalau bau wangi akibat disabdakan oleh Sunan Kalijaga tadi hilang , maka itu pertanda, kelak orang Jawa akan berpindah agama.

Sunan Kalijaga lantas membuat bumbungan dari bambu dua buah, yang satu diisi air tawar dan yang satu diisi air danau. Air danau nanti akan dijadikan pertanda, jikalau bau wanginya hilang, maka orang Jawa kelak akan berpindah agama Kawruh (Pengetahuan). Bumbungan setelah diisi air, lantas ditutup menggunakan daun Pandan Sili, lantas dibawa oleh dua orang murid Sunan Kalijaga.

Sang Prabu berikut rombongan lantas berangkat diikuti oleh Sunan Kalijaga dan muridnya. Perjalanan terhalang malam, lantas bermalam di daerah Sumberwaru. Waktu pagi bumbungan dibuka, air dicium masih berbau wangi, perjalanan lantas dilanjutkan. Sore menjelang, telah sampai di Panarukan, Sang Prabu berikut rombongan bermalam disana. Pagi harinya, air didalam bumbungan dibaui masih wangi, Sang Prabu lantas melanjutkan perjalanannya.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: