SERAT DARMAGANDHUL X

Sabda Palon menjawab: “Akhirat, Surga, semua sudah paduka bawa dalam diri paduka, telah paduka bawa kemanapun juga. Didalam diri manusia ini sesungguhnya semua sudah ada, oleh karenanya diri manusia juga disebut alam sahir (mikrokosmos) karena apa yang ada di alam kabir (makrokosmos), juga ada didalam diri manusia. Sudah semenjak tapel Adam (didalam kandungan usia 9 bulan), semua sudah lengkap: Surga, Neraka, Arasy Kursi. Lantas paduka hendak pergi ke akhirat yang mana? Jangan sampai tersesat, lho? Padahal kondisi akhirat (diluar diri manusia) itu mirip sekali dengan kondisi manusia yang melarat. Banyak tingkatan akhirat (yang ada diluar diri manusia), segala akhirat semacam itu sangat saya hindari, jangan sampai saya pulang ketempat yang kondisinya bagaikan kondisi manusia melarat, jangan sampai saya menuju akhirat diluar diri yang konon disebut Negara yang adil (padahal bukan). Jikalau sampai salah tempat, pasti akan mendapat hukuman, pasti akan diikat, disuruh kerja paksa yang berat serta tidak mendapatkan bayaran. Salah satu akhirat yang sesat adalah akhirat di pulau Srenggi, nusa artinya tempat manusia, sreng artinya kerja berat dan enggi artinya kondisi.

Jadi disana, roh manusia dipaksa bekerja untuk Raja Nusa Srenggi. Sungguh celaka. Sedangkan manusia yang hidup didunia saja jikalau mengalami kondisi semacam itu, mengalami kondisi sekeluarga hanya mendapatkan jatah beras sedikit, tanpa lauk, tanpa sayur, sudah demikian menyedihkannya, apalagi akhirat tempat manusia yang meninggal di Nusa Srenggi, malah lebih menyedihkan dari kodisi didunia. Paduka jangan mencari jalan pulang ke akhirat yang ada diluar diri, jangan mengharap-harapkan naik Surga, itu bukan tempat sejati, banyak hewan yang ada ditempat itu, semua hanya menerima tidur dengan berselimut tanah, setiap hari harus menurut untuk bekerja paksa, malah ada yang tidak salah lantas disembelih. Paduka jangan mencari jalan pulang ke akhirat tempat Gusti Allah, (itu bohong, sebab Gusti Allah tidak bertempat), Gusti Allah itu tak ber-Wujud dan ber-Rupa, Wujud yang bisa dikenali manusia hanya nama-Nya saja, (Gusti Allah itu) meliputi dunia dan akhirat, paduka belum mengenal-Nya. Yang paduka kenali hanya perwujudan-Nya serupa cahaya bintang atau serupa cahaya bulan, atau perwujudan-Nya bagaikan dua cahaya bintang dan bulan yang menyatu. Gusti Allah itu tidak menyatu juga tidak pisah dengan kita, sangat jauh tanpa batasan tetapi juga dekat namun tak bersentuhan dengan kita. Hamba saja belum bisa menguak inti-Nya, apalagi paduka. Nabi Musa (yang diagung-agungkan orang Yahudi, Kristiani dan Islam sebagai Nabi yang mampu berbicara langsung dengan Allah) saja tidak mampu melihat Wajah-Nya. Gusti Allah itu melampaui segala yang terlihat tetapi Dzat-Nya menyelimuti segala perwujudan ini. Paduka ini adalah manusia yang berasal dari benih Ruhani (percikan-Nya) jadi mengapa ingin menjadi seperti Malaikat yang tinggal di Surga segala? Raga manusia berasal dari nutfah (air mani/sperma), jika sudah rusak akan terurai kembali kepada Hyang Latawalhuzza (kembali Sabda Palon menggunakan istilah Lattawalhuzza). Jika raga sudah tua, lebih baik meminta untuk mendapatkan raga baru (dan lahir menjadi manusia lagi, bukan malah ingin hidup di Surga), sehingga tidak bolak-balik tertunda (perjalanan Punarbhawa/evolusi Ruh dalam wujud selain manusia) walaupun memang harus tetap lahir dan mati. Yang dimaksud hidup sebagai makhluk itu jika nafas terlihat masih ada, akan tetapi sesungguhnya yang disebut HIDUP itu adalah Yang Abadi, Yang Stabil dan Yang Tak Berubah selamanya. Jadi yang mati hanya raga semata. Raga hancur dan tidak lagi bisa merasakan kenikmatan. Oleh karenanya bagi yang beragama Buddha, manakala kematian menjelang, saat sukma (dan Hidup/Atma) keluar dari raga, lebih baik meminta raga manusia yang baru, kembali lahir melalui nutfah manusia (tidak malah mengharapkan lahir dialam Surga menjadi makhluk lain). Diri sejati manusia ini kekal, tidak berubah dan stabil, yang berubah itu hanya tempat indriya/rasa (maksudnya sukma dan raga), tubuh materi yang hanya bayangan dari Roh Idafi (Atma/Hidup) itu sendiri.

Sesungguhnya yang dinamakan Prabu Brawijaya itu tidak juga tua dan tidak juga muda, abadi berada dipusat semesta, berjalan tapi tiada bergerak dari kedudukan semula, berada didalam goa sir (kehendak) dan cipta (pikiran) yang hening (maksudnya diselimuti oleh sir/kehendak dan cipta/pikiran). Bawalah bawaanmu yang sesungguhnya (Kesadaran), bawaan yang tanpa adanya Raga. Hilang segala tulisan. Seluruh perhitungan manakala dijumlah menjadi Kumpul (Menyatu), keterpisahan dengan duniawi menjadikan murni. Jalan kesempurnaan kematian, fokus pada detak jantung disebelah kiri saat kematian menjelang, disanalah jalan sirnanya sir dan cipta (kehendak dan pikiran), kembali menuju cetha (yang nyata ~ lambang KANG GAWE URIP/Atma), cethik (yang membuat ~ lambang KANG NGURIPI/PURUSHA/Nur Muhammad/Nukat Gaib), cethak (yang maha tinggi ~ lambang URIP/Brahman/Allah). Inilah kesempurnaan ilmu orang Buddha.

Terciptanya Roh mulai dari cethak (yang tinggi), berhenti didalam cethik (yang membuat) keluar lewat kalamwadi (ucapan rahasia/penis ~ atau cetha/yang nyata), hanyut dalam lautan cinta masuk kedalam goa Indrakila wanita (Indra: Sarana merasakan sensasi ragawi, Kila/Kukila: Burung ~ Tempat merasakan sensasi penis ~ Goa Indrakila artinya Vagina), jatuhnya nikmat didasar bumi kasih, disana Ki Budi (Kesadaran Roh) menciptakan istana Baitullah (Rumah Tuhan ~ yaitu sukma dan raga manusia) yang mulia. Tercipta dari sabda KUN (Jadi) dan berdiam ditengah semesta di Surga orang tua wanita. Oleh karenanya manusia seyogyanya tetap berdiam ditengah semseta (maksudnya stabil Kesadarannya). Jagat manusia itu dilekati apa yang disebut goa sir (kehendak) dan cipta (pikiran), dibawa kemana-mana tiada juga berkurang dan usia manusia sudah ditentukan oleh karma, tidak bisa berubah, sudah tertulis didalam Laukhil Makfudz (Kitab Nasib. Kitab Nasib sesungguhnya adalah Alam Semesta yang merekam segala perbuatan kita). Keberuntungan dan Kecelakaan tergantung pada Budi (Kesadaran), Nalar (Pertimbangan) dan Kawruh (Wawasan) kita sendiri. Yang kurang berusaha (menimbun kebaikan), bakalan kurang pula Keberuntungannya.

Awal mula arah mata angin, dihitung dari arah Timur lantas Barat, Selatan dan Utara. Wetan (Timur) lambang: Wiwitan manusa maujud (awal mula manusia berwujud), Kulon (Barat) lambang: Lelaki berhasrat untuk bercinta (Kelonan), Kidul (Selatan) lambang: Wanita disogok bagian selangkangannya tepat ditengah (Didudul), Lor (Utara) lambang: Jabang bayi lahir (Lair). Dilambangkan lagi TANGGAL SAPISAN KAPURNAMAN, SENTEG SAPISAN TENUNAN SAMPUN NIGASI (KELUAR SEKALI SUDAH PURNAMA, SEKALI HENTAK TENUNAN KAIN SUDAH MENJADI ~ Maksudnya mengambarkan penciptaan manusia dalam sebuah persenggamaan. Sekali memancarnya sperma kedalam rahim, sudah cukup membuat seluruh wadah bagi Roh mulai tercipta). Pur artinya Kumpul/Menyatu, Na artinya Adanya wujud, Ma artinya Terikat oleh wujud. Yang dimaksud Kumpul artinya begitu memancar sperma semua lengkap menyatu, yaitu menyatunya segala materi fisik dan materi non-fisik. Keluarnya/Lahirnya  manusia melalui orang tua perempuan, bersamaan keluarnya saudara yang bernama Kakang Mbarep (Kakang Kawah) dan Adhine Wuragil (Adhi Ari-Ari). Kakang Mbarep tak lain adalah Kawah (Ketuban) sedangkan Adine Wuragil tak lain adalah Ari-Ari (Usus terakhir yang menempel dipusar/tali pusar). Keduanya muncul pertama dan terakhir kali (Ketuban pecah dulu, baru keluar Darah, kemudian Jabang Bayi, lantas Plasenta dan terakhir Tali Pusar atau Ari-Ari). Ketahuilah Sang Paduka, saudara kita yang keluar bersamaan dengan kita, senantiasa menjaga kita bagaikan matahari yang terus bersinar, berwujud cahaya, membantu Kesadaran, mampu menyertai Kesadaran untuk hidup didunia yang penuh beraneka warna perwujudan ini, saat keluar dan saat peleburan mereka seyogyanya diketahui, inilah pengetahuan orang Jawa yang beragama Buddha. Raga ini diibaratkan perahu, sedangkan sukma (badan halus/sadulur papat tadi) ibarat manusia yang mengendalikan perahu, yang menentukan arah hendak kemana, jikalau laju perahu salah arah, pasti akan menemui kecelakaan, perahu pecah, yang menaiki akhirnya juga hancur.

Oleh karenanya harus waspada dan penuh kesadaran, mumpung perahu masih berfungsi, manakala tidak waspada dan penuh kesadaran pada saat hidup ini, mana mungkin bisa waspada dan sadar jika sudah meninggal nanti. Sadar untuk mencari asal usul manusia. Manakala telah rusak/mati, seharusnya sukma juga berpisah dengan Kesadaran Roh. Inilah yang dinamakah syahadat, pisahnya Kawula dengan Gusti. Sah bisa dimaknai Pisah, Dat bisa dimaknai Dzat Gusti. Jikalau Raga dan Sukma telah berpisah (namun Sukma dengan Budi/Kesadarani/Atma, belum mampu berpisah) maka Kesadaran Roh akan berganti Baitullah (Rumah Tuhan atau Badan fisik baru ~ Reinkarnasi). Kembali hidup dengan bertalikan nafas dan wajib terus memuji kebesaran Gusti (agar selamat dalam penjelmaan baru itu). Manakala Raga berpisah dengan Sukma dan Sukma berpisah dengan Budi (Kesadaran Roh), maka akan menjelma kepada yang tidak berwujud apapun, menyatu, menjadi maha besar, dan tiada akan redup cahayanya untuk selamanya. Oleh karenanya harus senantiasa waspada, senantiasa ingat akan asal usul Kawula. Seorang Kawula juga wajib meminta kepada Gusti, meminta Baitullah (Rumah Tuhan/Badan manusia) yang baru dan yang lebih baik, melebihi yang sudah rusak. Raga manusia inilah Baitullah, atau juga bisa diibaratkan Perahu buatan Allah, menjadi dari sabda KUN. Namun, Perahu manusia Jawa mampu berganti dengan Perahu yang baru (Reinkarnasi). Sedangkan orang Islam tidak meyakini bisa mendapat Perahu baru, jikalau sudah meninggal nanti, maka mereka yakin tidak akan menjelma kealam dunia lagi, tak ada manusia yang menjelma kembali, menurut mereka jika manusia bisa menjelma, dunia akan terus bertambah dan akan penuh sesak. Kehidupan menurut mereka hanya sekedar menjadi muda, tua dan mati saja. Ketahuilah paduka, walaupun Roh manusia, manakala sesat perbuatannya, kelak jika meninggal akan menjelma menjadi kuwuk (binatang laut), akan tetapi Roh hewan, bisa menjelma menjadi manusia. Semua sudah tertata dalam hukum keadilan Yang Maha Kuasa, setiap makhluk akan mendapatkan hasil perbuatan dari apa yang dilakukannya.

Dikala Batara Wisnu menjelma menjadi Raja di Kerajaan Medhang Kasapta dulu, seluruh hewan dan makhluk halus dibantu menjelma menjadi manusia, semua lantas dijadikan bala tentara Sang Raja. Kala Eyang Paduka Sri Palasara membangun kerajaan di Gajahoya, seluruh binatang dan makhluk halus juga dibantu menjelma menjadi manusia, oleh karenanya waktu itu bau badan setiap manusia berbeda-beda, sesuai bau badan saat masih berwujud hewan atau makhluk halus sebelumnya.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: