SERAT DARMAGANDHUL VII

Lantas Nyi Ageng Ngampel berkata lagi, “Cucuku, dengarkanlah aku akan menceritakan empat kisah lama yang bisa dijadikan suri tauladan. Dalam sebuah kitab hikayat telah diceritakan, di tanah Mesir (yang benar cerita di tanah Israel atau Isroil, penulis Darmagandhul membuat kesalahan disini. Ini membuktikan sang penulis bukan misionaris Kristiani seperti yang dituduhkan oleh beberapa kalangan akhir-akhir ini. Jika benar sang penulis adalah misionaris Kristiani, mana mungkin melakukan sebuah kesalahan semacam ini, dimana kisah Nabi Daud dikatakan cerita dari Mesir. Dalam Kitab Perjanjian Lama sudah jelas diketahui Daud adalah orang Israel dan Raja Israel, dan seorang Kristiani tak mungkin akan salah jika bertutur tentang Daud dan Israel-nya) bahwa pernah suatu ketika putra Kangjeng Nabi Daud pernah merebut tahta ayahnya. Nabi Daud sampai harus meloloskan diri dari kerajaan dan sang putra mengukuhkan diri sebagai Raja. Tidak berapa lama Nabi daud berhasil merebut kerajaannya. Sang putra lari dengan menunggang kuda ke hutan, kuda berlari tak bisa dikendalikan hingga sang putra tersangkut pohon dan batu, dan tewas dengan tubuh tersangkut pada sebatang pohon. Itulah yang disebut hukum Allah. Ada lagi cerita dari Prabu Dewatacengkar, dia juga merebut tahta ayahandanya, dikutuk oleh sang ayah menjadi raksasa, setiap hari harus memakan daging manusia, tidak berapa lama kemudian, datanglah seorang Brahmana dari tanah seberang (India) ke Jawa, bernama Aji Saka, membawa kesaktian ditanah Jawa. Seluruh masyarakat Jawa mengasihi Aji Saka, dan membenci Dewatacengkar. Aji Saka diangkat menjadi Raja, Dewatacengkar dilawan hingga lari menceburkan diri ke samudera, berubah menjadi buaya, tidak berapa lama kemudian meninggal. Ada lagi cerita dari negara Lokapala, Sang Prabu Danaraja berani melawan ayahandanya, hukuman yang diterima juga tak jauh beda dengan cerita sebelumnya, semua menemui kesengsaraan. Dan sedangkan kamu, melawan ayah tanpa dosa, pastilah kamu menemui kesengsaraan, jika kelak meninggal pasti akan masuk Neraka, itulah hukum Allah bagimu!”

Mendengar penuturan sang nenek, Sang Prabu Jimbun dalam hati merasa menyesal, akan tetapi semua sudah terlanjur.

Nyi Ageng Ngampel masih meneruskan penuturannya, “Ketahuilah dirimu itu diperalat oleh para Ulama dan para Bupati, mengapa kamu menurut saja? Yang akan menerima kesengsaraan pastilah hanya dirimu seorang, sudah kehilangan ayah, seumur hidup namamu akan tercemar. Kebanggaan apa yang kamu dapatkan unggul berperang dengan ayah sendiri yang patut dihormati? Walau kamu bertaubat kepada Yang Maha Kuasa, menurutku tidak akan diterima taubatmu. Kesalahan pertama kamu berani melawan ayahanda sendiri, kesalahan kedua berani menentang Raja, kesalahan ketiga membalas kebaikan dengan kejahatan serta melakukan perusakan dan pembunuhan tanpa ada dosa. Ingat, Adipati Pranaraga (Bathara Katong) dan Adipati Pengging (Adipati Andayaningrat) tidak akan mungkin bisa menerima kehancuran Majapahit, pasti mereka akan membela ayah mereka, menghadapi hal itu saja sudah sangat berat buatmu.” Banyak lagi penuturan Nyi Ageng kepada Prabu Jimbun. Sesudah Sang Prabu selesai dinasehati, lantas disuruh pulang ke Demak serta disuruh mencari kemana perginya ayahandanya. Jika sudah ditemukan supaya diminta pulang kembali ke Majapahit, sebelumnya diminta mampir ke Ngampelgadhing. Akan tetapi jika tidak berkenan, tidak boleh dipaksa, sebab jikalau sampai membuat kemarahan beliau lagi dan sampai mengeluarkan kutuk, pasti akan terjadi kutukan itu.

Sesampainya di Demak, Sang Prabu Jimbun melihat seluruh prajuritnya tengah bersuka cita dan bersenang-senang merayakan kemenangan, sedangkan para santri semua memukul rebana sembari berzikir, mengucapkan syukur dan suka dihati melihat Sang Prabu pulang sembari membawa kemenangan.

Sunan Bonang menyambut kedatangan Sang Prabu Jimbun, Sang Raja lantas melaporkan kepada Sunan Bonang bahwa Majapahit sudah bisa dijebol, seluruh kitab-kitab Buddha sudah dibakar semua, serta melaporkan bahwasanya ayahandanya berikut Raden Gugur lolos dari istana, sedangkan Patih Majapahit tewas ditengah medan peperangan. Putri Champa dibawa mengungsi ke Bonang, semua prajurit Majapahit yang menyerah dipaksa masuk Islam.

Mendengar laporan Sang Prabu Jimbun, Sunan Bonang tertawa sembari mengangguk-angguk dan berkata kalau sudah sesuai dengan apa yang sudah dilihatnya secara gaib.

Sang Prabu berkata lagi, sebelum pulang ke Demak menyempatkan mampir ke Ngampeldhenta, sowan kepada Eyang Nyi Ageng Ngampel, melaporkan kepada beliau jika baru saja berhasil menjebol Majapahit dan meminta restu untuk menjadi Raja. Akan tetapi di Ngampel malah dimarahi habis-habisan karena menurut beliau dirinya tidak bisa melihat kebaikan Sang Prabu Brawijaya. Sesudah itu, diutus oleh beliau agar mencari jejak kepergian ayahandanya, semua yang diucapkan Nyi Ageng Ngampel dihaturkan semua kepada Sunan Bonang.

Sesudah mendengar penuturan Sang Raja, didalam hati Sunan Bonang merasa menyesal, menyadari kesalahannya, dimana dirinya tidak mengingat semua kebaikan Sang Prabu Brawijaya yang telah diberikan kepadanya. Akan tetapi perasaan sesal itu segera ditepis dengan ucapan bahwasanya tindakan menjebol Majapahit itu sudah benar karena Sang Prabu Brawijaya dan Patih tidak mau memeluk agama islam.

Sunan Bonang lantas berkata bahwasanya seluruh penuturan Nyi Ageng Ngampel tidak perlu dirisaukan, sebab akal seorang wanita itu pasti kurang sempurna dibandingkan dengan akal pria, lebih baik usaha menjebol Majapahit terus dilanjutkan. Jikalau Prabu Jimbun menuruti nasehat Nyi Ageng Ngampeldhenta, Sunan Bonang memutuskn hendak pulang ke Arab. Prabu Jimbun berkata kepada Sunan Bonang, bahwasanya jikalau tidak menuruti perintah Nyi Ngampel, pastinya akan mendapatkan kutuk yang tidak baik, oleh karenanya dirinya merasa takut.

Sunan Bonang memberikan jalan keluar kepada Sang Prabu, jikalau memang Sang Prabu Brawijaya diusahakan kembali ke Majapahit, maka Sang Prabu Jimbun harus menghadap dan memohon maaf atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Namun jika hendak diangkat kembali menjadi Raja, jangan diangkat di Jawa, sebab pastinya akan menjadi penghalang bagi mereka yang hendak memeluk agama Islam. Seyogyanya dikukuhkan sebagai Raja diluar pulau Jawa, dimana saja diwilayah Majapahit asal tidak di pulau Jawa!

Sunan Giri lantas menyambung, dia berpendapat jalan yang terbaik agar tidak sampai terjadi pertumpahan darah yang berkelanjutan, Sang Prabu Brawijaya beserta para putra-putra yang masih memiliki kuasa dibeberapa daerah seyogyanya ditenung (di santet) saja, membunuh orang Kafir itu tidak ada dosanya!

Sunan Bonang dan Prabu Jimbun akhirnya menyetujui pendapat Sunan Giri tersebut.

Berganti cerita, perjalanan Sunan Kalijaga yang tengah berusaha melacak jejak Sang Prabu Brawijaya, hanya didampingi dua orang murid. Perjalanan mereka terlunta-lunta. Setiap desa dimasuki hanya demi mencari kabar berita. Perjalanan Sunan Kalijaga sampai dipesisir Timur pulau Jawa, dimana disanalah Sang Prabu Brawijaya tengah berada.

Perjalanan dari Prabhu Brawijaya sendiri sudah sampai di Blambangan. Karena rombongan merasa lelah lantas beristirahat disamping danau. Pada saat itu suasana hati Sang Prabu sangat gelap. Yang menghadap didepan beliau hanya dua orang abdi terkasih, tak lain adalah Nayagenggong dan Sabdapalon. Kedua abdi ini terus mencoba menghibur hati Sang Prabu agar tidak terus larut dalam kesedihan karena kejadian yang baru dialami. Tidak berapa lama datanglah Sunan Kalijaga, menghaturkan sembah dibawah kaki Sang Prabu.

Sang Prabu lantas bertanya kepada Sunan Kalijaga, “Syahid, mengapa kamu ada disini? Ada perlu apa menguntit perjalananku?”

Sunan Kalijaga menjawab, “Sowan hamba ini diutus oleh putra paduka untuk mencari keberadaan paduka. Jika bertemu dimanapun, agar supaya sembah sujud sang putra dihaturkan kepada paduka. Memohon maaf atas segala kesalahan yang telah diperbuat yang telah berani merebut tahta. Disebabkan kebodohan hati seorang muda, yang belum memahami tata krama, terlalu lancang menuruti keinginan hati agar bisa menjadi seorang Raja yang mempunyai banyak wadyabala dan dihadap oleh banyak Bupati. Dan saat ini, putra paduka telah menyadari segala kekeliruannya. Dimana dia yang telah memiliki seorang ayah Raja Besar, yang telah mengangkat derajatnya dari orang rendah menjadi seorang Adipati Demak, akan tetapi balasannya seperti ini. Saat ini putra paduka telah menyadari, setelah paduka lolos dari istana dan tidak diketahui lagi keberadaannya, putra paduka merasa menyesal dan takut mendapatkan hukuman Tuhan. Oleh karenanya hamba diutus untuk melacak keberadaan paduka, pesannya jika bertemu dimana saja diharapkan sudilah kiranya kembali ke Majapahit, kembali bertahta seperti sediakala, mennguasai para prajurit dan dihadap para punggawa, lestari menjadi sesepuh yang dihormati oleh para putra dan cucu serta para kawula alit. Dihormati dan dimintai restunya. Jikalau paduka berkenan pulang, putra paduka rela menyerahkan tahta kembali kepada paduka, putra paduka berserah diri hidup dan matinya kepada paduka. Namun jika diperkenankan, putra paduka hanya memohon agar dimaafkan segala kesalahannya yang telah dibuat dan agar diperkenankan tetap menjabat sebagai Adipati Demak, seperti yang sudah-sudah. Akan tetapi jika paduka tidak berkenan menerima tahta kembali, jika menginginkan mendirikan istana di mana saja, walaupun dilereng gunung-pun, dimanapun yang paduka senangi, putra paduka akan membuatkan dan akan menjamin sandang dan pangan paduka, akan tetapi memohon agar berkenan memberikan pusaka (tahta) tanah Jawa. Tahta diminta dengan segala kerendahan dan kerelaan hati.”

Sang Prabu Brawijaya berkata, “Telah ku dengar semua penuturanmu, Syahid! Akan tetapi tidak aku pedulikan lagi, sebab diriku sudah kapok mendengarkan ucapan para santri yang mempunyai mata tujuh buah (maksudnya banyak akalnya), dan semua mata tersebut mata yang dilapisi, sehingga tidak terang dan jelas penglihatannya. Baik dimuka tapi memukul dari belakang. Kata-katanya hanya manis dibibir, akan tetapi hatinya penuh dengan debu kotoran yang dilemparkan ke wajahku sehingga butalah mataku ini. Sudah aku berikan kebaikan, balasannya bagaikan tingkah makhluk yang berekor. Apa salahku sehingga dirusak tanpa dosa, meninggalkan segala tata cara dan etika manusia, mengobarkan peperangan tanpa tantangan, apakah memakai cara babi, sehingga tidak memakai etika manusia?”

Mendengar jawaban Sang Prabu, Sunan Kalijaga merasa ikut bersalah karena secara tidak langsung ikut membiarkan kehancuran Majapahit, dalam batin sangat-sangat menyesal, semua sudah terlanjur, sehingga akhirnya keluarlah keluhannya, “Apapun kemarahan yang paduka ungkapkan, tetap akan hamba jadikan jimat utama, hamba junjung dan hamba ikat diatas rambut kepala, hamba letakkan diubun-ubun, semoga bisa menambahi cahaya nurbuat yang bening sehingga membuat keselamatan bagi hamba dan semua putra dan cucu paduka. Karena hamba sudah menyadari kesalahan ini, apalagi yang hendak hamba minta, kecuali hanya kerelaan paduka untuk memberikan maaf. Lantas kalau boleh hamba bertanya, selanjutnya paduka hendak pergi kemanakah?”

Sang Prabu Brawijaya menjawab, “Sekarang aku memutuskan hendak ke pulau Bali, menemui adikku Prabu Dewa Agung di Klungkung. Aku hendak memberitahu segala tindakan Patah, menganiaya orang tuanya sendiri yang tanpa dosa. Aku hendak meminta adikku Prabu Dewa Agung untuk menghubungi seluruh Raja bawahan Majapahit diluar pulau Jawa, agar mempersiapkan diri dengan persenjataan perang lengkap! Serta aku hendak meminta tolong kepada adikku Prabu Dewa Agung agar Adipati Palembang diberitahu, jikalau kedua anaknya sesampainya di Jawa sudah aku angkat sebagai Bupati, akan tetapi tidak tahu jalan yang benar, dan berani melawan ayah dan Raja-nya sendiri, aku hendak meminta kerelaan Adipati Palembang untuk merelakan anaknya (Raden Kusen/Kin Shan ~ Adipati Terung Pecattandha) aku bunuh. Bahkan melalui adikku Prabu Dewa Agung aku hendak meminta tolong menghubungi Hong Te di China, untuk mengabarkan bahwasanya putrinya yang menjadi istriku telah melahirkan seorang cucu baginya (Raden Patah ~ Adipati Demak), tapi tidak tahu jalan yang benar, berani melawan ayah dan Raja-nya, aku juga hendak meminta kerelaan Hong Te untuk merelakan cucunya aku  bunuh. Tidak hanya itu, aku juga akan mengutus Prabu Dewa Agung untuk menghubungi Keraton Cina, meminta bantuan prajurit dengan persenjataan lengkap dan segera datang ke Bali bersiap menggempur Jawa! Pasti Raja Cina masih memperhatikan nama besarku, pasti Raja Cina tidak tega melihat Raja yang sudah bungkuk terlunta-lunta seperti aku. Nama besarku pasti akan membuat prajurit Cina bakal dikirimkan ke Bali. Akan aku kerahkan semua pasukan tadi menyerang tanah Jawa, merebut tahtaku kembali. Sekarang, jika memang harus terjadi perang besar antara ayah melawan anak, aku sudah tidak peduli lagi! Sebab diriku selama ini tidak pernah memulai membuat kesalahan, diriku selama ini tidak pernah meninggalkan tata cara seorang Raja bijak!”

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: