SERAT DARMAGANDHUL VI

Sang Prabu lantas berkata kepada Sang Patih, segala kejadian yang telah terlanjur ini sebenarnya juga akibat kesalahan Sang Raja sendiri, meremehkan agama yang sudah dipeluk secara turun temurun oleh orang Jawa, serta terpikat oleh kata-kata Putri Champa, memberikan izin kepada para Ulama untuk menyebarkan agama Islam secara mudah di Majapahit. Begitu gelap batin Sang Raja sehingga keluarlah ucapan kutuk dari bibir beliau: “Aku memohon kepada Dewa Yang Maha Agung (Dewa segala Dewa/Tuhan), semoga terbalaskan kesedihan yang aku alami ini, semoga orang Islam Jawa kelak terbalik dalam menjalankan agamanya, berubah menjadi orang berkuncir, karena tak mengerti kebaikan, aku beri kebaikan balasannya malah keburukan!” (orang berkucir maksudnya = manusia yang gampang mendua, gampang terpengaruh duniawi, meremehkan spiritualitas, spiritualitas hanya dipakai kedok belaka. Spiritualitas diperdagangkan, ditukar dengan materi. Berkucir adalah rambut yang dikepang kekiri dan kekanan. Orang Islam Jawa kelak disisi lain bisa kelihatan alim tapi disisi lain sangat materialistik. Seorang haji diam-diam merangkap rentenir, seorang kyai bisa berkorupsi, tak ada rasa bersalah dan risih, semua dianggap wajar dan bisa ditebus dengan tobat jika sudah puas dengan materi kelak). Sabda Raja Besar yang tengah bersusah hati, diterima oleh Batara (Tuhan), disaksikan oleh jagad semesta, dengan tanda tiba-tiba terdengar suara bergemuruh diangkasa bagaikan suara guntur. Semenjak itulah di Jawa mulai muncul beberapa jenis burung bangau yang berkuncir bulu kepalanya. Para Ulama dan Sunan semua mempunyai nama rangkap bertolak belakang (maksudnya disatu sisi dia tampil sebagai sosok penuntun, disisi lain diam-diam menimbun kekayaan dari spiritualitas yang diajarkan. Nama rangkap bertolak belakang, disisi lain alim disisi lain masih terjerat kenikmatan duniawi), hingga sekarang banyak contoh para Ulama yang demikian itu (nama rangkap bertolak belakang dan berkucir rambutnya).

Sang Prabu meminta pendapat Sang Patih, mengenai datangnya musuh, yaitu para santri yang hendak merebut kekuasaan, baiknya dilawan atau tidak? Sang Raja merasa kecewa dan heran bercampur satu, kecewa dan heran mengapa hanya karena ingin memegang kekuasaan Majapahit, Adipati Demak memilih jalan pertumpahan darah? Seandainya diminta dengan baik-baik, pasti juga akan diberikan karena Sang Raja sudah sepuh.

Sang Patih menyarankan agar melawan musuh yang datang. Sang Prabu ragu karena merasa sangat malu jika terdengar kabar beliau berperang memperebutkan tahta dengan putra sendiri, oleh karenanya Sang Prabu memerintahkan agar menghadang musuh tapi hindari pertumpahan darah yang besar. Lantas Sang Prabu memerintahkan juga agar memangil Adipati Pengging (Adipati Handayaningrat) dan Adipati Pranaraga (Ponorogo ~ Adipati Bathara Katong) untuk memimpin pasukan, sebab Raden Gugur belum saatnya untuk maju berperang. Selesai memberikan perintah Sang Prabu berkehendak meloloskan diri dari keraton menuju Bali, diiringkan oleh Sabda Palon dan Naya Genggong. Saat Sang Prabu tengah memberikan perintah, pasukan Demak sudah tiba dan mengepung kota. Kepergian Sang Prabu sangat tergesa-gesa sekali.

Pasukan Demak lantas bertempur dengan pasukan Majapahit, para Sunan sendiri yang memimpin peperangan. Patih Majapahit mengamuk hebat dimedan tempur. Begitu juga delapan orang pejabat Nayaka Bupati ikut terjun ke peperangan. Peperangan berjalan sengit, pasukan Demak berjumlah tiga juta prajurit sedangkan pasukan Majapahit yang ada di ibu kota hanya terkumpul tiga ribu prajurit. Majapahit telah diserang musuh secara besar-besaran, banyak prajurit yang gugur, Patih dan para pejabat Nayaka Bupati terus bertempur tanpa kenal mundur. Prajurit Demak yang terkena amukan mereka pasti tewas. Putra selir Sang Prabu yang bernama Lembu Pangarsa juga mengamuk dimedan laga, berhadapan dengan Sunan Kudus. Ditengah pertempuran, Patih Demak Mangkurat melemparkan tombak kearah putra selir Majapahit, gugurlah dia! Melihat putra selir gugur secara licik, Sang Patih semakin mengamuk bagai banteng keraton, tak lagi ada yang ditakuti, segala senjata tak mampu melukai tubuhnya, bagaikan tugu terbuat dari baja, segala besi tak ada yang mempan ditubuhnya! Ditempat mana yang diterjang pasti bubar semburat, yang nekat melawan pasti tewas mengenaskan. Mayat bertumpang tindih. Sang patih ditembak pelor dari kejauhan, bagaikan hujan datangnya mimis, akan tetapi mental bagai mengenai batu cadas! Sunan Ngundhung (ayah Sunan Kudus) maju kedepan menghadapi amukan Sang Patih, ditikam tapi tak terluka, ganti terkena tikaman, Sunan Ngundhung tewas seketika! (makam Sunan Ngundhung masih ada di pemakaman Troloyo, Trowulan Mojokerto sampai sekarang). Begitu Sunan Ngundhung tewas, Sang Patih dikeroyok begitu banyak prajurit Demak, sedangkan para prajurit Majapahit sudah banyak yang tewas. Seberapa kuatnya satu orang melawan begitu banyak orang, akhirnya Sang Patih gugur. Akan tetapi jasadnya hilang dan meninggalkan suara: “Ingat-ingatlah kalian semua orang Islam, diberikan kebaikan oleh Raja-ku malah membalas dengan keburukan, tega merebut negara Majaphit dan membuat pembunuhan sedemikian besar, ingatlah kelak akan aku balas, akan aku hajar kesadaranmu agar tahu mana yang benar dan mana yang salah, akan aku potong bersih rambutmu (maksudnya segala kebodohan mereka) dan akan aku tiup kepalamu (maksudnya akan diberikan pengetahuan yang benar)!”

Setelah Sang Patih gugur, para Sunan lantas masuk kedalam keraton. Akan tetapi sang Prabu sudah tidak ada, yang tinggal hanya Ratu Mas, yaitu Putri Champa. Sang putri diminta untuk menyingkir ke Bonang dan menurut.

Para prajurit Demak masuk kedalam keraton tanpa dikomando, didalam istana mereka menjarah dan mengambil segala yang ada hingga bersih, para penduduk tidak ada yang berani melawan. Raden Gugur yang masih kecil berhasil meloloskan diri. Adipati Terung ikut masuk kedalam istana, membakar seluruh buku-buku ajaran Buddha (Siwa Buddha), pasukan yang tersisa kocar kacir melarikan diri, padahal seluruh pintu benteng dijaga pasukan Terung (coba diteruskan apa yang terjadi jika demikian? Dalam Serat Darmogandhul tidak dilanjutkan). Masyarakat Majapahit yang tidak mau tunduk lantas mengungsi besar-besaran ke gunung dan ke hutan-hutan (salah satunya pengikut Raden Jaka Seger dan Dewi Rara Anteng yang mengungsi ke daerah pegunungan Bromo. Menurunkan suku Tengger sampai sekarang. Nama Tengger diambil dari nama Dewi Rara An-TENG dan Raden Jaka Se-GER). Sedangkan masyarakat yang tunduk dikumpulkan semua, lantas di Islam kan secara massal. Jasad para pejabat berikut putra-putra selir yang gugur dikumpulkan dan dikubur (tidak dibakar secara Siwa Buddha) disebelah Tenggara istana. Pemakaman tadi lantas dinamakan Bratalaya, konon katanya disanalah makam Raden Lembu Pangarsa juga berada.

Tiga hari kemudian, Sultan Demak berangkat ke Ngampel, yang dipercaya menjaga di istana Majapahit adalah Patih Mangkurat dan Adipati Terung, untuk menjaga keamanan istana dari serangan-serangan pasukan Majapahit yang mungkin masih tersisa. Sunan Kudus juga ikut menjaga istana, seolah-olah menjadi pengganti Sang Prabu. Wilayah Terung dijaga Ulama tiga

ratus, setiap malam melaksanakan salat hajat serta membaca Qur’an. Separuh pasukan dan beberapa Sunan mengiringi Sultan Demak menuju Ngampeldhenta.

Sunan Ngampel sudah wafat, hanya tinggal sang istri yang ada di Ngampel. Sang istri berasal dari Tuban, putri Adipati Arya Teja. Sepeninggal Sunan Ngampel, Nyi Ageng (istri Sunan Ngampel) dituakan oleh masyarakat Ngampel. Sang Prabu Jimbuningrat (Raden Patah/Sultan Demak) sesampainya di Ngampel, segera memberikan sembah bakti kepada Nyi Ageng. Bergiliran, para Sunan juga menghaturkan sembah baktinya. Prabu Jimbuningrat lantas melaporkan bahwa telah berhasil menjebol Majapahit, melaporkan lolosnya Sang Ayahanda dan Raden Gugur, serta tewasnya Patih Majapahit serta mengabarkan bahwa dirinya sudah mengukuhkan diri sebagai Raja yang menguasai tanah Jawa, berjuluk =  Senapati Jimbun atau Panembahan Palembang. Maksud kedatangannya ke Ngampel hendak meminta restu agar lestari menjadi Raja hingga keturunanya kelak.

Usai mendengar laporan Prabu Jimbun, Nyi Ageng seketika menangis dan merangkul Sang Prabu (Jimbuningrat). Hatinya bagai diiris-iris, beginilah ucapan yang keluar dari bibir beliau: “Cucuku, kamu telah melakukan tiga buah dosa. Berani melawan Raja-mu sekaligus Orang tua-mu, orang yang telah memberikan kemuliaan duniawi, namun kamu hancurkan tanpa dosa. Jika mengingat kebaikan paman Prabu Brawijaya, dimana para Ulama diberikan tempat tinggal sehingga bisa mencari makan ditempat masing-masing, serta diberi kebebasan untuk menyebarkan agama, seharusnya sebagai manusia patut mengucapkan terima kasih. Tetapi mengapa akhirnya dibalas dengan kejahatan, sekarang beliau wafat atau masih hidup tidak diketahui lagi bagaimana nasibnya!”

Nyi Ageng berkata lagi kepada Sang Prabu: “Ngger, aku hendak bertanya kepadamu, jawablah sejujurnya, siapakah ayahmu yang sesungguhnya? Siapakah yang mengukuhkan kamu menjadi Raja tanah Jawa dan siapa yang merestui? Apa sebabnya kamu melakukan pembunuhan kepada orang Majapahit sedangkan mereka tanpa memiliki kesalahan kepadamu?”

Sang Prabu menjawab, konon Prabu Brawijaya memang ayahandanya yang sesungguhnya. Yang mengangkat dirinya menjadi Raja tanah Jawa tak lain para Bupati pesisir Utara. Yang merestui para Sunan. Majapahit diserang, sebab Sang Prabu Brawijaya tidak mau masuk Islam, tetap bersikukuh memeluk agama Kafir-kufur, agama Buddha (Siwa Buddha) totok yang sudah keras bagai kerasnya kuwuk (batu laut).

Mendengar penuturan Prabu Jimbun, Nyi Ageng menjerit seketika dan merangkul sambil berkata: “Ngger! Ketahuilah! Kamu telah berbuat dosa tiga macam. Pasti akan mendapatkan hukuman Gusti Allah. Kamu telah berani melawan Raja-mu dan orangtuamu sendiri, yang telah memberikan kemuliaan duniawi bagimu, kamu tega telah melakukan kekerasan kepada orang yang tanpa salah. Adanya manusia Islam dan Kafir siapa yang menciptakan, kecuali hanya satu Gusti Allah sendiri. Manusia berganti agama itu tidak bisa dipaksa, jika bukan kehendak pribadinya sendiri. Ketahuilah manusia yang gugur karena memegang teguh keyakinannya termasuk manusia yang utama! Jika Gusti Allah menghendaki, pastinya tak usah disuruh, pasti akan memeluk agama Islam sendiri. Gusti Allah yang bersifat Rahman (Kasih) tidak memerintahkan untuk memaksa orang masuk agama tertentu, semua sesuai kehendak manusia sendiri-sendiri. GUSTI ALLAH TIDAK AKAN MENYIKSA MANUSIA KAFIR YANG TAK BERSALAH DAN TIDAK AKAN MEMBERIKAN PAHALA KEPADA ORANG ISLAM YANG PERBUATANNYA TIDAK BENAR! HANYA PERBUATANNYA YANG AKAN DIADILI SECARA ADIL, BUKAN KARENA AGAMANYA APA! Ibumu Cina menyembah Pek-Kong, yang diwujudkan dalam kertas bergambar atau arca dari batu. Tidak benar membenci orang Buddha. Itu tandanya matamu masih terlapisi, sehingga tidak terang penglihatanmu, tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah! Konon kamu putra Sang Prabu, tapi mana ada putra yang tega menghancurkan ayahandanya sendiri, menghancurkan tanpa ada kesalahannya. Beda dengan mata orang Jawa asli, Jawa atau Jawi  (Jawa maksudnya paham atau sadar, orang Jawa yang tidak paham etika atau sadar sopan santun lumrah disebut ORA JAWA!), penglihatannya satu, paham mana yang benar dan mana yang salah, sadar mana yang baik dan mana yang buruk! Pasti takut berbakti kepada orangtua, kedua berbakti kepada Raja yang telah memberikan anugerah kemuliaan duniawi, orang tua maupun Raja wajib diberikan darma bakti. Niatnya berbakti kepada orang tua, bukan melihat Kafirnya! Kamu aku beritahu, Agung Kuparman beragama Islam dan mempunyai mertua Kafir. Mertuanya benci kepadanya karena beda agama, senantiasa mencari jalan agar menantunya mati. Akan tetapi Agung Kuparman senantiasa berbakti dan menghormati karena mengingat dia adalah mertuanya yang bagaikan orangtua sendiri, tidak melihat Kafirnya! Itulah contoh manusia utama, tidak seperti perbuatanmu, menganiaya orang tua hanya karena beliau beragama Buddha dan tidak mau berganti agama Islam. Perbuatanmu tidak patut. Dan lagi aku hendak bertanya, apakah kamu pernah meminta secara pribadi kepada ayahandamu agar bersedia berganti agama? Lantas apa yang menyebabkan kamu nekad merusak negara Majapahit?”

Prabu Jimbun menjawab, belum pernah meminta kesediaan ayahandanya agar berganti agama, datang ke Majapahit langsung menyerang.

Nyi Ageng Ngampel tertawa dan berkata, “Perbuatanmu semakin terlihat salah! Para Nabi pada zaman dulu, berani menentang orang tuanya, sebab sudah setiap hari meminta kesediaan orang tua mereka agar berganti agama, akan tetapi tidak mau juga, bahkan hingga diberi bukti mukjizat segala, mukjizat sudah saatnya berganti agama Islam, akan tetapi permintaan itu tidak digubris, orang tua mereka masih tetap memegang teguh agama lama, lantas mereka dimusuhi oleh orang tua mereka. Jika begitu kejadiannya, kalaupun harus bermusuhan dengan orang tua, mereka tidak salah. Sedangkan dirimu, apa mukjizatmu? Jika memang nyata Khalifatullah (Wakil Allah) yang berhak mengganti agama lama sekarang perlihatkan mukjizatmu aku ingin menyaksikannya!”

Prabu Jimbun menjawab jika tidak memiliki mukjizat apapun, hanya menuruti bunyi kitab, katanya jika meng-Islam-kan orang Kafir kelak mendapat anugerah Surga.

Nyi Ageng Ngampel tertawa dan semakin marah, “Hanya katanya kok dituruti, bahkan bukan ujar leluhur. Kata-kata orang pengembara kok dituruti, akhirnya yang rusak dirimu sendiri. Itu tanda masih mentah pengetahuan agamamu! Berani kepada orang tua, hanya karena ingin menjadi Raja, kesengsaraan masyarakat banyak tidak kamu pikirkan. Dirimu bukan santri ahli Budi (Kesadaran), hanya manusia yang berikat kepala putih, bagaikan putihnya burung bangau, yang putih hanya kulitnya saja, didalamnya masih merah menyala! Saat kakekmu (Sunan Ngampel) masih hidup, dirimu pernah meminta izin untuk menyerang Majapahit, kakekmu tidak memberikan izin, bahkan wanti-wanti jangan sampai bermusuhan dengan orang tua. Sekarang kakekmu sudah wafat, larangannya kamu langgar, kamu tidak takut melanggar wasiatnya. Jikalau dirimu sekarang meminta restu padaku untuk menjadi Raja tanah Jawa, diriku tidak berwenang memberikan izin, diriku orang kecil, seorang wanita lagi. Nanti terbalik akhirnya. Sebab seharusnya dirimu yang berwenang memberikan restu kepadaku, sebab dirimu adalah Khalifatullah di tanah Jawa. Dirimu adalah orang tua, apa yang kamu ucapkan bagaikan ludah berisi api (maksudnya bakal dituruti banyak orang), diriku hanya tua tanpa arti, dirimulah yang tua karena kamu sekarang Raja!”

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: