SERAT DARMAGANDHUL IV

Buta Locaya menjawab sembari menggeram, “Mana mungkin nanti jikalau telah meninggal akan tahu, sedangkan pengetahuan akan kemuliaan didunia ini saja sudah tidak utuh, sudah tersesat menyembah tugu dari batu. Jika memang benar-benar berniat menyembah cadas, lebih baik naik ke atas gunung Kelud daripada jauh-jauh, disana banyak batu yang besar-besar asli buatan Tuhan, tercipta semenjak dahulu seperti itu berasal dari sabda Kun (Jadilah), malah itu lebih baik di buat pusat bersujud. Sesungguhnya menurut kehendak Yang Maha Kuasa, seluruh manusia seyogyanya mengetahui kepada Baitullah (Rumah Tuhan)-nya sendiri, tubuh manusia inilah sesunguhnya Baitullah (Rumah Tuhan), sungguh-sungguh buatan Yang Maha Kuasa sendiri. Tempat inilah yang harus dijaga betul-betul. Siapa saja yang tahu darimana asal badan ini, siapa saja yang tahu darimana asal Budi dan hawa nafsu ini, patutlah dia dijadikan suri tauladan bagi sesama. Walaupun siang malam menjalankan salat, akan tetapi apabila masih gelap pengetahuannya tentang diri sendiri, masih tersesat pengetahuannya tentang yang sejati, masih mensujudi tugu batu, tugu batu buatan Nabi (sungguh masih sesat manusia yang demikian itu). Bukankah Nabi itu sendiri adalah manusia juga kekasih Guati Allah, diberi anugerah dengan kecerdasan dan ketajaman ingatan, terang kesadarannya, tahu hal yang belum terjadi. Anda meyakini tulisan peninggalan mereka, orang Jawa meyakini sastra peninggalan leluhur, sama-sama meyakini kabar masa lalu. Akan tetapi lebih baik meyakini sastra berisi pekabaran masa lalu dari leluhur sendiri yang peninggalannya masih bisa dilihat langsung disini. Orang Jawa yang meyakini tulisan pekabaran masa lalu dari Arab, belum menyatakan sendiri keberadaannya di sana, apakah nyata atau bohong, hanya membenarkan ucapan orang yang membawa kabar semata. Maka menurut hamba, anda datang ke Jawa hanya menjual bualan, menjual bualan bahwa negara Mekkah adalah yang termulia, padahal saya tahu sendiri bagaimana keberadaan negara Mekkah itu, tanahnya beraura panas, jarang air, tanaman apapun tidak bisa tumbuh, udaranya juga panas dan jarang hujan. Bagi akal kebanyakan manusia, tanah disana itu adalah tanah kutukan, banyak manusia menjual manusia sebagai budak dan dipakai sebagai pembantu. Anda benar-benar manusia durhaka, lebih baik saya persilakan pergi dari tanah Jawa, di Jawa ini adalah tanah suci dan mulia, dingin dan panasnya cukup, penuh kekayaan didalam tanah dan air, apa yang ditanam bisa tumbuh, yang menghuni baik lelaki maupun wanita mempunyai moral yang bagus dan cantik, berbicara-pun lemah lembut dan sopan. Jika anda ingin melihat pusat dunia, dengarkan sesungguhnya tempat yang kita injak inilah pusat dunia. Sekarang pertimbangkan kata-kata saya tadi, jika ada yang salah, pukul saya sekarang juga! Semua yang anda ajarkan banyak yang kurang tepat, pertanda kurang kecerdasan, kurang memahami pengetahuan Kesadaran, suka menganiaya sesama. Yang membuat arca ini adalah Prabu Jayabaya, kesaktian beliau melebihi kesaktian anda. Apakah anda mampu meramal masa depan setepat beliau? Sudahlah, saya persilakan pergi saja dari tanah Kediri. Jika tidak juga mau pergi, saya akan mengundang adik hamba yang ada di gunung Kelud untuk mengeroyok anda, dan akan saya bawa ke kawah gunung Kelud, apakah anda tidak takut jika nanti tidak bisa keluar dari alam siluman dan menjadi penghuni batu seperti saya? Atau mari ke Selabale saja menjadi murid saya.”

Sunan Bonang berkata, “Tidak akan mempercayai kata-katamu wahai setan brekasakan!”

Buta Locaya menjawab, “Walaupun saya dedemit (makhluk halus), akan tetapi saya dedemit berpangkat Raja, mulia dan berumur panjang. Anda belum tentu semulia hamba. Niat anda selalu kotor, suka mengganggu dan menganiaya, apakah mungkin anda datang ke tanah Jawa ini dikarenakan anda di tanah Arab adalah orang hina? Jika anda manusia mulia, tentunya tidak usah pergi jauh-jauh keluar dari tanah Arab. Mungkin anda minggat karena melakukan sebuah kesalahan fatal. Tandanya sampai di tanah Jawa-pun masih juga usil, suka menghakimi adat orang lain, suka menghakimi agama orang lain, merusak segala peninggalan luhur yang bagus-bagus, merusak agama leluhur kuno. Sungguh Raja (Majalengka) berhak menangkap anda dan membuang anda ke Menado!”

Sunan Bonang berkata, “Pohon Dadap ini bunganya aku berinama Celung, buahnya aku beri nama Kledhung, sebab aku telah Kecelung (tercuri) nalar (kepintaran)-ku dan Keledhung (terbantah) ucapanku. Ini semua sebagai pengingat bahwa aku pernah berdebat dengan Raja Dedemit, kalah pengetahuan dan kalah kepintaran.”

Oleh karenanya terkenal hingga sekarang, buah Dadap namanya Kledhung sedangkan bunganya Celung.

Sunan Benang lantas berpamitan, “Sudahlah kalau begitu aku akan pulang ke Bonang.” Buta Locaya menjawab dengan nada marah, “Benar, segeralah pergi, disini anda hanya akan membuat tanah menjadi angker, jika anda berlama-lama disini hanya akan menambah kesusahan, menyebabkan susah tumbuh padi, menambahi panas, membuat susah air!”

Sunan Bonang lantas pergi, sedangkan Buta Locaya beserta pasukannya juga kemudian balik pulang.

Lain yang diceritakan, yaitu dinegara Majalengka, pada suatu hari, Sang Prabu Brawijaya duduk disinggasana dan dihadapan para pejabat. Sang Patih melaporkan bahwa telah mendapatkan surat khusus dari Tumenggung Kertasana. Isi surat melaporkan bahwa daerah Kertasana sungainya mengering. Sungai yang mengalir dari arah Kediri aliran airnya kini menyimpang ke Timur. Sebagian isi surat melaporkan seperti ini: Di sebelah Utara Barat Kediri, banyak desa rusak, semua itu disebabkan karena kutukan Ulama dari tanah Arab, bernama Sunan Bonang.

Mendengar laporan Patih, Sang Prabu bangkit murkanya. Sang Patih lantas diutus ke Kertasana, untuk menyatakan sendiri keadaan disana, melihat kondisi manusia berikut hasil bumi yang terlanggar aliran air. Bahkan mewngutus beberapa pejabat untuk memanggil Sunan Bonang.

Singkat cerita, seusai Sang Patih melihat sendiri kondisi Kertasana, segera melaporkan semuanya kepada Sang Prabu. Sedangkan utusan yang diutus ke Tuban juga sudah tiba kembali, melaporkan bahwa tidak mendapatkan hasil, sebab Sunan Bonang telah pergi tidak diketahui kemana.

Mendengar seluruh pelaporan para bawahannya, Sang Prabu Brawijaya semakin murka! Beliau menyatakan bahwa ternyata Ulama dari Arab tidak ada yang tulus hatinya! Sang Prabu lantas memerintahkan Patih agar mengusir seluruh orang Arab yang tinggal di Jawa, sebab telah membuat kesusahan negara! Hanya yang ada di Ngampeldhenta dan Demak saja yang masih diperbolehkan tinggal di Jawa dan diijinkan mensiarkan agama Islam. Selain dikedua tempat itu, semua harus dipulangkan ke asalnya! Jika menolak dipulangkan maka diperintahkan untuk dihancurkan saja! Sang Patih berkata, “Gusti, benar apa yang paduka katakan. Sudah tiga

tahun berselang penguasa Giripura (Giri Kedaton atau Sunan Giri) tidak pernah menghadap dan tidak pernah memberikan upeti sebagai tanda takluk. Jelas mereka hendak merencanakan untuk mendirikan negara sendiri. Tidak sadar telah makan dan minum hanya numpang di tanah Jawa! Bahkan nama santri Giri (Sunan Giri) kini telah terkenal mengalahkan kebesaran nama paduka. Bahkan kini mengambil gelar baru Sunan Ainul Yaqin. Sunan berarti Kesadaran, Ainul berarti Makrifat atau Mengetahui akan Tuhan dan Yaqin berarti benar-benar mantap lahir batin. Paduka bisa mengartikannya sendiri. Dalam bahasaa Jawa dia mengambil gelar Prabu Satmata (Bermata Enam). Ini adalah gelar yang sangat tinggi, hampir menyerupai gelar Yang Maha Kuasa sendiri (Hyang Batara Siwa), Satmata berarti tahu segalanya. Dialam dunia, tidak ada lagi sosok yang menggunakan gelar Sang Prabu Satmata kecuali dulu Batara Wisnu manakala turun ke dunia dan menjelma sebagai Raja di Medhang Kasapta.”

Mendengar kata-kata Sang Patih, Sang Prabu segera memerintahkan untuk menyerang Giri. Berangkatlah pasukan tempur Majapahit dibawah pimpinan Patih langsung menuju Giri. Perang pun terjadi. Orang Giri ketakutan dan tidak mampu menahan serangan pasukan tempur Majapahit. Sunan Giri lari ke Bonang meminta bantuan pasukan, setelah mendapatkan pasukan lantas kembali menghadapi pasukan Majalengka. Perang sangat ramai. Waktu itu hampir separuh orang Jawa sudah memeluk agama Islam. Mereka yang tinggal dipesisir Utara sudah hampir semua memeluk agama Islam. Sedangkan orang Jawa yang tinggal di Selatan masih tetap beragama Buddha (Siwa Buddha). Sunan Bonang sudah menyadari kesalahannya sehingga tidak berani menghadap ke Majalengka. Lantas bersama Sunan Giri melarikan diri ke Demak. Sesampainya di Demak segera mengajak Adipati Demak untuk menggempur Majalengka. Begini ucapan Sunan Bonang kepada Adipati Demak: “Ketahuilah bahwa saat ini sudah tiba masanya kehancuran Majalengka. Sudah seratus tiga tahun berkuasa di Nusantara. Dari penglihatan batinku, yang sanggup menjadi Raja tanah Jawa, tiada lain kecuali dirimu. Saranku, hancurkan Majalengka, tapi dengan cara halus, jangan sampai menyolok mata. Nanti pada saat Grebeg Maulud (peringatan Kelahiran Nabi Muhammad) di Ngampeldhenta (Surabaya), bawalah banyak tentara Demak dengan persenjataan perang lengkap untuk menghadap ke Majapahit (seusai dari Ngampeldhenta). Ingat, 1. Pakailah cara halus, 2. Undanglah seluruh Bupati yang sudah memeluk agama Islam untuk berkumpul di Demak dengan dalih hendak membangun Masjid Demak. Jika nanti mereka sudah berkumpul, apapun perintahmu pasti dituruti.”

Adipati Demak menjawab, “Saya takut merusak Negara Majalengka, yang berarti memusuhi ayah dan Raja sendiri, bahkan beliau juga telah memberikan anugerah kenikmatan duniawi kepada saya sebagai seorang Adipati. Lantas mengapa balasan saya seperti itu? Bukankah sudah pantas jika saya membalasnya dengan kesetiaan dan kesungguhan? Wasiat dari eyang Sunan Ngampelgadhing (Sunan Ampel), tidak diperbolehkan saya memusuhi ayahanda sendiri, walaupun beliau beragama Buddha tapi beliaulah yang menjadi lantaran saya terlahir menjadi manusia didunia ini. Walaupun orang Buddha dan Kafir sekalipun, jika dia adalah ayahanda sendiri tetap haruslah dihormati. Apalagi beliau tidak memiliki kesalahan apapun.”

Sunan Bonang berkata lagi, “Walaupun harus melawan ayahanda atau Raja, tidak ada salahnya! Sebab dia orang Kafir! Jika menghancurkan orang Buddha Kafir kawak (kawak = totok), maka imbalanmu adalah Surga! Eyang Sunan Ampel itu hanya santri kecil, walau bercukur rambut tapi pengetahuan beliau masih kurang luas, hanya pantas menjadi Ulama biasa. Berapalah pengetahuan agama Sunan Ngampelgadhing (Sunan Ampel) keturunan orang Champa itu, dibandingkan dengan diriku, Sayyid Kramat, Sunan Bonang yang terkenal dipenjuru bumi, keturunan langsung Rasul (Nabi Muhammad) dan menjadi panutan orang Islam Jawa. Jikalau dirimu berani menghancurkan ayahandamu, walau seandainya memang berdosa, tapi hanya berdosa kepada satu orang dan orang tersebut orang Kafir. Jikalau sampai kamu bisa mengalahkan ayahandamu, seluruh orang Jawa akan memeluk agama Islam. Yang semacam itu, berapa lagi keuntunganmu mendapatkan pahala dari Tuhan, sungguh tak terhitung lagi! Tak terbilang kasih Hyang Maha Kuasa yang akan kamu dapatkan! Dengarkan, sesungguhnya ayahandamu telah menyia-nyiakan dirimu. Tandanya dirimu diberikan nama Babah, itu tidak benar dan sangat memperhinakan dirimu. Maksud ayahmu memberikan nama Babah sesungguhnya berarti Bah mati Bah urip (Biar mau mati kek biar mau hidup ~ Bah = Biar. Sunan Bonang mencoba memelintir arti nama Babah). Ibumu dibuang diberikan kepada Arya Damar, Bupati di Palembang. Padahal Arya Damar adalah keturunan Raksasa (maksudnya ibu Arya Damar, yaitu Ni Endang Sasmitapura dulu adalah penganut Tantra Bhairawa yang melakukan ritual dengan memakan mayat dan meminum darah manusia, makanya dalam Babad disebut Raksasa). Kelakuan ayahmu itu namanya menyakiti cinta ibumu. Sungguh ayahandamu tidak baik hatinya. Oleh karenanya, balaslah secara halus, maksudnya jangan menyolok mata, hisap darahnya dan kunyah tulangnya secara diam-diam!”

Sunan Giri ikut bicara, “Aku sendiri tidak mempunyai salah juga diperangi oleh ayahandamu, dituduh hendak mendirikan negara, disebabkan karena aku tidak menghadap ke Majalengka. Aku dengar sesumbar Patih Majalengka, jika aku tertangkap akan dikepang ramputkui seperti anak kecil dan disuruh memandikan anjing! Banyak orang cina yang datang ke Jawa, dan di daerah Giri semua aku Islam-kan, sebab menurut ujar kitab suci, jika meng-Islam-kan orang Kafir, balasannya kelak adalah Surga. Oleh karenanya banyak orang cina yang aku Islam-kan, dan aku anggap keluarga sendiri. Kedatanganku kemari hanya meminta perlindungan, aku takut kepada Patih Majalengka sedangkan ayahandamu sangat benci kepada para santri yang suka memuji dan berzikir seperti aku. Katanya seperti orang sakit ayan orang berzikir dengan menggerakkan kepala kekiri dan kekanan. Jika kamu tidak angkat senjata, pasti akan habis agama Rasul Nabi (Islam) di Jawa!”

Sang Adipati Demak menjawab, “Ayahanda menyerang Giri itu sudah benar, jika ada seorang penguasa daerah, tidak tunduk kepada Raja sebagai penguasa tertinggi, sudah semestinya diserang bahkan wajib dihukum mati. Sebab penguasa semacam itu tidak menyadari telah numpang hidup di tanah Jawa.”

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: