SERAT DARMAGANDHUL II

Kala itu Sunan Bonang berkeinginan untuk mengunjungi kota Kediri. Dalam perjalanan tersebut, yang menemani hanya dua orang sahabat (murid). Sesampainya di wilayah Kediri bagian Utara, tepatnya di wilayah Kertasana (Kertosono), perjalanan mereka terhalang oleh aliran air sungai Brantas yang tengah meluap banjir (namun tidak begitu besar). Sunan Bonang beserta dua muridnya masih bisa menyeberang. Sesampainya di sebelah Timur sungai mereka mencari tahu agama apa yang dipeluk oleh masyarakat yang tengah berdiam disitu, apakah sudah memeluk agama Islam atau masihkah menjalankan agama Budi (dalam teks asli, tidak tertulis Buddha, tapi Budi. Berarti jelas, yang dimaksud adalah agama-agama selain Islam dan keberadaan agama-agama tersebut diikat oleh tali kesadaran pluralitas. Saling asah, asih dan asuh satu sama lain. Agama Budi, kurang lebihnya berarti agama Kesadaran). Menurut penuturan Ki Bandar (mungkin salah seorang penduduk yang sudah memeluk agama Islam), masyarakat sekitar mayoritas memeluk agama Kalang. Yang memeluk agama Buddha hanya beberapa saja, sedangkan syiar agama Rasul (Islam) masih sedikit sekali, tapi sudah mulai merambah kesana. Mayoritas masyarakat disana beragama Kalang, memuliakan Bandung Bandawasa. Bandung dianggap sebagai Nabi. Jika tengah berhari raya, seluruh pengikutnya bersama-sama memakan makanan yang enak-enak, bersuka cita dikediaman masing-masing. Sunan Bonang berkata: “Jikalau demikian seluruh masyarakat yang bermukim disini ber-agama Gedhah. Gedhah maksudnya tidak hitam juga tidak putih. Oleh karenanya diwilayah ini patut disebut kota Gedhah.”

Ki Bandar berkata: “Sabda yang telah tuan ucapkan, saya yang menjadi saksinya.” Wilayah di sebelah Utara kota Kediri lantas terkenal dengan nama kota Gedhah. Sampai sekarang-pun masih tetap disebut kota Gedhah. Akan tetapi jarang yang mengetahui asal usul mengapa diberi nama demikian.

Sunan Bonang berkata kepada muridnya: “Kalian berdua carilah banyu imbon (air bersih yang disimpan untuk keperluan memasak) ke pedesaan. Sungai ini masih banjir, airnya masih kotor, jikalau diminum akan membuat sakit perut. Dan lagi, ini sudah masuk waktu salat Zuhur, aku hendak berwudu, hendak menjalankan salat.”

Salah seorang murid segera pergi kearah pedesaan untuk mencari air bersih. Sesampainya didesa Pathuk dia mendapati sebuah rumah yang terlihat tanpa penghuni lelaki, disana yang ada cuma seorang gadis muda belia. Seorang gadis yang baru beranjak dewasa. Kala itu dia tengah sibuk menenun. Sang murid mendekat serta berkata sopan: “Gadis yang cantik, saya hendak meminta sedikit banyu imbon (air yang disimpan) yang bersih.” Sang perawan terkejut begitu mendengar suara seorang pria yang tiba-tiba menyapanya. Begitu menoleh, seketika terlihat olehnya seorang pria berpakaian santri. Salah mengira sang perawan, dikiranya lelaki tersebut hendak menggodanya, hendak berbuat kurang ajar padanya, oleh karenanya dijawabnya permintaan tersebut dengan ucapan kasar: “Anda ini baru saja melewati sebuah sungai kok malah kesini hendak meminta banyu imbon (air yang disimpan). Disini tidak ada kebiasaan menyimpan air, kecuali air kecing saya ini, jika hendak meminum, minumlah!” (Kesalah pahaman ini terjadi karena memang didaerah dimana sang gadis tinggal, sangat dekat sekali dengan aliran sungai Brantas. Tak mungkin seorang yang berada didaerah situ tidak melihat adanya aliran air sungai disana).

Mendengar jawaban semacam itu, sang santri segera pergi tanpa pamit. Langkah kakinya dipercepat sembari menyumpah serapah sepanjang jalan. Setibanya dihadapan Sunan Bonang, segera diceritakannya apa yang baru dialaminya. Mendengar penuturan muridnya, Sunan Bonang marah, hingga keluar sumpahnya. Sumpah yang terucap (dari mulut Sunan Bonang) adalah diwilayah tersebut akan sulit mencari air dan setiap gadis serta perjaka yang tinggal disana tidak akan bisa menikah sebelum usianya tua. Begitu usai sumpah terucap, seketika itu juga aliran Sungai Brantas tiba-tiba surut dan lantas meluap menerjang wilayah pedesaan, hutan, ladang dan pesawahan. Banyak desa yang rusak oleh karena terlanggar aliran sungai yang menyimpang jalur. Setelah seluruh air sungai tumpah ke pedesaan, menyusul kemudian menyusut dan lenyap. Hingga sekarang diwilayah Gedhah sangat sulit mencari air, sedangkan para perjaka dan perawan yang tinggal disana banyak yang menjadi perjaka dan perawan tua. Sunan Bonang lantas melanjutkan perjalanannya ke Kediri.

Pada saat itu tersebutlah seorang makhluk halus (jin/asura) bernama Nyai Plencing yang berdiam disebuah sumur di wilayah Tanjungtani. Waktu itu seluruh anak cucunya berdatangan, melaporkan kejadian bahwasanya ada seorang manusia bernama Sunan Bonang, sangat suka sekali melakukan kekerasan kepada para makhluk halus yang tidak bersalah, mengunggulkan kesaktiannya. Bahkan aliran sungai yang berasal dari Kediri dikutuk sehingga kering seketika. Alirannya sempat keluar dari jalur yang semestinya (sebelum lenyap mengering). Akibatnya banyak desa, hutan, ladang dan pesawahan rusak terlanggar. Semua itu karena ulah Sunan Bonang. Bahkan lagi mengutuk penghuni didaerah tersebut agar menjadi perawan dan perjaka tua serta mengutuk didaerah tersebut juga akan kesulitan mencari air dan bahkan mengganti nama wilayah seenaknya dengan nama Gedhah. Sunan Benang memang suka membuat masalah. Begitu mendengar pengaduan anak cucunya seperti itu, Nyi Plencing (diikuti seluruh anak cucunya) segera menyusul kemana Sunan Bonang tengah berjalan. Akan tetapi seluruh makhluk halus tadi tidak ada yang bisa mendekati Sunan Bonang. Badan mereka terasa panas bagaikan dibakar. Para makhluk halus tadi segera menuju ke Kediri. Sesampainya di Kediri, segera menghadap Raja mereka dan menceritakan semua yang baru saja terjadi. Raja mereka berdiam di Selabale (sebelah Barat kota Kediri). Dia bergelar Buta Locaya. Wilayah Selabale tepat berada di kaki pegunungan Wilis. Buta Locaya sesungguhnya adalah (bekas) Patih Sri Jayabaya (Prabu Jayabaya). Dulu dia bernama Kyai Daha, mempunyai seorang adik bernama Kyai Daka. Kyai Daha adalah penghuni asli Kediri semenjak dulu. Begitu Sri Jayabaya bertahta, namanya diambil sebagai nama Negara (yang diperintah oleh Sri Jayabaya), sedangkan dia sendiri diberi nama baru Buta Locaya dan diangkat sebagai Patih, pendamping Sang Prabu Jayabaya.

Buta artinya: Buteng atau Bodoh, Lo artinya Kamu, Caya artinya Bisa Dipercaya. Kyai Buta Locaya memang bodoh, akan tetapi jujur, setia dan berbakti kepada Raja. Oleh karenanya, dia lantas diangkat sebagai Patih. Awal mula ada gelar Kyai, dimulai oleh Kyai Daha dan Kyai Daka ini. Kyai artinya: Orang yang mampu mengiringi/menjaga/momong anak cucu berikut sesama makhluk.

Saat Sri Narendra (Nara = Manusia, Indra = Dewa Indra. Manusia yang bagaikan Dewa Indra. Dewa Indra adalah Raja para Dewa. Manusia yang bagaikan Dewa Indra berarti dia seorang Raja. Disini maksudnya adalah Sri Jayabaya) tengah keluar Keraton (maksudnya saat tengah terjadi peperangan dengan Jenggala dan Sri Jayabaya tengah dalam kesulitan) beliau pernah ke kediaman Kyai Daka. Disana beliau beserta para pengikut disambut dengan berbagai persembahan oleh Kyai Daka. Oleh karenanya Sang Prabu (Jayabaya) sangat mengasihi Kyai Daka. Nama Kyai Daka diambil sebagai nama sebuah desa, selanjutnya Kyai Daka lantas diberi nama baru Kyai Tunggulwulung, dan dikemudian hari (setelah berhasil memenangkan peperangan dengan Jenggala) diangkat sebagai seorang Senopati.

Saat Sang Prabu Jayabaya moksa, diikuti pula oleh putri beliau yang bernama Ni Mas Ratu Pagedhongan. Buta Locaya dan Kyai Tunggulwulung-pun ikut melakukan moksa (Moksa disini ada dua arti, pertama Moksa menyatunya Atma dengan Brahma seperti yang dialami oleh Sang Prabu Jayabaya sendiri, kedua moksa hilang raganya berpindah alam. Pemahaman orang Jawa sekarang tentang kata MOKSA cenderung mengarah ke arti yang kedua, yaitu berpindah alam). Ni Mas Ratu Pagedhongan lantas menjadi Raja makhluk halus pulau Jawa. Pusat pemerintahannya berada di Laut Selatan dan bergelar Ni Mas Ratu Anginangin. Seluruh makhluk halus (jin/asura) yang berdiam di lautan serta didaratan berikut yang berdiam di tepi kanan kiri pulau Jawa, semua tunduk kepada Ni Mas Ratu Pagedhongan.

Buta Locaya (setelah moksa ~ maksudnya berpindah alam) berkedudukan di Selabale (kaki pegunungan Wilis, sebelah Barat Kediri), sedangkan Kyai Tunggulwulung berkedudukan di (Gunung Kelud (di Selatan Kediri). (Kyai Tunggulwulung) menjaga kawah dan lahar. Manakala lahar keluar, dia akan menjaganya agar tidak sampai merusak pedesaan beserta seluruh penghuninya.

Pada waktu itu Kyai Buta Locaya tengah duduk diatas kursi kencana yang dialasi dengan permadani gemerlapan, dihiasi dengan bulu-bulu merak. Dia tengah dihadap oleh Patih-nya bernama Megamendhung beserta kedua putranya, yang sulung bernama Panji Sektidiguna, yang bungsu bernama Panji Sarilaut.

Buta Locaya tengah berbincang-bincang dengan mereka yang tengah menghadap, mendadak dikejutkan oleh kedatangan Nyi Plencing yang langsung memeluk kaki (Buta Locaya) sembari menghaturkan bahwasanya ada manusia yang tengah membuat kerusakan, berasal dari Tuban yang kini tengah berkelana di wilayah Kediri, bernama Sunan Bonang. Nyai Plencing menghaturkan segala kesusahan yang dialami para makhluk halus serta manusia (akibat perbuatan Sunan Bonang.)

Mendengar pengaduan Nyi Plencing seperti itu Buta Locaya bangkit kemarahannya. Hingga mendidih bagaikan api badannya. Segera dipanggilnya seluruh anak cucu berikut seluruh jin perayangan dan diperintahkannya untuk menghadang Sunan Bonang. Seluruh makhluk halus mempersiapkan diri dengan senjata perang. Mereka segera berangkat berjalan seiring hembusan angin. Tidak berapa lama para makhluk halus telah sampai di sebelah Utara desa Kukum. Ditempat itu Buta Locaya segera merubah wujudnya menjadi manusia bernama Kyai Sumbre, sedangkan makhluk halus yang lain sengaja tidak menampakkan wujud. Kyai Sumbre lantas berdiri ditengah jalan tepat dibawah naungan pohon Sambi (Kusambi = Scheicheratriyuga Wild, banyak tumbuh disekitar hutan jati. Besarnya kurang lebih 1,75 m dan bisa mencapi tinggi 40 meter) berniat menghadang Sunan Bonang yang tengah berjalan dari arah Utara.

Tidak menunggu waktu lama Sunan Bonang terlihat berjalan dari arah Utara. Sunan Bonang tidak khilaf melihat sosok manusia yang tengah berdiri dibawah pohon Sambi yang tak lain adalah Raja makhluk halus. Sosok jadi-jadian itu berniat hendak mengganggu perjalanannya, bisa dirasakan dari keberadaan hawa tubuhnya yang sangat panas bagai bara. Sedangkan seluruh makhluk halus yang lain seketika semua menyingkir dan menjauh, tidak betah terkena perbawa Sunan Bonang. Sedangkan Sunan Bonang sendiri, tidak betah dekat dengan Kyai Sumbre, sebab bagaikan berdekatan dengan bara api. Begitu juga Kyai Sumbre, merasakan hal serupa.

Dua orang murid yang pingsan sedari tadi (karena merasakan hawa yang panas luar biasa), mendadak sekarang kedinginan (begitu mereka telah siuman). Mereka tidak kuat terkena perbawa Kyai Sumbre.

Sunan Bonang berkata kepada Kyai Sumbre: “Buta Locaya, apa maksudmu menghadang perjalananku dan menyamar sebagai manusia dan bernama Kyai Sumbre, bagaimanakah kabarmu?”

Terkejut Buta Locaya manakala Sunan Bonang mengenali siapa dirinya yang sesungguhnya, terlanjur basah sudah ketahuan, maka lantas bertanya kepada Sunan Benang: “Bagaimanakah anda bisa tahu kalau saya ini adalah Buta Locaya?”

Sunan Bonang menjawab: “Aku tidak akan tertipu, aku tahu kamu adalah Raja makhluk halus diwilayah Kediri ini, namamu Buta Locaya.”

Kyai Sumbre bertanya kepada Sunan Bonang: “Anda ini orang apa, memakai busana kedodoran tidak praktis, bukan busana orang Jawa. Mirip bentuk walang kadung (Belalang yang kakinya panjang-panjang tidak simetris dengan tubuhnya)?”

Sunan Bonang menjawab, “Aku berbangsa Arab, namaku Sayyid Kramat, kediamanku di Benang wilayah Tuban. Sesungguhnya yang menjadi keinginanku bertandang ke Kediri ini, hanya sekedar ingin melihat petilasan (bekas) keraton (istana) Sang Prabu Jayabaya, dimanakah letaknya?”

Buta Locaya lantas menjawab: “Disebelah Timur dari sini terdapat dusun Menang, semua petilasan (bekas) telah sirna, istana beserta pesanggrahan juga sudah tidak ada lagi. Taman Bagendhawati milik Ni Mas Ratu Pagedhongan juga sudah musnah, pesanggrahan Wanacatur juga sudah sirna, hanya tinggal dikenang dalam nama-nama dusun disana. Musnahnya semua petilasan tadi dikarenakan tertimbun pasir yang dimuntahkan oleh gunung Kelud. Sekarang saya hendak bertanya, anda melakukan perbuatan yang menyengsarakan kepada anak cucu Adam (Buta Locaya sengaja menggunakan nama seorang Nabi yang diyakini sebagai nenek moyang manusia oleh orang Islam seperti halnya Sunan Bonang yang kini berada dihadapannya), dengan mengeluarkan kutuk yang tidak sepatutnya. Mengutuk agar terjadi perawan tua dan perjaka tua, menamai seenaknya sendiri tempat yang baru anda masuki dengan nama Gedhah, memindahkan aliran sungai, mengutuk agar sulit air, itu semua adalah perbuatan yang bisa disebut menganiaya sesama dan tidak pantas sama sekali. Menimpakan hukuman kepada mereka yang tanpa dosa. Betapa susahnya menjalani sebuah pernikahan jika usia sudah sangat tua, mempersulit mereka untuk meneruskan keturunan makhluk Latawalhujwa (Lattawalhujwa ~ Latta dan Hujwa, adalah nama malaikat yang dipercaya sebagai putra wanita Allah dijaman sebelum Islam lahir di Mekkah. Keberadaan Lattawalhujwa sangat ditentang oleh pengikut Islam dikemudian hari setelah Islam mulai berkembang di Mekkah, karena Latta dan Hujwa dianggap setara dengan Allah itu sendiri. Buta Locaya sengaja menggunakan nama Lattawalhujja untuk menunjukkan bahwasanya lebih baik menjadi makhluk ciptaan Latta wal hujwa, sosok pencipta yang feminim, dimana sifat feminim yang lembut pastinya akan dominan tergambarkan disetiap makhluk ciptaannya. Daripada diciptakan oleh sosok pencipta yang keras dan penuh intimidasi. Itupun, jika memang manusia diciptakan oleh sosok pribadi super. Karena sesungguhnya tidak ada yang menciptakan manusia. Manusia adalah percikan, bukan ciptaan. Manusia adalah Ilahi yang mewujud). Seluruh kesengsaraan yang tercipta ini semua akibat ulah anda. Betapa susahnya mereka yang tempat tinggalnya terbenam akibat sungai yang berhulu dari Kediri beralih alirannya sehingga menerjang pedusunan, hutan, pesawahan sehingga semuanya menjadi rusak. Ditempat ini telah anda kutuk selamanya sulit air, sungai akan kering, anda telah menganiaya tanpa alasan, menganiaya kepada mereka yang tak mempunyai dosa!”

Sunan Bonang menjawab: “Alasanku memberikan nama baru Gedhah ditempat ini, sebab kebanyakan agama yang dipeluk oleh masyarakat disini tidaklah hitam juga tidak putih, tepatnya beragama biru, itulah agama Kalang. Alasanku mengutuk agar susah mendapatkan air ditempat ini, sebab saat aku meminta air, tidak diberikan. Makanya sungai aku pindah alirannya. Sedangkan alasanku mengutuk agar ditempat ini semua perawan dan perjaka akan menikah jika sudah tua usianya, sebab yang aku mintai air dan tidak mau memberikan adalah seorang perawan.”

Buta Locaya berkata, “Itu namanya tidaklah seimbang dengan kutukan yang anda timpakan, tidak begitu besar kesalahan yang dibuat mereka, bahkan hanya sebab kesalahan seorang gadis, akan tetapi yang menerima kesusahan seluruh penghuni disini. Sungguh tidak adil hukuman tersebut. Anda ini bisa disebut telah membuat kemelaratan banyak orang, jikalau dilaporkan kepada yang berwenang memegang pemerintahan, sudah sepantasnya anda ganti dijatuhi hukuman dibuat lebih melarat (dari kemelaratan mereka yang baru saja kehilangan harta benda akibat terlanda aliran air dan kemelaratan para petani akibat kelak kekurangan air karena ditempat itu sulit mencari air). Nah, sekarang lebih baik tariklah kutukan anda, agar supaya ditempat ini gampang memperoleh air, sehingga bisa menghasilkan rejeki berlimpah bagi penduduk, dan agar semua perawan berikut perjaka bisa menikah disaat muda sehingga bisa memperbanyak keturunan makhluk Hyang Manon (Tuhan). Anda bukan seorang penguasa yang mempunyai hak atas wilayah ini sebagaimana seorang Raja, akan tetapi menghakimi agama-agama yang hidup ditanah ini, itu namanya anda manusia sirik!”

Sunan Bonang menjawab: “Walau hendak kamu laporkan kepada Raja Majalengka (penguasa sah wilayah ini) aku tidak takut!”

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: