SERAT DARMAGANDHUL I

Cerita berdirinya Negara Islam di Demak, hancurnya Negara Majapahit, dimana saat itulah awal mula masyarakat Jawa meninggalkan agama Buddha [Siwa Buddha] dan berganti memeluk agama Islam. Prosa dalam bahasa Jawa kasar. Diambil dari catatan induk asli peninggalan K.R.T. Tandhanagara, Surakarta.

Diterjemahkan dan diulas kedalam bahasa Indonesia oleh Damar Shasangka.

Tergerak dan terdorong hati ini, setelah mengetahui cerita indah, dari Kyai Kalamwadi (Kalam = Ucapan, Wadi = Rahasia), yang dulu pernah berguru menimba ilmu kepada Raden Budi (Buddhi = Kesadaran), mentaati dan menuruti, apa yang selalu diperintahkan oleh guru, setia menjalankan petunjuk, tekadnya sudah tiada lagi keraguan lahir maupun batin, memuja guru bagaikan Dewa itu sendiri.

Apapun petunjuk Raden Budi (Buddhi = Kesadaran) sangat jernih, dijunjung dan diresapi didalam hati, benar-benar dihargai lahir maupun batin, tiada peduli walau harus hancur luluh, itulah tekad (Kyai Kalamwadi) mulai pertama (berguru) hingga akhir nanti, diterima oleh Batara (Hyang Widhi), segala keinginannya-pun terwujud, sangat besar anugerah Hyang Suksma (Yang Maha Gaib), selalu diberi petunjuk melalui Alam Sahir (Alam = Dunia, Sahir; Sugrho = Kecil, Alam Kecil, Micro Cosmos, Jagad Cilik, Bhuwana Alit maksudnya Badan Manusia) maupun Alam Kabir (Alam = Dunia, Kabir; Kubro = Besar, Alam Besar, Macro Cosmos, Jagad Gedhe, Bhuwana Agung maksudnya Alam Semesta), sehingga akhirnya menjadi Auliya (Manusia Pilihan).

Mampu membaca segala rahasia Hyang Widhi, dan selalu bisa mematuhi dengan teguh, segala pesan gurunya, yang memerintahkan agar mengajarkan sebuah pengetahuan, agar membuat tenteram hati sesama, dan juga membuka rahasia agar seluruh ahli sastra, bisa meniru dan menyebarkannya, Kyai Kalamwadi (Kalam = Ucapan, Wadi = Rahasia) menulis, diberikan judul SERAT DARMAGANDHUL (Darma = Kebenaran, Gandhul = Menggantung, Mengambang, Darmagandhul artinya KEBENARAN YANG MENGAMBANG), dirangkai dalam syair-syair tembang Macapat (Tembang Kecil)

Saat membaca tulisan beliau, cakupan tembangnya sangat bagus dan gampang dimengerti, jelas dan terang maksudnya, membuat hati terpana, sehingga ingin memiliki (tulisan tersebut) dan ingin menyimpannya, ingin menulisnya ulang untuk diri sendiri, semua isinya, setelah selesai membaca, segera ditulis ulang, berguna untuk menghibur hati.

Saat berdiam diri dirumah, disela-sela waktu bekerja, tembang ini bisa dinyanyikan, sebagai petunjuk bagi orang bodoh (seperti saya, maksudnya Darmagandhul), dan bisa dibuat untuk menentramkan hati, saat beristirahat, saat menganggur tiada pekerjaan, tembang ini bisa dibuat memupuk rasa kasih kepada Hyang Widhi, tidak banyak menyita waktu untuk menyanyikannya sehingga tak kelaparan anak istri, sekeluarga tetap sejahtera.

Pada akhirnya pasrah kepada takdir, berserah mengikuti kehendak Hyang (Widhi), telah tercatat di Lokhilmakpul (Laukhil Makfudz = Kitab yang konon berisi catatan-catatan takdir manusia), saat menulis ulang tepat, tanggal Duapuluh tiga hari Tumpak Manis (Sabtu Legi), bulan RUWAH (Sya’ban) tahun JE (tahun ke-empat dalam satu windu yang terdiri atas delapan tahun, yaitu Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir), windu Sancaya (nama kumpulan windu pada urutan keempat atau terakhir, yaitu ADI, KUNTARA, SENGARA, SANCAYA), masa ke-VI (Masa adalah perhitungan mirip bulan dan dipergunakan untuk pertanian), wuku Wukir (Wuku adalah hari 30-an, dimana satu hari terdiri dari 7 hari biasa atau satu hari sama dengan satu minggu, Wukir adalah nama hari wuku ke-3), pertanda tahun Wuk Guna Ngesthi Nata (Wuk = 0, Guna = 3, Ngesthi = 8, Nata = 1. Jika dibalik 1830).

Terjemahan asli dalam Bahasa Indonesia:

Pada suatu hari Darmagandhul bertanya kepada Kalamwadi, begini pertanyaannya, “Apa awal mula penyebab orang Jawa meninggalkan agama Buddha (Siwa Buddha~bukan hanya Buddha) dan berganti memeluk agama Islam?”

Ki Kalamwadi menjawab, “Aku sendiri juga kurang tahu, akan tetapi aku pernah mendapatkan cerita dari guruku, dan guruku adalah orang yang bisa dipercaya, beliau menceritakan awal mula orang Jawa meninggalkan agama Buddha (Siwa Buddha) dan berganti memeluk agama Rasul (Islam).

Bertanya lagi Darmagandhul, “Bagaimanakah ceritanya?”

Ki Kalamwadi lantas berkata, “Hal ini sesungguhnya memang perlu diceritakan agar mereka yang belum mengetahui lantas bisa mengetahuinya.”

Pada jaman dahulu Negara Majapahit sesungguhnya bernama asli Majalengka, sedangkan nama Majapahit itu hanyalah sekedar perlambang, akan tetapi yang belum tahu kisahnya maka nama Majapahit-lah dianggap nama asli.

Di Negara Majalengka yang bertahta sebagai Raja terakhir bergelar Prabu Brawijaya. Kala itu, Sang Prabu tengah tergila-gila, Sang Prabu menikah dengan Putri Champa (Champa), padahal Putri Champa beragama Islam. Disetiap memadu asmara, Sang Retna (Retna = Intan, maksudnya Putri Champa) senantiasa menceritakan kepada Sang Raja, tentang keluhuran agama Islam, setiap dipanggil menghadap, tiada lain lagi yang diceritakan, selain memuliakan agama Islam, sehingga membuat ketertarikan hati Sang Prabu kepada agama Islam.

Tidak berapa lama kemudian, seorang keponakan Putri Champa yang bernama Sayyid Rahkmat (Sayyid Rakhmad) berkunjung ke Majalengka, serta memohon izin kepada Sang Raja, agar diperkenankan menyebarkan syariat agama Rasul (Islam). Sang Prabu mengabulkan apa yang diminta oleh Sayyid Rakhmat. Sayyid Rakhmat lantas berdiam di Ngampeldenta (daerah Surabaya) dan menyiarkan agama Rasul (Islam). Mulai saat itu banyak para Ulama dari seberang berdatangan, para Ulama dan para Maulana menghadap Sang Prabu di Majalengka, untuk meminta izin berdiam dipesisir (Utara Jawa). Permintaan merekapun dikabulkan oleh Sang Raja. Lama kelamaan apa yang diingini oleh para pendatang mendapat sambutan juga, masyarakat Jawa lantas banyak yang memeluk agama Islam.

Salah satunya adalah Sayyid Kramat (Sayyid Karomah) menjadi guru dari orang Jawa yang telah memeluk agama Islam, berkedudukan di daerah Benang wilayah Tuban. Sayyid Kramat adalah Maulana dari tanah Arab masih keturunan Nabi Rasulullah (Nabi Muhammad), oleh karenanya dipercayai sebagai seorang guru oleh orang Islam. Banyak orang Jawa yang terpikat dan berguru kepada Sayyid Kramat. Seluruh masyarakat Jawa dipesisir Utara, mulai ke Barat sampai ke Timur semua meninggalkan agama Buddha (Siwa Buddha), dan lantas memeluk agama Rasul (Islam). Bahkan mulai daerah Blambangan ke Barat hingga daerah Banten, banyak yang pada tertarik ucapan-ucapan Sayyid Kramat.

Padahal agama Buddha (Siwa Buddha) telah ada ditanah Jawa selama kurang lebih seribu tahun, semua pengikutnya menyembah kepada Budi Hawa. Budi (Buddhi = Kesadaran ~ disini yang dimaksud adalah Kesadaran Sejati) adalah Dzat Hyang Widhi, Hawa adalah kehendak hati (maksudnya tanpa paksaan. Menyembah Buddhi Hawa artinya menyembah Kesadaran Sejati tanpa ada paksaan dari siapapun dan apapun), manusia tidak memiliki kekuatan apapun, manusia hanya sekedar menjalani, Buddhi (Kesadaran Sejati ~ Tuhan)-lah yang menggerakkannya.

Sang Prabu Brawijaya memiliki putra lelaki hasil perkawinannya dengan seorang putri berkebangsaan Cina, lahir di Palembang, bernama Raden Patah.

Ketika Raden Patah telah beranjak dewasa, berniat menghadap kepada ramandanya, ikut serta saudara lain ayah satu ibu, bernama Raden Kusen. Setibanya di Majalengka Sang Prabu sempat kebingungan untuk memberikan nama kepada putranya tersebut. Sebab jika mengambil nama dari ramandanya maka harus bernama Jawa Buddha karena ramandanya beragama Jawa Buddha. Jika mengambil nama menurut para leluhur dahulu, seorang putra Raja yang lahir di wilayah pegunungan harus diberinama Bambang. Jika mengambil nama dari ibunya maka lebih cocok diberinama Kao Tiang, jika mengambil nama dari Arab sesuai dengan agama yang dianut Raden Patah maka pantas diberi nama Sayyid atau Sarib. Sang Prabu lantas memerintahkan Patih dan para Nayaka (pejabat) untuk menghadap, semua diminta pertimbangan untuk memberikan nama kepada putranya ini. Sang Patih mengatakan bahwasanya jika menurut leluhur maka pantas diberikan nama Bambang, akan tetapi karena ibunya berasal dari Cina maka lebih baik diberinama Babah, selain pantas juga menyiratkan maksud bahwa Raden Patah ‘pambabare ana Negara liya (lahirnya di daerah luar Jawa)’. Mendengar penuturan Sang Patih yang seperti itu, semua pejabat menyepakati. Dan pada akhirnya Sang Raja kemudian mengumumkan bahwasanya putra beliau yang lahir di Palembang tersebut diberikan gelar dan nama Babah Patah. Hingga sekarang, untuk menyebut anak campuran Cina Jawa lumrah dinamakan Babah. Pada waktu itu, Babah Patah merasa takut jika tidak menyetujui kehendak ramandanya memberikan nama Babah padanya, sehingga seolah-olah dia juga menyukai nama itu, padahal tidak demikian, sesungguhnya dia tidak menyukai nama Babah tersebut.

Dikala itu Babah Patah lantas diangkat sebagai Bupati didaerah Demak, membawahi seluruh Bupati mulai pesisir Demak ke Barat, serta pula Babah Patah dinikahkan dengan putri dari Ngampelgadhing, cucu dari Kyai Ageng Ngampel (Sayyid Rahkmat atau Sunan Ngampel/Ampel ~ keponakan Putri Champa). Setelah sekian waktu berdiam di Majalengka lantas boyongan ke Demak, berada di desa Bintara. Karena Babah Patah semenjak di Palembang telah beragama Islam, oleh Sang Prabu diperkenankan tetap menjalankan agamanya di Demak. Sedangkan Raden Kusen waktu itu diangkat sebagai Adipati Terung (daerah Tarik, Mojokerto sekarang), diberikan gelar Raden Arya Pecattandha.

Lama kelamaan syariat Rasul (agama Islam) semakin berkembang pesat, semua Ulama meminta perkenanan Sang Prabu untuk memakai gelar Sunan. Sunan itu artinya budi (Buddhi = Kesadaran), akar kecerdasan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, jika buah budi (Buah Kesadaran) mampu menyadari kepada segala kebaikan, maka manusia seperti itu patut dijadikan tempat ‘sinuwunan (dimintai)’ pengetahuan lahir batinnya. (Maksudnya patut dijadikan guru).

Pada saat itu para Ulama budi (kesadaran)-nya masih bagus, belum memiliki keinginan untuk berbuat tidak baik, masih berfokus pada spiritualitas murni. Sang Prabu Brawijaya melihat dan heran, para Ulama Islam kok olah batinnya mirip dengan pengikut agama Buddha (Siwa Buddha), akan tetapi minta disebut Sunan. Spiritualitas yang dijalankan sama dengan pengikut agama Buddha. Padahal menurut kabar, penganut syariat Rasul (Islam) hanya menjalankan puasa tidak sedemikian kerasnya, karena merusak/melanggar syariat (Maksudnya, konon kabar yang diterima Sang Prabu tentang aturan spiritualitas orang-orang Islam sesuai syariat, tidaklah seketat yang beliau lihat yang dijalankan para Sunan tersebut. Sang Prabu tidak tahu bahwa para Sunan tersebut menjalankan laku Tassawuf, laku spiritualitas yang memang kadang sedikit berseberangan dengan syariat Islam itu sendiri dibeberapa hal). Prabu Brawijaya-pun mengijinkan permintaan para Ulama. Agama Rasul semakin menyebar luas. Semua kejadian diatas memang sangat aneh (maksudnya begitu mudahnya Sang Prabu memberikan izin), kita tidak menyaksikan sendiri, semua ini berasal dari ingatan para leluhur, manakala kita mendapat cerita ini, sudah sepatutnya otak kita kritis, mau mempercayainya atau tidak, harus benar-benar dipertimbangkan secara matang, sampai sekarang masih nampak peninggalan-peninggalan sejarah yang berkaitan dengan cerita diatas, masih bisa dinyatakan keberadaannya, oleh karena itu menurutku kejadian diatas bisa dipercaya.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: