SYEKH PRO-ISRAEL ANTI-TEROR

Oleh Jamie Glazov

Tamu wawancara FrontPageMagazine hari ini adalah Syekh Profesor Abdul Hadi Palazzi, sekretaris umum Majelis Muslim Italia dan pengritik keras militan Islam.

FrontPageMagazine
Halo Syekh Palazzi, selamat datang di wawancara FrontPageMagazine. Suatu kehormatan bagi kami untuk berbicara denganmu.

Syekh Palazzi
Aku yang merasa terhormat.

FrontPageMagazine
Saat ini jarang ditemukan pemimpin-pemimpin Muslim yang terkemukan yang terang-terangan mencela pembom bunuh diri, apalagi bom bunuh diri terhadap orang-orang Israel. Tapi engkau sangat keras mendukung berdirinya hak-hak orang Israel. Mohon beritahu kami mengapa anda sebagai seorang Muslim berpendapat begitu dan mengapa karena ini anda menerima begitu banyak kritik dari beberapa bagian masyarakat Muslim.

Syekh Palazzi
Sebagai ilmuwan Hukum Islam, aku percaya bahwa Islam mengijinkan peperangan dalam keadaan tertentu (misalnya, hukum ini mengijinkan prajurit-prajurit untuk berperang melawan prajurit-prajurit musuh jika memang diperintahkan begitu oleh Negara), tapi sangat menentang melakukan tindakan serangan militer oleh perorangan, kelompok atau golongan (ini berarti fitnah), dengan tegas melarang penyerangan terhadap penduduk sipil dan dengan tegas melarang tindakan bunuh diri. Dengan begitu, sebagai seorang ilmuwan Muslim, secara prinsip aku harus mengutuk pemboman bunuh diri, tidak peduli siapa korbannya. Aku diwajibkan untuk mengatakan bahwa pembom bunuh diri sama sekali bukanlah martir Islam, tapi hanyalah seorang kriminal yang mati sewaktu melakukan tindakan yang dipandang Islam sebagai tindakan kriminal besar.

Tentang Israel, maafkan aku tapi aku mohon anda menahan diri untuk mengatakan “hak hidup” Israel. Menyokong “hak hidup” Israel itu sama tidak dapat diterimanya dengan menentang hak itu sendiri, karena bahkan mempertanyakan apakah Bangsa Israel (Yahudi) – perorangan, kelompok atau Negara – punya “hak untuk hidup” saja sudah tidak dapat diterima. Israel ada karena Perintah Tuhan dan ini ditegaskan di Alkitab dan Qur’an.

Aku temukan di Qur’an bahwa Tuhan menganugerahkan Tanah Israel pada Bangsa Israel dan memerintahkan mereka untuk berdiam di sana (QS 5 Al-Ma’idah 21) dan sebelum Hari Akhir Dia (Tuhan) akan mengumpulkan Bani Israel dari berbagai Negara dan bangsa (QS 17 Al-‘Isra’ 104). Karena itu pula, sebagai Muslim yang taat akan Qur’an, aku percaya bahwa menentang berdirinya Negara Israel adalah menentang Perintah Tuhan.

Setiap kali bangsa-bangsa Arab berperang melawan Israel, mereka menderita kekalahan yang memalukan. Menentang perintah Tuhan dengan berperang melawan Israel berarti bangsa-bangsa Arab itu sama dengan berperang melawan Tuhan sendiri. Bangsa-bangsa Arab itu tidak mengindahkan Qur’an, dan Tuhan menghukum mereka. Mereka tidak belajar apa-apa dari pengalaman kekalahan yang satu ke kekalahan yang lain. Sekarang mereka mau menggunakan teror untuk mencapai apa yang tidak mereka dapatkan melalui perang: Hancurnya Negara Israel. Hasilnya sudah bisa ditebak: Sama seperti dulu kalah waktu lalu, sekarangpun bangsa Arab kalah lagi.

Tahun 1919, Faisal bin Hussein (Keluarga kerajaan Yordania (Hashemite) yang adalah ketua keluarga Nabi Muhammad) mencapai Persetujuan dengan Chaim Weizmann untuk mendirikan Negara Yahudi dan Kerajaan Arab dengan sungai Yordania sebagai perbatasan diantara keduanya. Faisal I menulis, “Kami merasa bangsa Arab dan Yahudi adalah saudara sepupu dalam ras dan keduanya telah menderita tekanan yang serupa dari kekuatan-kekuatan yang lebih kuat, dan secara kebetulan mampu untuk mengambil langkah-langkah awal terbentuknya Negara mereka sendiri. Bangsa Arab, terutama yang berpendidikan, memandang gerakan Zionis dengan penuh simpati.”

Di masa Faisal I, tidak ada yang menganggap pembentukan Negara Israel dan menerima paham Zionis sebagai hal yang menentang Islam. Bahkan para pemimpin Arab yang menentang Persetujuan Faisal-Weizmann tidak pernah menggunakan alasan-alasan Islami untuk mengutuknya. Sayangnya, persetujuan ini tidak pernah dilaksanakan karena Inggris menentang berdirinya Kerajaan Arab dan memilih untuk memberikan kemerdekaan Arab kepada perampok-perampok Abdul Aziz bin Saud, yakni kakek moyang Kerajaan Saud.

Sewaktu keluarga Saudi mulai menguasai Kerajaan kaya minyak, mereka juga mulai menggunakan sebagian dari kekayaan mereka untuk menyebarkan paham Wahhabisme ke seluruh dunia. Wahhabisme adalah aliran kepercayaan totaliter yang dibentuk untuk melakukan teror, pembantaian penduduk sipil dan perang terus menerus melawan orang-orang Yahudi, Kristen dan Muslim non-Wahhabi. Pengaruh Wahhabisme di dunia Arab modern ini begitu kuat sehingga banyak Muslim Arab yang salah mengira bahwa untuk jadi Muslim yang baik, mereka harus membenci Israel dan mengharapkan kehancurannya.

Di berbagai Negara di mana Wahhabisme tidak berkembang, gagasan untuk membenci Israel ini tidak diyakini. Kebanyakan para Muslim di Turki, India, Indonesia (dulu) atau Uni Soviet tidak percaya sama sekali bahwa seorang Muslim yang baik haruslah anti-Israel. Untuk memberikan contoh-contoh yang relevan, ilmuwan utama Muslim dan bekas Presiden Indonesia, Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur), berteman baik dengan pihak Israel dan juga mengunjungi para pemimpin organisasi Yahudi di Amerika Serikat. Mufti Sierra Leone, Syekh Ahmed Sillah, juga berteman dengan Israel, begitu pula Mufti Rusia Eropa, Syekh Salman Farid.

Sebuah perkumpulan yang bernama “Muslim bagi Israel” baru-baru ini dibentuk di Kanada. Mengutarakan pandangan yang pro-Israel tentunya mengakibatkan banyak reaksi negatif dari kelompok-kelompok Wahhabi dan para Muslim yang terpengaruh oleh paham Wahhabi. Akan tetapi, kala orang-orang itu menyerangku lewat kata-kata dan menyebarkan berita-berita bualan mereka yang sangat ngawur tentang aku, di lain pihak aku juga menerima dukungan semangat dan bantuan dari para Muslim pro-Israel yang hidup di berbagai penjuru dunia.

Ketika mengunjungi Israel, aku disambut baik oleh wakil ketua desa Arab di daerah Yerusalem. Mereka memberitahuku betapa senangnya mereka hidup di Israel, dan bagaimana takutnya mereka untuk dipindahkan ke daerah kekuasaan PLO. Banyak penduduk Arab di Gush Katif saat ini yang berperasaan sama. Mereka berkata, “Orang-orang Israel memberi kami pekerjaan dan kesempatan untuk hidup dengan damai. Masa depan apa yang menanti kami di bawah pemerintahan PLO?” Aku yakin jika mereka bisa bebas untuk bicara dan dapat melihat kenyataan melampaui sekedar propaganda, akan banyak Muslim Arab yang mendukung posisiku.

Irshad Manji, seorang wartawan Muslim pro-Israel di Kanada, mengatakan bahwa beberapa Muslim mendukungnya terang-terangan, tapi lebih banyak Muslim yang mengatakan padanya, “Kami berada di pihakmu, tapi kami takut untuk mengatakannya.” Hal yang sama juga terjadi pada diriku di Italia atau ketika aku mengunjungi Israel. Seperti yang kita ketahui, sikap anti-Israel telah jadi sikap “politis yang benar” bagi orang-orang Arab. Orang-orang takut untuk menentang sikap “politis yang benar” bahwa jika mereka hidup dalam sistem demokrasi. Apa yang bisa diharapkan dari mereka yang hidup di bawah rezim totaliter dan tidak punya kesempatan untuk mendapat berita bebas dari berbagai media dan hanya boleh membaca propaganda Pemerintah saja? Dunia seharusnya memberi kesempatan bagi para Muslim pro-Israel. Kita berhutang budi pada Anwar Sadat yang mati sebagai martir dibunuh oleh beberapa Wahhabi teroris yang saat ini menyebar teror di mana-mana.

Di tahun 1996, organisasi “The Islam-Israel Fellowship of the Root and Branch Association, Ltd.” dibentuk oleh aku dan Dr. Asher Eder untuk mendukung kerja sama antara Negara Israel dan Muslim, dan antara orang Yahudi dan Muslim di Israel dan luar negeri, untuk membangun dunia yang lebih baik melalui pengertian yang benar akan Tanakh dan Budaya Yahudi, dan pengertian Muslim yang benar akan Qur’an dan Budaya Islam. Aku menganjurkan para pembaca FrontPage membaca “Peace is Possible between Ishmael and Israel according to the Qur’an and the Tanach” oleh Dr. Asher Eder, dengan kata pengantar dariku, dan ini bisa dibaca disini.

FrontPageMagazine
Terima kasih Syekh Palazzi. Tolong beritahu kami, jika kau percaya ada kehidupan setelah mati, ke mana ya perginya jiwa-jiwa para pembom bunuh diri?

Syekh Palazzi
Setiap orang yang mati sewaktu melakukan dosa-dosa besar seperti bunuh diri dan membunuh akan masuk Neraka, kecuali kalau orang itu bertobat sebelum mati. Bagi dia yang mati tanpa minta ampun – padahal dia punya keyakinan doktrin yang benar dan percaya bahwa perbuatannya adalah dosa – dia akan tinggal di Neraka sampai dosanya diampuni atau mungkin bahkan dikurangi hukumannya melalui perantara para Nabi dan orang-orang suci. Akan tetapi, mereka yang mati tanpa bertobat akan dosanya yang besar dan bahkan tidak percaya bahwa itu dosa besar, akan ditolak masuk Surga dan tinggal di Neraka selama Tuhan menghendaki. Akan tetapi, pengampunan Tuhan begitu besar sampai melampaui kemarahanNya, sehingga pada akhirnya Neraka menjadi tempat yang melegakan.

Dalam Islam, baik pembunuhan maupun bunuh diri adalah dosa besar yang tidak boleh diragukan atau diabaikan oleh seorang Muslim pun. Setiap Muslim harus tahu bahwa melakukan bunuh diri dan membunuh itu dilarang dalam Islam, sama persis seperti setiap Muslim takut bahwa sehari harus sembahyang lima kali, bahwa bulan puasa adalah Ramadan, dan untuk naik haji harus ke Mekkah dan sebagainya.

Dengan begitu, orang yang mati jadi bom bunuh diri dan percaya bahwa perbuatannya ini sesuai Islam, sebenarnya mati tanpa punya doktrin iman yang benar dan tanpa kesempatan bertobat, sehingga dia akan tinggal di Neraka untuk selamanya dan tidak akan pernah bisa masuk Surga. Menyangkal bahwa bunuh diri dan pembunuhan adalah dosa besar dalam Islam menunjukkan ketidaktahuan doktrin iman yang benar menurut syariat.

FrontPageMagazine
Mohon ceritakan pada kami pengalamanmu di “University of California, Santa Barbara” tanggal 4 Maret 2004, sewaktu anda berkunjung ke kampus dan mengutuk terorisme. Banyak para pelajar Muslim dari “UC Santa Barbara Muslim Student Association” berteriak-teriak supaya kamu berhenti bicara. Apa yang terjadi dan apa yang kaulakukan terhadap kejadian itu?

Syekh Palazzi
Kenyataannya, mereka yang menentangku mengunjungi UCSB adalah sekumpulan kecil pelajar, yang berhubungan dengan Muslim Student Association (MSA adalah cabang perkumpulan pelajar Wahhabi Muslim Brotherhood). Aku undang mereka untuk berdebat, untuk menerangkan alasan-alasan mengapa mereka menentang kunjunganku dan/atau isi ceramahku.

Akan tetapi, mereka sama sekali tidak tertarik untuk berdebat dan berdiskusi. Mereka hanya meneriakkan slogan-slogan dan lalu pergi. Para pelajar Muslim lainnya, yang tidak berhubungan dengan MSA, sebaliknya malah menghargai kunjunganku, dan bersama-sama dengan para pelajar non-Muslim lainnya meneruskan bertanya padaku secara pribadi bahkan setelah debat umum selesai. Kecuali kelompok kecil yang bermusuhan itu, baik para pelajar Muslim dan non-Muslim UCSB ramah dan tertarik pada masalah-masalah diskusi.

FrontPageMagazine
Dapatkah anda menerangkan pada kami sisi manusiawi dan toleran dalam Islam?

Syekh Palazzi
Berbeda dengan Wahhabisme, yang merupakan agama teror, ancaman dan kekerasan, Islam Sunni adalah agama yang damai dan penuh toleransi. Seorang Muslim wajib jadi warga Negara yang setia di Negara tempat dia tinggal, dalam pengertian Negara itu tidak melarangnya beribadah dan tidak memaksanya pindah agama. Jika pemerintah Negara ini berbentuk tirani, melakukan korupsi, menekan dan sebagainya, seorang Muslim dapat melawan melalui jalur hukum dan tidak melalui kekerasan. Jika dia merasa tekanan pemerintah itu tidak tertahankan, dia harus pergi ke tempat lain. Ini berlaku baik saat Muslim adalah masyarakat mayoritas ataupun minoritas, atau jika pemimpin Negara itu adalah Muslim ataupun bukan Muslim.

Islam Sunni mengakui beberapa bentuk usaha untuk mendukung Islam (jihad), dan mengakui bentuk jihad militer. Dalam pengertian Sunni, jihad militer hanya dapat dibentuk oleh Negara Islam. Orang-orang Muslim tidak boleh menyelenggarakan persengketaan bersenjata atas keinginan sendiri, tapi hanya boleh setelah kepala Negara Islam secara formal mengumumkan perang terhadap Negara lain yang menindas Muslim atau menghalangi kebebasan beragama mereka. Sumber-sumber Islam meramalkan bahwa Negara Islam (Khalifah) akan habis, dan para Muslim dan non-Muslim selama beberapa saat akan berada di bahwa pemerintahan berbagai Negara sekular saja.

Menurut kepercayaan Sunni, Khalifah akan dibentuk kembali saat Hari Akhir oleh Imam Mahdi, dan bukan oleh para politikus atau penguasa-penguasa militer. Selama Imam Mahdi belum datang, Khalifah tidak mungkin terbentuk kembali, dan tanpa Khalifah, tidak mungkin ada jihad militer. Jihad yang sah saat ini adalah jihad non-militer, yakni bersaing dengan non-Muslim untuk melakukan perbuatan baik seperti menciptakan dunia yang lebih baik dan mendirikan perdamaian yang langgeng.

Kaum Wahhabi hanyalah mengambil kata-kata dalam Hukum Islam dan menggunakannya untuk melawan Hukum Islam itu sendiri. Dalam Hukum Islam, terorisme itu adalah dosa, dan bunuh diri juga dosa. Kaum Wahhabi menggunakan kata “jihad” untuk tindakan bunuh diri dan “martir” bagi mereka yang mati saat melakukan bunuh diri. Karena masalah pembunuhan dan bunuh diri ini, pertentangan antara Islam Sunni dan Wahhabisme sifatnya mendasar dan tidak dapat didamaikan.

FrontPageMagazine
Ceritakan pada kami sedikit mengenai latar belakangmu dan perjalanan intelektual dan spiritualmu. Siapakah guru atau orang yang berpengaruh bagimu? Apakah filosofi dan pandanganmu selalu sama atau berbeda dengan berlalunya waktu? Ceritakan pada kami hal-hal yang mengubah cara pandangmu atau telah membuatmu ragu dalam tahun-tahun beriktunya.

Syekh Palazzi
Aku lahir di Roma dari keluarga Muslim yang tidak terlalu taat dan tidak begitu tertarik akan agama. Saat itu di Italia tidak ada organisasi Muslim atau pun fasilitas agama. Pendidikan agama yang kuterima hanyalah beberapa huruf-huruf Arab dan pengetahuan umum akan hari-hari libur Islam. Meskipun begitu, sejak kecil aku sudah biasa tertarik akan hal spiritual dan metafisika. Ini sebabnya aku belajar filosofi di Sapienza University of Rome.

Pada saat itu, aku mulai ingin menemukan kembali akar Islamku. Setelah menyelesaikan pendidikan sekular, aku pindah ke Kairo dan belajar di Al-Azhar University. Di Kairo, aku punya kesempatan belajar dari guru-guru terbaik. Dulu Al-Azhar tidak seperti sekarang yang telah jadi sarang para fanatik dan ekstrimis Wahhabi dan neo-Salafy. Saat itu Al-Azhar masih jadi pusat pendidikan Islam tradisional.

Ketika masih hidup di Kairo, aku dapat kesempatan mempelajari Tasawuf, tradisi mistik Islam, di bawah guru utamaku Syekh Ismail al-Azhari dan Syekh Hussein al-Khalwati. Aku juga beruntung bisa belajar dari Mufti Mesir saat itu yakni almarhum Syekh Muhammad Mutawalli Ash-Sha’raawi, yakni orang yang meyakinkan Sadat untuk berdamai dengan Israel dan pergi bersamanya ke Yerusalem untuk sembahyang di Masjid Al-Aqsa.

Ketika aku kembali ke Roma, aku bertemu dengan para Muslim lain yang berpandangan sama denganku dan kami bersama-sama mendirikan organisasi yang hari ini disebut “Italian Muslim Assembly”. Ketika masih remaja, aku belajar beberapa ideologi dan filosofi, dan pengetahuan ini mempengaruhiku. Akan tetapi, setelah belajar di Kairo, aku menganggap masa dasar pembentukan intelektual dan spiritualku sudah lengkap. Filosofi spiritualku kurang lebih tetap sama sampai hari ini.

FrontPageMagazine
Apa pendapatmu tentang Paus Yohanes Paulus II? Apa pendapatmu tentang Paus yang baru?

Syekh Palazzi
Kupikir almarhum Paus Yohanes Paulus II punya sifat yang bertentangan. Dia membuat keputusan yang sangat maju (pertemuan antar agama, mengunjungi Masjid dan Sinagoga dan lainnya), tapi teologi pribadinya sangatlah konservatif dan kadang-kadang bahkan naif. Dia mengumumkan permintaan maaf akan tindakan kejahatan yang dilakukan Gereja terhadap kaum Yahudi, tapi setelah itu mengangkat orang-orang yang sangat kontroversial seperti penggantinya Pius IX (salah satu musuh besar demokrasi dalam sejarah umat manusia), dan bahkan Kardinal Aloysius Stepinac yang pro-Nazi Kroasia.

Paus Yohanes Paulus II tidak melakukan apapun untuk memberhentikan para Pastor dan para Uskup yang bekerja sama dengan pembunuh-pembunuh masal seperti Saddam Hussein atau Yasser Arafat, dan tidak mau untuk bertindak tegas terhadap para Uskup yang berusaha menutup-nutupi skandal para Pastor pedofilia. Dia merestui perang di Kosovo untuk membebaskan masyarakat yang ditindas Slobodan Milošević, tapi tidak berani mendukung perang untuk membebaskan Irak dari Saddam Hussein. Penolakannya untuk merestui tentara sekutu internasional berperang demi membebaskan Irak adalah sesuatu yang sukar dimaafkan bagiku sebagai seorang Muslim karena aku tidak dapat lupa organisasi-organisasi Katolik baris bersama dengan organisasi-organisasi komunis dan neo-Nazi untuk memprotes “Perang Bush” dan mendukung rezim Saddam Hussein.

Tentang hal-hal lain seperti kontrol kehamilan dan embriologi, sikap Paus Yohanes Paulus II sangat tidak jelas dan cenderung kolot. Dia membandingkan aborsi dengan pembantaian yang dilakukan Nazi dan Komunis. Dia mengadakan dialog antara Gereja dan agama-agama non-Katolik, tapi mengijinkan Kardinal Joseph Alois Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) untuk memberangus perdebatan dan perbedaan dalam Gereja Katolik itu sendiri.

Dari sudut pandang politik, Yohanes Paulus II mendukung interfensi Gereja secara langsung dan terus-menerus pada diberbagai Negara Eropa, terutama Italia. Banyak orang Italia, yang meskipun menganut agama Katolik Roma, merasa kecewa bahwa seorang Paus asing (dari Polandia) ikut campur dalam penerapan hukum mayoritas dan perlawanan kelompok minoritas di Negara kami, dan memandang ini sebagai pelanggaran terhadap kehormatan Negara kami.

Kesimpulannya, aku harus berkata bahwa wejangan Yohanes Paulus II bersifat gelap dan terang. Tindakan-tindakan yang baik diimbangi dengan banyak tindakan-tindakan yang buruk.

Tentang Benediktus XVI, kalau melihat dokumen-dokumen yang dia tandatangai ketika dia menjabat Presiden dari “The Congregation for the Doctrine of the Faith” (dulu dikenal sebagai “The Supreme Sacred Congregation of the Roman and Universal Inquisition”), dia tampaknya bahkan lebih konservatif dibanding Yohanes Paulus II, dan malah cenderung kurang toleransi terhadap perbedaan pandangan dalam Gereja Katolik. Dalam salah satu dokumen itu, yakni Pengumuman “Dominus Iesus”, Kardinal Ratzinger saat itu menjelaskan bahwa “dialog antar agama harus dimengerti sebagai bagian dari kegiatan misionaris Gereja Katolik.” Dokumen ini secara jelas mengatakan bahwa agama-agama non-Katolik “salah sekali” dilihat dari sudut pandang agama dan etika.

Semua ini sama sekali tidak menggembirakan. Kita sekarang punya Paus, yakni Benediktus XVI, yang menolak adanya perbedaan pendapat. Dia tidak melihat Gereja Katolik sebagai bagian masyarakat yang harus hidup bersama dengan bagian lain dengan dasar kesamaan hak dan martabat, tapi dia melihat Gereja Katolik sebagai seorang tuan yang harus mendidik masyarakat.

Menurut pandangan Benediktus XVI, agama-agama tidak mewakili perbedaan pandangan spiritual, yang masing-masing bisa menyumbangkan sebagian pengertian tentang misteri Tuhan. Benediktus XVI berpikir kebenaran akan Tuhan telah diketahui, dan Paus (yakni dirinya sendiri) adalah satu-satunya orang yang ditunjuk sebagai penyampai kebenaran itu. Orang-orang Katolik dan non-Katolik harus dididik akan hal ini oleh dia yang mewakili kebenaran di bumi. Dialog tidak dilihat sebagai hal untuk menjembatani perbedaan, tapi sebagai alat untuk mengarahkan agama-agama lain supaya berpandangan sama dengan Katolik. Kalau melihat kelakuan para Paus terdahulu seperti Yohanes XXIII dan Paulus VI, maka Paus BBenediktus XVI secara riskan mengambil resiko menghilangkan hasil “The Second Vatican Council” dan mengembalikan teologi Katolik seperti zaman anti reformasi.

Karena itu, Ratzinger adalah seorang Paus yang mengajarkan pengertian totaliter agama. Dan kebetulan pula dia adalah Paus pertama yang ikut dalam gerakan anak muda Jerman Nazi. Mungkin hal masa lalu ini tidak ada akibatnya dengan orang-orang Yahudi, tapi Benediktus baru-baru ini memilih untuk tidak mengikutsertakan Negara Israel dalam pernyataan solidaritas dengan Negara yang menderita serangan teroris. Waktu pemerintah Israel protes akan hal ini, jawaban dari Kantor Berita KePausan ternyata sombong, merendahkan dan tidak memandang penting, lalu menambah penghinaan pada kesalahan awal tidak menyertakan nama Israel. Ini suatu dosa yang jika diperhatikan ternyata dilakukan oleh seorang Paus Bavaria yang dulunya adalah anggota pemuda Jerman Nazi dan serdadu Wehrmacht Jerman Nazi.

FrontPageMagazine
Anda tentu saja benar dalam beberapa hal. Aku harus mengatakan bahwa Paus Yohanes Paulus II adalah orang yang sangat hebat yang melakukan pemimpinan spiritual yang sangat penting dan berarti di masa-masa yang tak menentu. Pekerjaannya bukanlah untuk memenangkan kontes popularitas. Kupikir dalam beberapa hal dia adalah orang yang sangat suci dan mendatangkan terang dalam dunia yang gelap. Dia tegas dalam beberapa masalah bilamana memang perlu bersikap tegas. Dan tentu saja dia juga berperan sangat penting bagi hancurnya kerajaan Setan (komunisme).

Ributnya media tentang Benediktus XVI ikut gerakan pemuda Jerman Nazi merupakan tuduhan yang jahat dan murahan. Paus Benediktus XVI tidak pernah jadi seorang Nazi dan semua orang juga tahu hal itu. Semua anak-anak muda Jerman saat itu dipaksa jadi anggota Pemuda Hitler – termasuk dia. Paus ini telah menunjukkan sikapnya yang jelas terhadap kejahatan Nazisme dan Antisemitisme.

Syekh Palazzi
Meskipun “semua anak-anak muda Jerman saat itu dipaksa jadi anggota Pemuda Hitler,” Ratzinger muda telah membantu tanpa paksa unit tempur Pemuda Hitler. Keadaan ini ditegaskan oleh Kantor Berita Vatikan. Tentu saja kita melihat dia sebagai pemuda yang hidup di saat indoktrinasi Nazi yang sistematis, tapi setidaknya selama waktu itu Joseph Alois Ratzinger adalah seorang yang yakin akan kebenaran Nazi dan memilih untuk masuk unit tentara memerangi tentara Sekutu. Aku tidak ragu bahwa imannya lalu menunjukkan kejahatan Nazisme dan Antisemitisme, tapi ini terjadi setelah Perang Dunia II, dan bukan sebelumnya.

FrontPageMagazine
Syekh Palazzi, bukti menunjukkan bahwa Paus secara suka rela membantu unit tempur Nazi adalah sama sekali tidak benar. Paus dapat menghindari orang-orang yang memaksa dia “secara sukarela” masuk unit tempur dengan mengumumkan keinginannya untuk jadi Pastor. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Kantor Berita Vatikan mengatakan yang sebaliknya. Ratzinger diberhentikan dari Pemuda Hitler karena kegiatan belajarnya akan hal-hal keagamaan dan dia meninggalkan tentara Jerman. Dia tidak pernah ikut rapat-rapat Pemuda Hitler dan profesor seminarinya mengamankan “bukti” kehadirannya atas nama profesor itu.

Dan dengan tuduhan palsu ini anda menuduh Ratzinger saat itu sebagai “prajurit yang yakin akan kebenaran Nazi”. Tuduhan ini, maaf ya dengan segala hormat, adalah kepalsuan sejarah dan penghinaan pribadi. Kata-kata Ratzinger sendiri, orang-orang yang dekat dengannya dan keluarganya semua mengatakan yang sebaliknya: Bahwa dia dan seluruh keluarganya adalah anti-Nazi. Tidak ada jejak Nazisme sama sekali pada segala perbuatan Ratzinger setelah perang, dan tampaknya banyak orang yang hanya ingin menyerangnya secara pribadi dan pandangan agamanya yang konservatif. Sungguh hal yang sangat tak layak dilakukan.

Baiklah, mari kembali ke perang teror. Apakah cara yang terbaik bagi Negara-negara Barat untuk memerangi teror? Apa pendapatmu akan usaha Amerika memerdekakan Irak?

Syekh Palazzi
Untuk menang perang, orang harus tahu siapakah musuh mereka dan mematahkan rantai komando musuh. Perang Dunia II dimenangkan kala tentara Jerman dihancurkan, Berlin ditaklukkan dan Hitler disingkirkan. Untuk menang melawan teror, sangat penting diketahui bahwa Al-Qaeda adalah organisasi milik Saudi, diciptakan oleh Kekuasaan Saud, dibiayai dengan uang keuntungan jual minyak oleh Kekuasaan Saud dan digunakan Kekuasaan Saud untuk kegiatan-kegiatan teror massal terutama melawan Negara-negara Barat dan juga seluruh dunia.

Karena itu, untuk benar-benar bisa menang dalam Perang atas Teror, Amerika harus menyerang Arab Saudi, menangkap Raja Abdullah dan 1500 pangeran lainnya yang tergabung dalam Kekuasaan Saud, membekukan aset duit mereka, menggulingkan kekuasaannya, dan mengirim mereka semua ke Guantánamo untuk dipenjara seumur hidup.

Setelah itu sangat penting untuk mengganti rezim teror Saudi-Wahhabi dengan rezim yang moderat, non-Wahhabi dan pro-Barat, seperti monarki Keluarga kerajaan Yordania.

Sebelum semua ini dilakukan. Perang atas Teror tidak akan bisa dimenangkan. Memang mungkin untuk menghancurkan Al-Qaeda, menangkap atau membunuh Usamah bin Ladin, Abu Musab al-Zarqawi, Ayman al-Zawahiri, dan lainnya, tapi tidak dapat menghentikan perang. Beberapa tahun kemudian, para pangeran Saudi akan mulai lagi mendanai organisasi teror yang serupa. Rezim Saudi hanya bisa tetap berdiri dengan menambah dukungan terhadap teror.

Rezim Saddam adalah salah satu diktator kriminal yang terjahat yang pernah ada di dunia, dan menghancurkan rezim ini merupakan usaha yang patut dipuji. Sebagai seorang Muslim, aku berterima kasih kepada Presiden Bush, kepada Negara-negara yang bergabung dengan Pasukan Koalisi (Gabungan) dan para tentara yang berperang di sana. Menghancurkan rezim Taliban di Afganistan dan rezim Saddam Hussein di Irak sungguh suatu usaha yang layak dipuji, tapi aku menyesal karena Gedung Putih hanya fokus pada musuh-musuh kelas dua dan melupakan musuh utama yakni Kerajaan Saudi.

FrontPageMagazine
Apa pendapatmu tentang Presiden Bush?

Syekh Palazzi
Aku sungguh kecewa akan dia. Tadinya aku berharap bahwa setelah Saudi teroris menyerang AS di 9/11, mereka akan meninjau kembali hubungan AS dengan Saudi. Langkah pertama yang Presiden Bush seharusnya lakukan setelah serangan 9/11 adalah segera mengamankan seluruh badan milik Saudi di AS dan mengakui bahwa menganggap Kerajaan Saudi sebagai “kawan” adalah dosa yang mematikan yang menunjukkan kegagalan politik luar negeri dan ekonomi AS selama enam puluh tahun.

Badan-badan pemerintahan AS punya banyak bukti tentang peranan Kerajaan Saud dalam mendanai jaringan teror di seluruh dunia. Warga Negara Amerika bahkan bisa membaca di surat-surat kabar bahwa beberapa hari sebelum 9/11 Mohamed Atta menerima chek dari istri bekas duta besar Saudi di Washington, yakni Pangeran Bandar, tapi sungguh sukar dimengerti bahwa kenyataan ini tidak mengakibatkan apapun. Mari kita pikir kenyataan yang sudah jelas: Istri duta besar luar negeri membayar teroris untuk membunuh ribuan warga Negara Amerika, dan pemerintah Amerika tidak hanya tidak mengumumkan perang terhadap Negara itu (Arab Saudi), tapi bahkan juga tidak memutuskan hubungan diplomasi dengan Negara itu.

Sebaliknya, Pangeran Abdullah yang saat itu calon Raja Saudi, pencipta Al-Qaeda (bersama-sama dengan duta besar baru Saudi bagi AS, bekas duta besar Saudi untuk Inggris, dan biang 9/11 yakni Pangeran Turki Faisal) seketika diundang datang ke tanah peternakan Bush sebagai tamu yang terhormat, dan Bush mengatakan padanya, “Kau adalah sekutu kami dalam perang atas teror”! Dapatkah kau bayangkan FDR (Franklin Delano Roosevelt) mengundang Hitler ke Amerika dan mengatakan padanya, “Kau adalah sekutu kami dalam perang atas Fasisme di Eropa”?

Sesuatu yang serupa terjadi pula setelah 9/11. Kerajaan Saudi mendukung kampanye pemilihan Presiden tahap 4 tahun pertama buat Bush. Sebagai balas jasa, mereka lalu minta Bush untuk menjadi Presiden Amerika yang pertama yang menganjurkan pembentukan Negara Palestina. Begitu dia terpilih, Bush tidak mau tunduk pada perjanjian itu sehingga terjadilah 9/11.

“Kami bayar kampanye pemilihanmu, dan sekarang kamu musti melakukan apa yang kami inginkan”, begitulah pesan dari serangan 9/11. Bush seketika mulai melakukan apa yang Saudi inginkan dari dia: “Mendesak Israel untuk mundur dari Yudea, Samaria dan Gaza, dan bahkan memerintahkan untuk mengijinkan pembentukan Negara PLO. Media Barat menyebutnya “Peta Jalan,” sedangkan media Arab menyebutnya dengan nama aslinya: “Rencana Abdullah.”

Orang-orang umumnya mendengar tentang Presiden AS yang memimpin “Perang atas Teror” dan menyebarkan paham “demokrasi” dan “kemerdekaan” di dunia Islam, tapi pada kenyataannya dia hanyalah seorang Presiden Amerika yang – setelah diserang teror Saudi – tunduk pada permintaan Saudi, menyembunyikan peranan Saudi di belakang Al-Qaeda dan meminta Israel, satu-satunya Negara demokrasi di Timur Tengah, untuk menyerahkan bagian Negaranya untuk dijadikan rezim diktator yang baru, dipimpin oleh deputi Arafat yang bernama Mahmoud Abbas, yakni teroris yang mengatur pembantaian atlet Israel di Olimpiade München 1972.

Secara teoritis, Bush mengaku tujuannya adalah untuk menghukum teror dan menyebarkan demokrasi, tapi Peta Jalan ini menunjukkan hal yang sebaliknya: Menghukum korban-korban teror dan menghadiahi teroris, mendesak demokrasi mundur untuk menciptakan rezim diktator Islam yang baru. Bagi AS hanya ada satu sekutu yang layak dipercaya di Timur Tengah: Israel.

Sekarang Bush menghukum sekutu Amerika yakni Israel untuk menghadiahi mereka yang mendukung Saddam Hussein, mereka yang mendemonstrasikan kebencian dengan membakar bendera Amerika dan menyebut Amerika “kekuatan imperialis yang dikendalikan Zionisme”. Dengan bertindak begitu, Bush secara serius mengambil resiko untuk jadi Presiden Amerika yang paling anti-Israel dan anti-Yahudi.

Mari kita lihat korban-korban politik luar negeri Bush yang akan datang, pada para penduduk di Gush Katif. Apa salah mereka? Apa yang mereka lalukan sehingga harus diusir dari rumah mereka dan tanah pertanian dan bisnis mereka diambil alih? Mereka hidup dengan damai, kerja keras dan menghasilkan lapangan kerja bagi ribuan orang-orang Arab Gaza. Untuk menyenangkan Kerajaan Saudi, Bush meminta “Judenrein” Gaza, dengan penduduk Yahudi di Gush Katif dipindahkan dari tempat tinggal mereka, rumah-rumah mereka dihancurkan dan bahkan kerangka keluarga mereka dibongkar dan dikuburkan di tempat lain.

Jika seorang berkata “Orang-orang Yahudi, hanya karena mereka orang-orang Yahudi, mereka harus pindah dari New York dan dengan paksa harus tinggal di New Jersey”, maka seluruh dunia akan teriak-teriak dan berkata ini pemindahan paksa rasial, pembersihan etnik, pelanggaran HAM, dan sebagainya. Sekarang dengan mendukung Rencana Saudi yang anti-Israel ini, Bush melakukan prinsip yang sama: dia menerima pandangan bahwa Yahudi, hanya karena mereka lahir sebagai orang Yahudi, harus dipindahkan dari tempat tinggal mereka di Yudea, Samaria dan Gaza, dan harus tinggal di tempat lain.

Sepanjang sejarah, orang-orang Yahudi selalu dipaksa pindah dari satu Negara ke Negara lain oleh pemerintah-pemerintah Roma, Paus, Tsar, Nazi, dan lainnya. Sekarang terima kasih atas politik Bush, orang-orang Yahudi harus dipindahkan dari Israel bukan oleh rezim Antisemitisme, tapi oleh Yahudi lainnya dan tentara-tentara Yahudi. Ini memang taktik politi normal diktator Arab guna melakukan pembersihan rasial dan pemindahan kaum Yahudi, tapi sungguh sukar dipercaya bahwa seorang Presiden Amerika menyetujui proyek seperti itu dan memaksa Israel untuk menerimanya.

Aku kaget ketika menyadari Presiden Amerika mendukung pembersihan etnik Yahudi dari beberapa bagian tanah Israel, dan ketua organisasi Yahudi Amerika diam saja dan bahkan menyetujui rencana pemindahan ini. Hanya beberapa yang menentang, seperti Zionist Organization of America (Morton A. Klein), Americans For A Safe Israel (Herbert Zweibon dan Helen Freedman), National Council of Young Israel (Pesach Lerner) dan beberapa kelompok yang lain, tapi kebanyakan organisasi Yahudi di Amerika bekerja sama dengan rencana-rencana Bush melawan saudara-saudara mereka sendiri di Israel.

Alkitab Peta Jalan ini sungguh mengejutkan: Seorang Yahudi tidak dianggap sebagaimana manusia lain karena dia bisa dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, tergantung dari alur politik yang ditentukan oleh penghasil minyak. Memindahkan orang-orang Yahudi dan memecah belah Israel memang rencana asli para diktator Arab dan didukung oleh Uni Soviet.

Amerika telah terus-menerus menentang politik rasis ini dan mendukung Israel melawan para teroris yang ingin menghancurkannya. Sekarang Bush menganugerahkan kemenangan bagi para teroris itu: Apa yang tidak bisa dicapai dengan teror bisa dicapai oleh Kekuatan Bersenjata Israel dengan dukungan PBB. Kerajaan Saudi telah berhasil mendesak Presiden Amerika untuk mengkhianati sekutu-sekutu Amerika dan memaksa terbentuknya Negara Palestina yang dikontrol oleh para teroris.

Presiden Bush mengaku sebagai orang Kristen yang telah hidup baru dan mengaku membaca Alkitab setiap hari. Alkitab berkata bahwa Tuhan menganugerahkan tanah Israel sebagai warisan keturunan Abraham, Ishak dan Yakub, dan memberikan bagian lain sebagai warisan pada orang lain. Seperti yang ditegaskan di Qur’an dan tradisi Islam, Abraham sendiri mewariskan keturunan Ishak tanah Israel dan mewariskan keturunan Ishmael tanah lain, seperti semenanjung Arab.

Sekarang keturunan-keturunan Ishmael, yakni orang-orang Arab, punya daerah raksasa yang menyebar dari Maroko sampai Irak. Keturunan Ishak, yakni orang-orang Yahudi, sebaliknya hanya punya tanah yang kecil dan sempit. Akan tetapi, diktator-diktator Arab tidak puas dengan daerah mereka yang begitu luas. Mereka mau lebih lagi. Mereka mau merampas warisan kecil milik suku Israel, dan melakukan teror untuk mencapai keinginannya.

Para Presiden Amerika telah selalu melawan usaha-usaha untuk mencuri tanah orang-orang Israel yang diberikan Tuhan pada mereka. Sekarang kita punya Presiden Amerika yang mengaku menghormati Alkitab, tapi mau memberikan tanah milik orang Yahudi pada para diktator Arab. Dengan melakukan hal ini, Bush tidak hanya menghadiahi teror, mendukung terjadinya teror lain dan menunjukkan dunia tidak hanya teror berhasil baik, tapi dia juga melawan kehendak Tuhan. Aku berdoa agar orang-orang Amerika dilepaskan dari hukuman Tuhan atas tindakan politik anti-Israel, anti-Yahudi dan anti-Tuhan.

Memang adalah suatu tragedi bagi bangsa Yahudi yang tidak dibela sebagai mana mestinya. Dan pelepasan daerah Gaza mengandung banyak resiko-resiko bahaya. Tapi ada strategi-strategi cerdik yang jadi alasan dan ini adalah bagi kepentingan-kepentingan Israel. Kita tidak boleh lupa bahwa Bush dan Sharon membuat langkah-langkah yang bijaksana dan diperhitungkan dalam konteksnya sendiri. Ini lebih kompleks daripada hanya melihatnya sebagai usaha pengkhianatan yang jahat belaka. Tapi kita bisa debat akan hal ini di lain waktu.

FrontPageMagazine
Mari kita beralih pada hal-hal pribadi untuk sesaat. Apakah buku-buku favoritmu?

Syekh Palazzi
Aku lebih suka baca buku yang berhubungan dengan hal spiritual. Aku terutama tertarik pada perbandingan antara Sufisme dan Kabala, dan karena itu aku menganggap rasa “Futuhat al-Makkiyya” oleh Ibnu ‘Arabi dan “the Zohar” sebagai sumber pengetahuan dasarku. Aku juga tertarik pada penelitian mistik monoteisme, dan karena itu menghargai Upanisad, Vedanta Sutra dan Purana dari tradisi Hindu, Panduan Buddha dan Philokalia Yunani. Aku juga tertarik pada sejarah Timur Tengah. Buku-buku seperti “Battleground” oleh Shmuel Katz dan “The Secret War Against the Jews” oleh John Loftus dan Mark Aarons adalah bagian dari buku-buku favoritku.

FrontPageMagazine
Apakah anda mendengarkan musik? Jika ya, musik apa yang kau dengar?

Syekh Palazzi
Karena ketertarikan akan bidang akademis etnomusikologi dan upacara dansa, aku setiap waktu mendengar musik-musik abad pertengahan, termasuk Andalusian Arabic, Arab Maghrib, Persia, Eropa atau Byzantium. Lalu aku juga suka musik simfoni, dan komposer kesukaanku adalah Anton Bruckner, Gustav Mahler dan Igor Stravinsky. Aku juga suka jazz, terutama dari New Orleans.

FrontPageMagazine
Apakah pendapatmu tentang ekstrimis Islam yang menganggap musik itu sesat? Contohnya, Taliban melarang semua musik, Khamenei melarang banyak musik Barat, dan lainnya. Ada apa dalam musik sehingga dianggap begitu mengancam? Bukankah musik adalah karunia Ilahi? Apakah kau menganggap menari sebagai anti Islam?

Syekh Palazzi
Khamenei tidaklah seekstrim Taliban (yang mengikuti Saudi Wahhabisme dari India yang dikenal sebagai Deobandi) atau kerajaan Saudi dalam hal musik. Khamenei tidak pernah berprinsip musik itu dari Setan. Dia agak menekankan pilihan pribadinya akan musik apa yang dapat diterima dan apa yang tidak. Khamenei menganggap musik tradisional Islam dan musik klasik Barat dapat diterima, tapi musik pop Barat tidak dapat diterima. Sebaliknya dengan Taliban, mereka bahkan juga melarang musik Sufi dan tradisional Islam, dan kerajaan Saudi juga melakukan hal yang sama sampai hari ini.

Beberapa para ilmuwan Muslim di masa lalu membatasi pilihan musik yang dapat diterima dalam jumlah minimum, tapi Al-Ghazali, pemimpin sekolah ilmu hukum Syafi’i di mana aku belajar, lebih memilih untuk menekankan nilai positif dari musik. Di salah satu bab di buku Al-Ghazali yang ditulis dalam bahasa Persia “The Alchemy of Happiness”, berjudul “Concerning Music and Dancing as Aids to the Religious Life”.

Al-Ghazali menulis: “Hati manusia diberi kuasa oleh Tuhan sehingga, seperti bara api, mengandung api terselubung yang dikobarkan oleh musik dan harmoni, dan membawa manusia kepada kegembiraan. Harmoni musik ini bergaung dunia indah yang lebih tinggi yang kita sebut sebagai dunia Roh; harmoni musik ini mengingatkan manusia akan hubungannya dengan dunia itu, dan menghasilkan emosi yang sangat dalam dan aneh yang dia sendiri pun tidak dapat menerangkannya. Pengaruh musik dan menari itu lebih dalam proporsinya sebagaimana sifatnya yang dengan mudah mempengaruhi emosi; harmoni ini membakar api cinta apa pun yang telah ada dalam hati, baik itu cinta duniawi dan sensual, atau Ilahi dan spiritual”.

Jika ilmuwan lain mencoba menggolongkan musik instrumen dan gaya-gaya musik yang diijinkan atau dilarang berdasarkan selera pribadi, Al-Ghazali sebaliknya menggolongkan musik dari akibat yang ditimbulkan dalam hati: Musik yang menyokong nafsu-nafsu imoral dan jorok harus dihindari, sedangkan musik yang menggaungkan harmoni jiwa dan membangkitkan penelaahan diri haruslah didengar. Jenis musik yang kedua ini jelas merupakan pemberian Ilahi. Sampai hari ini pemusik Sufi memainkan lagu-lagu tradisional dan melodi mistik untuk meningkatkan rasa cinta akan Tuhan dan mengajak pendengarnya menari bahagia.

FrontPageMagazine
Jadi anda pernah menari mengikuti musik kesukaanmu?

Syekh Palazzi
Aku hanya kadang-kadang menari menurut ajaran pendidikan Mevlevi sebagaimana yang mereka terima dari Naqsyabandiyah and perintah-perintah Sufi Qodiriyah, tapi aku juga mengajar para muridku, dengan ijin semua Syekhku, apa yang dikenal di dunia Barat sebagai tarian ritual Whirling Dervishes. Dalam bahasa Arab, tarian ini dikenal sebagai Sama, yang artinya adalah “mendengar”.

FrontPageMagazine
Apakah anda berpendapat pemakaian kerudung pada wanita Muslim harus diwajibkan atau terserah mereka saja?

Syekh Palazzi
Pakai kerudung atau tidak haruslah pilihan wanita Muslim itu sendiri. Tidak seorang pun punya hak untuk memaksa dia menggunakan kerudung. Sama seperti sembahyang, puasa dan praktek-praktek agama lain, berkerudung juga punya arti dan ini menunjukkan keinginan seseorang untuk menyenangkan Tuhan dengan menelaah ajaran agamanya. Memaksa orang untuk menelaah ajaran agama tidaklah menambah imannya, tapi malah semakin munafik. Orang seperti ini tidak sembahyang, puasa, atau pakai kerudung sebagai ekspresi iman atas ajaran agama yang dipilih secara bebas dan dipercaya sebagai perintah Tuhan, tapi dia melakukannya hanya karena ancaman orang lain.

Karena itu pula, aku sangat mengutuk rezim-rezim seperti Arab Saudi dan Iran yang memaksa para wanita yang tidak berminat untuk berkerudung dan rezim-rezim Turki dan Perancis yang melarang para wanita untuk berkerudung. Kebebasan beragama yang ideal menurutku adalah jika seorang wanita ingin berkerudung, dia boleh bebas melakukannya, dan Negara harus menjamin haknya untuk berkerudung; begitu pula jika dia tidak mau berkerudung, Negara pun harus menjamin hak kebebasannya pula.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: