DEBAT ANTARA YANG MULIA AYATOLLAH MONTAZERI DAN ALI SINA 4

Pertanyaan no. 4

Wahai Ayatollah, di suratmu engkau tampaknya menyetujui bahwa yang sang Nabi lakukan adalah karena hasil akhir menentukan tujuan perbuatan. Engkau tidak merasa terganggu bahwa yang dia lakukan sangat tak bernorma, tidak jujur dan kejam karena ia adalah seorang utusan Tuhan dan karena itu, apapun yang dilakukannya, meskipun nyata-nyata jahat, dianggap baik.

Pokok utamanya bukan siapakah Muhammad dan apa yang dilakukannya. Muhammad telah mati dan apa yang dilakukannya sudah berlalu (jadi bagian sejarah). Masalah utamanya adalah siapakah KITA? Apa yang dapat dikatakan dari sebuah masyarakat yang menganggap seorang penjahat, pembantai dan penggarong sebagai pemimpin agamanya? Apa yang dapat dikatakan tentang kita, nilai-nilai dan moral kita, jika kita mengangkat orang seperti Muhammad sebagai guru kita? Bagaimana kita bisa jadi masyarakat berakhlak jika Nabi kita tercinta ini adalah seorang pembunuh? Bagaimana kita bisa mendirikan nilai-nilai kemanusiaan yang penuh toleransi, persamaan hak, keadilan dan belas kasihan jika pemimpin kita tidak memiliki semua ini? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab negara kita (Iran) dalam waktu genting sekarang. Inilah pertama kali sejak hidup selama 1400 tahun di bawah ancaman teror dan dibutakan matanya, kita punya kesempatan untuk melihat diri kita sendiri, bertanya dan menghadapi kenyataan.

Kita adalah hasil pemikiran kita dan kita berpikir tergantung apa yang kita percayai. Dapatkah kita menjadi negara yang damai, menyayangi dan bermartabat jika kita percaya pada seorang yang ternyata adalah pembantai masal, pembohong, pencuri, penjagal, pemerkosa, penyamun, orang yang penuh nafsu berahi pada wanita, suka berperang dengan penuh kebencian? Dapatkah kita mengeyam kedamaian jika Nabi kita tak mengajar apapun selain perang? Dapatkan kita bertoleransi satu sama lain dan menghargai perbedaan kita jika orang yang kita muliakan ternyata melecehkan semuanya yang berbeda dari dia? Dapatkah kita menghormati para wanita dalam masyarakat kita jika pemimpin spiritual kita, yang kita anggap tak pernah salah, menyatakan bahwa wanita kurang cerdas, wanita adalah tulang-tulang iga yang bengkok, wanita adalah malapetaka dan dikuasai Setan? Dapatkah kita mengganti kebencian yang membara dalam hati kita pada kaum minoritas di sekitar jika Nabi kita bilang mereka itu najis, harus dibunuh, ditekan, dihina dan bayar Jazyah? Dapatkan kita mencintai satu sama lain jika Nabi kita mengharuskan kita membenci? Bukankah sebenarnya seorang pemimpin itu lebih maju daripada pengikutnya? Bagaimana kita dapat maju jika pemimpin kita begitu terbelakang?

Tujuan untuk mengetahui Islam dan kebenarannya pada akhirnya adalah untuk mengetahui siapa kita, mengapa sejarah bangsa kita jadi seperti ini dan bagaimana sampai kita bisa begini. Jika suatu jenis penyakit telah diketahui dokter, maka dokter itu sebentar lagi akan mampu menemukan obatnya. Inilah saatnya masyarakat kita menaruh perhatian atas penyakit kita. Mungkin dengan ini kita sebentar lagi bisa mendapatkan obat penyembuhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: