DEBAT ANTARA YANG MULIA AYATOLLAH MONTAZERI DAN ALI SINA 2

Pertanyaan no. 2

Bagaimana mungkin seseorang yang memanggil dirinya utusan Tuhan ternyata merampok rombongan kafilah-kafilah pedagang dan bertingkah seperti penjahat murahan dan penyamun jalanan?

Ayatollah Montazeri

Penyerangan terhadap kafilah pedagang Quraisy adalah karena kafilah ini terdiri dari beberapa orang Mekkah yang kayaraya yang merupakan musuh Islam dan ditemani oleh Abu Sofyan yang dikenal sebagai musuh bebuyutan Islam dan orang-orang Muslim. Di tahun itu, permusuhan kaum Quraisy dan hasutan yang melawan Islam dan orang-orang Muslim telah meningkat. Madinah jadi pusat kegiatan politik dan pemerintahan bagi orang-orang Muslim dan kota ini diserang musuh-musuhnya yakni orang-orang Quraisy dari berbagai arah.

Banyak orang Muslim yang dipaksa meninggalkan rumahnya karena penyerangan kaum Quraisy dan mereka harus melarikan diri ke Madinah. Orang-orang ini lalu ingin balas dendam dan mengambil kembali barang-barang mereka yang dirampas oleh kaum Quraisy. Mereka diberitahu bahwa kafilah ini membawa banyak barang-barang berharga. Para pemimpin Muslim juga merencanakan untuk membuat jalan raya itu jadi tidak aman bagi para musuh karena jalan ini penting bagi kebutuhan ekonomi dan militer bagi mereka. Tujuan utama serangan mendadak ini adalah memutuskan urat nadi sehingga musuh jadi lemah dalam peperangan melawan kaum Muslim. Peperangan ini terus berlanjut sampai Mekkah ditaklukan.

Sudah jelas jika dua negara atau dua kekuatan sedang berperang, dan saat itu tidak ada perjanjian damai diantara mereka, setiap pihak sah saja untuk melemahkan kekuatan ekonomi dan militer pihak musuh dan mengancam keamanannya.

Sejak dulu sampai sekarang hal ini dianggap sebagai perlakuan yang wajar di seluruh dunia. Ini sungguh beda dengan perampok jalanan. Perampok jalanan adalah penjahat dan pengacau yang membahayakan kehidupan dan keselamatan orang-orang yang hidup damai di kota atau negaranya sendiri yang tidak saling membenci dan mencuri barang orang lain.

Ali Sina

Wahai Ayatollah Montazeri,

Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terima kasih karena engkau jujur dan tidak seperti kebanyakan Muslim yang berkata semua perang-prang sang Nabi hanya merupakan upaya bela diri. Engkau mengakui bahwa dialah yang jadi agresor dan memang dialah yang menyerang kafilah-kafilah pedagang itu. Ini menyingkat banyak waktu untuk kita berdua karena aku tidak usah memberikan daftar begitu banyaknya serangan-serangan dia ke siapa saja yang dianggapnya sebagai musuh-musuhnya.

Akan tetapi, engkau tampaknya mensahkan penyerangannya terhadap kafilah-kafilah pedagang, kota-kota dan pembantaiannya terhadap penduduk sipil karena kau memandangnya sebagai strategi militer untuk memperlemah kedudukan musuh. Keterangan dari Muhammad sendiri adalah orang-orang Muslim punya hak untuk mengambil kembali apa yang dirampas oleh kaum Quraisy ketika mereka memaksa orang-orang Muslim melarikan diri.

Tetapi sebenarnya, orang-orang Mekkah tidak mengusir orang-orang Muslim ke luar dari rumahnya. Orang-orang Muslim ini ke luar karena keinginan mereka sendiri dan karena paksaan Muhammad. Pertama-tama, dia memerintahkan pengikutnya untuk pergi ke Abyssinia dan ketika dia menemukan cukup pengikut di Madinah, dia mengirim mereka ke sana. Kebenarannya adalah meskipun faktanya Muhammad terus-menerus menghina agama orang Quraisy dan membuat marah mereka dengan kelakuannya yang kasar, tidak satu pun kejadian pertengkaran fisik atau penindasan terhadap Muhammad atau pengikutnya yang tercatat di sejarah-sejarah Islam.

Saat ini, para Muslim tidak menoleransi kritik apapun terhadap agamanya. Mereka dengan cepat main bunuh orang yang berani mempertanyakan agamanya. Ini memang hal yang diajarkan sang Nabi. Tapi orang-orang Arab sebelum zaman Muhammad lebih toleran. Mereka tadinya biasa hidup damai bersama dengan orang-orang Yahudi dan Kristen tanpa ada pertengkaran agama diantara mereka. Ujian berat terhadap toleransi mereka terjadi ketika Muhammad mulai menghina para Dewa mereka. Meskipun demikian, orang-orang Quraisy menunjukkan dengan jelas tingginya toleransi mereka dan meskipun mereka tersinggung, mereka tidak pernah menyakiti Muhammad ataupun seorang pun dari pengikutnya.

Bandingkan dengan perilaku terhadap kaum Baha’i di Iran. Baha’i tidak menghina Muhammad atau Allahnya. Mereka tidak menolak para Imam atau tidak menentang bagian manapun dalam Qur’an. Yang mereka katakan adalah utusan mereka adalah Yang Dijanjikan dari orang-orang Muslim. Ini bukan apa-apa dibandingkan dengan hinaan Muhammad terhadap kepercayaan orang-orang Quraisy. Meskipun begitu orang-orang Muslim tidak menahan diri untuk tidak membunuh orang Baha’i. Mereka membunuh banyak dari orang-orang Baha’i, memenjarakan, menyiksa, memukul mereka, melecehkan hak-hak manusiawinya dan memperlakukan mereka secara biadab. Tidak satu pun perlakuan serupa diterapkan kepada Muhammad dan pengikutnya di Mekkah, juga bahkan ketika ia terus-menerus menghina para Dewa mereka dan mengutuki agama mereka, seakan menantang untuk bertengkar.

Ketika orang-orang Mekkah sudah tidak tahan lagi atas ejekan Muhammad terhadap agama mereka, sekelompok pemimpin mereka datang ke Abu Thalib, paman Muhammad dan mereka mengeluh: “Keponakanmu telah menghina Dewa-dewa dan agama kami dan mengatakan kami **** dan kakek moyang kami semua sesat. Sekarang, balaskanlah kami dari dia atau (melihat kamu juga dalam keadaan yang sama dengan kami) biarkanlah dia agar kami bisa membalas dia.” Abu Thalib menjawab dengan lemah lembut dan meyakinkan mereka bahwa ia akan menasehati keponakannya untuk bersikap hormat. Tapi Muhammad tidak merubah kelakuannya. Sehingga orang-orang Mekkah itu sekali lagi pergi bertemu Abu Thalib dengan penuh rasa jengkel, dan memperingati dia jika dia tidak mengekang keponakannya dari sikapnya yang menyakitkan, mereka sendiri yang akan mengekang dia. Mereka menambahkan: “Dan sekarang kami sudah tidak bisa bersikap sabar lagi terhadap pelecehannya pada kami, kakek moyang kami, dan Dewa-dewa kami. Sekarang tahanlah dia dari kami atau kamu berada di pihaknya sehingga kita perlu mengambil keputusan diantara kita.”

Itulah yang tertulis tentang penindasan terhadap orang-orang Muslim di Mekkah. Yang tertulis di atas adalah suatu peringatan tapi bukan ancaman pembunuhan. Malah kenyataannya, dari waktu Abu Thalib masih hidup sampai dia meninggal, Muhammad tinggal di Mekkah tanpa disakiti dan tidak ada pengikutnya yang menderita penindasan.

Satu-satunya kekerasan fisik yang ditulis terhadap seorang Muslim adalah pemukulan yang dilakukan Omar terhadap adik perempuannya sendiri yang telah memeluk Islam, dan ini juga yang kemudian membuatnya memeluk Islam. Ini tidak dapat dianggap sebagai penindasan agama karena ini adalah kekerasan masalah keluarga sebab Omar adalah orang yang gampang marah dengan sifatnya yang labil, mudah lepas kendali dan lalu ngamuk. Tapi Hadis ini pun mungkin tidak benar karena Hadis lain yang diceritakan oleh Omar sendiri menggambarkan ia menjadi pemeluk Islam dengan cara yang berbeda.

Maka timbulah pertanyaan, kalau tidak ada penindasan terhadap orang-orang Muslim, siapa dong yang mengusir mereka ke luar dari rumah-rumah mereka? Kita tahu banyak dari mereka yang meninggalkan Mekkah dan pergi pertama kali ke Abyssinia dan lalu ke Madinah. Kenapa mereka meninggalkan rumah mereka jika mereka tidak dalam keadaan bahaya? Jawaban pertanyaan ini dapat ditemukan pada Muhammad dan apa yang terjadi dalam pikirannya. Dialah yang meminta mereka pergi. Malah dia memerintah mereka dengan memakai firman dari Allah. Ayat-ayat berikut dengan jelas menunjukkan hal ini.

QS 8 Al-‘Anfal 72
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Ini adalah kata-kata yang sangat keras terhadap pengikut-pengikutnya yang tidak mau meninggalkan Mekkah dan tetap tinggal di sana. Di bagian lain ia menekankannya lebih lanjut.

QS 4 An-Nisa’ 89
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,

Di ayat di atas Muhammad memerintahkan orang-orangnya di Mekkah untuk meninggalkan rumahnya dan pergi ke Madinah. Dia bahkan lebih lanjut memerintahkan Muslim lain untuk membunuh mereka jika mereka balik kembali ke rumahnya. Ini sungguh sesuai dengan sifat kultis Islam. Jadi kita bisa melihat bahwa kepergian orang-orang Muslim dari Mekkah tidak disebabkan oleh penindasan kaum penyembah berhala. Tidak ada penindasan dari mereka meskipun Muhammad menghina kaum Quraisy sampai pada batas kesabaran mereka. Para pengikut Muhammad baru meninggalkan Mekkah karena dia memerintahkan mereka untuk pergi. Caranya menekan sedemikian hebat sampai-sampai dia berkata bahwa mereka akan masuk Neraka jika mereka tetap tinggal dan tidak mau pergi.

QS 4 An-Nisa’ 97
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,

Muhammad merencanakan untuk menaklukan Jazirah Arab dan menundukkan Persia.

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah: “Kenapa?” Kenapa sang Nabi memaksa pengikutnya beremigrasi padahal mereka tidak ditekan di kota mereka sendiri? Kenapa dia memaksa mereka untuk meninggalkan tanah asalnya? Cara ini sungguh tidak lazim sehingga banyak ahli-ahli sejarah Islam dari dunia Barat seperti Aloys Sprenger dan Sir William Muir gagal melihat rencana sebenarnya yang sedang digodok dalam kepala Muhammad sejak hari-hari awal waktu dia tahu bahwa hanya ada segelintir orang saja yang sebenarnya percaya bahwa dia itu utusan Tuhan.

Muir dalam “Kisah Hidup Muhammad” mengutip Hisyam:

Orang-orang Quraisy, mendengar bahwa Abu Thalib hampir mati, mengirim seorang utusan yang mengusahakan agar ada ikatan di kedua belah pihak, bahwa setelah kematian Abu Thalib, semua kekangan pada Muhammad akan ditiadakan. Mereka mengajukan persyaratan agar mereka tetap dapat memeluk agama kuno mereka, dan Muhammad harus berjanji untuk tidak mengganggu atau ikut campur, dan sebaliknya mereka pun setuju untuk tidak menganggu kepercayaannya.

Abu Thalib memanggil Muhammad dan menyampaikan permintaan wajar itu. Muhammad menjawab “Tidak, tapi ada satu kata, yang jika kalian katakan, kalian akan jadi penakluk Jazirah Arab dan menundukkan Ajam (Persia).”

“Bagus!” kata Abu Jahal, “Tidak ada satu kata seperti itu, tapi sepuluh.”

Muhammad menjawab, “Maka dari itu katakanlah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan tinggalkan agama kalian.”

Dan mereka pun menepukkan tangan mereka dengan marah, “Apakah kamu memang benar-benar ingin mengubah Dewa-dewa kami jadi satu Tuhan? Sungguh aneh sekali!”

Dan mereka pun mulai bersahutan satu sama lain, “Orang ini keras kepala dan tidak dapat diajak kerja sama. Kalian tidak akan dapat persetujuan apapun yang kalian harapkan. Kembalilah, dan biarkan kami menganut agama dari kakek moyang kami sampai Tuhan menentukan masalah diantara kami dan dia.”

Maka mereka bangkit dan pergi. Hishami, halaman 136

Dari cerita di atas kita bisa mengambil beberapa fakta:

a.) Orang-orang Quraisy tidak menindas orang-orang Muslim dan pemimpinnya hanya meminta agar Muhammad menghormati kepercayaan mereka.
b.) Muhammad bersikeras untuk melanjutkan tingkah lakunya yang kasar dan menghina orang-orang Mekkah dan agamanya.
c.) Muhammad mimpi untuk menaklukkan Jazirah Arab dan menundukkan Ajam/Persia.

Sudah jelas bahwa sang Nabi ketika masih di Mekkah dengan segelintir pengikut sebenarnya sudah berangan-angan untuk menaklukkan Jazirah Arab dan menundukkan Persia. Apakah layak bagi utusan Tuhan berangan-angan untuk “menaklukkan” dan “menundukkan”?

Yang sewajarnya diharapkan dari orang yang dipilih Tuhan kan menjadi terang bagi umat manusia, punya pemikiran-pemikiran yang lebih mulia untuk membimbing, mendidik dan memerdekakan manusia, dan bukannya menaklukkan dan menundukkan mereka. Ini adalah pemikiran-pemikiran para penakluk bengis seperti Jenghis Khan, Napoleon Bonaparte, Adolf Hitler dan bahkan Saddam Hussein. Tapi pemikiran seperti ini tidak layak datang dari seorang Nabi Tuhan, yang seharusnya memancarkan kasih sayang, belas kasihan dan kualitas-kualitas spiritual.

Sang Nabi adalah kasus jelas seorang megalomaniak. Dia penderita manik depresif yang hebat. Ketika dia sedang penuh semangat, dia punya angan-angan untuk menaklukan dunia dan ketika ia sedang patah semangat, ia penuh pikiran untuk bunuh diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: