DEBAT ANTARA YANG MULIA AYATOLLAH MONTAZERI DAN ALI SINA 1

Ayatollah Montazeri

 Di Bulletin Board of Jebhe Melli (Gerakan Nasional Demokrasi Iran) aku menanyakan beberapa pertanyaan tentang Islam. Ayatollah Montazeri menjawab beberapa pertanyaanku. Berikut adalah terjemahan suratnya dan jawabanku padanya.

Ayatollah Montazeri adalah imam senior dari Iran yang tadinya dipilih oleh Khomeini untuk menjadi penggantinya. Tapi pandangan Montazeri yang liberal membuat Khomeini marah dan dia pun disingkirkan. Di tahun-tahun ini, Ayatollah Khamanei, pengganti Khomeini, menjatuhkan hukuman tahanan rumah bagi Ayatollah Montazeri. Tuan Montazeri masih merupakan tokoh oposisi dari Pembaharuan Islam yang percaya pada Islam tapi tidak percaya pada Velayate Faghih. Beliau adalah pemimpin agama yang paling dihormati di Iran.

Usia muda Ayesha

Pertanyaan no. 1

Muhammad menikahi Ayesha pada waktu ia berusia 6 tahun dan menidurinya pada ia berusia 9 tahun. Bagaimana mungkin lelaki berusia 54 tahun memanggil dirinya utusan Tuhan punya nafsu berahi pada gadis berusia 9 tahun?

Ayatollah Montazeri

Pada saat itu, tradisi perkawinan berdasarkan kebiasaan-kebiasan dan upacara-upacara suku daerah. Tujuan pernikahan ini hanyalah untuk memperkuat persahabatan antara ayah dari pengantin dan karena itu perkawinan antara sang Nabi dengan Ayesha berdasarkan alasan politik.

Ali Sina

Ini bukan alasan yang bagus untuk mengawini anak di bawah umur. Aku tidak merasa terganggu dengan pernikahan Nabi dan anak Abu Bakr, tapi kenyataannya adalah Ayesha itu anak kecil. Sungguh tidak layak bagi utusan Tuhan untuk punya nafsu berahi pada anak kecil dan itu merupakan sikap rendah akhlak. Di zaman ini jika seorang pria berusia 54 tahun berhubungan kelamin dengan anak kecil 9 tahun, ia akan dipenjara dan dibenci sebagai pedofilia. Kenapa Nabi harus dimaafkan?

Ayatollah Montazeri

Sang Nabi di usia 25 tahun menikahi Khadijah, wanita yang berusia 40 tahun dan Nabi tidak menikahi wanita lain selama Khadijah hidup. Jika Nabi adalah orang yang haus seks, maka ia tidak akan menikahi seorang wanita yang lebih tua dan setia padanya sampai ia mati.

Ali Sina

Khadijah itu wanita kaya raya dan Nabi saat itu hanyalah pegawainya yang miskin. Baginya, menikahi seorang wanita kaya adalah tangga ke atas untuk mencapai status sosial yang lebih tinggi. Di umur itu, ia hanyalah seorang anak yatim piatu dengan ambisi kecil. Karena ia hanyalah seorang anak muda miskin, tidak ada yang menaruh perhatian padanya. Khadijah adalah anugerah baginya. Khadijah menyediakan kenyamanan dan kemapanan sehingga ia tidak usah khawatir dalam masalah keuangan. Sekarang ia bisa bertapa di guanya dan membiarkan imajinasinya terbang; ketemu jin, bertempur dengan setan, ngobrol dengan Jibril dan segala macam makhluk yang menghantui pikirannya yang suram.

Kalau ia tetap setia pada Khadijah bukanlah karena ia suci atau setia tapi Khadijah seorang wanita yang berkuasa dan tidak akan toleran kalau suaminya serong. Pada saat itu Muhammad tidak punya pengikut dan ia akan kehilangan semuanya jika ia menyinggung perasaan istrinya yang kayaraya. Kalau ini sampai terjadi, ini akan menghancurkan segalanya bagi Muhammad.

Akan tetapi, Muhammad menunjukkan belangnya yang asli kala ia jadi orang yang berkuasa dan tak ada yang dapat mengekangnya untuk melakukan hal-hal yang ia sukai. Pada saat itulah ia membuang semua norma-norma kebajikan dengan memakai selubung nama Allahnya.

Ayatollah Montazeri

Tujuan sang Nabi menikahi begitu banyak wanita-wanita tua dan janda-janda, terpisah dari alasan-alasan sosial politik, adalah untuk menaikkan status sosial mereka. Pada zaman itu, para wanita, terutama budak-budak wanita, hanya pula nilai moral yang kecil atau malah tidak ada sama sekali sehingga mereka sampai-sampai mengubur bayi-bayi perempuannya hidup-hidup.

Ali Sina

Sang Nabi menikahi Khadijah, seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya, adalah karena kekayaan Khadijah. Setelah Khadijah meninggal, ia menikahi Ayesha yang baru berusia 6 tahun dan karena permintaan Abu Bakr untuk tidak menidurinya dulu sampai 3 tahun setelah menikah. Selama tiga tahun ini Muhammad butuh seorang wanita dan para wanita non-Muslim tidak ada yang mau mengawininya karena mereka menduga ia orang gila. Diantara pengikutnya yang masih sedikit itu, hanya tersedia sedikit wanita-wanita yang dapat dikawininya. Sauda adalah wanita Muslim dan seorang janda. Dia cocok untuk keadaan saat itu. Dia dapat menghangatkan ranjang Muhammad dan mengurus rumah dan keperluannya. Muhammad menikahinya dua bulan setelah kematian Khadijah. Khadijah dan Sauda hanyalah dua istri Muhammad yang dikawininya bukan karena dorongan nafsu berahi, tapi karena keadaannya saat itu. Hafza, anak Omar yang mungkin juga tidak begitu cantik seperti yang dinyatakan oleh ayahnya sendiri, dan sang Nabi mungkin mengawininya untuk menyenangkan Omar dan untuk alasan-alasan politis. Istri-istri lainnya semuanya adalah perawan-perawan dan janda-janda yang cantik. Kebanyakan, meskipun tidak semuanya, adalah para remaja. Nabi mengawini mereka atau meniduri mereka tanpa mengawininya hanya karena penampilan mereka yang menarik. Kadang-kadang ia harus membelokkan beberapa aturan dan bahkan membawa nama Tuhan untuk mengungkapkan firman baru baginya sendiri untuk mengizinkan dirinya mendapat apa yang diingininya. Contohnya di kasus Zaenab Bent Jahsh, Maryah dan Ayesha. Tidak ada satupun istrinya yang menderita kurang gizi atau janda-janda yang miskin dan kesepian sebelum dinikahi olehnya. Kisah-kisah Safiyah, Maryah dan Zaenab adalah kisah-kisah cinta yang dibumbui nafsu berahi, pengkhianatan dan kejahatan.

Engkau betul waktu menyatakan keadaan para budak-budak wanita yang parah di zaman itu, tapi engkau lupa mengungkapkan bahwa banyak dari budak-budak wanita ini yang tadinya adalah orang-orang merdeka sebelum Nabi mengambil kemerdekaannya dan menurunkan derajat mereka jadi budak-budak. Apakah engkau mengatakan bahwa budak-budak wanita ini seharusnya berterima kasih pada sang Nabi yang membunuh orang-orang yang mereka cintai dan menjual diri mereka di pasar-pasar perbudakan untuk seorang Muslim yang lalu menggunakan mereka sebagai pelayan dan budak nafsu berahi?

Ayatollah Montazeri

Pernikahan sang Nabi dengan Ayesha terjadi di kira-kira tahun pertama atau kedua Hijra dan karena paksaan ayah Ayesha yakni Abu Bakr dan beberapa kawannya. Setelah kematian Khadijah, sang Nabi tetap sendirian selama beberapa saat. Alasan satu-satunya menikahi Ayesha adalah karena alasan politis. Alasan pernikahan ini karena sang Nabi di bawah tekanan-tekanan berat dari para musuhnya seperti Abu Lahab dan Abu Jahl dan Nabi sangat bergantung pada perlindungan suku-suku lain. Abu Bakr punya pengaruh daerah yang kuat. Dalam keadaan seperti itu, adalah tidak bijaksana bagi Nabi untuk menolak tawaran Abu Bakr. Pada kenyataannya, pernikahan ini adalah simbol dan bukan untuk memuaskan nafsu seks sang Nabi, karena aturannya seorang pria 53 tahun tidak mungkin punya gairah seksual terhadap anak berusia 9 tahun.

Ali Sina

Sang Nabi tidak menikahi Ayesha bukan karena paksaan ayahnya. Banyak Hadis yang menunjukkan bahwa Nabilah yang bernafsu terhadap Ayesha dan meminta Abu Bakr untuk menyerahkan anaknya yang masih berusia 6 tahun itu untuk dinikahi. Malah sebenarnya Abu Bakr kaget sekali atas permintaan itu. Dia menolaknya dengan alasan dia adalah saudara angkat sang Nabi, yang dengan sendirinya membuat pernikahan seperti itu haram. Tapi Nabi menolak alasan Abu Bakr dengan berkata bahwa mereka bukan saudara sedarah dan sumpah persaudaraan mereka tidak dapat diterapkan di kasus ini.

Sahih Bukhari, Volume 7, Book 62, Number 18:

Dinyatakan ‘Ursa:
Sang Nabi meminta Abu Bakr untuk menyerahkan ‘Aisha untuk dinikahi. Abu Bakr berkata “Tapi engkau saudaraku.” Nabi berkata, “Engkau saudaraku dalam agama Allah dan BukuNya, tapi ia (Aisha) adalah sah untuk dinikahiku.”

Orang-orang Arab waktu itu masih primitif dengan sedikit aturan-aturan yang harus ditaati. Tapi mereka punya kode etik yang dihormati dengan cermat. Contohnya, meskipun mereka berperang sepanjang tahun, mereka menghilangkan semua permusuhan di beberapa bulan suci dalam tahun itu. Mereka juga menganggap Mekah adalah kota suci dan tidak berperang terhadapnya. Istri dari anak angkat seorang pria akan dianggap sebagai menantu wanitanya dan pria itu tidak akan menikahi menantu wanita itu. Adalah suatu kebiasaan untuk membuat sumpah persaudaraan dan menganggap satu sama lain sebagai saudara kandung. Sang Nabi melecehkan semua aturan-aturan ini setiap kali aturan-aturan ini menghalangi keinginannya.

Abu Bakr dan Muhammad sudah bersumpah untuk menjadi saudara bagi satu sama lain. Jadi berdasarkan adat mereka, Ayesha seharusnya sudah seperti keponakan bagi sang Nabi Suci. Tapi inipun tidak menghentikannya untuk menikahinya walaupun Ayesha masih berusia 6 tahun.

Tapi Nabi yang berubah-ubah moralnya tergantung keadaan ini menggunakan alasan yang sama untuk menolak menikahi anak Hamza, yang juga merupakan saudara angkat Nabi, karena anak perempuan Hamza tidak begitu cantik.

Sahih Bukhari, Volume 7, Book 62, Number 37:

Dinyatakan Ibn ‘Abbas:
Dikatakan pada sang Nabi, “Maukah engkau menikahi anak perempuan Hamza?” Nabi menjawab, “Dia adalah keponakan angkatku (anak saudara angkatku).”

Di Hadis berikut, sang Nabi menceritakan secara rahasia pada Ayesha bahwa ia bermimpi tentang dia sebelum meminta ayahnya untuk memperistrinya.

Sahih Bukhari, Volume 7, Book 62, Number 90:

Dinyatakan Aisha:
Ketika sang Nabi menikahiku, ibu datang padaku dan membawaku ke dalam rumah (sang Nabi) dan TIDAK ADA YANG MENGAGETKANKU SELAIN KEDATANGAN SANG NABI ALLAH PADAKU DI PAGI HARI.

Kau katakan, ” … aturannya seorang pria 53 tahun tidak mungkin punya gairah seksual terhadap anak berusia 9 tahun.” Ini sungguh benar. Inilah hal utama yang kuutarakan. Sayangnya, kita tidak hidup di dunia yang sempurna dan ada beberapa orang yang sakit jiwa dan melawan aturan-aturan. Zaman sekarang pun ada orang-orang tua yang berfantasi melakukan hubungan seks dengan anak-anak kecil, menyimpan foto-foto mereka (anak-anak kecil tersebut) dan saling menukar foto-foto dengan orang lain yang sama sakit jiwanya di internet. Mereka ini dikenal sebagai pedofilia dan untuk melindungi anak-anak kita, kita masukkan orang seperti ini dalam penjara. Jika sang Nabi tidak ‘mengagetkan’ gadis kecil itu di pagi hari yang sama kala ibunya membawanya ke rumah Nabi, maka aku dapat menerimanya sebagai perkawinan “simbolik”, meskipun sebenarnya tidak jelas manfaatnya. Tapi jika kita lihat bahwa sang Nabi Allah meniduri gadis kecil itu di hari yang sama dia dibawa ke rumah Nabi, maka perkawinan ini sukar untuk dipandang sebagai sesuatu yang “simbolik”. Simbol apa?

Ayatollah Montazeri

Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi udara mempengaruhi pertumbuhan tubuh dan jiwa para gadis dan pertumbuhan mereka lebih cepat di udara panas.

Ali Sina

Di pokok pembicaraan terdahulu, engkau menjelaskan bahwa perkawinan ini simbolis dan “aturannya seorang pria 53 tahun tidak mungkin punya gairah seksual terhadap anak berusia 9 tahun”. Tapi sekarang engkau membahas masalah ini dari sudut yang berbeda sama sekali.

Saya yakin gadis-gadis berusia 9 tahun di Arabia adalah masih sama dengan anak-anak kecil berusia 9 tahun. Kecuali engkau memajukan teori evolusi bahwa ras manusia harus menjalani mutasi besar-besaran selama jangka waktu 1400 tahun ini dan di zaman dulu para wanita mencapai kedewasaan pada usia 9 tahun, kenyataannya adalah sama bahwa sang Nabi punya nafsu berahi terhadap seorang gadis kecil di bawah umur dan ini adalah salah. Untuk meyakinkan bahwa anak-anak berusia 9 tahun adalah tetap anak-anak, bahkan pula di zaman Nabi, kita tidak perlu melihat jauh-jauh dari Hadis yang lain yang dikisahkan sendiri oleh Ayesha. Di Hadis berikut, Ayesha mengungkapkan bahwa ia sedang bermain di ayunan ketika ibunya membawanya ke sang Nabi.

Sunan Abu-Dawud, Book 41, Number 4915:

Dinyatakan Aisha, Ummul Mu’minin:
Sang Rasul Allah (SAW) menikahiku ketika aku berusia tujuh atau enam tahun. Ketika kami tiba di Medinah, beberapa wanita datang, menurut versi Bishr: Umm Ruman datang padaku ketika saya sedang bermain ayunan. Mereka memandangku, mempersiapkanku dan mendandaniku. Kemudian aku dibawa ke Rasul Allah (SAW), dan ia hidup bersamaku sebagai suami istri ketika aku berusia sembilan tahun. Ia menghentikanku di pintu, dan aku meledak tertawa.

Sahih Bukhari, Volume 8, Book 73, Number 151:

Dinyatakan ‘Aisha:
Aku biasa bermain dengan boneka-boneka di depan sang Nabi, dan kawan-kawan perempuanku juga biasa bermain bersamaku. Kalau Rasul Allah biasanya masuk ke dalam (tempat tinggalku) mereka lalu bersembunyi, tapi sang Nabi lalu memanggil mereka untuk bergabung dan bermain bersamaku. (Bermain dengan boneka-boneka atau bentuk-bentuk yang serupa itu dilarang, tapi diizinkan untuk ‘Aisha saat itu, sebab ia masih anak kecil, belum mencapai usia pubertas) (Fateh-al-Bari halaman 143, Vol. 13)

Dalam aturannya, orang akan berkata jika ia masih bermain dengan boneka-bonekanya, ia belum cukup dewasa untuk mengetahui tentang seks, apalagi dari orang yang cukup tua untuk jadi kakeknya.

Ayatollah Montazeri

Perbedaan usia antara pria dan wanita yang dinikahinya di masyarakat primitif dapat diterima dan sering terjadi. Juga bukan merupakan hal yang tak layak atau cabul bagi seorang pria untuk menikahi gadis-gadis yang sangat muda dan orang-orang pada saat itu tidak menganggap itu sebagai hal yang tak bermoral. Bahkan sampai hari ini pun, orang masih menemukan perkawinan dengan gadis-gadis yang masih sangat muda diantara masyarakat Arab. Sebagai aturan, sebaiknya jangan dibandingkan kebiasaan masyarakat adat dan primitif dengan kebiasaan masyarakat modern dan maju di saat ini.

Ali Sina

Aku setuju bahwa masyarakat primitif punya kebiasaan yang mengejutkan bagi kepekaan masyarakat modern. Orang-orang primitif banyak melakukan hal-hal yang mengagetkan kita saat ini. Mereka misalnya melakukan pembunuhan korban manusia atau binatang, mempraktekkan diskriminasi berdasarkan perbedaan jenis kelamin, perbudakan dan banyak lagi bentuk pelanggaran hak-hak kemanusiaan. Aku tidak mengecam masyarakat primitif sebab mereka tidak tahu hal yang lebih baik. Aku mengutuk masyarakat modern yang mengikuti masyarakat primitif itu dengan melakukan hal yang dilakukan seorang pria yang hanyalah keluaran produk masyarakat primitif. Aku mengutuk orang yang memanggil dirinya sendiri Nabi Allah, “Pengampunan Tuhan pada dunia”, “Rahmatu’llah lil Alamin” dan contoh bagi seluruh umat manusia, yang sebaliknya memberi batasan contoh moral dan kebajikan yang mengikuti kebiasaan hidup masyarakat-masyarakat primitifnya dan lalu menegaskannya dan mengabadikannya sebagai suatu contoh. Aku mengutuk masyarakat yang lupa keagungan dan kemegahannya di masa lampau dan sekarang mencoba untuk meniru kebiasaan masyarakat primitif dan mau menegakkan ajaran mereka yang purba dengan mengikuti Nabinya yang tidak punya ajaran baru apapun untuk masyarakat primitif dan ia sebenarnya hanyalah produk dari masyarakat primitif itu.

Iya, memang kita harus membandingkan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dan suku primitf dengan kebiasaan masyarakat modern dan maju saat ini. Tapi kenapa kita harus mencontoh mereka? Kenapa kita harus mengikuti mereka? Kenapa kita harus menerima Nabi mereka yang tidak mampu melepaskan diri dari sifat-sifat primitif, barbar dan buas?

Jika sang Nabi benar-benar seorang Nabi, maka dia akan bertindak berbeda. Ia tidak akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan masyarakat primitf tapi akan menegakkan standard baru. Jika ia mengikuti kebiasaan masyarakat primitifnya, kenapa kita harus mengikuti dia? Orang-orang Muslim seluruh dunia mempelajari kehidupan sang Nabi secara terperinci, mencoba menirunya dalam segala hal yang dilakukannya. Mereka berpakaian seperti dia, mengatur janggutnya seperti dia, jalan seperti dia dan bicara seperti dia, melakukan apa yang dia lakukan dan hidup seperti cara dia hidup. Mereka percaya segala yang dilakukannya direstui Tuhan dan dia dikirim untuk menjadi contoh bagi kaum manusia. Tapi meskipun begitu, engkau baru saja tadi mengatakan bahwa yang dilakukannya tidak mengindahkan aturan dan kebiasaan masyarakat primitif dan kita harus mengampuni dosanya karena dia hanyalah korban dari masyarakat primitif itu. Betapa malangnya kita yang belum melihat hal ini. Lihatlah apa yang telah menimpa negara kita yang besar (Iran) yang telah melupakan masa lalunya yang agung dan sekarang secara buta mengikuti orang yang meniru kebiasaan-kebiasaan masyarakatnya yang primitif. Dapatkah kita terjeblos lebih dalam lagi dari ini? Adakah penghinaan yang lebih parah daripada ini?

Ayatollah Montazeri

Masalah-masalah di tiap waktu dan tempat harus dilihat sesuai dengan standard-standard waktu dan tempat saat itu sendiri dan tidak dengan standard di lain waktu dan tempat. Di lain pihak kita menemukan bahwa sang Nabi tidak melawan banyak kebiasaan pada zamannya yang tidak jauh berbeda dengan tujuan-tujuan pendidikan dan spiritual Islam. Ia menghadapinya secara bertahap dan praktis untuk mengubah mereka pelan-pelan.

Ali Sina

Aku setuju masalah-masalah harus dilihat dari konteks waktu dan tempatnya saat itu. Sesuatu yang bisa diterima 1400 tahun yang lalu di Arabia mungkin tidak tampak baik saat ini. Mungkin kita sebaiknya tidak menghakimi mereka secara keras. Tapi pertanyaannya adalah mengapa kita harus mengikuti mereka? Pemecahan masalah yang layak saat itu ternyata tidak layak lagi bagi waktu kita saat ini. Kenapa mengikuti doktrin yang sudah kehilangan gunanya dan ditancapkan dalam sejarah?

Orang-orang Muslim dinasehati untuk mengikuti Sunnah Nabi. Kau bilang bahwa sang Nabi adalah orang Arab, mengikuti tradisi masyarakatnya sendiri, sehingga yang dilakukannya adalah benar pada konteks itu. Tapi dengan mengikuti dia, tidakkah kita mengabadikan kebiasaan-kebiasaan orang-orang Arab 1400 tahun yang lalu yang tidak cocok dan sudah ketinggalan zaman?

Engkau menegaskan bahwa sang Nabi tidak melawan kebiasaan-kebiasaan jelek itu dan kebiasaan-kebiasaan itu tidak jauh berbeda dari tujuan-tujuan spiritual dan pendidikan Islam. Maka pertanyaanku adalah apakah tujuan-tujuan spiritual dan pendidikan Islam? Apakah tujuan utama Islam itu sendiri? Jawaban orang Muslim tentunya adalah untuk mengetahui bahwa Tuhan itu satu dan dia tidak punya partner dan Muhammad adalah RasulNya. Ini adalah hal yang paling diutamakan dalam Islam. Masalah-masalah moral dan etika jadi adalah masalah kedua. Semua dosa dapat diampuni. Pencurian, pembunuhan dan pedofilia dapat diampuni tapi menggandakan Tuhan itu tidak.

QS 4 An-Nisa’ 48 Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

Dalam perkataan lain, Saddam Hussein, Idi Amin, Ben Laden, Khalkhali dan Khomeini akan diampuni biarpun dosanya besar sekali karena mereka adalah Muslim dan tidak menggandakan Tuhan tapi Gandhi, yang beragama Hindu dan kaum Muslim percaya bahwa Hindu punya banyak Dewa, akan dibakar selamanya di Neraka.

Kalau begitu, Allah ini tentunya sinting. Ia adalah makhluk yang sinting dan begitu menderita sehingga sangat ingin dikenal oleh ciptaan-ciptaanNya dan sangatlah pencemburu. Jika ini Tuhannya Muhammad, maka ia tidak layak dipuja tapi perlu segera dikunci di rumah sakit jiwa.

Tentang kebiasaan buruk orang-orang yang tidak dilawan secara langsung oleh sang Nabi Suci tapi berusaha mengubah mereka pelan, apakah mereka itu? Di dunia kami, pedofilia itu adalah tindak kejahatan. Sungguh memalukan bahwa Nabi tidak memandang kasus Pedofilia sebagai suatu kasus yang sangat penting dan harus segera ditangani karena pedofilia ini tidak bertentangan dengan tujuan-tujuan spiritual Islam. Tapi aku sebenarnya akan senang kalau melihat Nabi setidaknya menentangnya. Tapi tidak, ia tidak menentangnya sama sekali. Ia malah mendukungnya dengan membuat dirinya sebagai contoh. Ini bukanlah cara untuk “mengubah” sesuatu. Inilah cara untuk menegaskannya, untuk mengabadikannya dan untuk mempromosikannya.

Sebelum Islam, kami bangsa Iran adalah masyarakat yang berbudaya. Kami tidak memiliki kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-tradisi barbar ini. Terima kasih atas jasa Islam tradisi-tradisi memalukan ini merambat dalam budaya kita dan dipraktekan di tanah air kita.

Pedofilia adalah satu dari pemberian-pemberian Islam pada kita. Sang Nabi suci menyokong banyak tradisi-tradisi yang sama memuakannya. Pembunuhan pada musuh adalah hal yang biasa sekarang di negara kita dan ini juga adalah tradisi sang Nabi. Dia terbiasa mengirim pembunuh-pembunuh ke rumah-rumah musuhnya dan membunuh mereka kala mereka tidur. Anggota-anggota terhormat Rezim Islam Iran sekarang mengikuti tradisi utusan Tuhan ini (semoga damai berserta hatinya yang suci murni tak ternoda).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: