ALASAN-ALASAN KETERBELAKANGAN MUSLIM

Oleh Jacob Thomas

Jika kita melihat-liihat situs-situs berbahasa Arab, kadang kita temukan para ‘pemikir’ Arab berdiskusi tentang hal ini. Di awal Agustus 2008, judul diatas terpampang besar di situs Kwtanweer: “The Reasons for the Backwardness of Muslims: Asbab Takhallof al-Muslimeen”. (Alasan-alasan keterbelakangan Muslim, Asbab Takhallof al-Muslimeen)

Sang penulis memulai dengan pernyataan:

“Saat ini, tak seorangpun menyangkal bahwa negara Muslim paling wahid dalam daftar negara-negara terbelakang, bodoh, miskin dan buta huruf. Apa alasan dari keterbelakangan ini? Terlalu banyak untuk disebutkan dalam satu artikel saja, tapi ini beberapa diantaranya.

Alasan Pertama:

Ketika Islam muncul, orang-orang Kristen di Suriah, al-Kūfah dan Yaman telah terbiasa dengan bacaan, tulisan dan terjemahan; sementara kebanyakan orang-orang Quraisy (sukunya Muhammad) [1] buta huruf, kecuali sebagian besar pedagang dan para hanif [2] seperti Waraqah bin Naufal (adalah sepupu Khadijah istri Muhammad).

Karena meratanya kebutahurufan ini, mayoritas Muslim tidak bisa mencatat Qur’an, jadi mereka harus puas dengan menghafalkannya. Bahkan mereka yang bisa baca juga merasa sukar membaca Catatan Qur’an (yang kebetulan tercatat) karena tidak memakai tanda titik [3] hingga membuat pembacaan kembali menjadi mustahil tanpa pertolongan guru atau mereka yang hafal ayat tersebut. Ini membuat bangkitnya kelas pembaca Qur’an, yang sebenarnya menghafalkan teks-teks tersebut. Mereka dipanggil Qāri (“pembaca” adalah orang yang melantunkan bacaan Qur’an) dan mendapat status khusus dimasyarakat Islam.

Karena suku Quraisy termasuk kelas pedagang, banyak diantara mereka betah menjadi perantara (makelar). Dengan cara yang sama, sang Qāri bertindak sebagai makelar antara Allah dan Muslim. Demi menjaga orang-orang awam belajar Qur’an, mereka menciptakan aturan-aturan tertentu untuk melantunkannya, atau intonasi-intonasi khusus untuk ayat-ayat suci tertentu dan perawiannya.

Seiring waktu, para “pembaca” ini mulai mendiktekan kepada Muslim awam ataupun pada Khalifah Umayyah dan Abbas, apa yang harus mereka lakukan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan, untuk membuat Allah senang.

Para pengumpul Hadis ikut-ikutan para ‘pembaca’ ini dengan membentuk kelas spesial yang sangat dijunjung dan dihormati para Khalifah, yang mengaku sebagai wakil Allah dibumi. Untuk menambah kekuasaan mereka atas orang banyak, para ulama menciptakan banyak Hadis yang mencegah orang-orang menikmati hidup. Mereka mengumumkan larangan menikmati musik, bernyanyi dan menari.

Alasan Kedua:

Alasan lain atas keterbelakangan Muslim adalah rasa takut terbagi menjadi banyak sekte, seperti yang terjadi pada orang Yahudi dan kristen, menuruti akal fuqaha mereka [4]. Mereka terlalu menekankan perlunya masyarakat Muslim untuk berpikiran sama/satu. Apapun yang diterima oleh sang Khalifah dianggap sebagai pilihan dari seluruh umat. Mereka diajarkan kepatuhan pada sang penguasa lebih daripada mematuhi Allah dan UtusanNya.

Alasan Ketiga:

Ketakutan Muslim akan perpecahan berujung pada rasa takut bahwa ayat-ayat Qur’an nantinya bisa dirusak. Ini membuat pembuatan Qur’an hanya dilakukan dipusat-pusat utama seperti Damaskus, Kairo dan Istanbul. Ada peribahasa yang mengatakan bahwa “Qur’an turun di Mekkah, dilantunkan di Kairo dan dibuat di Istanbul!” Sultan Muhammad sang penakluk menolak tawaran dari Gutenberg (Jerman) bagi mesin cetak.

Qur’an dan kitab-kitab agama lainnya, terus menerus ditulis tangan hingga tahun 1627; ini menjelaskan kenapa sedikit sekali kitab-kitab tersebut ditemukan ditanah Utsmaniyah. Mesin cetak pertama dibuat di Mesir yang dikuasai Muhammad Ali Pasa tahun 1822. Jadi, para pemimpin Musilm bertanggung jawab karena penundaan pencetakan kitab suci ini selama lebih dari 300 tahun. Bahkan setelah mesin cetak dihalalkanpun, semua buku harus disetujui lebih dulu oleh otoritas sebelum dipublikasikan.

Alasan Keempat:

Karena adanya panggilan azan, ini menyebabkan orang-orang Arab tidak begitu peduli akan waktu, kecuali waktu terbit/terbenam matahari. Ketika Islam mengenalkan salat lima waktu, azan dari sang muazin menjadi “Jam” berbicara bagi para Muslim.

Pernah, Sultan Murad III dari Ottoman membangun jam tahun 1561 yang mengumumkan waktu-waktu azan; bukannya dipuji oleh para ulama, Sang Sultan malah dituduh mengenalkan mesin karya orang Kafir! Dia dipaksa menghancurkan mesin jam tersebut; dan para Muslim terus bergantung waktunya pada waktu azan sebagai metoda pengenalan waktu mereka.

Alasan Kelima:

Para ulama mendorong orang-orang untuk mengembangkan konsep menggantungkan nasib pada Allah, yang menihilkan peran tanggung jawab pribadi dalam rencana dan tindakan seseorang. Ulama-ulama ini tidak pernah berhenti mengulang-ulang ayat Qur’an 9 At-Tawbah 51:

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”.

Menurut para ustadz, tindakan manusia pada akhirnya dianggap sebagai tindakan Allah itu sendiri, seperti ditulis dalam 8 Al-‘Anfal 17:

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Jadi, para Muslim mengembangkan sikap tidak peduli dengan masa depan, karena tipe ketergantungan mereka pada Allah. Lagipula, segala sesuatu dalam hidup ini sudah ditakdirkan.

Alasan Keenam:

Islam melarang bunga dalam simpan pinjam, apapun jenis bunga dianggap sebagai Riba. Ini diungkapkan dalam 2 Al-Baqarah 275:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Alasan Ketujuh:

Qur’an meminta istri-istri Nabi agar tetap tinggal didalam rumah, jangan menghiasi/memperindah rumah-rumah mereka seperti para wanita dijaman jahiliyah. Pihak berkuasa menafsirkan ini sebagai perintah khusus yang normatif untuk semua wanita Muslim. Ini berujung pada pelemahan masyarakat Islam, menambah keterbelakangan dan kemiskinan mereka.

Alasan Kedelapan:

Percaya pada mitos dan dongeng isapan jempol adalah bagian dan paket kehidupan masyarakat Muslim. Setiap kejahatan atau kesialan atau malapetaka yang terjadi didunia ini adalah pekerjaan Setan. Untuk melindungi anak-anak dari perusakan Setan, anak-anak Muslim harus memakai kalung tasbih biru, sementara wanita dewasa harus memakai jilbab.

Analisa

Kolumnis ini membuat delapan alasan kenapa dunia Islam sekarang begitu menyedihkan, dengan menunjuk hidung pada perkembangan tertentu diawal munculnya Islam yang membuat para Muslim melakukan keputusan yang salah. Jadi mereka sebenarnya menuai hasil dari benih kemunduran yang mereka tanam dulu dengan Islam, hasilnya Muslim sekarang tidak bisa bertarung dengan tantangan dunia modern.

Komentar

Penulis artikel diatas menghabiskan cukup banyak waktu memikirkan tiga alasan pertama dari “keterbelakangan Muslim”. Malah dia cukup ahli dalam sejarah akan peran para ‘pembaca’ Qur’an yang, menurut dia, menjadi komentator resmi ayat-ayat Allah” ini. Ini pada akhirnya menghasilkan pandangan kaku akan kehidupan dan mencegah para Muslim mengatasi perubahan sang waktu.

1. Qureish, the leading tribe in Mecca; Muhammad was a member of this tribe, and of the clan of Hashim

2. Hanifs, Arab monotheists who were neither Jewish, nor Christian; very little is known about them.

3. Dots, The Arabic alphabet resembles shorthand (stenography); its letters are distinguished by the number and place of the dots that are placed over or under a letter. They are referred to in Arabic as “Niqat” plural of “Niqta.” They are to be distinguished from the vowel signs known as “Harakat,” that indicate how a consonant should sound.

4. Fuqaha, plural of faqih, an expert in the exegesis of the Shari’a, a Muslim theologian.

5. Firman, a decree issued by an Ottoman Sultan promulgating a new rule to be followed throughout the Empire.

6. Muezzin, a Muslim charged with chanting the call to prayer 5 times a day, he climbs to the top of the minaret to call the faithful to fulfill their duty. Nowadays, the call to prayer goes over loudspeakers in many parts of the Muslim world. The time for the call to prayer is known as the Azan.

7. Reference here is to the title of David-Pryce Jones’ “The Closed Circle: An Interpretation of the Arabs.”

Sumber dan Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: