PERANG ISLAM MELAWAN BUDDHISME

Oleh Dhammajarat

“Allahu Akbar”! Begitu bunyi yang keluar dari pengeras suara TOA, yang menghancurkan suasana sejuk dan damai pada pagi subuh itu.

Saya terhentak, seakan ditabrak mobil dengan tiba-tiba. Suara membosankan itu menyusup kemana-mana, bahkan ke telinga burung-burung yang tadinya sedang beristirahat dalam kegelapan pagi.

Waktu itu beberapa menit sebelum pukul 4 pagi. Saya duduk dibawah pohon suci Bodhi di Bodh Gaya, di negara bagian Bihar di India. Waktu itu bulan Mei 2004, beberapai hari setelah Hari Raya Waisak. Ini kunjungan saya kedua di tempat yang tidak ada duanya didunia ini, tempat Sang Buddha mencapai Bodhisatwa sekitar 2.500 tahun yang lalu. Kini, menjelang akhir hari ke 10 kunjungan saya, saya akhirnya diberi kehormatan untuk menghabiskan malam itu di kompleks perumahan Sang Maha Bodhi.

Rencana saya adalah menghabiskan seluruh malam mempelajari meditasi/bertapa sambil bersila, meditasi sambil berjalan dan memutar-mutari Stupa Maha Bodhi. Udara cukup hangat dan meditasi saya berjalan dengan baik, tanpa merasakan lewatnya waktu.

Bulan malam itu memainkan sinar-sinar cantiknya pada daun-daun yang berkelap kelip di pohon Maha Bodhi, bunyi daun-daun yang ditiup dan keheningan yang maha agung membawa saya kembali ke zaman Buddha, saat ia sendiri sedang duduk persis ditempat saya ini.

Atau begitulah yang saya sangka …

Tahu-tahu bunyi pengeras suara yang berteriak-teriak memanggil pengikut Islam, persis di lokasi tersuci Buddhisme ini, menghentakkan saya kembali kepada dunia modern. Saya sangat terkejut! Mana mungkin! Pada tempat yang paling suci Buddha ini, bukan hanya satu tapi BEBERAPA PENGERAS SUARA mengganggu kami pada pukul 4 pagi, mengagetkan dan mengganggu para pertapa yang menggunakan tempat paling suci ini!

KURANG AJAR! Kok ini diijinkan?

Panggilan Muslim untuk berdoa sepertinya terus dan terus. Sampai 20 menit lamanya suara kaset rusak itu berlangsung!

Setelah kaset rusak Allah itu berhenti, keheninganpun pulih kembali. Tetapi konsentrasi saya sudah hancur. Bukannya mengikuti irama nafas saya, saya mulai merasakan gangguan dan paradoks yang baru saya alami itu.

Pikiran saya melayang ke Mekkah!

Apakah ada satu agama yang berani bertingkah seperti ini di tempat tersuci Islam, seperti cara Islam mengganggu tempat tersuci Buddhisme ini?

No way! Siapapun yang mencobanya akan dipenggal lehernya! Jangankan mendekati Kakbah, pasang pengeras suara yang bunyinya terdengar sampai ke Masjid Agung saja, bisa mengakibatkan seluruh keluarga saya dibantai. Munafiknya Islam ini memang tidak ada batasannya. Luar biasa!

Setelah beberapa waktu kemudian, keterkejutan saya mulai mereda dan saya mulai melihat ini sebagai kelanjutan sebuah invasi menyedihkan terhadap Buddhisme yang sudah berlangsung sejak zaman dahulu oleh Islam.

Dalam kunjungan-kunjungan saya sebelumnya ke India, saya telah berziarah ke setiap tempat bersejarah yang dihubungkan dengan Sang Buddha. Pada setiap lokasi polanya sama: Stupa Agung atau universitas Buddhis dengan arsitektur menakjubkan itu hanya tinggal puing-puing. Bahkan tempat lahirnya dan dikuburnya Buddha juga DIHANCURKAN ISLAM. Dengan penggalian dizaman modern ini, baru sebagian bisa direstorasi.

Saya belajar dari para pemandu wisata bahwa lokasi-lokasi ini semuanya dihancurkan oleh invasi tentara-tentara Muslim di zaman dulu. Dimulai pada tahun 900 M oleh tentara Turki yang datang dari daerah yang kini dinamakan Afganistan, dan berlanjut selama 1000 tahun sampai era Kesultanan Mughal. Serangan demi serangan yang memang dirancang untuk menghancurkan seluruh agama, seluruh kawasan India dari muka bumi ini. Sejarah panjang Islam, yang disebarkan dengan pedang dan api ini, meninggalkan bekas yang menganga pada tempat-tempat Buddhisme indah dan damai ini.

Saya baru tahu bahwa para biarawan dan biarawati dibantai tanpa ampun dan tubuh mereka ditumpuk dan dibakar dan dimanapun angin Islam ini bertiup, rakyat yang masih bisa menyelamatkan diri terdesak untuk mengungsi keluar dari India.

Saya baru tahu bagaimana orang-orang Buddha mencapai Tibet dan Asia Tenggara. Karena melarikan diri dari Islam! Jadi sebenarnya kepercayaan saya (Buddhisme) telah diberi cap pengungsi oleh agama maha pemurah bernama Islam itu.

Saya baru tahu bahwa Islam khususnya keji dan brutal terhadap Buddhis, karena bagi Muslim, seorang Buddhis mewakili tipe manusia yang paling najis: Yaitu sebagai “ateis” yang tidak percaya pada sebuah Tuhan yang monoteisme. Kami dianggap lebih rendah dari orang Hindu dengan ribuan Dewa dan Dewi mereka. Kaum Buddhis, bagi Muslim, hanya memuja gambaran seorang lelaki, dan bukan Tuhan yang lebih tinggi.

Nampaknya mereka memang malas mempelajari filsafat Buddhisme lebih dalam. Dan begitulah cara-cara Islam menyebarkan ‘kasih’nya terhadap Buddhisme selama berabad-abad … sampai sekarang.

Saya jadi mengingat kembali saat patung agung Buddha di Bamiyan dihancurkan oleh Taliban. Saya masih ingat air mata saya ketika melihat patung luar biasa megahnya itu, patung-patung kuno yang paling besar di dunia ini, dihancurkan menjadi debu. Saya mendengar seruan Taliban ketika itu yang terdengar lewat laporan televisi, lagi-lagi seruan yang sama itu: “Allahu Akbar”! Seruan yang sama yang membatalkan meditasi saya dibawah pohon Bodhi itu.

Kini saya berdoa agar saya tidak akan pernah mendengar suara panggilan ini ditempat kediaman saya di Amerika. Sebelum Islam mereformasi diri secara total, kita semua akan menjadi korban. Menurut pengalaman saya, Islam tidak berubah sedikitpun. Malah, Islam kini menjadi lebih agresif ketimbang dijaman invasi mereka di abad ke 9 dan 13. Islam “Modern” ingin membangunkan kembali jaman gelap pembantaian dan penjarahan mereka demi Allah mereka.

Kami, Buddhis, harus sadar bahwa kami dan praktek-praktek ajaran kami yang kami cintai, akan diberangus habis total, kalau Islam mengambil alih dunia tempat kita hidup ini. Islam adalah satu-satunya agama yang menyebarkan diri dengan pedang.

Dan Islam menunggu dengan sangat sabar.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: