ILMU PENGETAHUAN, DEMOKRASI DAN ISLAM

Oleh Morten Breivik

Prinsip terutama dalam ilmu adalah pertanyakan segala sesuatu; tidak ada yang tidak boleh disentuh. Kalau sebuah teori tidak lulus uji coba, maka teori itu tidak ada gunanya dan sebaiknya dibuang saja. Misalnya, percuma saja mempertahankan teori-teori fisika yang luar biasa indahnya jika akhirnya gagal saat dihadapkan pada kenyataan.

Begitu pula dengan demokrasi yang erat hubungannya dengan dasar-dasar ilmu pengetahuan; karena menuntut orang untuk terus bertanya tanpa ampun dan tanpa kecuali. Diperlukan pertukaran ide yang tidak dibatas-batasi antara para anggotanya, terlepas dari SARA (suku, agama, ras dan aurat) mereka. Tapi jika arus informasi antara kedua komponen masyarakat ini tersendat, contoh dengan penahanan informasi, maka masyarakat tidak dapat diharapkan untuk belajar dari kesalahan-kesalahan untuk memperbaiki diri.

Oleh karena itu, sebuah demokrasi menuntut tidak adanya pembatasan dalam kemerdekaan berbicara, kemerdekaan pers dan institute riset, sebuah pemerintah yang mengabdi pada rakyat (dan bukan sebaliknya) dan sebuah sistim pendidikan yang mendidik dan bukan mengindoktrinasi. Warga selalu harus memiliki akses kepada informasi yang bisa mengantar mereka kepada keputusan konstruktif dan berbobot.

Keduanya, ilmu dan demokrasi tidak bisa diterapkan setengah-setengah. Nanti namanya akan menjadi ilmu palsu atau demokrasi palsu yang dinamakan dengan ‘pseudo-science’, atau ‘pseudo-democracy’. Pseudo-pseudo ini adalah keadaan dimana struktur resmi sebuah demokrasi eksis, tetapi informasi dipalsukan, kemerdekaan bicara dibatasi, media bersifat sepihak dan warga mengabdi pemerintah. Belum lagi sistim pendidikan yang mengindoktrinasi. Warga selalu dijejali kebohongan dan tidak memiliki alat untuk menganalisa setiap informasi. Dengan tidak lancarnya ‘check dan balance’ dalam sebuah demokrasi, setiap ide konyol bisa diberlakukan untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Dalam situasi ini, organisme sosial tidak dapat belajar dari kesalahan yang nyata, tetapi hanya sekedar berteori tentang sesuatu yang dibayangkan saja dan kemungkinan besar dimotivasi secara ideologis.

Kekuatan yang paling anti-ilmu pengetahuan dan anti-demokrasi di dunia ini nampaknya adalah ideologi Islam. Bertameng sebagai agama, Islam berhasil mengelak dari kritik yang biasanya dilemparkan kedapa saudaranya, Komunisme, Fasisme dan Nazisme. Dengan memainkan kartu agama, setiap resep pil racun yang diberikannya nampaknya diluar jangkauan kritik dan diterima dunia yang sedang dibungkam oleh dunia yang malu-malu karena ‘political correctness’. Tetap saja, kelakuan yang menerapkan prinsip-prinsip Islam sudah jelas memproduksi arus pengungsi, kesengsaraan, buta huruf, kepicikan, perang, kekerasan, terorisme dan perang yang tidak ada habis-habisnya (untuk selamanya). Apapun hal positif yang dimiliki Islam, ini tidak nampak sama sekali di dunia nyata.

Semua negara Islam tanpa kecuali terdiri dari pseudo-demokrasi atau rejim totaliter murni. Kekakuan ideologi Islam, yang menganggap diri datang langsung dari atas, nampaknya membayang-bayangkan sebuah Jaman Emas Islam. Malah ada yang berani mengatakan bahwa prestasi yang dicapai dunia sekarang adalah karena Islam. Tetapi terbukti sekarang bahwa mereka hanya dihasilkan oleh pengetahuan dan kemampuan peradaban yang ditaklukkan Islam. Jaman Emas ini pada akhirnya membawa kepada kesengsaraan, sesuai dengan kenyataan dunia Islam sekarang, dimana semua elemen progresif dari peradaban yang dijajahnya itu pada akhiinya diporak-porandakan sampai rata bak gurun pasir.

Tidak sulit untuk menebak kualitas konstruktif apa yang dapat dihasilkan sebuah hukum yang sangat tidak manusiawi dan sangat anti-ilmu pengetahuan seperti Shariah, yang tokoh-tokoh utamanya mengancam akan membunuh siapapun yang berani melontarkan pertanyaan.

Persyaratan bagi kemajuan berarti adalah diijinkannya ketidakpastian. Ketidakpastian bahwa siapa tahu kepercayaan kita salah. Kita harus membiarkan diri untuk tidak yakin, kita harus bersiap-siap untuk mengganti sudut pandang kita, dan tidak membiarkan ego kita menghalangi perbaikan diri. Proses penerimaan ide baru selalu terbagi kedalam 3 tahap: tahap ejekan, tahap tantangan sammpai akhrinya diteirma sebagai masuk akal.

Namun kalau pada tahap kedua saja sudah melibatkan ancaman kekerasan fisik dan bahkan melayangnya nyawa, kemajuan berarti tidak akan pernah terjangkau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: