QUR’AN DAN MEIN KAMPF

Oleh Craig Winn

Gambaran secara umum diambil dari “Prophet of Doom”

Mein Kampf ditulis dari Landsberg, dalam penjara Lech pada tahun 1924, persis 1300 tahun sesudah Yahudi Qaynuqa dianiaya secara sangat mengerikan pada tahun 624 M. Ini dipersembahkan untuk 16 Martir. Orang-orang Adolf Hitler yang dipuji sebagai: ‘Pahlawan yang gugur, saksi-saksi darah yang terus mengabdi sebagai teladan untuk pengikut-pengikut gerakan kita. Mereka setia dalam kepercayaan mereka mengenai kebangkitan rakyatnya.’ Para syuhada Muslim pada perang Badar, mengabdi pada Muhammad dengan sunguh-sungguh. Dan saya yakin anda menaruh perhatian pada kesukaan Hitler akan terminologi keagamaan. Dalam pembukaan salvonya dia mengumandangkan: ‘Para saksi, pengabdian, contoh-contoh, pengikut, gerakan, ketabahan, kebangkitan.’ Ini bukanlah kebetulan.

Meskipun ditulis lebih baik dan mudah dimengerti, gaya dan bahan dari Mein Kampf indentik dengan Qur’an dan Hadis. ‘Aku memutuskan untuk mempublikasikan dalam dua buku, sasaran dari gerakan kami, dan mengambarkan pengembangannya. Dari sini lebih banyak yang dapat dipelajari daripada hanya sekedar acuan doktrin.’ Mein Kamf, seperti juga Qur’an ditulis dengan gaya orang pertama. Kata-kata kami (The royal “our”) pada kutipan sebelumnya adalah kolektif, kerena Hitler melihat dirinya sendiri secara rohani terbimbing. Meskipun banyak isi Mein Kampf menjiplak, perumusan dan pencanangannya, seperti Islam, dikerjakan oleh orang yang penyendiri. Ini di inspirasi oleh roh kegelapan, kebencian, kecurangan dan kekejaman.

Hadis dan Qur’an, tidak dimaksudkan untuk di baca oleh non-Muslim. ‘Dengan karyaku, aku tidak mengalamatkan diriku untuk orang-orang asing, tetapi untuk pengikut–pengikut gerakan yang tergolong di dalamnya dengan hati mereka dan siapa yang oleh suatu sebab mencari pencerahan yang lebih.’ Muhammad memerintahkan pengikutnya untuk tidak membawa Qur’an ketika menyerbu ke suatu daerah baru.

Sahih Bukhari, Volume 4, Book 52, Number 233:

Narrated ‘Abdullah bin ‘Umar:
Allah’s Apostle forbade the people to travel to a hostile country carrying (copies of) the Quran.

Dikisahkan ‘Abdullah bin ‘Umar:
Rasul Allah melarang orang-orang yang berpergian ke negara yang bermusuhan dengan membawa (salinan) Qur’an.

Muhammad juga mengklaim tidak ada suatupun yang perlu ditulis, bila bisa diucapkan. Dia percaya bahwa kefasihan berbicara adalah sihir untuk mendapatkan tunjuannya. Qur’an, sesudah semuanya, adalah uraian lisan. Hadis tidak lebih dari pada laporan lisan. Hitler berkata kepada kita mengapa: ‘Aku tahu sesuatu yang dapat memenangkan orang-orang lebih jauh dengan menggunakan kalimat percakapan (pidato) ketimbang dengan kalimat tulisan. Setiap gerakan besar di dunia ini, tidak dapat disangkal, timbul kerena para pembicara yang besar bukan para penulis.’

Tetapi: ‘Meskipun demikian, element-element dasar dari suatu doktrin harus dituliskan dalam bentuk permanen supaya mungkin dapat direpresentasi dalam cara yang sama dan dalam kesatuan.’ Dengan kata lain: ‘Aku ingin kata-kata ke-Nabian-ku meluputkanku.’ Dan kerena keduanya ingin hidup lebih lama dari yang menganiaya, mengejek dan monolak mereka. ‘Mein Kampf akan menghancurkan cerita-cerita jahat (fitnahan) tentang pribadiku yang dibuat oleh pers Yahudi.’

Muhammad dan Hitler, memandang mereka dan pengikutnya sebagai orang-orang yang menderita. ‘Kesengsaraan bangsa memberikan kami pembenaran moral untuk mendapatkan tanah dan wilayah asing. Sebilah pedang adalah juga bajak. Dari airmata peperangan akan tumbuh makanan sehari-hari untuk generasi–generasi mendatang.’ Semangat militan untuk menjadi perampok penjarah. Keduanya menggiring pengikutnya untuk menjadi parasit. Ekonomi mereka tergantung pada barang rampasan.

‘Itu juga memberikanku kesempatan untuk menguraikan perkembangan pribadiku sejauh yang dibutuhkan untuk mengerti buku-buku ini.’ Qur’an berteriak pada sekarang, bersaksi bahwa Muhammad adalah seorang anak yang teraniaya, membenci semua yang menahan kekuatan dan kekayaan yang ia butuhkan.’ Mein Kampf lebih langsung. Hitler mengaku diperlakukan kejam, yatim piatu dan miskin. Dia berkata kepada kita, bagaimana ini membimbingnya menciptakan agama baru, dan bagaimana ia menggunakannya untuk menyerang kaumnya bangsawan yang berkuasa dan Yahudi yang tak berdaya. Seperti itulah, membaca Mein Kampf seperti berbicara dengan Muhammad.

Hitler dan Muhammad tumbuh dari kota-kota kecil yang akhirnya mereka serang. ‘Hari ini aku mempertimbangkannya keberuntunganku bahwa NASIB merencanakan kota kecil Braunau am Inn sebagai tempat kelahiranku.’ SANG PEMIMPIN  menyebut pembimbingnya sebagai roh “NASIB” dan “SIFAT“. Keduanya biasanya ditulis dengan huruf besar sebagai yang Ilahi dan digunakan untuk bergantian dengan kata “LORD” dan “GOD“. Kata-kata yang belakangan dapat ditemukan dalam seluruh terjemahan Inggris Injil dan Qur’an. Keduanya berasal dari tradisi Kafir. “LORD” adalah gelar dari Dewa Kanaan. Kata Inggris “GOD” diambil dari kata Jerman “Gott”. Bangsa Arya mengguna istilah tersebut untuk roh gelap yang mereka sembah. Luciferlah yang akan dihormati dari tiap nama itu.

Untuk ulasan yang lebih lengkap silahkan mengunjungi situs ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: