JIHAD ISLAM MELAWAN HINDU

Oleh Janel Levy

Ulasan dari buku:
The Art of War on Terror: Triumphing over Political Islam and the Axis of Jihad
Oleh Moorthy Muthuswamy

Ada kemungkinan bahwa Pakistan dan senjata nuklirnya akan jatuh ke tangan para jihadist. Jihad di Asia Selatan tidak begitu dikenal di dunia, meskipun tidak kurang kejamnya dibandingkan jenis perang lain yang dirancang Setan Besar Amerika dan Setan Kecil Israel.

Umat Hindu berjumlah sekitar satu milyar di dunia, dan kebanyakan hidup di anak benua India. Hindu merupakan agama ketiga terbesar di dunia setelah Kristen (2,1 milyar) dan Islam (1,57 milyar). Tapi jumlah besar umat Hindu ini tidak menghindarkan mereka dari serangan Muslim yang terus-menerus berlangsung di India, Pakistan dan Bangladesh.

Sudah nyata bahwa jihad terhadap non-Muslim India semakin meningkat di beberapa dekade terakhir ini. Pemerintah India dan organisasi-organisasi kemanusiaan tidak berbuat banyak atau malah diam saja melihat serangan demi serangan terhadap umat Hindu. Media juga jarang mengisahkan penghancuran tempat-tempat ibadah Hindu dan intimidasi tak berkeputusan terhadap umat Hindu. Pemerintah India memberi hak-hak istimewa pada Muslim di India, tapi Pemerintah Pakistan dan Bangladesh, yang menerapkan UU berdasarkan Syariat, tetap saja menerapkan diskriminasi agama terhadap non-Muslim. Masyarakat Hindu di Pakistan dan Bangladesh tidak bisa mendapatkan kedudukan penting dalam Pemerintahan, sukar mendapatkan pinjaman untuk buka bisnis, dituduh menghujat Muhammad dan di KTP-nya juga ditulis sebagai non-Muslim (ini mengakibatkan perlakuan diskriminatif dari mayoritas Muslim).

Di bukunya yang terakhir yang berjudul “The Art of War on Terror: Triumphing over Political Islam and the Axis of Jihad”, Moorthy Muthuswamy mengungkapkan kampanye Muslim melawan Hindu yang jarang diketahui dan dikabarkan. Muthuswamy menerangkan metodologi dan basis ideologi politik Islam, lengkap dengan catatan sejarah 60 tahun jihad di India, terutama peranan-peranan yang dimainkan oleh negara-negara yang dia sebut sebagai “poros jihad”, dan dia juga menawarkan pemecahan-pemecahan masalah dalam menghadapi ancaman jihad.

Akar jihad di anak benua India dimulai di tahun 1947, tatkala Inggris meninggalkan Asia Selatan dan memberikan kemerdekaan pada negara India dan Pakistan. India memilih mendirikan Pemerintahan demokrasi sekuler dan sistem hukum berdasarkan Commonwealth Inggris dan Hukum Parlemen. Hal ini berbeda dengan Pakistan yang dibentuk oleh Liga Muslim yang menamakan negara itu Republik Islam Pakistan. Pakistan memilih dasar Hukum Islam. Saat itu, minoritas Hindu di Pakistan Barat berjumlah 29% dari seluruh populasi dan 23% dari seluruh populasi Pakistan Barat. Tapi sejak dimulainya perang India–Pakistan di tahun 1971, sekitar 2,5 juta warga Hindu Pakistan dibantai. Tak lama kemudian, Pakistan Timur mendirikan Republik Rakyat Bangladesh, dan 10 juta masyarakat Hindu melarikan diri ke India.

Dalam laporan tahun 1971 pada komite hukum Senat AS yang meneliti masalah pengungsi dan penduduk di Asia Selatan, Senator AS Edward Kennedy menulis keadaan sebagai berikut:

“Laporan keadaan pada Pemerintah AS, saksi mata jurnalis yang tak terhingga banyaknya, laporan-laporan dari badan-badan Internasional seperti World Bank dan informasi tambahan yang ada untuk dokumen sub komite tentang teror yang terjadi di Benggala Timur (Pakistan Timur). Yang paling jadi korban adalah masyarakat Hindu yang dirampok tanah dan toko-tokonya, dibantai secara sistematis, dan di beberapa tempat, dicat kuning dengan tulisan ‘H’. Semua ini telah ditetapkan, diperintahkan dan dilakukan secara resmi di bawah UU darurat dari Pemerintah di Islamabad.” [1]

Pada tanggal 23 April 1977, Bangladesh mengubah UU-nya dan menolak sekulerisme dan membaktikan dirinya pada solidaritas Islam. Di tahun 1988, Islam menjadi agama resmi negara dan Syariat jadi hukum negara. Di tempat lain di Lembah Kashmir, India, dalam jangka waktu 20 tahun Muslim telah melakukan berbagai teror untuk meng-Islam-kan daerah itu dan memperluas daerah kekuasaan Pakistan dengan memasukkan Kashmir. Pada akhirnya, Muslim telah mengenyahkan 350.000 penduduk Hindu Kashmir dan telah membunuh, memperkosa dan menculik mereka.

Di bukunya, Muthuswamy menjelaskan bagaimana agama dan sistem Islam telah berfungsi untuk menyulut dan bahkan menuntut usaha terus-menerus untuk memusnahkan seluruh populasi non-Muslim. Masjid dan madrasah-madrasah menjadi pusat kekuatan dan pilar utama kehidupan Islam, dengan menerapkan dan membentuk kehidupan Islam sehari-hari. Kontrol total diterapkan dengan cara mencegah kemajuan dan kesehatan dan memaksakan trilogi Islami: Qur’an, Hadis dan Sirat. Imam-imam Muslim menolak pendidikan modern dan hanya mengajarkan Qur’an saja dan melakukan tujuan suci jihad. Hasilnya adalah masyarakat yang bodoh, terbelakang, miskin dan mudah diindoktrinasi. Sistem ini bergantung pada para pemimpin agama dan organisasi-organisasi Islam yang hanya bisa menyediakan pelayanan yang sangat terbatas bagi kebutuhan masyarakat. Hal ini membuat Muslim mudah dimanipulasi dan selalu merasa jadi korban dan cenderung bermusuhan, dan semua ketidak puasan ini dengan mudah lalu diarahkan dan dilampiaskan kepada non-Muslim.

Doktrin Islam juga berperan besar dalam pembentukan dan penyebaran ideologi politik yang menuntut dilakukannya perang agama dengan tujuan mendirikan kekhalifahan Islam di seluruh dunia, di bawah Syariat Islam, begitu tulis Muthuswamy. Ideologi ini berdasar pada trilogi Islam, yakni Qur’an yang berisi firman Allah, biografi Muhammad (Sirat Rasul Allah) dan sunnah Nabi (Hadis). Konsep Hukum Emas, “Perlakukan orang lain seperti kau sendiri ingin diperlakukan” yang merupakan pesan utama agama-agama umumnya, tidak ada dalam Islam. Dunia Muslim secara sederhana dibagi dalam dua pihak: Muslim dan Kafir. Aturan-aturan Islam yang paling dekat dengan Hukum Emas adalah jangan zina, jangan bohong, atau membunuh Muslim lainnya. Akan tetapi, hal ini boleh-boleh saja dilakukan terhadap non-Muslim karena memang Muslim diharuskan untuk menaklukkan Dar al-Harb (tanah kafir yang harus diperangi), dan mengubahnya menjadi Dar al-Islam (tanah atau dunia Islam).

Muthuswamy mengutip penelitian akan Qur’an yand dilalukan oleh badan Pusat Politik Islam. Menurut badan ini, dari seluruh trilogi Islam (Qur’an, Sirat Rasul Allah dan Hadis) hanya 17% yang berhubungan dengan Allah. Sisanya 83% berhubungan dengan kata-kata dan perbuatan Muhammad. Di seluruh trilogi tentang “Neraka”, 6% adalah tentang dosa moral, sedangkan 94% adalah tentang hukuman bagi mereka yang tidak setuju dengan Muhammad. Analisa statistik trilogi Islam mengungkapkan bahwa 97% isinya adalah tentang perang jihad dan hanya 3% tentang jihad “pengorbanan jiwa.” [2]

Memang sudah direncanakan Muslim agar tiada bentuk Islam moderat di India, negara demokrasi sekuler non-kulit putih, non-Kristen, yang sedang berkembang. Di India, masalah-masalah masyarakat Muslim yang diakibatkan oleh Muslim sendiri selalu diarahkan untuk menyerang “penindas” non-Muslim. Hal ini persis sama dengan yang dilakukan oleh Palestina Arab dalam usahanya melakukan jihad dan bukannya mengembangkan pendidikan dan usaha ekonomi. Sama seperti India Muslim, Palestina Arab pun menyalahkan Israel karena kegagalan mereka sendiri. Karena itulah, dalam enam dekade terakhir, sejarah India dipenuhi dengan usaha-usaha pemusnahan non-Muslim melalui serangan-serangan teroris, juga dengan hak-hak istimewa bagi Muslim dan sikap tak bertoleransi terhadap Hindu.

Muslim India menuntut kekuasaan yang lebih besar dengan cara menerapkan status korban pada diri sendiri dan mengancam untuk melakukan kekerasan membabi-buta. Di India Selatan, Muslim tidak mampu bersaing di bidang pendidikan dan pekerjaan. Penelitian Pemerintah menunjukkan bahwa Muslim tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mendapatkan pekerjaan dan pendidikan yang layak. Undang-undang Aksi Pencegah Terorisme 2002 ditiadakan di tahun 2006 karena Muslim menganggap UU itu sebagai anti-Muslim. Baru-baru ini di Kashmir, Undang-undang India dibatalkan dan Syariat diterapkan sebagai hukum daerah itu. Sudah jadi taktik Muslim untuk merasa menjadi korban terlebih dahulu, padahal di saat yang bersamaan mereka membunuhi non-Muslim India melalui serangan-serangan teroris. Sikap Muslim India ini sama dengan Palestina Arab yang menuduh Israel menerapkan apartheid karena Israel mendirikan tembok pengaman dan pusat pemeriksaan untuk mencegah pembom bunuh diri Islam yang ingin masuk ke Israel. Muslim meraih kekuasaan politik dengan cara menjadi mayoritas di tanah itu; lalu menuntut hak-hak, hukum dan kondisi spesial; sambil tak lupa mengenyahkan non-Muslim dari tanah tersebut.

Perseteruan dengan Muslim di India yang terus berlangsung menunjukkan bahwa tidak mungkin tercapai kedamaian dalam hidup bersama Muslim dan Muslim tidak akan pernah terpuaskan. Usaha Muslim untuk menaklukkan non-Muslim memang sudah ditulis dalam ajaran agamanya. Kekuasaan Islam bertambah besar dengan cara mengambil tanah non-Muslim dan secara etnis memusnahkan non-Muslim dari tanah miliknya sendiri. Pembantaian massal terhadap Kafir secara bertahap terjadi di seluruh Pakistan, Bangladesh dan segala pelosok India. Populasi Muslim tumbuh pesat 1,5 kali lipat dibandingkan non-Muslim dan ancaman-ancaman fisik dan keputusan-keputusan politik dilakukan untuk menyempurnakan kekuasaan mutlak Muslim.

Hanya ada sedikit harapan bagi terciptanya reformasi Islam. Agama-agama lain memang sudah mengalami reformasi dengan mengurangi kekuasaan pemimpin-pemimpin agama. Yang terjadi pada Islam saat ini malah sebaliknya. Islam sekarang jadi semakin menindas, pengadilan-pengadilan Syariat dan Wahhabisme semakin berkembang, dan sikap anti agama lain telah ditegakkan. Tiada versi Islam moderat karena masjid-masjid yang berani mengajukan paham ini akan diancam dan tidak akan didanai. Fokus Islam ada pada indoktrinasi, pertumbuhan jumlah Muslim yang pesat, memerangi pihak yang menentangnya dan melakukan infiltrasi sebagai bagian dari jihad global, yakni perang agama total melawan negara-negara Kafir dengan tujuan meng-Islam-kan dunia.

Muthuswamy melanjutkan bahwa fokus Amerika akan poros kejahatan (Iran, Korea Utara dan Irak) tidaklah tepat karena Amerika harus mengalihkan perhatian terhadap poros jihad: Arab Saudi, Pakistan dan Iran. Dia menulis bahwa baik Arab Saudi maupun Pakistan mengakui keabsahan Pemerintah Taliban di Afganistan. Uang minyak Saudi telah mendanai pertumbuhan fanatisme Islam dunia dan menyebarkan paham Wahhabi melalui masjid-masjid dan madrasah-madrasah di seluruh dunia sambil tak lupa melatih imam-imam radikal. Keluarga kerajaan Saudi juga mendanai kelompok teroris dunia, Jamaat-e-Islami, partai mayoritas Pakistan dan kekuatan politik utama di Bangladesh. Baik Arab Saudi dan Iran telah mendanai pusat-pusat latihan teroris, dan Riyadh membantu mendirikan basis-basis teror untuk jihad di India dan usaha kekuasaan Islam di Turki. Uang dari Arab Saudi dan Iran mendanai masjid, sekolah, jaringan sosial dan jihad dalam masyarakat Muslim, termasuk kekuatan teroris terkemuka seperti Al-Qaeda, Hizbullah dan Taliban.

Amerika Serikat salah mengerti tentang Islam karena menganggap Islam sebagai agama biasa dan bukanlah ideologi politik, begitu tulis Muthuswamy. Anggapan ini merupakan hasil dari azas bebas beragama, katanya lagi. Muthuswamy yakin bahwa Amerika Serikat jadi lemah karena azas bebas beragama ini dan AS perlu fokus kembali kepada pengembangan sains dan teknologi. “Masyarakat yang berdasarkan informasi” seperti India dan Cina jauh lebih kuat daripada masyarakat yang berdasarkan agama, tulis Muthuswamy. Dia menambahkan bahwa agama menghalangi fungsi masyarakat di dunia modern dan agama perlu diganti dengan kesadaran nurani dan ilmu pengetahuan.

Di bagian akhir bukunya yakni bab “Policy Response”, Muthuswamy menganjurkan beberapa tindakan bagi Amerika. Dia menunjukkan cara memperlemah politik Islam melalui pembantahan dasar teologi Islam dan membuat Muslim jadi gundah. Dia menganjurkan perubahan fokus untuk tidak lagi terpusat pada kelompok-kelompok teroris dan poros kejahatan, tapi fokus kepada poros jihad, bahkan kalau perlu menuntut Arab Saudi, Pakistan dan Iran sebagai pelaku tindakan kriminal atas kemanusiaan. Muthuswamy lebih jauh menganjurkan agar India memperkuat diri dengan cara menjalin hubungan dengan Israel, sebagai cara melawan politik Islam dan poros jihad. Untuk menghadapi ancaman fisik jihad global, dia merasa perlu dikembangkan strategi pembalasan dengan senjata nuklir melawan negara-negara yang melakukan perang jihad.

[1] “Crisis of South Asia” report by Senator Edward Kennedy to the Subcommittee investigating the Problem of Refugees and Their Settlement, Submitted to U.S. Senate Judiciary Committee, November 1, 1971, U.S. Govt. Press, pp.66.
[2] William Warner, “The Study of Political Islam,” FrontPage Magazine, February 5, 2007.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: