MENYALAHKAN ORANG LAIN

Oleh Farooq Sulehria (Muslim)

Laporan Amnesty Internasional tentang HAK AZASI MANUSIA tahun 2011 sudah keluar.

Seperti biasanya, dunia Islam masuk kategori laporan terburuk! Setiap negara Muslim dituding oleh Amnesty Internasional sebagai telah melakukan berbagai pembunuhan, penyiksaan, diskriminasi terhadap wanita, ras yang berbeda dan minoritas umat non-Muslim. Hukuman-hukum yang tidak pernah diterapkan bahkan di jaman batu sekalipun, ternyata dilaksanakan di dunia Muslim di abad ke 21. Dalam satu kasus, dua warga Saudi Arabia dijatuhi hukuman 7000 cambukan. Benar itu: 7000 cambukan! Dan berapa banyak hukuman mati, nih? Lihat tuh, di Iran ada 335, di Saudi ada 158 dan di Pakistan ‘cuma’ 135. Penindasan HAM tampaknya hanya satu-satunya hal yang menyatukan dunia Muslim yang terpecah-belah.

Bukan laporan itu saja yang menyatakan begitu. Dunia Muslim selalu mencapai rekor sangat jelek setiap kali badan dunia manapun melaporkan hasil penelitiannya. Kebebasan berpendapat dipasung, begitu hasil laporan tahunan Reporters Sans Frontieres. Malah tentang kebebasan berpendapat ini, dunia Arab punya sebuah lelucon:

Di sebuah rapat, seorang wartawan AS berkata, “Kami benar-benar punya kebebasan berpendapat di AS. Kami dapat mengritik Presiden AS sepuas hati.” Wartawan Arab menjawa, “Kamipun punya kebebasan berpendapat penuh di dunia Arab; kami juga bisa mengritik Presiden AS sepuas hati.”

Negara-negara seperti Bangladesh, Pakistan atau Nigeria bergiliran mencapai kedudukan tertinggi dalam laporan Transparency International tentang tingkat korupsi negara-negara di dunia. Dan setiap kali penerima hadiah Nobel berkumpul di Stockholm setiap bulan Desember, para ilmuwan dan penulis Muslim jarang ada. Ketika Naguib Mahfouz (Muslim Ahmadiyyah) dianugerahi hadiah Nobel, dia malah lalu ditusuk sampai lumpuh. Yang paling ironis atau tepatnya, paling tragis, adalah sang penusuk bahkan tidak pernah membaca buku-buku hebat tulisan Dr. Mahfouz. Dunia Muslim juga mengutuki Dr. Abdus Salam hanya karena dia merupakan bagian dari masyarakat Ahmadiyyah. Kasus yang terjadi pada Dr. Salam layak ditelaah karena menekankan rusaknya sifat Muslim di dunia Islam.

DAN jika semua usaha Muslim gagal, masih ada orang-orang ‘Yahudi’ dan ‘Kristen’ yang bisa disalahkan karena kebobrokan kita (Muslim). Dunia Muslim bukannya penuh pemikiran ilmu pengetahuan dan rasional, tapi malah penuh dengan berbagai teori tipu muslihat. Pada setiap kasus pelanggaran HAM di Iran, Arab Saudi atau Pakistan, jawaban Muslim selalu sama: Lihat tuh apa yang dilakukan Barat terhadap Irak, Afganistan, Palestina dan Chechnya. Memang benar Imperialisme dan Zionisme telah ambil bagian dalam kegagalan kita, akan tetapi, banyak sekali luka-luka yang diakibatkan oleh para Muslim sendiri.

Ambil contohnya perang Iran-Irak yang merupakan perang paling berdarah abad lalu. Memang benar AS saat itu mendukung rezim Saddam. Tapi para syekh Arablah yang panik karena revolusi Islam Iran, yang benar-benar menyulut peperangan. Dan ironisnya, manakala pihak Barat yang ‘Kristen’ rela menghapus hutang Irak di jaman Saddam bernilai $ 66 milyar, justru pihak saudara-saudara Muslim Arab sendiri yang TIDAK mau menghapus hutang Irak pada mereka sebesar $ 67 milyar.

Juga lihat bahwa pembantaian massal Muslim abad lalu TIDAK dilakukan oleh orang-orang Serbia, Israel, Amerika, Eropa atau Hindu. Pihak militer Pakistan menolak keputusan demokrasi sehingga mengakibatkan Pakistan Selatan (sekarang Bangladesh) menjadi lautan darah. Jutaan dibunuh, dipotong-potong, diperkosa dan tidak punya tempat tinggal lagi. Untunglah, Pakistan punya tetangga ‘Hindu.’ Orang-orang Hindu adalah musuh Islam sejak lahir. Anak-anak Pakistan sekarang diajari bahwa pengkhianat Bengali (= pendiri Bangladesh) bekerjasama dengan tetangga ‘Hindu’ mereka dan memecah belah Pakistan. Meskipun begitu, ternyata dari semua tetangganya di Asia Tenggara, Pakistan punya hubungan yang sangat baik dengan satu-satunya negara Hindu di dunia, yakni NEPAL. Pembantaian massal yang lain dilakukan oleh INDONESIA. Yang dibunuhi kali ini adalah: warga negara sendiri yang jadi anggota Partai Komunis.

Tampaknya ISRAEL tidak bisa bersaing dengan Iran dalam hal membunuhi orang-orang Arab. Rezim Islam Iran paling bersemangat membela kepentingan Arab Palestina di ‘tanah jajahan’, tapi rezim ini pun secara teratur menghukum mati warga Arabnya di propinsi Khūzestān. Contoh lain bisa dilihat bagaimana pengungsi-pengungsi Afganistan diusir keluar dari Iran seakan-akan orang-orang Afganistan itu bukan Muslim saja. Juga harus diingat bahwa ketika Emirat Afganistan jatuh, ribuan kaum Hazara dibantai Taliban sekitar 10 tahun yang lalu – terutama karena kaum Hazara adalah Muslim Syi’ah. Di Irak, lebih banyak orang yang mati gara-gara pertikaian Syi’ah-Sunni daripada melawan pendudukan AS. Pertikaian Syi’ah-Sunni di Pakistan memakan korban lebih banyak daripada perang-perang Pakistan vs India. Ironisnya, Pakistan sebagai satu-satunya negara Muslim yang punya senjata nuklir, tidak kehilangan kekuasaan di daerah selatan yang berbatasan dengan tetangga ‘Hindu,’ tapi malah kehilangan kekuasaan di daerah barat gara-gara warga negaranya sendiri. (Dan di tahun 2011 – Seluruh Jazirah Arab masyarakat Muslim mengalami pembantaian dari pemerintah mereka sendiri yang juga adalah Muslim)

Kita juga bisa ingat peristiwa Irak menyerang Kuwait sampai ke kejadian terakhir perang saudara Hamas vs Fatah (ini peristiwa memalukan saat Israel merayakan hari jadinya yang ke 60). Daftar perang Muslim vs Muslim sangat panjang. Malah tidak berkesudahan. Muslim selalu berkhayal bahwa jalan keluarnya adalah kembali ke jaman kejayaan Islam di abad ke 7 yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Setiap kali seorang ilmuwan Barat siap untuk mengungkapkan penemuan barunya, jawaban Muslim selalu saja: kami para Muslim sudah tahu akan hal itu 1400 tahun yang lalu.

Kita, Muslim, bunuh Theo van Gogh cuma karena tidak suka dengan filmnya. Kita bakar kota-kota kita sendiri sebagai balasan atas karikatur yang dianggap menghujat. Meksipun demikian, kita tetap tidak mau mengerti mengapa jawaban kita terhadap setiap ‘provokasi’ adalah fatwa atau kekerasan membabi-buta – mungkin karena kita tidak benci kreativitas? Kita tidak kekurangan pikiran-pikiran yang hebat, tapi kita tidak punya kebebasan dan kemerdekaan – bebas dari sikap dan moral yang merusak diri sendiri dan budaya yang gemar main sensor. Selain itu kita juga tidak punya kebebasan untuk berpikir dan mengungkapkan pendapat. Ini saatnya untuk menelaah penyair besar Suriah bernama Nizar Qabbani yang menulis:

Lima ribu tahun
Tumbuhkan jenggot
Dalam gua-gua kita
Mata uang kita tidak dikenal
Mata kita adalah sarang lalat
Wahai kawan
Hancurkan pintu-pintu
Cuci otak kalian
Cuci baju kalian
Wahai kawan
Bacalah buku
Tulislah buku
Tumbuhkan kata, delima dan anggur
Berlayarlah ke negara yang berkabut dan bersalju
Tiada yang tahu kalian tinggal di gua-gua
Orang-orang menganggap dirimu anjing buduk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: