REFORMASI ISLAM: ISLAM MEKKAH VS ISLAM MADINAH

Oleh Jacob Thomas

Situs Kuwait yang relatif baru, Tanwir (Enlightenment – didirikan tahun 2002) adalah sebuah forum yang menawarkan dialog tentang: Demokrasi, HAM, status wanita, reformasi agama dan keadaan Kuwait. Dalam sumbangan-sumbangan saya yang terdahulu kepada faithfreedom, saya mengomentari diskusi para pakar Arab tentang tahdith (modernisasi), tajdid (pembaharuan) dan islah (reformasi).

Baru-baru ini saya menjumpai artikel dengan judul: Reformasi Religius dalam Islam: “Islam Mekkah” versus “Islam Madinah” (Al-Islah al-Dini Fi’l-Islam: Islam “Mecca” Fi Muwajahat Islam “Al-Medina”).

Artikel ini dengan terus terang menunjukkan eksistensi konfrontasi (Muwajahat) antara Islam yang diturunkan di Mekkah dan Islam yang kemudian diturunkan di Madinah.

Dibawah ini ringkasan artikel tersebut, menyusul analisa dan komentar saya. Penulis memulai teorinya tentang eksistensi “dua Islam”.

“Sudah lama orang Barat mendengarkan adanya dua versi Islam dari dua kelompok Muslim. Yang satu mengatakan bahwa, “Islam adalah agama toleransi, damai dan pengampunan.” Yang lainnya mengatakan bahwa, “Islam adalah agama jihad, pembunuhan dan penekanan terhadap non-Muslim.”

Jadi, yang mana Islam yang sebenarnya? Yang mana dari kedua pernyataan kontradiktif ini dapat dipercaya?

“Salah satu penjelasan adalah bahwa sebenarnya memang ada DUA ISLAM. Yang satu Islamnya Mekkah, dan satunya Islamnya Madinah. Islam yang pertama (Islam Mekkah) memang kedengaran damai tanpa embel-embel kekerasan; itu karena Muhammad saat itu masih lemah dan ditekan oleh kepemimpinan suku Quraish.

“Tetapi ketika ia hijrah ke Madinah, ia menjadi kuat dan akhirnya membentuk Negara Islam. Selama era ini (622-632) ia menerima surah-surah yang menyerukan jihad melawan Kafir di Mekkah dan juga Yahudi dan Kristen di kawasan Arab. Oleh karena itu, mereka yang mengatakan bahwa Islam adalah agama damai, memang benar … tetapi mereka yang mengatakan bahwa Islam adalah agama jihad, JUGA benar.

“Jadi, jika kita ingin mencapai reformasi yang nyata, kita harus mengadopsi pandangan baru terhadap teks suci dan meningkatnya fiqh (hermeneutika) baru yang didasarkan kepada nalar/logika (reason) yang sejelas dan seterang ilmu-ilmu baru. Oleh karena itu, para reformis harus berpihak pada Islamnya Mekkah, dengan dasar spiritualitas, toleransi dan cinta; dan menolak Islam Madinah yang mempromosikan kekerasan dan jihad melawan non-Muslim.”

Analisa

Setelah kematian Muhammad, para Khalifah memulai jihad untuk menguasai seluruh dunia, dan dalam 100 tahun, kekuasaan Islam tersebar dari Spanyol ke India. Baik fakta sejarah, maupun dari surah-surah Madinah dalam Qur’an menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mendorong kekerasan dan disebarkan lewat ancaman pedang.

Muslim tidak lelahnya mengutuk imperialisme Barat, tetapi anehnya, mereka menyukai futuhat (perebutan) mereka atas daerah-daerah luas di Asia, Afrika dan Eropa. Qur’an, bagian surah Madinah mengandung eksistensi perintah ilahi bagi perang dunia melawan Kafir yang kemudian menimbulkan konsep Daru’l Islam (Wawasan Islam) dan Daru’l Harb (Wawasan Perang)

Nah, kini Muslim-muslim ‘moderat’ karena ingin menghindari dimusuhinya Islam oleh seluruh dunia karena kelakuannya yang norak itu, ingin agar ‘agama’ mereka lebih menampakkan wajah lembut dan mampu hidup berdampingan dengan ke 5 milyar Kafir. Muslim-muslim moderat ini kemudian menyerukan agar diberlakukannya surah-surah Mekkah, yaitu surah-surah yang bersifat damai.

Komentar

Muslim moderat memang boleh bermimpi. Sayangnya, akar-akar Islam tertanam kuat diseluruh tubuh Qur’an, Hadis dan Sunnah. Tidak ada sedikitpun dalam teks-teks otoritatif ini, ataupun dalam cara-cara Islam disebarkan dalam ke 14 abad terakhir ini, yang membolehkan pembatalan surah-surah tertentu. Doktrin orthodoks yang tertanam kuat dalam Qur’an adalah bahwa teks Qur’an ‘tidak diciptakan’. Pada abad ke 9, Ahmad ibn Hanbal, salah seorang dari keempat aliran interpretasi syariat, memilih untuk lebih baik dipenjara ketimbang harus mengenyampingkan doktrin ini. Ia akhirnya berhasil dalam kegigihannya menyatakan Qur’an sebagai qadim, yaitu sudah dari sononya eksis di Surga. Jadi Muslim tidak bisa seenaknya comot mencomot, pilih memilih antara surah Mekkah ataupun Madinah.

Dan sayangnya bagi Muslim ‘pembaharu’ ini, mereka tidak memiliki tradisi seperti tradisi Kristen. Dalam tradisi Kristen, Perjanjian Lama harus ditafsirkan dalam konteks Perjanjian Baru. Jadi, sejak Perjanjian Baru mengajarkan dua kawasan yang sangat berbeda: kawasan Tuhan dan kawasan “Caesar” teokrasi di daerah-daerah yang didominasi Kristen bukan tujuan agama mereka.

Juga, bagian-bagian Perjanjian Baru yang membahas tentang perebutan Tanah Perjanjian dan aspek-aspek hukum Musa (kecuali ’10 perintah Allah’) dianggap sebagai hal-hal yang dihubungkan dengan sebuah waktu khusus dan oleh karena itu tidak normatif bagi masa kini.

Kitab Kristen menggambarkan dua tahap, yang pertama adalah tahap temporer dan persiapan, sementara tahap kedua adalah tahap akhir. Memang setelah Kaisar Romawi, Konstantinus, memeluk Kristen, garis demarkasi antara negara dan Gereja membaur. Dan setelah jatuhnya kerajaan Romawi, Gereja di Barat mencoba mencampuri urusan negara. Namun, ini bertentangan dengan ajaran Injil. Oleh karena itu juga, Kristen-kristen ‘pembaharu’ di abad ke 16 menyerukan bagi dikembalikannya dasar-dasar ajaran Injil (perpisahan agama dari urusan negara).

Selama 500 tahun, para pakar Muslim yang memimpikan reformasi semacam yang dilakukan Luther, Calvin dan Knox, sampai sekarang masih hanya dapat bermimpi. Kitab mereka sendiri yang tidak memungkinkan hermeneutika radikal seperti yang diserukan penulis pada permulaan artikel ini.

Saya tidak dapat mengatasi dilema ini. Muslim memang tidak memiliki jalan keluar. Saya juga ingin tahu berapa banyak Muslim pembaharu yang menyerukan bagi diberlakukannya surah-surah Mekkah sebagai satu-satunya standar bagi politik Islam!

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: