KAMPANYE DISINFORMASI KAREN ARMSTRONG

Oleh Jacob Thomas

Di tahun 1992, HarperCollins menerbitkan buku Karen Armstrong “MUHAMMAD: Biografi sang Nabi.” Itu pertama kalinya saya mendengar namanya. Ketika saya mendapat kesempatan untuk melihat bukunya, saya langsung melihat bahwa itu bukan hanya sekedar biografi baru tentang Nabi, namun sebuah usaha sengaja untuk mengajak kita meminta maaf kepada Islam. Saya tadinya berharap Miss Armstrong dan bukunya tidak dianggap serius di Barat, tapi saya ternyata salah.

MALAH dia sangat sibuk berceramah tentang Islam, dikedua sisi lautan atlantik. Kelihatannya ada orang Barat sangat terkesan olehnya, seperti ditunjukkan pada tanggal 11/11/2006, di Wall Street Journal. Karen Elliott House, bekas penerbit the Journal, menulis sebuah artikel berjudul “5 buku penting untuk mengerti tentang Islam.”

Dia mengurutkan demikian:

  1. “Islam” oleh Vartan Gregorian (Brookings, 2003)
  2. “Muhammad” oleh Karen Armstrong (HarperCollins, 1992)
  3. “What Went Wrong?” oleh Bernard Lewis (Oxford, 2002)
  4. “The Koran Interpreted” oleh A.J. Arberry (Macmillan, 1955)
  5. “Wahhabi Islam” oleh Natana J. Delong-Bas (Oxford, 2004)

Saya sangat kecewa dengan buku Karen Armstrong, “Muhammad,” dan untuk menjajarkannya dengan buku Bernard Lewis dan A.J. Arberry sungguh mengherankan, malah mengejutkan! Kenapa Miss House tidak menunjuk pada buku-buku klasik yang menuliskan kisah Muhammad yang dapat dipercaya seperti: “The Life of Muhammad,” oleh A. Guillaume, dan buku standar, “Muhammad: Prophet and Statesman”, oleh W. Montgomery Watt.

Memang berlebihan untuk mengharapkan Miss House merekomendasikan buku paling akhir dari Robert Spencer, “The Truth about Muhammad” Regnery Publishing, 2006!

Begitu anda mulai membaca bukunya Karen Armstrong, anda akan terpukul oleh manipulasi sengaja mengenai data sejarah Muhammad, contoh: Dalam Pendahuluannya ia menulis:

“Tahun 1984, saya harus membuat program televisi mengenai Sufisme, ilmu kebatinan Islam, dan saya terutama sekali terkesan dengan penghargaan Sufi bagi agama lain – sebuah kualitas yang tentu saja tidak saya temui dalam agama Kristen! Ini berlawanan dengan semua anggapan saya mengenai Islam dan saya ingin tahu lebih jauh … Kita tahu lebih banyak tentang Muhammad daripada tentang para pendiri kepercayaan-kepercayaan besar lainnya, maka sebuah studi tentang kehidupannya dapat memberi kita wawasan penting untuk sifat-sifat dasar dari pengalaman religius.” Hal 13, 14.

Lebih lanjut, di Bab 2, dia menulis:

“Dalam Qur’an, oleh karena itu, kita memiliki komentar-komentar dari jamannya tentang karir Muhammad, hal yang unik dalam sejarah agama manapun: Hal ini membuat kita bisa melihat kesulitan-kesulitan unik yang harus dia hadapi, dan bagaimana pandangannya berkembang, dalam jangkauan yang lebih universal. Sebaliknya, kita tahu sangat sedikit tentang Yesus.” Hal 51.

Klaim Armstrong bahwa kita tahu lebih banyak tentang Muhammad daripada tentang Yesus Kristus adalah propaganda murni Islam. Qur’an memang menceritakan episode dalam kehidupan Muhammad; tapi bagaimana kami bisa mempercayainya kalau Muhammad sendiri yang menceritakan/menuliskannya, sambil mengaku bahwa sumbernya dari Allah? Belum lagi biografi Muhammad ditulis lebih dari satu abad setelah kematiannya dan didasarkan oleh laporan-laporan yang diambil dari Hadis. Muslim sendiri menolak sejumlah besar Hadis, karena banyaknya Hadis palsu, sehingga mereka mengeluarkan versi mereka sendiri yang mereka anggap Sahih (Otentik).

Sumber Hadis yang paling berwenang tentang Muhammad diambil dari Hadis Ibn Hisham, yang meninggal pertengahan abad 9, sekitar 200 tahun setelah kematian Nabi! Sebaliknya, Injil, ditulis hanya beberapa dekade setelah kematian dan kebangkitan Kristus, yang memberi kita kisah yang akurat dan dapat dipercaya tentang keajaiban-keajaiban dan ajaran-ajaran Yesus Kristus. Lebih jauh lagi, Ilmu Kritik Tekstual yang ada dalam tradisi Kristen sudah dikenal luas; yang mengumpulkan dan membandingkan manuskrip-manuskrip Yunani yang paling dini dari Perjanjian Baru dengan maksud mendapatkan laporan-laporan yang paling dipercaya dari kehidupan Yesus Kristus. Nah, MANA Ilmu KritiK Tekstual dari Komunitas Muslim untuk Qur’an? Mereka menganggap buku suci mereka sebagai ‘Kalimat-kalimat dari Allah.’ Dalam Islam, Qur’an itu adalah Qadim, artinya tidak diciptakan.

Buku Armstrong penuh dengan disinformasi dan propaganda. Ia tidak letih-letihnya menuding Barat karena ‘salah mengerti’ tentang Islam. Dalam bagian Penutupan “Masterpiece”nya ini, ia menulis:

“Kita di Barat tidak pernah berhasil menghadapi Islam: Pengertian kita tentang Islam adalah primitif dan tidak acuh dan kini kita kelihatannya melanggar janji kita sendiri untuk bersikap toleran karena tidak suka dengan derita dan tekanan yang kita lihat dalam dunia Islam.” Hal 265.

“Kini sebagian Muslim mulai berbalik melawan budaya dari “Para ahlul Kitab” yang telah mempermalukan dan memandang mereka dengan rendah. Mereka bahkan mulai mengislamisasi kebencian mereka. Tokoh tercinta mereka, Nabi Muhammad, menjadi pusat dari salah satu bentrokan antara Islam dan Barat pada kasus Salman Rushdie. Jika Muslim perlu mengerti tradisi dan institusi Barat dengan lebih teliti, kita di Barat terlebih dahulu perlu membebaskan diri dari prasangka buruk kita. Mungkin satu tempat untuk memulainya adalah melalui figur Muhammad: Seorang yang kompleks dan penuh kasih yang kadang melakukan sesuatu yang sulit kita terima, tapi jenius dalam hal tata tertib dan mendirikan agama serta tradisi budaya yang tidak didasarkan pada pedang – seperti yang ada dalam mitos Barat – dan yang membuat nama ‘Islam’ identik dengan kedamaian dan rekonsiliasi.” Hal 266.

Jadi, Miss Armstrong menguliahi kita mengenai perlunya “kita membebaskan diri dari prasangka-prasangka lama kita” dan memulainya “melalui figur Muhammad.”

Apa ia mengharapkan agar kita menghapus semua yang kita pelajari tentang Muhammad, baik dari sumber Arab maupun sumber Barat, dan menerima biografi Nabi yang telah dia saring? Apa betul ia mengharapkan kita untuk mempercayainya, bahwa Muhammad “mendirikan agama serta tradisi budaya yang tidak didasarkan pada pedang – seperti yang ada dalam mitos Barat – dan yang membuatkan nama ‘Islam’ identik dengan ‘perdamaian’ dan rekonsiliasi”?

Apa ia sedang bercanda?

Darimana ia belajar bahasa Arab dan siapa yang menyuruhnya mengatakan bahwa ‘Islam’ identik dengan perdamaian dan rekonsiliasi? Bertahun-tahun saya menghabiskan waktu untuk belajar tatabahasa dan sintaksis Arab. WAHAI Miss Armstrong, ketahuilah bahwa “Islam” artinya “menyerah, takluk.” Penyerahan total kepada Allah, seperti yang tertera dalam Qur’an. (Dan bukan ‘perdamaian’!)

Artikel Wall Street Journal muncul pada Hari Veteran 2006. Lima hari kemudian, Yayasan Mosaic menampilkan dalam buletinnya: Karen Armstrong, kuliah tentang Islam: Agama yang disalah pahami. Yayasan tersebut mengenalkan event yang terjadi pada hari Senin 20/11/2006 dengan kata-kata sebagai berikut:

“Karen Armstrong, penulis, pembicara, guru dan komentator media tentang urusan agama di AS dan Inggris, akan melakukan serangkaian ceramah untuk Yayasan Mosaic “Re-Discovering the Arab World – Penemuan kembali dunia Arab.” Ceramahnya akan berjudul “Islam: Agama yang disalah pahami.”

Ceramah akan dilaksanakan di National Press Club, 529 14th St NW, Lantai 13 (Ballroom), Washington DC. Ceramah ini disponsori oleh sebuah organisasi yang mengaku “didirikan sejak 1998,” sebagai “Yayasan pendidikan AS, organisasi non-profit yang didirikan dan dijalankan istri-istri dubes-dubes Arab di AS. Melalui proyek ini, Mosaik mencoba untuk memperbaiki nasib wanita dan anak-anak secara global dan menambah pengertian dan apresiasi terhadap budaya Arab di Amerika.”

Jadi, istri para dubes Arab meminta bantuan Miss Armstrong untuk mencerahkan pengetahuan rakyat AS mengenai sifat dasar Islam, dan perlunya kita menemukan kembali dunia Arab.

Saya tidak tahu apa yang dicuapkan Armstrong dalam ceramah tanggal 20/11 tersebut, tapi saya dapat memberitahu pembaca disini tentang komentar-komentar yang ia buat pada 18/9, tentang kata-kata Paus Benedict soal Islam yang diterbitkan dalam the Guardian; saya yakin mereka menyediakan kita laporan up to date tentang Kampanye Disinformasi ala Karen Armstrong.

Wawancaranya dimulai dengan pernyataanya:

“Ucapan Paus sangat berbahaya, dan akan meyakinkan banyak Muslim bahwa Barat bersifat Islamofobia (takut akan Islam) yang tak tersembuhkan.”

Minggu lalu, Paus Benedict XVI mengutip, tanpa kualifikasi dan tanpa persetujuan yang jelas, kalimat dari Kaisar Abad 14 Bizantium, Manuel II:

“Tunjukkan pada saya apa yang baru yang dibawa Muhammad, dan kamu akan menemukan hal-hal yang biadab dan tidak manusiawi, seperti juga perintah-perintahnya yang disebarkan dengan pedang.” Vatikan kelihatannya kaget dengan luapan kemarahan umat Muslim akibat kata-kata Paus ini, dan mengklaim bahwa bapa suci hanya bermaksud ‘mempererat sikap hormat dan dialog diantara agama dan budaya, dan jelas menuju pada Islam.

“Tapi maksud baik Paus tidak nampak. Kebencian terhadap Islam begitu menyebar dan berakar dalam kebudayaan Barat sehingga menyatukan orang-orang yang tadinya saling bermusuhan. Baik para kartunis Denmark maupun kaum fundamentalis Kristen yang menyebut Muhammad sebagai pedofilia dan teroris, tidak pernah setuju dengan Paus; namun tentang topik yang satu ini mereka semuanya setuju.”

“Paus Benedict mengantarkan pidato kontroversialnya di Jerman sehari setelah ulang tahun ke-5 9/11. Sangat sulit dipercaya bahwa acuannya kepada sebuah aliran kekerasan dalam Islam merupakan suatu kebetulan belaka. Paus malah menjauhkan diri dari inisiatif-antar-agama yang dibangun pendahulunya, John Paul II, pada saat mereka sangat dibutuhkan. Karena terjadi tidak lama sesudah krisis kartun Denmark, ucapannya ini sangat berbahaya. Ini hanya semakin meyakinkan Muslim bahwa Barat tidak bisa disembuhkan dari Islamofobia dan siap-siap untuk mengadakan Perang Salib baru.”

“Kita tidak boleh menyandang kefanatikan seperti ini. Masalahnya adalah terlalu banyak orang di Barat secara tidak sadar berprasangka buruk, yakin bahwa Islam dan Qur’an adalah candu kekerasan. Teroris 9/11, yang nyata-nyata melanggar prinsip-prinsip Islam, telah menegaskan persepsi Barat yang telah mengakar dalam yang menganggap bahwa semua Muslim biadab seperti itu.

“Sikap kuno dari abad pertengahan terus muncul ke permukaan setiap kali ada masalah di Timur Tengah. Padahal sampai abad 20, Islam jauh lebih toleran dan lebih damai dibanding dengan Kristen. Qur’an dengan keras melarang penggunaan kekerasan dalam agama dan menghormati semua agama sebagai datang dari Tuhan; dan walau Barat tidak pernah setuju, Muslim tidak pernah memaksakan agamanya dengan pedang.

“Penaklukan awal di Persia dan Bizantium sesudah kematian Nabi diilhami oleh politik agama. Hingga pertengahan abad 8, Yahudi dan Kristen dalam negara Muslim secara aktif dibujuk untuk tidak masuk Islam, karena sesuai dengan ajaran Qur’an, mereka sudah memiliki wahyu asli milik mereka sendiri.”

“Ekstremisme dan intoleransi yang muncul didunia Muslim di jaman kita ini memerlukan jawaban politik – minyak, Palestina, pendudukan tanah Muslim, rezim di Timur Tengah dan standar ganda Barat – bukan berupa bentuk perintah yang sudah mendarah daging.”

“Tapi mitos lama tentang Islam sebagai kepercayaan yang berakar pada kekerasan tetap bertahan dan muncul pada saat-saat yang tidak tepat dan kelihatannya sulit untuk dibasmi. Seperti kita lihat, kita lebih suka menuding sebab musabab kekerasan di Irak, Palestina, Lebanon yang sebagian adalah tanggung jawab Barat, sebagai kesalahan Islam sepenuhnya. Tapi jika kita terus membiarkan prasangka kita dengan cara ini, kita juga berada dalam bahaya.”

Saya serahkan kutipan diatas kepada para pembaca dan khususnya kepada mereka yang memiliki karakter berani untuk menampik bualan Karen Armstrong yang “ahli” Islam itu. Ia mahir menganggap Barat sebagai sebab musabab semua penyakit yang ada dalam dunia Muslim, baik yang di zaman dulu maupun yang sekarang. Saya kira, jika ia diwawancarai hari ini, 22 Nov 2006, ia juga akan menambahkan bahwa Baratlah yang sebenarnya bertanggung jawab atas pembunuhan brutal Pierre Gemayel, seorang menteri Lebanon. Memang Kampanye Disinformasi ala Karen Armstrong ini tidak memiliki batas!

*) Motif sebenarnya untuk tidak memaksa Yahudi dan Kristen masuk Islam adalah agar mereka tetap menjadi Dzimmi, yaitu sumber utama penghasilan negara. Mereka harus membayar pajak jizyah (pajak per kepala yang sangat tinggi), dalam keadaan hina, sebagai tanda mengakui superioritas Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: