SERAT DARMAGANDHUL VIII

Mendengar kata-kata Sang Prabu yang demikian, Sunan Kalijaga tercenung dan berkata dalam hati, “Benarlah apa yang dikatakan oleh Nyi Ageng Ngampelgadhing, bahwasanya Eyang Wungkuk (Prabu Brawijaya) masih mempunyai nama besar dan masih punya kuasa. Sungguh tidak melihat diri sendiri, kulit yang sudah keriput punggung yang sudah bungkuk. Jikalau sampai menyeberang ke pulau Bali, pastilah akan terjadi perang besar dan dapat dipastikan kekuatan Demak tidak akan bisa menang. Sebab jelas-jelas Demak melakukan kesalahan yang tidak akan menarik simpati Negara manapun. Kesalahan pertama berani melawan ayahanda sendiri. Kesalahan kedua berani melawan Raja tanpa ada masalah yang jelas dan kesalahan ketiga berani membalas kebaikan dengan kejahatan. Pastilah semua penduduk Jawa (Majapahit) yang belum masuk Islam akan membela Raja tua, mereka akan ikut memperkuat barisan, dan pastilah akan kalah orang Islam, habis binasa dalam peperangan yang bakal terjadi.”

Akhirnya Sunan Kalijaga pelan berkata, “Duh paduka yang mulia Kangjeng Sang Prabu. Jikalau seandainya paduka terlaksana menyeberang ke Bali, terlaksana menggalang kekuatan para Raja bawahan Majapahit diluar Jawa, pastilah bakal terjadi perang besar. Apakah paduka tidak sayang akan kerusakan tanah Jawa kelak? Sudah dapat dipastikan putra paduka (Raden Patah) yang akan menemui kekalahan. Paduka lantas kembali naik tahta, tak lama kemudian akan turun tahta karena jelas paduka sudah sepuh. Tahta Jawa lantas dikuasai oleh yang bukan keturunan darah paduka. Bagaikan anjing yang berebut bangkai, anjing yang bertengkar tak ada yang mengalah dan binasa kedua-duanya, sedangkan daging yang diperebutkan akhirnya dimiliki oleh anjing yang lain.”

Sang Prabu Brawijaya menjawab, “Jikalau memang harus seperti itu kejadiannya nanti, semua aku pasrahkan kepada kehendak Dewa Yang Maha Lebih. Diriku ini Raja Besar, setia pada satu mata, tidak mempergunakan dua mata, hanya satu mata melihat kebenaran, kebenaran yang sudah ditetapkan turun temurun oleh leluhur tanah Jawa. Seandainya si Patah mengakui aku ayahnya, jika hanya ingin menjadi Raja, seharusnya mintalah tahta secara baik-baik. Tahta tanah Jawa pasti akan aku berikan dengan baik-baik pula. Diriku sudah tua, sudah bosan menjadi Raja, dan sudah saatnya menjadi Pandita, menyepi dilereng gunung. Akan tetapi sekarang kenyataannya si Patah tega menyia-nyiakan diriku, demi Dewata Yang Agung pastilah sekarang diriku tidak akan rela jika tanah Jawa dikuasainya, begitu pula seluruh abdi-abdiku, tak ada yang rela jika tanah Jawa dikuasai Patah!”

Sunan Kalijaga, begitu mendengar kata-kata Sang Prabu merasa sudah tidak bisa mencegah lagi. Sontak dia menyembah kaki Sang Prabu. Kemudian melepas keris yang terselip dipinggang belakang serta disodorkan kepada Sang Prabu sembari menyatakan, jikalau Sang Prabu tidak mendengarkan kata-kata Sunan Kalijaga, Sunan Kalijaga memohon agar Sang Prabu berkenan membunuhnya saat itu juga. Sunan Kalijaga merasa malu jika kelak harus melihat peperangan besar terjadi di Jawa antara ayah dan anaknya.

Melihat apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga sedemikian itu, hati Sang Prabu beku dan teriris, lama tak mampu bersuara. Dada beliau seketika sesak dan tak terasa menetes air mata Prabu Brawijaya. Bergetar suara Sang Prabu, “Syahid, duduklah kembali, sudah akan aku pikirkan kembali kata-kataku, akan aku renungkan lagi semua ucapanmu, benar atau tidaknya, jujur atau bohong. Sebab aku khawatir apa yang kamu ucapkan semua tadi hanya bohong belaka. Ketahuilah Syahid, jika seandainya aku benar pulang kembali ke Majapahit, lantas si Patah menghadap dihadapanku. Kebenciannya tak mungkin bisa hilang, sebab merasa memiliki ayah orang Buddha totok Kafir-Kufur. Hanya sesaat dia bisa menghargaiku. Lain hari pasti akan lupa lagi. Mungkin aku nanti bisa juga dikebiri (sunat) olehnya, atau mungkin bisa juga disuruh menjaga pintu gerbang belakang. Pagi sore dipaksa melaksanakan sembahyang. Jika tidak bisa-bisa diguyur air dikolam dan digosok tubuhku mengunakan daun alang-alang kering!”

Sang Prabu melanjutkan ucapannya kepada Sunan Kalijaga, “Renungkanlah, Syahid. Bagaimana sedihnya hatiku, sudah tua, bungkuk, diperlakukan bagai anak kecil direndam di kolam sedemikian rupa.”

Sunan Kalijaga tersenyum sembari berkata, “Tak mungkin hingga sedemikian itu perlakuan putra paduka. Sungguh kelak saya yang akan bertanggung jawab. Saya pastikan putra paduka tidak akan berani berlaku sia-sia kepada paduka. Jika masalah agama, semua tergantung kepada pribadi pasuka sendiri. Akan tetapi akan lebih baik jika paduka memang berkenan berganti agama Buddha dengan syariat Rasul. Menyebut asma Allah. Jikalau memang tidak berkenan, tidak juga menjadi masalah. Agama bukan jaminan (menemukan kesejatian). Keyakinan orang Islam yang utama hanyalah syahadat. Walaupun salat jempalitan, manakala belum memahami syahadat, tetap saja dinamakan Kafir.”

Sang Prabu berkata, “Apa syahadat itu? Aku kok belum tahu, jelaskanlah akan aku dengarkan!”

Sunan Kalijaga lantas mengucapkan kalimat syahadat: “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammad Rasulullah. Artinya Aku bersaksi, tidak ada Tuhan yang sejati kecuali Allah. Dan aku bersaksi, Kangjeng Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

Lantas Sunan Kalijaga mengatakan lagi, “Manusia yang melakukan penyembahan kearah kiblat semata, akan tetapi tidak juga memahami maksudnya, tetaplah dinamakan Kafir. Dan lagi manusia yang menyembah sesuatu yang berwujud dan berwarna, itu disebut menyembah berhala. Maka oleh karenanya, manusia wajib memahami dirinya dari lahir hingga batin. Manusia mengucapkan sesuatu harus tahu apa yang diucapkan. Sesungguhnya yang disebut Nabi Muhammad Rasulullah, Muhammad itu sejatinya adalah bagaikan makam atau kuburan. Badan sejati manusia ini (Ruh) ibarat tempat tertanamnya/melekatnya segala gejolak batin. Sesungguhnya yang mengucapan syahadat adalah menyaksikan Diri-nya sendiri (Ruhnya sendiri sebagai utusan Allah), bukan naik saksi kepada Muhammad yang ada di Arab. Badan (sejati) manusia ini adalah Percikan Dzat Tuhan. Diibaratkan sebagai kubur atau makam segala rasa dan gejolak batin. (Diri sejati sebagai) Rasul (utusan) akan dapat di-Rasa-kan (oleh Ruh). Bukan dirasakan bagai merasakan Rasa makanan (dan segala rasa panca indranya, akan tetapi Rasa sadar bahwa diri ini adalah utusan Tuhan). Rasul (utusan/Ruh) ini murni Ilahi. Lullah (dari Allah) bisa juga diartikan bagaikan luluh. Seperti lumpur yang luluh. Rasulullah (Utusan Allah/Ruh ini) sesungguhnya adalah illahi yang diselimuti oleh rasa negatif dan segala yang jelek. Muhammad Rasulullah (Ruh adalah utusan Allah). Untuk menyadarinya pertama-tama harus memahami apa badan (kasar) ini, kedua memahami segala keinginan (gejolak batin/badan halus). Sudah wajib semua manusia mencermati segala rasa (gejolak batin yang ditimbulkan oleh badan halus). Rasa dan Tedhi (semua gejolak batin yang halus) itulah yang melekati Muhammad Rasulullah (Ruh utusan Allah). Oleh karenanya setiap melakukan salat orang Islam harus mengawali dengan ucapan ‘Usholli’ artinya berniat sungguh-sungguh untuk mengetahui asal-usul (Ruh ini). Raga manusia ini berasal dari bayangan Ruh Idofi, yaitu Muhammad Rasulullah itu sendiri. Yang dimaksud Rasul adalah utusan yang harus bisa di Rasa (disadari) bahwsanya kita ini utusan sejati. Dari sanalah benih segala kehidupan. Akan bisa dicapai dengan kesadaran terbuka. Diawali memahami asyhadu alla (syahadat). Jika tidak memahami apa arti syahadat sesungguhnya, maka tidak sempurna Rukun Islam dan tidak akan mengetahui awal asal usul kehidupan kita!”

Banyak yang dihaturkan oleh Sunan Kalijaga sehingga Prabu Brawijaya akhirnya tertarik dan berkenan memeluk agama Islam. Lantas kemudian Sunan Kalijaga memohon agar diperkenankan memotong rambut panjang Sang Prabu akan tetapi tidak bisa terpotong saat digunting. Oleh karenanya Sunan Kalijaga lantas menyarankan agar Sang Prabu benar-benar sungguh-sungguh masuk Islam lahir batin. Sebab jika hanya lahir saja, rambut tidak akan mempan digunting. Sang Prabu lantas berkata bahwa dirinya sudah lahir batin, oleh karenanya rambut lantas bisa dipotong.

Selesai dipotong rambutnya Sang Prabu lantas berkata kepada Sabda Palon dan Naya Genggong, “Kalian semua aku jadikan saksi, bahwa mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha dan memeluk agama Islam. Menyebut Asma Allah Yang Sejati. Keinginanku, kalian berdua aku harapkan ikut berganti memeluk agama Rasul dan meninggalkan agama Buddha!”

Sedih Sabda Palon menjawab, “Hamba ini adalah Raja Dang Hyang (makhluk gaib) yang menjaga tanah Jawa. Siapapun yang menjadi Raja, adalah momongan hamba. Mulai dari leluhur paduka dulu, yaitu Wiku Manumanasa, Raden Sakutrem hingga Bambang Sakri, turun temurun hingga sekarang ini, semua menjadi momongan hamba dan hamba ajari ajaran Jawa sejati. Jika hamba tidur, mampu tidur selama 200 tahun. Selama saya tidur di Jawa akan banyak terjadi peperangan antar saudara. Yang kuat akan memangsa sesame manusia, menghancurkan sesama bangsanya sendiri. Hingga saat ini usia hamba 2003 tahun. Hamba telah momong ajaran Jawa, semua yang hamba momong selama ini tak ada yang berubah agamanya. Memegang teguh agama Buddha. Hanya paduka sekarang saja yang berani meninggalkan ajaran leluhur Jawa. Jawa artinya paham, yang sudah paham disebut Jawan (Sadar). Sadar bahwa badan sejati ini hanya sementara tinggal didunia, tujuannya adalah meraih moksa!”

Ucapan Wiku Utama dibarengi seketika oleh suara gemuruh guntur!

Sang Prabu Brawijaya oleh para Dewa disindir karena telah memeluk agama Rasul. Tiga sindiran yang muncul di bumi Jawa mulai saat itu adalah 1. Suket Jawan (Rumput Jawan), 2. Pari Randhanunut (Padi Randhanunut, Randha = Janda, Nunut = ikut tinggal/numpang Randhanunut ~ Seorang janda yang ikut tinggal/numpang hidup) dan 3. Pari Mriyi (Padi Mriyi).

(Konon mulai saat itulah muncul Padi dan Rumput dengan nama seperti diatas. Rumput Jawan, maksudnya Kesadaran yang telah rendah serendah rumput yang bisa diinjak-injak. Padi Randhanunut, maksudnya padi/makanan batin/ajaran agama milik seorang janda yang tinggal numpang dirumah seseorang, alias kebenaran yang dimiliki oleh sekelompok manusia yang kehilangan pasangan sejati/Tuhan yang numpang di Jawa dan Padi Mriyi adalah Padi yang kecil-kecil, maksudnya makanan batin/ajaran yang masih berupa jenis yang kecil).

Sang Prabu berkata lagi, “Aku tanya lagi bagaimana niatanmu, mau atau tidak meninggalkan agama Buddha berganti memeluk agama Rasul. Menyebut nama Nabi Muhammad Rasulullah, panutan para Nabi dan menyebut Asma Allah Yang Sejati?”

Sabda Palon sedih berkata, “Silahkan paduka sendiri saja yang masuk, hamba tidak tega melihat kelakuan sia-sia mereka, seperti watak orang Arab. Sia-sia artinya suka menghukum (menghakimi), menghakimi semua yang berbadan. Jikalau hamba berganti agama, jelas akan membuat tak berguna tujuan moksa hamba kelak. Yang mengaku paling mulia itu hanya orang Arab saja dan diikuti oleh orang Islam semua. Memuji dan meninggikan kelompoknya sendiri. Menurut hamba lebih baik tidak usah mengurusi (menghakimi) tetangga (agama lain). Perbuatan semacam itu (suka menghakimi agama lain) hanya akan menunjukkan rendahnya pemahaman diri. Saya tetap menyukai agama lama, tetap suka menyebut Tuhan dengan nama Dewa Yang Maha Lebih!”

Sumber

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: